Bergerak Bersama Menyembuhkan Luka


Upaya pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus berlanjut. Selain bantuan darurat dan layanan kesehatan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga menyiapkan program jangka panjang berupa pembangunan 2.500 rumah bagi para penyintas banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ini merupakan wujud kepedulian agar warga bisa bangkit dan memulihkan kehidupannya.

*****

Bencana yang terjadi di sebagian wilayah Sumatera datang begitu cepat, memporak-porandakan rumah, jalan, hingga ruang publik yang selama ini menjadi tempat masyarakat bersandar. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, relawan Tzu Chi hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan harapan bagi para penyintas yang sedang berjuang untuk bangkit kembali.

Bagi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, bantuan kemanusiaan tidak berhenti pada pemberian sembako semata. Setiap langkah dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kebutuhan masyarakat sejak hari pertama bencana hingga kehidupan mereka kembali pulih. Melalui pendekatan jangka pendek, menengah, dan panjang, relawan Tzu Chi berupaya mendampingi para penyintas agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Pada tahap awal atau bantuan jangka pendek, relawan bergerak cepat menyalurkan makanan siap saji, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi yang masih penuh risiko, bantuan tersebut menjadi penopang utama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal maupun kesulitan memperoleh kebutuhan sehari-hari. Kehadiran relawan di lokasi bencana juga menjadi penguat batin bagi masyarakat yang sedang dilanda kesedihan dan ketakutan.



Tampilan rumah untuk warga penyintas bencana Sumatera yang dibangun oleh Tzu Chi Indonesia di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Setelah kondisi mulai berangsur stabil, bantuan berlanjut ke tahap menengah melalui kegiatan pembersihan kota. Relawan bersama masyarakat bergotong royong membersihkan jalan-jalan yang tertutup lumpur dan sampah akibat bencana. Tidak hanya itu, masjid dan fasilitas umum lainnya turut dibersihkan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dan beribadah dengan nyaman.

Namun, pemulihan sesungguhnya membutuhkan waktu yang lebih panjang. Karena itu, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melanjutkan bantuan melalui program jangka panjang berupa pembangunan hunian atau rumah tinggal yang nyaman dan aman tetap bagi para penyintas.

Babak Baru Pemulihan Bencana
Babak baru perjalanan panjang mendampingi para penyintas bencana di Sumatera perlahan menghadirkan harapan. Ini terwujud dengan telah diterimanya hunian tetap sebanyak 227 rumah yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, untuk para penyintas pada April 2026.

Bagi relawan Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi Medan, bencana bukan sekadar peristiwa yang disaksikan dari kejauhan. Mereka memilih untuk datang langsung ke lokasi terdampak, menembus jalan rusak, medan yang sulit, dan waktu perjalanan yang tidak sebentar demi memastikan para penyintas tidak merasa sendirian.

Relawan Tzu Chi mengunjungi rumah keluarga Hendri Lubis. Kedatangan relawan disambut dengan penuh kehangatan.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto (kanan), Ketua TTD Tzu Chi Medan, Timmy Jawira (tengah), meninjau pembangunan rumah untuk penyintas bencana di Sumatera.

“Namanya kami ini relawan Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi, ketemu dengan masalah bencana yang begitu besar, otomatis kita harus segera terjun ke lokasi bencana. Di mana kami relawan ini ingin memperpanjang tangan Master,” ujar Timmy Jawira, Ketua TTD Tzu Chi Medan.

Gerak kemanusiaan itu tidak hanya dilakukan oleh satu kelompok relawan Badan Misi Tzu Chi saja. Di tengah kondisi darurat, berbagai Badan Misi Tzu Chi turut bersatu hati membantu para korban bencana.

“Jadi selain relawan TTD, kami juga dibantu oleh relawan dari Badan Amal dan misi-misi yang lain juga ikut membantu serta mendukung dalam kegiatan ini. Relawan dari beberapa Badan Misi Tzu Chi jadi ikut tergerak hatinya untuk ikut berangkat bersama relawan TTD ini,” lanjut Timmy.

Bagi para relawan, pengalaman ini juga menjadi ruang pembelajaran batin. Timmy berpesan untuk dirinya sendiri maupun relawan lainnya bahwa menjadi relawan Tzu Chi bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga tentang melatih hati dan membangun kebijaksanaan dalam diri.

“Pesan cinta kasih untuk para relawan, belajarlah bijaksana, turunkan ego, praktikkan apa yang diajarkan oleh Master, jangan hanya mendengar saja tapi praktikkan,” ungkapnya.

Kini, rumah yang telah berdiri mulai diisi oleh para penghuni. Kehidupan perlahan kembali berjalan. Anak-anak kembali bermain, para orang tua mulai menjalani aktivitas sehari-hari, dan senyum yang dulu sempat hilang perlahan kembali terlihat.

“Semoga mereka bisa terhibur dengan menerima rumah ini, dan semoga mereka bisa cepat melakukan kegiatan serta aktivitas sehari-hari kembali,” harap Timmy.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto (dua dari kiri) beserta Kepala External Relation & Social Project Tzu Chi, Andre Zulman, berkunjung ke rumah warga yang telah menempati hunian tetap di Tapanuli Selatan.

Senyum bahagia keluarga Tuti Harahap karena dapat beraktivitas dan memulai kehidupan baru di rumah yang diberikan Tzu Chi Indonesia.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto, turut merasakan kebahagiaan saat melihat para penyintas bencana ini mulai menempati rumah barunya.

“Semenjak kita penyerahan sampai hari ini rata-rata rumah sudah ditinggali penghuni. Alhamdulillah penghuni ini semua sangat gembira, artinya mereka sudah difasilitasi rumah yang sangat layak,” ujarnya.

Mujianto juga menyampaikan bahwa rumah yang dibangun ini lahir dari ketulusan banyak orang yang ikut mendoakan dan membantu para korban bencana.

“Karena cinta kasih itu, semua donatur berdoa tolong sampaikan bantuan kami cepat diselesaikan untuk para korban bencana. Jadi artinya rumah ini adalah rumah berkah karena banyak orang yang doa,” tuturnya.

Di tengah duka akibat bencana, cinta kasih yang tulus telah menjadi cahaya yang menghangatkan banyak hati. Rumah ini bukan hanya tempat berteduh, melainkan simbol bahwa harapan selalu dapat tumbuh kembali ketika manusia saling menguatkan dengan ketulusan.

Teks & Foto: Fikhri Fathoni
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -