Cinta Kasih yang Menuntun Langkah Yusnita

Untuk menambah penghasilan keluarga dan membayar sewa kontrakan, Yusnita membuka jasa pijat.

Bencana banjir merenggut rumah, harta benda, dan calon buah hati Yusnita. Namun di tengah keterbatasan penglihatannya, penyintas bencana asal Tapanuli Selatan ini perlahan bangkit, menemukan harapan baru melalui hunian tetap dan kepedulian relawan Tzu Chi.

*****

Yusnita (42) adalah salah satu penyintas bencana banjir yang tinggal di Dusun Pulau Lubang, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Di balik keterbatasan penglihatannya sebagai penyandang tunanetra, Yusnita tetap berusaha menjalani hidup dengan mandiri. Sehari-hari, ia bekerja sebagai tukang pijat untuk membantu menambah pendapatan keluarga. Suaminya bekerja sebagai buruh serabutan, sehingga penghasilan dari jasa pijat menjadi salah satu penopang penting bagi kebutuhan hidup mereka.

Namun, bencana banjir yang datang secara tiba-tiba mengubah banyak hal dalam hidup Yusnita. Rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh bersama keluarga hanyut tersapu derasnya banjir. Tidak hanya rumah, harta benda yang dikumpulkan sedikit demi sedikit pun ikut hilang terbawa arus. Dalam sekejap, tempat tinggal, barang-barang pribadi, dan rasa aman yang selama ini ia miliki lenyap tanpa tersisa.

Yusnita sempat mengira banjir yang sebelumnya datang sudah surut dan tidak akan kembali lagi. Namun pagi itu, tanpa diduga, air kembali datang dengan cepat. Dalam keterbatasan penglihatannya, Yusnita hanya bisa merasakan kepanikan yang semakin besar. Ia ingin menyelamatkan diri, juga ingin mengambil dokumen-dokumen penting. Namun derasnya banjir dan kondisi yang serba mendadak membuatnya tidak mampu berbuat banyak.

“Saya kirain tuh banjir itu sudah surut, tidak akan datang lagi. Tiba-tiba kok datang lagi,” cerita Yusnita.

Di tengah kepanikan itu, Yusnita berteriak meminta pertolongan. Suaranya terdengar penuh ketakutan dan kebingungan. Ia tidak tahu harus melangkah ke mana, sementara air terus naik dan keadaan semakin tidak terkendali. Dalam situasi genting tersebut, keponakannya datang menolong dan membantunya keluar dari rumah.

Liani, relawan Tzu Chi memberikan dukungan agar Yusnita dapat bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan penuh semangat.

Duka Yusnita semakin dalam karena saat bencana itu terjadi, ia juga mengalami keguguran. Kandungannya yang telah berusia empat bulan tidak dapat diselamatkan. Kehilangan rumah dan harta benda sudah menjadi pukulan berat, namun kehilangan calon buah hati membuat luka itu terasa semakin menyayat.

“Terus keluarlah darah dan makin tambah banyak. Saya bingung kan mau ke mana, panik, teriak-teriak aku, ‘Tolong… tolong…’ Bingung juga mau menyelamatkan KTP, BPJS, dan KK saya. Datanglah ponakan saya nolong, itulah saya keluar,” kenang Yusnita pedih.

Setelah melewati masa-masa sulit dan kondisi kesehatannya mulai membaik, Yusnita perlahan mencoba bangkit. Meski hatinya masih diliputi duka, ia kembali bekerja sebagai tukang pijat. Ia membuka jasa pijat panggilan dan juga menerima pelanggan di rumah petak kontrakan yang ia sewa. Baginya, bekerja bukan hanya cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bentuk keteguhan hati untuk tetap melanjutkan kehidupan.

Menuju langkah Baru
Dari keteguhan Yusnita menghadapi musibah yang terjadi, rezeki datang menghampirinya. Yusnita adalah salah satu penerima bantuan rumah dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang dibangun untuk para penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Tapanuli Selatan. Rumah dan harta benda yang hanyut tersapu banjir kini telah tergantikan lengkap dengan furnitur, agar Yusnita dan keluarga dapat kembali memulai kehidupan dengan lebih baik.

“Senang sekali, saya dulunya tidak bisa beli itu sekarang saya sudah punya. Dulu rumah saya seperti gubuk, dinding dari papan dan sekarang juga lantainya dari keramik. Puji syukur Alhamdulillah saya enggak nyangka,” ucap syukur Yusnita.

Relawan Tzu Chi menempelkan nomor rumah milik Yusnita sebagai tanda bahwa rumah ini sudah siap untuk dihuni.

Kehadiran relawan Tzu Chi juga membuatnya haru. Dari tahap awal hingga tahap akhir penerimaan rumah, relawan Tzu Chi selalu mendampingi Yusnita dan memberikan dukungan moril untuknya. Sampai Yusnita menganggap kehadiran relawan Tzu Chi seperti kehadiran orang tuanya yang telah berpulang.

“Saya senang dan teringat sama orang tua saya. Saya menganggap ibu (relawan) itu seperti ibunda saya sendiri. Terharu, saya diantar ke rumah itu, dikasih isi dalam rumah, ada tempat tidurnya, segalanya ada di situ,” ucap Yusnita dengan haru.

Hunian tetap ini menjadi awal baru untuk menata kembali kehidupan setelah kehilangan besar yang ia alami. Di balik duka akibat bencana, hadir kasih dan kepedulian yang menguatkan, serta meneguhkan keyakinan bahwa ia dan keluarganya tidak berjalan sendiri.

Teks & Foto: Fikhri Fathoni
Berbicaralah secukupnya sesuai dengan apa yang perlu disampaikan. Bila ditambah atau dikurangi, semuanya tidak bermanfaat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -