Gamma Knife Menyelamatkan Hidup Mellia

Mellia dan Ahmad berbincang dengan relawan dan berbagi kisah usai menjalani operasi. Kini kondisi Mellia sudah sangat jauh membaik dan Ahmad bisa lebih tenang kala meninggalkan istrinya bekerja.

Prosedur operasi dengan gamma knife telah menyelamatkan hidup Mellia Mediana dari arteriovenous malformation (AVM) atau kelainan pembuluh darah di otak.

*****

“Saya senang banget, saya mau ucapin terima kasih sekali karena Yayasan Buddha Tzu Chi udah bantu saya untuk melakukan operasi ini, karena kami butuh sekali biaya. Waktu itu juga sempat bingung, ternyata ada yang bantuin. Saya benar-benar terima kasih,” ungkap Mellia Mediana, seorang penerima bantuan Tzu Chi yang belum lama ini menjalani prosedur operasi gamma knife untuk pengobatannya.

Gamma knife pada dasarnya adalah penggunaan terapi sinar gamma untuk pengobatan tumor dan kelainan lainnya pada otak dengan menghancurkan sel-sel abnormal atau target lain tanpa merusak sel sehat. Dengan kata lain, gamma knife merupakan metode pengobatan tumor atau kelainan otak tertentu tanpa pembedahan atau operasi invasive.

Mellia Mediana (44) sendiri mengalami arteriovenous malformation (AVM) atau kelainan pembuluh darah di otak sejak lahir, tapi barubaru ini gejalanya dirasakan semakin parah. Ia juga baru tahu tentang penyakitnya belum lama, kira-kira sekitar tiga tahun lalu setelah melahirkan putra pertamanya, Muhammad Ahsan.

Menurut ingatan Lia, panggilan akrabnya, 40 hari setelah melahirkan ia menjadi semakin mudah pingsan. Gejalanya diawali dengan kesemutan di tangan kirinya yang menjalar ke lengan atas, lalu kepala dan berakhir kejang hingga pingsan. Efek lainnya seperti kemampuan penglihatan menurun dan sesak napas juga ia rasakan. Semua itu sangat mengganggu apalagi dia juga harus merawat bayi Ahsan saat itu.

Pas hamil dan setelah melahirkan itu baru terasa kok makin intens (gejalanya). Dari hasil pemeriksaan terdahulu diketahui ada pendarahan di kepala, sempat pingsan dan segala macam. Jadi pas periksa lanjutan, dianjurkan untuk operasi,” terang Lia.

Mendapati istrinya yang terdiagnosis AVM dengan kondisi yang semakin parah dari hari ke hari, Ahmad Taufik (50) mencoba tetap berpikir jernih walaupun biaya pengobatan yang besar terus membayangi. Ia yakin bahwa seseorang tidak akan mendapatkan cobaan atau ujian melebihi kemampuannya.

“Walaupun kemampuan itu bukan hanya dari diri saya pribadi. Pasti ada jalan keluar yang Tuhan kasih. Entah melalui teman, saudara, dan orang-orang yang mempunyai kepedulian tinggi yang ingin membantu kepada yang lain,” ucap Ahmad yakin, “Tuhan pasti kasih jalan bahkan yang kita nggak sangka-sangka.”

Mellia Mediana dalam persiapan menjalani prosedur operasi gamma knife untuk mengobati penyakit arteriovenous malformation (AVM) atau kelainan pembuluh darah di otak yang ia derita.

Bertemulah keluarga kecil ini dengan Tzu Chi di akhir 2019. Dari berbagai proses pemeriksaan maupun survei dari relawan, Lia menerima persetujuan bantuan pengobatan dari Tzu Chi. Namun begitu, Ahmad dengan besar hati tidak meminta seluruh biaya bisa ditanggung oleh Tzu Chi karena melalui kantornya, ia pun mendapatkan fasilitas berupa reimburse pembiayaan pengobatan sebesar 15 kali gaji (bagi keluarga karyawan). Ditambah persediaan biaya dari diri pribadi, maupun keluarga, terkumpul hampir 100 juta rupiah. Tzu Chi kemudian meng-cover kekurangannya.

Rina, tim dari Divisi Bakti Amal Yayasan Buddha Tzu Chi menjelaskan bahwa keadaan Lia yang saat itu sudah termasuk kritis membuat Tzu Chi memutuskan dengan cepat. Ditambah lagi cara berkomunikasi dan pemahaman dari pihak keluarga yang paham dengan kondisi penyakit membuat Tzu Chi yakin bahwa setelah menerima bantuan, keluarga mampu merawat maupun menjaga dan menjalani kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.

Rina juga sangat mengapresiasi kebesaran hati Ahmad dalam upaya penyembuhan sang istri. Bekerja sebagai seorang petugas keamanan, Ahmad merupakan sosok suami yang mempunyai tanggung jawab yang besar dan berpikiran luas.

“Saya merasa salut dan terkesan dengan keluarga ini dalam mencari dana yang tidak hanya dari yayasan (Tzu Chi) saja, dia berusaha dulu sebisa mungkin. Banyak usaha yang dilakukan di balik itu, jadi saya sangat salut dengan keluarga ini,” tutur Rina.

Amanah untuk Menjaga
Walaupun tak bisa menampik kesedihannya, tapi bagi Ahmad istri adalah amanah maka ia harus tetap menunjukkan tanggung jawab. Ahmad berkata, kalau dikatakan manusia itu tidak sempurna, tapi pasangan suami istri itu satu jiwa. Artinya ia dengan istrinya adalah setengah bagian, mereka saling melengkapi.

Sejak awal Lia sudah jujur terhadap Ahmad bahwa dia mempunyai penyakit walaupun belum jelas apa. Namun bagi Ahmad, ia yakin itu adalah jalan baginya untuk membantu Lia.

“Ya puji syukur, Alhamdulilah saya diberikan amanah untuk bisa berbuat sesuatu untuk istri saya dengan keistimewaan yang dia punya. Istimewa karena nggak semua orang punya (penyakit tersebut) dan sangat jarang,” tukas Ahmad sambil tertawa.

“Bonus, karena (penyakit) langka. Memang saya sebutnya bonus saja. Abisnya mau gimana. Kelainan tubuh ini kan. Ya sudah saya bilang ini bonus. Ya kita sabar aja,” sahut Lia ikut tertawa.

Melalui perjalanan panjang-nya, 15 April 2021 akhirnya Lia menjalani operasi gamma knife di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Kebahagiaan tak bisa dipungkiri terukir dalam memori keluarga kecil ini.

Potensi dari Setiap Pribadi

Mellia dan Ahmad berterima kasih atas kunjungan relawan dan perhatian yang terus diberikan oleh relawan sejak Meliia menjalani pengobatan hingga saat ini.

Saat ini, kondisi Lia sudah jauh lebih baik. Ia tidak merasakan kesemutan, kejang, maupun pingsan. Hanya saja tangan kirinya masih kerap bergetar. Dokter yang menanganinya menjelaskan bahwa keadaan tersebut normal terjadi karena proses gamma knife tidak digunakan 100 persen untuk mengurai saraf maupun penyumbatan atau kelainan di otak pasien mengingat efek sampingnya.

“(Kami) senang bisa lihat keadaan Bu Lia sekarang. Senang melihat ibu sudah bisa sehat kembali, menjalankan aktivitasnya kembali. Benar-benar senang,” kata Surawaty, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 2 saat berkunjung ke rumah Lia di Ciledug, Tangerang, 1 Mei 2021.

Surawaty juga terkesan dengan sikap keluarga yang saling dukung. Ditambah lagi mendengar sharing dari Ahmad yang ingin lebih aktif dalam dunia sosial setelah istrinya pulih.

Bagi Ahmad, berkegiatan sosial adalah caranya untuk bersyukur. Sudah sejak lama ia ikut di berbagai LSM, sekitar 10 tahun lalu ia pernah menjadi relawan di kantornya yang bekerja sama membagikan beras dari Tzu Chi.

“Karena saya sudah merasakan sendiri bantuan orang lain itu sangat berarti buat saya, artinya orang lain juga sangat membutuhkan apa-apa yang mungkin potensi dari kita. Ya itu rasa syukur saya ya, artinya sekarang saya harus lebih meningkatkan rasa sosial saya, aktivitas saya di LSM, berbagi saya bagi orang lain, karena ternyata sangat banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan kita,” ungkap Ahmad.

Bagi Surawaty, kisah Ahmad dan Lia juga mengingatkannya kembali pada satu Kata Perenungan Master Cheng Yen yang berbunyi, Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.

Benar saja, setiap orang mempunyai kemampuan masing-masing, kekuatan masingmasing, pun kelemahan masing-masing. Untuk itu, tetap semangat dengan apapun potensi kita. “Karena sebagai manusia kita juga harus bisa memberi manfaat bagi orang lain,” pesan Surawaty di akhir pertemuan.

Teks dan Foto: Metta Wulandari
Tanamkan rasa syukur pada anak-anak sejak kecil, setelah dewasa ia akan tahu bersumbangsih bagi masyarakat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -