Dalam Derai Hujan, Mereka Mendapatkan Rumah yang Menguatkan

Rusdi saat memanen kangkung di sawah Garapan dekat rumahnya di Desa Bojong Renged, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang.
Dulu setiap derai hujan membuat keluarga Rusdi dan Kilah kahawatir. Rumah dari kedua keluarga ini tak kuasa melindungi keluarga mereka dari setiap tetes air hujan yang turun. Sekarang keluarga-keluarga ini dapat dengan tenang menyambut hujan karena rumah mereka sudah berdiri kokoh dengan atap yang baru.
*****
Pagi itu, pada 19 November 2025, cuaca cerah mengiring Rusdi (45) berangkat ke sawah garapan untuk memanen minuman, ia dengan langkah bahagia berjalan melawati tanah becek yang habis disirami hujan semalam. Rusdi adalah seorang buruh tani yang sehari menerima bayaran seratus ribu seusai memeras keringatnya di sawah garapan milik orang. Kangkung, bayam, dan caisim adalah tanaman yang berkala ia tanam.
Rusdi bersama keluarga tinggal di Desa Bojong Reged, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Dengan kehidupan yang sederhana ia hidup bersama 7 anggota keluarga lainnya: ibu mertua, istri, dua anak, dan tiga keponakan. Walapun hidup di tengah kesederhanaan, masih tersimpan rasa bahagia ketika semua berkumpul.
Dulunya, rumah yang ditinggali Rusdi dan keluarga kondisinya cukup membuatnya khawatir karena bangunan lama, temboknya sudah mulai retak karena pernah tersambar petir sehingga rawan roboh. Nahasnya di suatu malam tiba-tiba atap teras rumahnya roboh dan sebagian genteng bagian ruang tamunya merosot. Beruntung ketika musibah itu datang keluarganya tidak ada yang terluka.
Kondisi sebagian rumah yang rubuh membuat istri Rusdi, Siti Melani (38) khawatir, terlebih musibah itu datang saat malam hari. “Kejadian pas saya lagi beres-beres rumah waktu malam, tiba-tiba rubuh,” cerita Siti Melani. Saat itu juga ia langsung melapor ke staf kelurahan bahwa sebagian rumahnya roboh, “Pas roboh kita langsung laporan sama Bapak Lurah dan pegawai-pegawainya. Sama mereka langsung saya disuruh siapkan berkas-berkas untuk pengajuan renovasi rumah,” tambahnya.

Tampilan rumah Rusdi setelah direnovasi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dan Agung Sedayu Group (ASG). Kini, Rusdi dan keluarga tidak perlu khawatir lagi air hujan menggenangi rumahnya.
Masalah belum berhenti sampai di situ, dua hari setelah rumahnya roboh, hujan datang, karena atap rumahnya baru direnovasi sementara dengan alat dan bahan bangunan seadanya, air hujan masuk dan menggenangi lantai rumahnya. “Pas roboh belum hujan, setelah dua hari roboh turun hujan, terus kita ngungsi ke rumah tetangga dan sebelah ada saudara juga, entar hujan reda balik lagi ke rumah,” tambahnya.
Dengan penghasilan yang didapatnya, Rusdi tak mampu untuk merenovasi rumahnya. Uang hasil menggarap sawah hanya mampu untuk keperluan sehari-hari. “Saya bingung mau nabung, uang seratus ribu ini sehari buat makan dan yang lainnya, ya dicukup-cukupin istri saya lah, ya pokoknya seratus ribu saya serahin ke dia,” cerita Rusdi.
Jalinan Jodoh dari Rumah yang Roboh
Selama sebulan keluarga ini bertahan dengan kondisi yang menghawatirkan, terlebih di dalam rumah terdapat Lansia dan Balita. Dengan doa dan kesabaran akhirnya keluarga ini mendapat kabar bahagia rumahnya akan direnovasi. Bantuan datang dari kolaborasi antara Yayasan Buddha Tzu Chi dan Agung Sedayu Group (ASG) dalam Program Bebenah Kampung Renovasi 5.020 Rumah Tidak Layak Huni. Kabupaten Tanggerang sendiri mendapat bantuan renovasi sejumlah 500 rumah.
Pada September lalu, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Yayasan Buddha Tzu Chi, dan Agung Sedayu Group (ASG) telah mengelar serah terima 115 kunci rumah yang telah direnovasi kepada warga Kabupaten Tangerang.

Siti Melani menyuapi makan salah satu anaknya. Kini, setelah rumahnya direnovasi oleh Tzu Chi Indonesia dan ASG keluarga ini dapat tersenyum bahagia saat melakukan aktivitas di rumah.
Bersama kesulitan ada kemudahan, itulah yang dirasakan Rusdi dan keluarga. Setelah sebulan bertahan dengan kondisi rumah sebagian roboh, serta kebanjiran saat hujan datang, bantuan datang untuk perbaikan rumahnya. Siti Melani merasa bersyukur ketika mendapat kabar keluarganya akan mendapat bantuan renovasi rumah. “Alhamdulillah dapat kabar dari kelurahan, ada beberapa orang kelurahan ke rumah saya, langsung deh disuruh siapin berkas-berkas. Terus ada yang wawancara juga, eh tahunya dapat bantuan renovasi rumahnya dari Tzu Chi dan ASG,” cerita Siti Melani.
Kini, setelah rumahnya direnovasi, Siti Melani tidak perlu khawatir kebanjiran lagi.” Saya seneng, sekarang udah udah enggak kebocoran lagi kalau hujan,” ungkapnya.
Senada dengan istrinya, Rusdi juga merasa bersyukur dan bahagia karena rumahnya kini sudah kokoh, aman, dan nyaman. “Kalau kata gunung mah gede, hati saya lebih gede,” ucap Rusdi menggambarkan perasanya saat ini. Tak lupa juga ia mengapresiasi bantuan renovasi rumah yang ia terima. “Terima kasih banget saya, karena saya bener-bener diuji banget, enggak nyangka saya dapat bantuan. Sekarang tidur nyaman udah enak semuanya lah, Alhamdulliah. Pertama saya ucapkan terima kasih untuk Agung Sedayu Group (ASG) dan Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu kami sekeluarga,” ucap syukur Rusdi.
Kisah Kelabu dari Rumah Bilik Bambu
Masih dari kecamatan yang sama yaitu Teluknaga, rasa syukur juga datang dari keluarga Utin (73) yang tinggal di Desa Teluknaga. Utin tinggal bersama istrinya, Kilah (60), dan kedua anaknya. Sudah sejak lama keluarga ini hidup di rumah yang tidak layak huni, bahkan rumah ini sudah ditinggali Utin sejak kecil.

Rumah pasangan Utin dan Kilah setelah direnovasi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dan Agung Sedayu Group (ASG). Kini, Utin dan Kilah tidak perlu khawatir lagi air hujan menggenangi rumahnya akibat kebocoran.
Di dalam sebuah gang, rumah yang berdinding anyaman bambu dan papan triplek ini tidak pernah berdiri kokoh, atapnya pun tak kuasa menahan air hujan, sehingga membanjiri lantai pelur yang sudah banyak retakan. Saat hujan datang, Kilah tungganglanggang menadahi air yang mengalir dari atap rumahnya, serta menutupi perabotan rumah dengan plastik. “Bukan main bocornya, semua perabotan ditatakin pakai plastik, itu bapak sampai digotong-gotong dipindahin lagi sakit, bukan main repotnya, kadang saya suka sedih,” penuh haru Kilah bercerita.
Bukan hanya terdapat satu atau dua titik bocor di rumah ini, melainkan dari ruang tamu hingga kamar juga turut kebocoran. Kamar tidur seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, namun hal itu tidak dapat dirasakan Utin dan Kilah ketika hujan datang. “Bocor di kasur, panci sampai tiga biji saya taroin, semua pada bocor. Kalau lagi hujan malem enggak pada tidur, pada duduk aja semua,” tambahnya.
Penghasilan yang tidak tetap memupuskan harapan Utin dan Kilah untuk merenovasi rumahnya. Utin dan Kilah bekerja sebagai pengupas bawang. Penghasilan yang minim hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. “Kalau dari uang mengupas bawang, seminggu bisa dapat 260 ribu, dibagi tiga dengan bapak dan anak,” cerita Kilah.

Utin dan Kilah saat bekerja serabutan sebagai pengupas bawang putih di dekat rumahnya yang berlokasi di Desa Teluknaga, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang.

Rumah Utin sebelum direnovasi oleh Tzu Chi Indonesia dan ASG.
Dari ketabahan dan doa-doanya, Kilah dan keluarga akhirnya dapat menikmati rumah yang aman, sehat, dan nyaman untuk ditempati. Kini, setelah rumahnya direnovasi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dan Agung Sedayu Group (ASG), keluarga ini tidak lagi takut kebocoran dan dapat tidur dengan nyenyak walaupun hujan datang. “Seneng atuh sekarang rumah saya sudah bagus, ini mah saya Alhamdulillah banget, sekarang tidur mah udah enak,” tambahnya.
Dengan cerita kelabu dari rumahnya yang terbuat dari bilik bambu dan atap yang bocor, kini berubah menjadi rumah nyaman yang membuatnya bahagia. Tak lupa juga Kilah mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu merenovasi rumahnya. “Saya banyak-banyak terima kasih saya sudah ditolongin, rumah saya yang tadinya jelek sekarang bagus,” ucap Kilah.

Teks: Fikhri Fathoni
Fotografer: Fikhri Fathoni, Dok. Pribadi







Sitemap