Di Balik Sentuhan Braille dan Papan Catur, Caesar Menata Masa Depan


“Jemarinya meraba titik-titik Braille dengan penuh keyakinan, sementara pikirannya sibuk menyusun strategi di atas papan catur. Meski tak lagi dapat melihat sejak usia delapan tahun, Caesar Ashraf Gerardo terus menemukan cara untuk memandang masa depan melalui ketekunan, prestasi, dan tangan-tangan penuh kasih yang mendampinginya bertumbuh.”

*****

Ujung jemari Caesar Ashraf Gerardo (12) bergerak perlahan menyusuri permukaan papan catur. Satu per satu bidak ia raba dengan teliti, memastikan setiap buah catur berada di posisi yang tepat. Sesekali ia berhenti beberapa detik, seolah sedang memetakan seluruh permainan di dalam benaknya. Tanpa tergesa-gesa, tangannya kemudian mengangkat sebuah bidak dan meletakkannya di petak berikutnya.

“Kalau sekarang lagi libur sekolah, saya biasanya latihan catur online. Cari lawan main dari mana saja,” tuturnya pelan.

Pada usia 12 tahun, aktivitas bermain catur selalu mengisi hari-harinya. Pagi hari ia bersekolah, sepulang sekolah, waktunya dihabiskan untuk mengerjakan tugas sekolah dan berlatih catur dengan komunitasnya. Ketika libur tiba, telepon genggam menjadi “arena pertandingan” tempat ia mengasah strategi melawan lawan-lawan yang bahkan tidak pernah ia temui. Semakin sering bertanding catur, semakin banyak pula pelajaran yang ia simpan di dalam ingatan.

Kecintaannya pada catur bukan hanya karena ingin menang. Di atas papan berpetak itu, Caesar menemukan dunia yang tidak pernah membedakan. Yang menentukan menang bukanlah keadaan fisik, melainkan ketelitian membaca situasi, keberanian mengambil keputusan, dan kesabaran menunggu waktu yang tepat untuk melangkah.

Di balik suaranya yang pelan dan pembawaannya yang tenang, tersimpan cara berpikir yang jauh lebih dewasa dari usianya. Setiap jawaban yang keluar dari mulutnya selalu singkat, tetapi penuh pertimbangan. Bahkan ketika berbicara tentang masa depan, nada suaranya tetap datar namun penuh keyakinan.

“Aku pengen bisa terus berprestasi supaya bisa membanggakan Mama. Nanti kalau sudah besar, aku pengen jadi PNS. Aku ingin memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas supaya lebih diperhatikan,” ucap Caesar bersemangat

Di rumah, sosok yang paling setia mendampinginya adalah Riska (sang ibu). Setiap hari, Riska mengantar Caesar ke sekolah maupun ke tempat latihan catur. Jika Riska tidak bisa menjemput, Riska memesankan transportasi daring untuk menjemput Caesar di sekolah. Kemandirian itu tumbuh perlahan, seiring usianya yang semakin bertambah.

Dulu, Caesar kecil adalah anak yang gemar menggambar dan mewarnai. Ia senang mengeksplorasi hal-hal baru, cepat menangkap pelajaran, dan memiliki ketertarikan pada angka. Matematika menjadi pelajaran favoritnya karena penuh dengan logika dan perhitungan. Sejak kecil, ibunya melihat ada rasa ingin tahu yang begitu besar dalam diri putranya. “Anaknya cepat menangkap. Apa yang diajarkan biasanya langsung mengerti,” kenang Riska.

Tidak ada yang menyangka bahwa ketika mulai belajar membaca di usia empat tahun, keluarga justru menyadari ada sesuatu yang berbeda pada penglihatannya. Hingga akhirnya dokter mendiagnosis Caesar mengalami katarak.

Ketika Cahaya Perlahan Menghilang
Ketika Caesar masih balita, Caesar adalah anak yang ceria dan cepat belajar sesuatu. Ia senang diperkenalkan dengan bendabenda baru, gambar-gambar, dan warna. Apa pun yang diajarkan, Caesar selalu cepat menangkap. Karena itulah, ia tidak pernah menyangka akan ada sesuatu yang berbeda ketika Caesar mulai belajar membaca di usia empat tahun. Huruf-huruf yang seharusnya mulai dikenali justru kabur di mata putranya.

Pada usia 3 tahun, perjalanan panjang dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain dimulai. Berbagai pemeriksaan dilakukan demi mencari jawaban. Harapan kembali muncul ketika dokter menyatakan Caesar mengalami katarak dan masih memiliki peluang untuk ditangani melalui operasi.

Caesar Ashraf Gerardo berlatih catur di rumah. Dengan meraba setiap bidak, ia mempelajari posisi dan menyusun strategi permainan melalui sentuhan.

Mata kanan lebih dahulu mendapat penanganan. Namun, tak lama setelah operasi, sebuah musibah terjadi. Caesar mengalami benturan akibat bercanda dengan saudaranya yang menyebabkan infeksi pada mata. Kondisi mata kanannya terus memburuk hingga akhirnya harus menggunakan mata prostesis.

Di tengah kesedihan itu, mata kirinya menunjukkan hasil operasi yang baik. Keluarga percaya setidaknya Caesar masih bisa melihat dunia melalui mata kirinya. Suatu hari, Caesar mulai mengeluhkan adanya bayangan gelap yang menutupi sebagian penglihatannya. “Rasanya seperti ada yang menghalangi setengah mata,” ucap Caesar.

Riska segera memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Mereka kembali ke rumah sakit dan menemukan adanya pelepasan saraf retina. Operasi kembali dilakukan. Kali ini dokter memasang silikon untuk mempertahankan kondisi retina.

Beberapa bulan setelah operasi, keadaan Caesar sempat membaik. Penglihatannya perlahan kembali. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Bayangan gelap kembali datang. Pemeriksaan menunjukkan bahwa retina kembali mengalami pelepasan. Operasi kedua pun harus dijalani.

Sejak saat itulah penglihatan Caesar terus menurun. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah kemampuan membedakan cahaya terang dan gelap. Menariknya, ketika ditanya apa yang Caesar rasakan saat mengetahui penglihatannya kemungkinan besar tidak akan kembali, jawabannya sangat sederhana. “Biasa saja.”

Jawaban itu membuat siapa pun yang mendengarnya sejenak terdiam. Caesar tidak menyangkal bahwa ia pernah sedih. Ia juga merindukan banyak hal yang dulu bisa ia lakukan, berlari bebas, bermain sepeda, bermain bola, atau sekadar melihat wajah ibunya. “Aku paling kangen lihat wajah Mama,” katanya lirih. Namun, kesedihan itu tidak pernah dibiarkannya tinggal terlalu lama.

Sejak kelas 4 SD, gurunya menyarankan Caesar pindah ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Di sana Caesar bertemu banyak penyandang tunanetra yang mampu hidup mandiri. Ia melihat gurunya mengajar dengan penuh percaya diri. Lalu ia mengenal huruf Braille dan berlatih catur. Sejauh ini Caesar mampu berjalan sendiri tanpa pendamping karena telah menghafal setiap sudut jalan yang dilaluinya.

Semua pengalaman itu mengubah cara pandangnya. Caesar mulai menyadari bahwa kehilangan penglihatan bukan berarti kehilangan masa depan.

“Kalau mereka bisa hidup seperti orang lain, berarti saya juga bisa belajar,” jelas Caesar. “Aku selalu minta sama Tuhan. Kalau memang jalan terbaiknya aku sembuh, aku minta disembuhkan. Tapi kalau memang jalan terbaiknya aku menjadi tunanetra, ya tidak apa-apa,” ucap Caesar. Kalimat itu diucapkannya tanpa nada kecewa.

Pada usia yang masih sangat muda, Caesar seolah telah memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi selalu memberi kesempatan bagi setiap orang untuk memilih bagaimana menyikapinya.

Papan Catur yang Membuka Jalan Harapan
Setelah kehilangan penglihatannya, Caesar harus mempelajari banyak hal dari awal, termasuk belajar mempercayai dirinya sendiri.

Keinginan untuk mandiri selalu ada dalam dirinya. Meski sering didampingi, Caesar tidak ingin selamanya bergantung kepada orang lain. Sedikit demi sedikit ia belajar mengingat arah, di rumah, di sekolah, di tempat latihan, mengenali suara, menghitung langkah, dan membangun keberanian untuk mencoba.

Caesar mengikuti pertandingan catur dengan penuh konsentrasi. Ia meraba dan memindahkan setiap bidak untuk menentukan langkah terbaik. Meski tidak dapat melihat, Caesar tetap mampu mengikuti jalannya pertandingan dengan mengandalkan sentuhan dan ingatannya terhadap posisi bidak.

Di tengah proses itulah, sebuah papan catur kembali hadir dalam hidupnya. Permainan yang sebelumnya hanya ia kenal sebagai hiburan bersama sang kakek perlahan berubah menjadi ruang untuk menemukan kembali rasa percaya diri. Agus, kakek Caesar, adalah orang pertama yang memperkenalkan catur. Suatu hari, tanpa banyak penjelasan, Caesar didaftarkan mengikuti sebuah kejuaraan catur tingkat Kota Bekasi. Ia bahkan tidak sempat mempersiapkan diri. Tapi siapa sangka, pada kejuaraan pertamanya, Caesar justru meraih juara kedua. Ia mulai percaya diri bahwa kehilangan penglihatan bukanlah akhir dari segalanya.

Catur Menjadi Bagian dari Caesar
Di belakang setiap medali, setiap piala, dan setiap penghargaan, setiap langkah bidak papan catur, selalu ada seorang ibu yang mengantarnya berlatih, menunggu pertandingan selesai, menguatkannya ketika kalah, dan ikut menangis bahagia ketika Caesar pulang membawa kemenangan.

Namun, perjalanan Caesar tidak hanya dipenuhi oleh keluarga. Di tengah proses bertumbuhnya, ia juga bertemu orang-orang yang mengajarkan kepadanya satu pelajaran sederhana, tetapi begitu berarti, bahwa dirinya tidak perlu diperlakukan berbeda.

Caesar bersama sang ibu, Riska (kiri), dan Denasari, relawan Tzu Chi yang turut mendampinginya. Dukungan dan motivasi dari orang-orang di sekitarnya membantu Caesar terus percaya diri dalam mengembangkan kemampuannya, termasuk melalui olahraga catur.

Salah satu kenangan yang paling membekas baginya datang dari para relawan Tzu Chi, salah satunya Denasari, relawan dari komunitas Bekasi Kota. Caesar adalah salah satu anak asuh Tzu Chi yang menerima beasiswa pendidikan dan tergabung sebagai Anak Teratai Tzu Chi. Setiap bulan ia selalu datang ke acara Gathering Anak Asuh Tzu Chi di Cikarang atau PIK.

Suatu ketika, Caesar mengikuti kegiatan edukasi tentang pelestarian lingkungan Tzu Chi di Cikarang. Dalam benaknya sempat muncul kekhawatiran. Ia mengira tidak akan dilibatkan karena tidak dapat melihat. “Tadinya aku pikir aku nggak bakal diajak.”

Relawan Tzu Chi justru mencari cara agar Caesar tetap bisa mengikuti pemilahan botol dan seluruh kegiatan bersama anak lainnya. “Ternyata aku tetap diajak,” lanjutnya.

Bagi Caesar, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti sebuah kegiatan. Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk disisihkan. Ia diperlakukan sama seperti anak-anak lainnya. Perasaan itulah yang terus ia bawa hingga hari ini ketika hadir bersama para relawan Tzu Chi.

Sebab bagi Caesar, penghargaan terbesar bukanlah ketika namanya dipanggil sebagai juara. Melainkan ketika orang lain melihat dirinya bukan karena keterbatasannya, tetapi karena kemampuannya.

Melihat dengan Hati
Kini, setiap kali duduk di depan papan catur, Caesar tidak lagi memikirkan apa yang telah hilang dari hidupnya. Ia lebih sibuk memikirkan langkah bidak catur berikutnya. Sebab dalam permainan catur, seperti juga dalam kehidupan, seseorang tidak pernah bisa kembali ke langkah sebelumnya. Yang bisa dilakukan hanyalah menyusun strategi terbaik untuk melangkah.

Caesar (tengah) bersama anak-anak Teratai wilayah Bekasi saat mengikuti Teratai Cup 2026 di Tzu Chi Center. Bagi Caesar, keterlibatan dalam berbagai kegiatan bersama anak Teratai lainnya membuatnya merasa diterima dan dilibatkan tanpa dibedakan karena keterbatasan penglihatannya.

Ketika wawancara hampir selesai, saya mengajukan satu pertanyaan terakhir. “Kalau Caesar bisa bertemu dengan Caesar kecil yang baru mulai kehilangan penglihatannya dahulu, apa yang ingin Caesar katakan ke dia?”

Anak itu terdiam sejenak. Lalu, dengan suara pelan, ia menjawab.

“Aku akan bilang, tetap semangat. Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik bagi orang yang bertahan. Tuhan tidak akan memberikan ujian yang lebih dari batas kemampuan hamba-Nya,” ucap Caesar. Tak ada nada dan raut wajah penyesalan, sebaliknya ada keyakinan yang tumbuh dari perjalanan panjang yang telah ia lalui.

Itulah yang membuat Caesar berbeda. Ia memang tidak lagi melihat dunia dengan matanya, namun ia mampu melihat harapan dengan cara yang tidak semua orang miliki. Sama seperti bidak-bidak catur yang ia gerakkan dengan ujung jemarinya. Perlahan, penuh perhitungan, namun tidak pernah berhenti melangkah.

Teks: Anand Yahya
Foto: Anand Yahya, Dok. Pribadi
Sumber: Majalah Dunia Tzu Chi Vol. 26, No. 3, Juli -September 2026
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -