Belajar dari Semangat Marmi


“Kanker bukan akhir dari segalanya, dan bahagia itu sederhana kalau kita selalu mengucap syukur dalam segala hal. Selagi Tuhan kasih napas, jangan disia-siakan.”

Keceriaan anak-anak yang ikut kelas bimbingan belajar di Rusun Albo Cakung, Jakarta Timur itu seperti menjadi obat untuk Marmi, seorang penderita kanker indung telur yang mengajar berbagai mata pelajaran di sana. Celoteh anak-anak bagai hiburan baginya. Setidaknya ia bisa berbahagia sejenak dan menghilangkan kecemasan tentang penyakit yang menurut diagnosa medis sudah tidak bisa disembuhkan lagi.

Dulu Marmi tak pernah mengira, rasa sakit yang selalu ia rasakan saat menstruasi berujung pada vonis kanker. Ia bahkan masih berkuliah, baru menginjak tahun kedua. Tapi kanker yang ia derita itu masuk dalam kategori kanker yang berbahaya. “Saat itu kaget sekali,” ingat Marmi.

Keluarga dan pihak kampusnya sangat mendukung pengobatan yang dilakukan oleh Marmi, tapi Marmi berkeras tidak ingin meninggalkan kuliahnya. Ia mendapat kompensasi berupa kuliah hanya sebatas absen dan mengerjakan tugas. “Konsekuensinya ya nilai kuliah tidak bisa sempurna karena saya tidak ikut materi di kelas,” ujarnya. Semangat Marmi membuatnya bisa lulus tepat waktu berbarengan dengan rangkaian proses kemoterapi dan beban penyakit kanker di tubuhnya.

Bangkit dari Cobaan
Walaupun begitu, semangat Marmi tidak disambut baik oleh calon tunangannya dulu. Rencana mereka menikah sirna begitu saja karena sang pacar tahu jika Marmi menderita kanker dan sudah divonis tidak bisa memiliki anak. “Pacar saya saat itu tiba-tiba menghilang dan meninggalkan saya. Padahal kita sudah  rencana mau bertunangan,” kata Marmi.

Hal itu menjadi cobaan yang berat bagi Marmi dan keluarga, sempat pula kedua orang tuanya tidak mau ke gereja. Hal itu karena orang tua Marmi sudah begitu dekat dengan pacarnya sehingga kerap beribadah dan melakukan pelayanan bersama-sama di gereja.

Berbeda dengan orang tuanya, keterpurukan itu justru membuat Marmi semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. “Saya melakukan pelayanan aktif di gereja, dan itu yang membangkitkan serta menumbuhkan kekuatan saya,” tegasnya.


Keyakinannya terhadap kuasa Tuhan membuat Marmi selalu berdoa sebelum melakukan aktivitas. Ia bersyukur hingga saat ini masih diberikan kehidupan walaupun dalam bayang-bayang penyakit kanker.

Pengalaman ditinggal kekasih sempat membuat Marmi membatasi diri. Sampai satu kali ia bertemu seorang pria di gereja yang mendekatinya. Ia tentu tidak ingin kejadian pahit sebelumnya terulang kembali. “Jadi saya langsung cerita semua ke dia. Saya bilang, ‘Memang saya sekarang ini bekerja, saya punya uang, tapi suatu saat pasti saya akan ketemu satu titik dimana saya terkapar dan tidak bisa apa-apa, membutuhkan biaya banyak. Dan saya juga sudah tidak bisa punya anak karena kanker’,” kata Marmi mengingatkan.

Bukannya mundur, Alvin, laki-laki itu malah semakin mendekatinya. Dia menerima Marmi apa adanya hingga akhirnya mereka berdua menikah pada 2006. “Dia (suami) hatinya luar biasa dan menerima kekurangan saya,” ungkapnya.

Menjaga Buah Hati Titipan Tuhan
Kabar gembira menghampiri Marmi dan Alvin tak lama setelah mereka menikah. Marmi hamil, padahal mereka baru saja ingin mengadopsi anak. Kabar itu sekaligus mematahkan vonis dokter jika ia tidak akan bisa memiliki keturunan. “Saya senang sekali. Semua itu di luar ekspektasi kami,” ceritanya.

Namun di balik kabar bahagia itu, kanker indung telur yang ia derita ikut tumbuh kembali. Saat itu, obat alternatif menjadi pilihannya. Tapi tidak semudah yang orang lain bayangkan. Ketika masa kehamilan memasuki usia 3 – 4 bulan, kondisi Marmi mulai menurun karena perkembangan janin dibarengi membesarnya kanker di indung telur. Ia lalu memutuskan keluar dari pekerjaannya.

“Kondisi saya saat itu hanya di tempat tidur saja. Makan dan lain-lain juga di tempat tidur. Ada adik yang mengurusi saya. Bahkan berat badan saya saat itu hanya 34 kg, kurus sekali,” kenangnya.

Di tengah kepayahannya kehamilan Marmi didiagnosa berbahaya untuknya pribadi maupun janinnya. “Janin saya itu diprediksi tidak bisa berkembang. Bisa jadi bayinya akan cacat setelah lahir,” ungkap Marmi.

Di tengah kemelut antara kehamilan dan peyakit, Marmi berkeras mempertahankan kehamilannya walaupun sudah menerima vonis. “Saya berpikir dokter bilang saya tidak bisa hamil, tetapi ini bisa hamil. Berarti Tuhan berkehendak lain, dan anak ini berhak lahir,” ungkap Marmi.


Satu bulan sekali, Marmi bersama keluarga mengikuti gathering penerima bantuan Tzu Chi (gan en hu). Kegiatan ini juga ia gunakan untuk berbincang-bincang dab saling berbagi kisah dengan para relawan.

Terbukti, Josh, bayi laki-laki itu lahir dalam kondisi sehat dan lengkap tanpa kurang suatu apapun.

Setelah melahirkan, Marmi meminta dokter sekaligus mengangkat kankernya namun dokter menolak. Pasalnya itu tidak sesuai prosedur medis dan bisa membahayakan dirinya. Lalu karena terkendala biaya, ia melanjutkan berjuang melawan kanker dengan berobat alternatif dan mengonsumsi obat-obat herbal. Marmi masih berjuang.

Berdamai dengan Kanker
Selama hidupnya, Marmi kerap menghadapi berbagai vonis yang menakutkan. Satu lagi vonis yang ia hadapi adalah bahwa kankernya sudah menyebar ke beberapa bagian tubuh dan dokter sudah menyerah.

“Waktu itu dokternya bilang begini, ‘Sudah ibu, ini sudah tidak bisa diobati lagi’. Saat itu saya langsung menangis dan tidak tahu harus berbuat apa,” kenang Marmi.

Keluarga kecilnya tidak bisa berbuat banyak. Suami dan anaknya juga sudah pasrah. Mereka hanya bisa berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan supaya ada keajaiban dari penyakitnya. “Saya sudah berserah diri kepada Tuhan,” tandasnya.

Mulai saat itu, Marmi iklas menjalani hari-hari dengan kanker dalam tubuhnya.

Kuncinya Adalah Bahagia
Berpindah tempat tinggal dari Tambora, Jakarta Barat ke Rusun Albo, Cakung, Jakarta Timur pada tahun 2017, Marmi dan keluarga tetap hidup sederhana. Mereka membuka warung untuk berdagang kecil-kecilan. Para tetangga yang mengetahui kondisi Marmi kerap memberi dukungan dan menyemangatinya menjalani hidup.

Di tahun itu pula, Marmi berjodoh dengan Tzu Chi dan menerima bantuan berupa susu serta biaya pembayaran sewa Rusun. Ia merasa berkahnya tak terhingga karena bisa melewati satu persatu vonis dokter hingga dipertemukan dengan relawan Tzu Chi.

“Puji Tuhan, sangat diberkati sekali hidup mereka (relawan Tzu Chi) karena bisa jadi berkat buat orang lain,” kata Marmi. Ia pun secara sadar bermimpi menjadi satu di antara mereka.


Marmi kerap bertukar cerita dengan Johan Kohar, relawan Tzu Chi yang mendampinginya. Hal tersebut membantunya tetap bersemangat menjalani hidup.

Untuk merealisasikan impiannya, dalam beberapa kesempatan, Marmi dan Alvin ikut membantu kegiatan para relawan Tzu Chi. Semangat para relawan seakan menular padanya.

Energi-energi positif itu ia salurkan kembali dengan membuka kelas les privat untuk anak-anak di Rusun. Dengan mengajar, nyatanya membuat Marmi bahagia, karena selain mendidik anaknya ia juga bisa berbagi ilmu dengan anak-anak lainnya. “Hati yang gembira adalah obat,” jelasnya.

“Kanker bukan akhir dari segalanya, bahagia itu sederhana kalau kita selalu mengucap syukur dalam segala hal. Selagi Tuhan kasih napas jangan disia-siakan. Bahagia itu bukan berarti kita banyak uang, kita tidak sakit, tetapi bagaimana kita bisa ikhlas dan bersyukur,” tandas Marmi dengan penuh senyuman.

Delapan belas tahun hidup dengan penyakit kanker, Marmi kerap berpesan kepada anak semata wayangnya untuk terbiasa hidup mandiri. Marni kerap berpesan kepada putranya jika ia tidak tahu batas kemampuan tubuh dan umurnya. “Anak saya pun selalu mendoakan kesembuhan saya,” cerita Marmi. “Mungkin saya masih hidup saat ini karena Tuhan masih memberi tugas untuk saya dan belum selesai. Ini jadi PR saya untuk menyelesaikannya setiap hari,” kata Marmi yang terlihat bersemangat.

Menginspirasi Sesama
Kisah Marmi berbekas di hati para relawan. Perjuangannya dalam iman tanpa putus asa menjadi injspirasi yang sangat bisa dicontoh.

“Kita mesti banyak belajar sama dia, yang kita tau penyakit kanker itu suatu penyakit yang sudah tidak ada harapan. Tetapi dibalik semua itu ternyata Marni memiliki harapan,” ungkap Johan Kohar, relawan He Qi Timur yang selalu mendampingi Marmi.

Johan berharap Marmi terus bersemangat walaupun dalam kondisi yang tak pasti. Sosok Marni bisa menjadi contoh, guru, maupun motivator bagi sesama bahwa harapan itu selalu ada. “Karena setiap orang masih bisa berguna dengan segala kekurangannya,” tutup Johan.

Penulis: Arimami Suryo A.

Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -