Bertumbuh Lewat Berbagi


Keputusasaan akibat banjir besar yang melanda Aceh dan Sumatera Utara pada akhir 2025 tidak membuat Juniarty dan Teo Siau Peing menyerah. Meski rumah dan usaha mereka turut terdampak, keduanya justru memilih tetap berdiri di tengah kondisi yang belum pulih. Alih-alih larut dalam kesulitan, dua relawan Tzu Chi ini melangkah keluar membantu sesama, menemukan kembali harapan melalui tindakan sederhana, yakni berbagi dan melayani mereka yang membutuhkan.

*****

Keputusasaan menjadi harapan itu adalah yang kini dialami Juniarty, relawan Tzu Chi di Kuala Simpang yang juga warga terdampak. Di tengah lumpur yang masih tersisa dan usaha yang porak-poranda, Juniarty yang akrab disapa Jane, memilih untuk tetap berdiri di Kuala Simpang.

Di saat banyak orang memutuskan mengungsi, ia malah bertahan. Bukan karena tidak takut, melainkan karena ia merasa hidup, pikiran, dan langkahnya ada di kota itu.

Jane mengawali ceritanya dengan rasa syukur. Ia berterima kasih kepada Tzu Chi yang bergerak cepat menyalurkan bantuan. Saat banjir melanda, warga kekurangan air minum, air bersih, makanan, dan kebutuhan dasar lainnya. Bahkan, ada yang berhari-hari tidak makan. Begitu Tzu Chi datang, bantuan darurat dapat disalurkan.

Keluarganya sempat mengajaknya mengungsi ke Medan. Namun Jane berpikir panjang. “Kalau satu dua hari mungkin masih bisa. Tapi kalau berbulan-bulan? Mau sampai kapan?” katanya. Kondisi yang tidak menentu justru membuatnya memilih bertahan.

Daripada larut dalam kecemasan, Jane memutuskan melakukan apa yang bisa dilakukan. Ia tak mau duduk diam dan hanya meratapi nasibnya, tapi ikut turun berbagi dan membantu sesama.

Dokumentasi dari rumah Juniarty menunjukkan betapa parah situasi banjir yang menggenangi rumah dan tokonya. Air setinggi satu setengah hingga dua meter menggenang dan meninggalkan lumpur yang juga tak kalah tinggi, hingga membawa mobil saling bertumpuk bak terkena tsunami.

Sejak 2007, setelah pindah dari Tanjung Balai Asahan ke Kuala Simpang, Jane membangun usaha toko elektronik. Ia memiliki dua ruko yang berjarak sekitar tujuh pintu satu sama lain. Keduanya menjual laptop, komputer, printer, perlengkapan kantor, sekaligus menyediakan jasa servis. Satu ruko terdiri dari satu lantai, sementara yang lainnya empat lantai dengan ukuran 4x22 meter. Total ada 15 karyawan yang menggantungkan hidup pada usaha tersebut. Namun banjir besar di akhir tahun lalu memporak-porandakan semuanya.

Jane bercerita, air setinggi dua meter masuk ke dalam rukonya. Mereka terpaksa mengungsi ke lantai dua, tanpa bisa pergi ke mana-mana karena air mengepung dari segala arah. Selama sekitar lima hari mereka bertahan, hingga air perlahan surut dan meninggalkan lumpur setebal 40 – 50 sentimeter, atau sekitar setinggi betis orang dewasa. Salah satu ruko bahkan mengalami sedikit longsor pada bagian tanahnya.

Seumur hidupnya, Jane belum pernah mengalami banjir sebesar itu. “Dari kecil sampai dewasa, tidak pernah kebanjiran sampai air masuk rumah,” ujarnya. Karena itu, saat bencana datang, ia benar-benar syok. Perasaannya campur aduk, takut, pasrah, bingung. Apalagi bukan hanya dirinya yang terdampak, seluruh kota mengalami hal yang sama. Setiap bertemu warga lain, pertanyaan yang muncul selalu serupa, “kek mana bisa separah ini?”

Yang terlintas di pikirannya waktu itu sederhana, sampai kapan harus membereskan semua ini? Barang rusak, perabotan hancur, usaha terhenti. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan, anak-anak masih sekolah dan kuliah, pengeluaran tetap ada, tapi pemasukan nyaris tidak ada.

Kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai satu miliar rupiah. Belum lagi perangkat pelanggan yang sedang diservis dan ikut rusak, semuanya harus ia tanggung dan ganti. Usaha yang selama ini menjadi tumpuan keluarga mendadak lumpuh.

Alih-alih berpangku tangan dan meratapi bencana yang menghabiskan rukonya, Juniarty (kiri) memilih mengisi hari dengan turut ikut serta berkegiatan bersama relawan dan mendistribusikan bantuan ke titik-titik lokasi pengungsian.

Di tengah kondisi itu, Jane justru memilih aktif menjadi relawan. Sejak Desember, ketika relawan Tzu Chi Aceh dan Medan mulai masuk dan bisa mendistribusikan bantuan ke Kuala Simpang, ia turut membantu pembagian bantuan secara rutin. Baginya, diam di rumah justru membuat pikiran semakin kalut. “Kalau di rumah cuma kepikiran terus, malah stres sendiri. Daripada nggak berbuat kan lebih baik kita bergerak.”

Dengan menjadi relawan, harinya terasa lebih cepat berlalu. Ia melihat langsung warga lain yang kondisinya jauh lebih berat, rumah hanyut, tinggal di pengungsian, kehilangan hampir segalanya. Dari situ tumbuh rasa syukur bahwa rumahnya masih bisa ditempati, keluarganya selamat dan sehat.

“Pertama memang down sekali,” akunya. “Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kita masih dikasih selamat. Masih bisa tinggal di rumah. Banyak yang lebih parah.”

Di tengah kerugian besar dan usaha yang belum pulih sepenuhnya, Jane menemukan satu hal yang utuh, yakni tekad untuk berbagi.

Melangkah Membagi Berkah
Selain Jane, ada juga Teo Siau Peing, relawan Tzu Chi asal Bireuen, Aceh yang rumah sekaligus toko keluarganya turut terdampak banjir. Lumpur menggenangi seluruh bangunan. Suami dan putranya harus berjibaku menyelamatkan barang dagangan berbahan besi yang berat. Namun di tengah kondisi pribadi yang belum pulih, ia memilih tetap turun membantu.

Teo Siau Peing menenangkan warga imbas banjir yang menerjang rumah mereka. Walaupun ia juga merupakan korban banjir, Siau Peing terus berusaha bersyukur dan masih turun membantu warga yang lebih kesusahan.

“Saya mengurus bagian logistik,” tegasnya. Tugas menyalurkan bantuan Tzu Chi bukan perkara sederhana. Bantuan yang disalurkan berupa beras, mi instan, minyak goreng, telur, biskuit, air mineral, pakaian layak pakai, dan tenda terpal. Namun tantangan utamanya bukan pada ketersediaan barang, melainkan akses menuju lokasi terdampak bencana.

Distribusi barang-barang bantuan harus mempertimbangkan berbagai faktor mulai dari kondisi jalan yang rusak, jembatan yang ambruk, ketersediaan BBM, hingga memastikan sopir memahami medan yang ekstrem. Beberapa wilayah hanya dapat dicapai setelah melalui survei dan koordinasi matang.

Dalam beberapa kesempatan, ia bergabung dengan relawan dari Bireuen, Banda Aceh, dan Lhokseumawe. Namun ada pula momen ketika ia hanya didampingi dua relawan perempuan dan seorang sopir truk. “Kami tetap lanjut mengantarkan bantuan ke titik yang sudah disurvei sebelumnya,” ujar Teo Siau Peing dengan tegas.

Kondisi jembatan yang terputus akibat derasnya aliran air menyebabkan terputusnya pula akses warga sekaligus bantuan yang didistribusikan. Mereka lalu menggunakan tali rel untuk akses pemberian bantuan.

Di lapangan, ia menyaksikan kondisi yang mengguncang batinnya. Yang paling membekas adalah sebuah jembatan dekat kediamannya yang roboh sebagian. Terbentuk celah sekitar 30 meter antara jalan aspal dan sisa jembatan yang masih kokoh. Transportasi lumpuh total.

Untuk bertahan hidup, aparat dan pemuda setempat memasang tali sling dan system angkut gantung. Orang dan bahan makanan diseberangkan secara bergantian.

Ia juga melihat warga yang terisolasi terpaksa memakan buah mentah yang tersisa di pohon dan meminum air banjir yang keruh. Pemandangan itu meninggalkan luka batin yang sulit dilupakan.

“Semua warga merasa tak berdaya. Harta benda mereka lenyap dalam semalam. Mereka panik dan berharap bantuan makanan dan minuman secepat mungkin.”

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat pembagian seragam sekolah di Kecamatan Langkahan, Desa Bukit Linteng, Aceh Utara. Kepala desa setempat menyampaikan bahwa banyak anak sempat enggan kembali ke sekolah karena tidak memiliki seragam. Ketika bantuan diserahkan, anak-anak itu bertepuk tangan riang.

“Saya merasa sangat tersentuh,” katanya. “Mereka kembali bersemangat untuk sekolah.”

Walaupun relawan wanita, Teo Siau Peing memegang peranan sebagai tim logistik dan memastikan bantuan bisa tersalurkan dengan sukses. Beberapa kali ia bahkan terkendala jalan rusak maupun putus, namun sebisa mungkin bantuan tetap disalurkan dan warga tidak menunggu lama.

Tak hanya di Kuala Simpang dan Bireun, bahkan di Kota Medan pun kondisi serupa juga terjadi. Lukman, Wakil Ketua Tzu Chi Medan juga menuturkan bahwa sejak awal kondisi darurat, relawan Tzu Chi Medan di wilayah kota langsung bergerak cepat dengan koordinasi yang terus disesuaikan di lapangan.

“Kota Medan pun hampir lumpuh seluruhnya. Rumah relawan pun ikut terendam banjir. Tapi kami mencoba tetap semangat keluar rumah, menjangkau warga lainnya.”

Itu pun semangat yang sama seperti kisah Juniarty juga Teo Siau Peing, di tengah keterbatasan, mereka tetap memilih untuk bergerak dan membantu.

Dukungan masyarakat yang mengalir deras, baik dalam bentuk barang maupun dana, menjadi penguat langkah relawan untuk terus bekerja siang dan malam demi memastikan bantuan menjangkau warga yang paling membutuhkan. Dari titik inilah, bantuan darurat itu berlanjut menembus batas wilayah.

Teks : Anand Yahya, Metta Wulandari
Foto: Ronaldo (Tzu Chi Aceh), Dok. Tzu Chi Aceh, Dok. Pribadi
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -