Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: Distribusi Bantuan Di Tengah Kesulitan

Siklon Tropis Senyar menyapu Sumatera dengan banjir dan longsor yang datang bertubi. Namun di tengah kepanikan dan duka mendalam, tampak langkah-langkah cinta kasih bergerak cepat, warga saling menolong, relawan hadir membawa kehangatan, dan solidaritas tumbuh saat bencana mengguncang.
*****
Cuaca ekstrem yang dipicu Siklon Tropis Senyar memporak-porandakan sebagian besar wilayah Sumatera pada akhir November 2025. Hujan berintensitas sangat tinggi turun terusmenerus selama beberapa hari, membuat sungai meluap, lereng bukit runtuh, dan ribuan rumah tenggelam dalam waktu singkat.
Hujan tanpa henti ini membuat sejumlah kabupaten di Aceh, seperti Pidie Jaya, Bireuen, dan Lhokseumawe, terendam banjir besar. Air bah datang dini hari ketika sebagian warga masih tertidur. Banyak yang tak sempat menyelamatkan barang-barang, hanya pakaian yang melekat di badan.
Tim SAR dan relawan menyisir permukiman menggunakan perahu karet, mengevakuasi warga yang terjebak di lantai dua rumah atau bertahan di atap. Ribuan orang mengungsi ke pos-pos darurat, sementara akses ke desa-desa terpencil terputus karena jalan rusak dan listrik padam.
Tak cuma Aceh, di Padang Sumatera Barat, air bah turun dari perbukitan membawa lumpur, batu, dan material kayu. Kawasan Lembah Anai rusak parah, sementara sebagian wilayah Padang dan Padang Pariaman terendam hingga atap rumah. Banjir bandang terjadi begitu cepat hingga banyak warga memilih naik ke genteng untuk meminta pertolongan. Ribuan rumah terdampak, beberapa jembatan terputus, dan sebagian jalur utama ambruk sehingga distribusi bantuan harus memutar jauh.

Relawan Tzu Chi Aceh memberikan bantuan sekaligus menenangkan para warga yang terdampak bencana.
Hujan ekstrem juga menghantam Kota Medan. Sejumlah wilayah yang biasanya aman berubah menjadi kolam besar. Air berasal dari luapan drainase dan sungai yang tak sanggup menahan debit hujan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menetapkan status darurat bencana karena banjir dan longsor meluas hingga puluhan kabupaten/kota. Di daerah perbukitan, pergeseran tanah merusak rumah warga dan memblokir akses jalan, membuat beberapa titik sulit dijangkau tim penyelamat.
Sementara itu, di daerah pesisir seperti Sibolga pun mengalami banjir bandang paling parah. Rumah-rumah roboh diterjang arus deras, sebagian hanyut, dan banyak warga kehilangan tempat tinggal dalam hitungan menit. Evakuasi dilakukan di tengah puing-puing bangunan dan aliran air yang masih kuat.
Tak jauh dari Sibolga, di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, longsor merusak puluhan rumah dan menelan korban jiwa. Beberapa desa terisolasi sepenuhnya akibat jembatan putus. Relawan dan aparat harus menembus jalan berlumpur sambal mengevakuasi warga dan mendirikan pos pengungsian darurat.
Bencana ini meninggalkan duka yang dalam, tetapi terlihat pula solidaritas masyarakat, relawan, dan para penyelamat yang terus bergerak tanpa henti.

Relawan bahu membahu membantu warga terdampak banjir, memastikan barang bantuan tersalurkan hingga ke titik-titik yang sulit dijangkau.

Warga berbaris dengan rapi untuk menerima makanan hangat yang telah disediakan oleh Relawan Tzu Chi Medan.
Mardiana penduduk kecamatan Kuta Blang, Bireun-Aceh, salah seorang korban terdampak bencana menceritakan bagaimana dahsyatnya banjir menghantam rumahnya. “Rumah kami tertimbun banjir dan kami tidak membawa baju apapun, hingga hari ini kami masih mengenakan baju yang sama, kami sangat membutuhkan bantuan kelambu dan lain-lain,” ujarnya penuh rasa khawatir.
Perasaan khawatir juga datang dari Ridwan (46), warga Brayan Fly Over Medan yang telah tinggal di sana selama 45 tahun. Menurutnya, banjir kali ini adalah yang terparah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Air awalnya hanya rendah, namun perlahan naik hingga sepinggang.
“Sekarang makanan yang paling sulit didapat. Kami butuh bantuan, parit harus dikorek dan lorong-lorong dibersihkan,” katanya.
Ada pula, Akiong (58), warga Komplek Deli Garden, Deli Tua. Ia sehari-hari bekerja sebagai tukang becak motor dan tinggal berdua dengan anaknya. Seperti biasa, pagi itu ia keluar rumah untuk menarik becak, sementara anaknya berangkat bekerja. Namun sekitar pukul sepuluh, kabar mengejutkan datang, rumah mereka terendam banjir. Akiong buru-buru pulang, dan setibanya di rumah air telah naik hingga dua meter. Kasur, peralatan dapur, televisi, dan hampir semua barang rumah tangga terendam dan rusak.
“Waktu anak saya kabari kalau rumah kena banjir, saya shock. Kami baru sebulan pindah dan menyewa rumah ini. Banyak barang yang rusak, padahal sebagian adalah pemberian dari teman,” tuturnya.
Tzu Chi Kerahkan Tim Tanggap Darurat Bencana
Begitu bencana melanda, hujan ekstrem, banjir, serta longsor, relawan Tzu Chi dari komunitas relawan di Sumatera (Medan, Padang, Aceh) langsung merespon. Sejak 28 November 2025, mereka menyiapkan dan mendistribusikan paket bantuan awal berupa beras, makanan hangat, air mineral, roti, handuk, juga kebutuhan dasar bagi warga terdampak.
Di Medan, relawan mendirikan dapur umum di Kantor Tzu Chi. Mereka memasak bersama, menyiapkan ratusan hingga ribuan porsi makanan hangat untuk warga yang mengungsi maupun yang bertahan di rumah.

Relawan Tzu Chi Padang membuka dapur umum untuk memudahkan proses memasak dan pendistribusian makanan hangat untuk para warga terdampak.
Kordinator Tim Tanggap Darurat Tzu Chi, Timmy Jawira, menjelaskan bahwa pada hari itu relawan bergerak serentak ke berbagai titik banjir. Setiap Hu Ai dan komunitas turun ke lapangan, memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan. Nasi bungkus yang dibagikan hari itu menjadi bentuk bantuan awal, terutama bagi warga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan karena rumah mereka terendam air.
“Jadi hari ini relawan kita bergerak ke daerah Medan dan sekitarnya yang terdampak banjir. Karena kami melihat banyak wilayah kota Medan ini terdampak banjir, relawan segera turun untuk memberikan bantuan berupa nasi bungkus, makanan hangat untuk mengisi energi mereka, sampai kondisi warga membaik,” jelas Timmy Jawira.
Distribusi makanan dan bantuan darurat lainnya sebagai respon cepat Tzu Chi disambut sangat antusias oleh para warga terdampak.
“Jujur ya, Bang. Terima kasih sekali lah. Kami butuh makanan, karena air sudah sepinggang kami. Ada ibu-ibu dari Buddha Tzu Chi datang, kami senang. Terima kasih sekali pokoknya, semoga dibalas berlipat kebaikan,” kata Ridwan.
Selain mereka, ada pula beberapa warga Klumpang Kebun, Deli Serdang tak mampu menyembunyikan rasa haru mereka. Seorang ibu dengan mata berkaca-kaca mengaku bahwa sudah dua hari mereka tidak makan karena rumah terendam dan persediaan habis. Bantuan makanan dari Tzu Chi menjadi penyelamat pertama mereka. “Alhamdulillah, akhirnya ada bantuan. Kami sudah dua hari tidak makan. Terima kasih kepada para relawan yang jauh-jauh datang untuk kami,” ujarnya.
Selain makanan dan minuman, Tzu Chi Indonesia juga mendukung dan bergerak cepat berkoordinasi dengan TNI dan Kementerian Pertahanan RI (Kemenhan) untuk segera mengirimkan paket bantuan ketiga provinsi terdampak. Paket bantuan yang didistribusikan berupa: selimut, sarung, handuk, kelambu, alat mandi, tikar, masker, pakaian layak pakai, kebutuhan bayi dan anak (susu dan popok), hingga perlengkapan dasar lain.

Relawan medis dari TIMA Medan hadir di wilayah Tanjung Pura, Langkat membantu warga yang mulai terkena penyakit.
Ricky Budiman, Wakil Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi Indonesia, bersama para relawan mengantarkan barang bantuan ke gudang Kemenhan yang berada di SPBT Kemenhan Cawang, Jakarta Timur. “Bantuan ini kami kirimkan agar warga mendapatkan perlindungan yang layak. Cuaca malam hari kurang bersahabat, sehingga perlengkapan untuk dewasa dan anak-anak sangat dibutuhkan,” ujar Ricky di Gudang SPBT Kemenhan Cawang.
Bantuan tidak hanya disalurkan di kota besar atau pusat pengungsian, tetapi juga ke daerah-daerah terpencil dan terisolir, termasuk wilayah yang sulit dijangkau, lewat kerja sama dengan berbagai sektor dan institusi.
Di luar distribusi barang, Tzu Chi terus memonitor kebutuhan darurat dan koordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait agar bantuan tepat sasaran termasuk membantu menghibur warga di pengungsian dan mendukung pemenuhan bantuan logistik, sesuai dengan prinsip pembagian bantuan Tzu Chi: menenteramkan raga, menenteramkan jiwa, memulihkan kehidupan.

Teks: Ronaldo (Tzu Chi Aceh), Hidayat Sikumbang (DAAI TV Medan), Liani (Tzu Chi Medan), Pipi (Tzu Chi Padang)
Fotografer: Jen Jin (Tzu Chi Aceh), Amir Tan (Tzu Chi Medan), Dok. Tzu Chi Medan, Dok. Tzu Chi Padang







Sitemap