Dari Balik Jendela, Harapan Menyapa


Banjir besar
yang melanda Tapanuli Selatan pada November 2025 tak hanya merendam rumah-rumah warga, tetapi juga meninggalkan luka dan ketidakpastian bagi para penyintas. Di tengah kondisi itu, hadirnya hunian tetap dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menjadi harapan baru bagi keluarga Suyatmin untuk kembali memulai kehidupan dengan lebih aman.

*****

Dampak banjir yang melanda kawasan Dusun Sukamaju, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, pada November 2025 lalu, masih dirasakan oleh warga di sana. Suyatmin (61) adalah salah satu dari ratusan warga yang masih merasakan dampak banjir. Hingga saat ini rumahnya masih terendam air setinggi betis dan lumpur yang mengendap.

Rumah yang penuh kenangan itu sudah tidak aman lagi untuk dihuni. Hampir setiap minggu, Suyatmin menguras air yang tergenang di rumahnya, serta membersihkan lumpur yang mengendap. Namun, setiap hujan datang, air dari Sungai Batang Toru kembali meluap dan membanjiri rumahnya.

Suyatmin menghawatirkan kondisi rumahnya yang sewaktu-waktu akan lapuk karena terendam air. Rasa lelah pun dirasakan bersama istrinya, Mini (50), karena setiap minggu selalu membersihkan rumahnya tanpa henti. Bahkan mereka telah pasrah jika sewaktu-waktu rumahnya tidak dapat ditinggali lagi.

Banjir pada November 2025 lalu di Dusun Sukamaju memang cukup parah, ketinggian air bisa mencapai dada orang dewasa. Suyatmin merasakan banjir datang ketika ia sedang terlelap tidur. Ia terbangun karena air telah mencapai tempat tidurnya pada waktu subuh hari.

“Waktu itu sekitar jam lima pagi saya dengar dari suara masjid waktu adzan subuh, ternyata saya sudah terapung di atas tempat tidur, tempat tidur pun sudah mulai terangkat. Masuknya air, enggak tahu karena saya tidur cukup malam, pas bangun banjir sudah sepinggang,” cerita Suyatmin.

Kebahagiaan penerima bantuan adalah penyemangat bagi para relawan Tzu Chi untuk terus bersumbangsih kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam keadaan masih mengantuk dan kesadaran yang belum sempurna, Suyatmin bergegas menyelamatkan harta dan barang yang mudah untuk diselamatkan. Suyatmin pun berpacu dengan waktu karena air semakin lama semakin meninggi. Setelah menyelamatkan sedikit barang yang disimpan di atas lemari, ia bergegas untuk menyelamatkan diri.

“Waktu itu saya sedang sendiri karena istri sedang main ke rumah anak di Padang Sidempuan. Saya lebih dulu mengangkat barang-barang yang masih bisa diselamatkan, sesudah itu air semakin besar, takut juga. Bawa baju satu setel, keluarkan motor dan cari daratan (tempat aman), itupun air sudah tinggi, keluar pun kita sudah takut karena deras,” jelasnya.

Suyatmin meninggalkan rumahnya dan beberapa perabot rumah tangga yang tergenang air. Mau tidak mau harus ia lakukan untuk menyelamatkan diri.

Kondisi rumah lama Suyatmin yang masih terendam air karena banjir hingga saat ini. Rumah lamanya itu pun tak bisa lagi ditinggali karena tak lagi memberikan rasa aman untuk keluarganya.

Merasa Tenang, Rumah Tak Lagi Tergenang
Setelah banjir mereda mereka tidak serta merta langsung dapat menempati rumah yang terendam. Dengan berbagai pertimbangan mereka memutuskan untuk menyewa rumah kontrakan. Biaya sewanya pun cukup membebaninya, karena pendapatan Suyatmin yang bekerja sebagai petani menurun apalagi tidak bisa rutin mencari nafkah akibat banjir.

Mendengar kabar bahwa para penyintas bencana banjir akan dibuatkan rumah oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Mini, istri Suyatmin merasa senang dan berharap keluarganya bisa menjadi salah satu penerima bantuan. Rezeki pun datang, keluarga ini menjadi salah satu penerima rumah.

“Waktu itu kami dengar dari tetangga, ini kita mau dipindahkan ke huntap, langsung kami ikut saja, saya tanya bapak juga jawab iya. Rumah kita pun banjir sudah enggak bisa ditempati,” jelas Mini.



Suyatmin dan Mini, saat melakukan panggilan video call dengan anaknya yang berada di Padang Sidempuan. Suyatmin mengabarkan kondisinya yang sudah lebih baik di hunian tetap agar anaknya tidak perlu khawatir lagi.

Pembangunan perumahan di Hapesong Baru pun telah dimulai. Dengan penuh harap, Mini menantikan hunian yang akan ditempatinya nanti. Rasa penasaran juga timbul di dalam dirinya, memikirkan hunian baru ini apakah akan aman dan nyaman untuk ditempati. Dari rasa penasaran itu, Mini sesekali melihat berjalannya pembangunannya.

“Sempat memikirkan, rumahnya seperti apa ya kalau jadi? Apa nanti seperti hunian sementara (huntara) yang di televisi? Pernah juga rasa khawatir seperti itu. Tapi ternyata kami lihat rumahnya sebagus ini dan permanen, kami senang,” ungkapnya.

Hari yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba, pada 27 Maret 2026, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melakukan serah terima rumah kepada 120 keluarga. Deretan hunian ini lahir dari doa dan kepedulian relawan Tzu Chi dan berbagai insan yang membantu.

Kini, Suyatmin dan Mini telah bahagia menempati rumah baru mereka. Sejenak melupakan masa-masa sulit yang sempat mereka alami. Dengan penuh keyakinan, mereka mengikhlaskan rumah lama mereka yang sudah tidak layak huni dan berada di zona merah rawan banjir.

“Rumahnya nyaman, terus kami kalau mau keluar atau ke pasar dekat, jadi itu yang membuat kami nyaman di sini, enak di sini,” ucapnya.

Suyatmin dan istrinya, Mini, dapat berbahagia menempati hunian tetap pemberian Tzu Chi Indonesia. Kini mereka bisa menjalani keseharian dengan nyaman tanpa perlu khawatir lagi.

Mereka tidak perlu lagi memikirkan furnitur yang rusak terendam banjir serta yang masih tertinggal di rumah lamanya, karena Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memfasilitasi hunian mereka dengan diberikannya spring bed, sofa, meja makan, dan meja tamu untuk menunjang aktifitas sehari-hari.

Meski kenangan akan malam bencana itu masih membekas di hati, perlahan mereka mulai menata kembali kehidupan mereka di rumah baru yang lebih aman dan layak. Rumah yang dahulu dipenuhi genangan air dan lumpur kini berganti dengan tempat tinggal yang menghadirkan rasa tenang, nyaman, dan harapan baru untuk menjalani hari-hari ke depan.

Bagi mereka, rumah ini bukan sekadar bangunan permanen, tetapi juga simbol kepedulian dan cinta kasih yang hadir di tengah masa sulit. Kehangatan rumah baru serta perhatian yang diberikan oleh relawan Tzu Chi melalui berbagai fasilitas kebutuhan rumah tangga, menjadi penyemangat untuk kembali bangkit setelah bencana.

Teks & Foto: Fikhri Fathoni
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -