Dua Saudari yang Saling Menguatkan di Saat Kehilangan

“Kita tidak bisa terus berlarut, ya sudah ini tidak apa-apa, ini buat jadi pelajaran hidup masing-masing. Hargai orang tua selagi ada, hargai setiap momennya. Karena kita tidak tahu ajal itu kapan datangnya,” Suci Alfia.
*****
Bencana tanah longsor telah mengubah kehidupan Suci Alfia (19) dan adiknya, Maya Kurnia (14), dalam sekejap. Rumah yang dahulu menjadi tempat pulang, berkumpul, dan berbagi kehangatan keluarga, kini menyisakan kenangan yang menyakitkan. Dalam peristiwa itu, mereka kehilangan ayah, ibu, dan adik bungsunya.
Kehidupan bahagia yang mereka jalani berubah pada Rabu, 26 November 2025. Malam itu sekitar pukul setengah sepuluh, suara gemuruh datang dari atas bukit pemukiman rumahnya. Ternyata, itu adalah suara gemuruh tanah longsor yang menerjang rumah Suci dan desanya yang beralamat di Kampung Durian, Desa Batu Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan.
“Posisinya saat itu sudah pada tidur semua karena mati lampu dan hujan juga. Posisi tidurnya aku, mama, bapak, sama adik yang paling kecil itu tidurnya di ruang tamu pakai kasur lantai, kalau Maya tidurnya di kamar. Kondisi rumah memang hidup lampu karena pakai genset,” cerita Suci.
Suci sempat terbangun pukul setengah sepuluh malam, lalu ia pergi ke belakang untuk mencabut charger ponselnya. Suci juga sempat pindah ke teras depan rumah sambil melihat kondisi sekitar. Saat itu warga sedang ramai berpatroli, karena banjir bandang telah melanda Desa Garoga lebih dulu. Tidak lama, suara gemuruh besar dan menakutkan datang, kemudian tanah longsor menerjang rumahnya dengan seketika.
“Langsung gelap, gensetnya langsung mati, dan enggak ada cahaya sama sekali. Suara gemuruh tanah kalau dari jauh seperti pesawat yang landas. Habis itu pas sadar saya sudah terpental jauh,” kenangnya.
Kejadian tersebut begitu cepat, Suci lebih dulu bisa dievakuasi karena saat kejadian berada di teras rumah. Dalam kepanikan, Suci sempat mendengar suara ayahnya yang menyuruh untuk menyelamatkan Maya.
“Awalnya tuh bukan suara Maya yang kudengar, seperti suara bapak. Tapi pas kutanya warga yang nolongin, itu enggak ada, bukan suara bapak. Tapi aku seperti dengar suara bapak ‘Itu Maya tolongin dulu’, habis itu barulah Maya ketemu,” ungkapnya.

Suci mengirimkan doa di depan makam ayah, ibu, dan adik bungsunya yang menjadi korban bencana tanah longsor.

Inilah kondisi saat ini desa tempat tinggal keluarga Suci yang diterpa tanah longsor. Akibat longsoran, rumah keluarga Suci tertimbun tanah setinggi dua meter.
Rumah beserta harta benda milik keluarganya habis tertimbun tanah. Dalam duka kehilangan anggota keluarga yang menjadi korban, serta tempat tinggal, mereka mencoba bangkit. Memulai kehidupan yang pastinya amat berbeda.
Kepergian tiga orang tercinta membuat hidup Suci dan Maya tidak lagi sama. Harihari yang dahulu penuh suara keluarga kini terasa lebih sunyi. Tidak ada lagi sosok ayah yang menjadi pelindung, ibu yang mengurus mereka dengan penuh kasih, maupun adik kecil yang menghadirkan keceriaan di rumah.
Suci, sebagai kakak, perlahan memikul peran yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia tidak hanya berusaha menguatkan dirinya sendiri, tetapi juga menjaga Maya agar tetap memiliki tempat untuk bersandar. Dalam diam, ia belajar menghadapi kenyataan bahwa dirinya kini menjadi satu-satunya keluarga yang dimiliki adiknya.
Sebelumnya, Suci berkuliah jurusan ekonomi di salah satu kampus di Padang Sidempuan. Karena bencana ini, Suci pun memutuskan untuk menunda mewujudkan cita-citanya untuk meraih gelar sarjana. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, Suci memutuskan untuk bekerja sebagai penjaga toko perabot rumah tangga. Prioritasnya saat ini adalah menjaga dan merawat adiknya, Maya.
“Sebenernya ada dari kepala daerah dan beberapa instansi ingin memberikan beasiswa, tapi aku memutuskan untuk enggak melanjutkan kuliah, karena siapa lagi yang nyari makan kami kalau bukan aku. Bakal ngarepin dari siapa? Dari saudara enggak mungkin, kita enggak mungkin membebani orang terus,” tuturnya.
Menitipkan Cita-Cita Kepada Adiknya
Setelah 100 hari duka kehilangan, kakak beradik ini perlahan bangkit. Walaupun bagi Suci sendiri bangkit itu sulit, namun ia juga tak boleh berlaut-larut dalam kesedihan. Kehidupan baru yang mereka jalani tidak mudah. Banyak hal yang harus dimulai dari awal, dari tempat tinggal, kebutuhan seharihari, hingga cara mereka menata kembali masa depan. Tantangan demi tantangan hadir, tetapi keduanya terus berusaha bertahan dengan cara mereka sendiri.

Di tengah duka yang melanda, Maya tetap semangat menjalani rutinitas di sekolah.
Maya mulai masuk sekolah lagi, ia merupakan murid kelas tiga SMP. Bahkan setelah tiga minggu bencana melanda, Maya sudah masuk ke sekolah untuk belajar dan bertemu dengan teman-teman kelasnya. Ia tampak tegar, seakan ruang kelas adalah tempatnya untuk menghibur diri.
Baginya, dengan melanjutkan sekolah mendekatkan cita-citanya untuk menjadi seorang guru. Tumbuh lebih baik, adalah harapan Suci untuk Maya. Walaupun Suci mengurungkan niat untuk meraih cita-citanya, tapi ia akan berusaha mewujudkan cita-cita adiknya. Walaupun juga perjalanan tidak sempurna, segala hal akan diupayakan oleh Suci.
“Mungkin karena aku enggak bisa kuliah, aku bakal terus bekerja keras buat Maya nanti kuliah. Seenggaknya ada yang kuliah sampai sarjana. Mama kan pengen aku kuliah, aku dulu sempat minta kuliah di Medan sama Padang tapi enggak dikasih, tapi disitu aku sadar karena terjadi ini (bencana) aku enggak dikasih kuliah jauh. Jadi mungkin gantinya kalau bisa Maya yang kuliah,” ungkapnya kuat.
Dengan pengorbanan yang diberikan kakaknya, Maya merasa bersyukur memiliki kakak seperti Suci. Untuk kedepannya, Maya berharap mereka dapat saling menguatkan. “Makasih udah ada buat Maya, semangat terus menghadapi kedepannya karena kita sudah enggak punya orang tua,” ucapnya penuh haru.
Rumah yang Lebih Aman
Kawasan pemukiman yang berdiri di bawah perbukitan rawan akan longsor. Itulah yang dialami Suci dan keluarganya, ketika tanah dari atas perbukitan menerjang rumahnya dan merenggut kebahagiannya. Kini, rumah lama yang penuh kenangan itu telah tertimbun tanah setinggi tiga meter.
Ketika melihat, mendengar, serta merasakan kesedihan yang diakibatkan dari bencana yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berkomitmen untuk membangun hunian tetap (huntap) untuk warga yang terdampak bencana. Di Tapanuli Selatan sendiri akan dibangun 500 hunian tetap untuk mereka.

Selain perhatian, relawan Tzu Chi juga membantu membawakan furnitur ke hunian tetap Suci. Di sana mereka merakitnya bersama dengan perasaan penuh sukacita.
Suci adalah salah satu penerima hunian tetap yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Dengan diberikannya hunian tetap ini, diharapkan dapat membangun kehidupan baru bagi Suci dan Maya.
Ketika pertama kali melihat komplek hunian tetap Tzu Chi yang dibangun di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Maya yang beberapa waktu sempat trauma karena bencana yang terjadi, kini merasa senang karena rumah yang akan ditempatinya nanti berada di kawasan yang aman. “Senang karena rumahnya di dataran tinggi dan jauh dari perbukitan,” ungkap Maya.
Hal serupa juga rasakan oleh Suci, ia berharap hunian tetap yang diberikan kepadanya dapat menghadirkan kenyamanan dan keamanan untuk melanjutkan kehidupan. “Kami berharap rumah ini bisa buat kami nyaman, di sinilah gantinya rumah kami yang dulu,” tutur Suci.
Teks & Foto: Fikhri Fathoni







Sitemap