Hunian Tetap Menjawab Harapan
Upaya pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus berlanjut. Selain bantuan darurat dan layanan kesehatan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga menyiapkan program jangka panjang berupa pembangunan ribuan hunian tetap bagi para penyintas, sebagai langkah untuk membantu mereka membangun kembali kehidupan yang lebih aman dan layak.
*****
Bantuan jangka panjang pun langsung dilakukan oleh Tzu Chi berupa pembangunan 1.000 unit hunian tetap di Aceh, 1.000 unit hunian tetap di Sumatera Utara, dan 500 unit hunian tetap di Padang, Sumatera Barat. Pembangunan rumah ini direncanakan akan terealisasi pada bulan Mei 2026 mendatang.
Di balik angka-angka tersebut, ada proses panjang yang tidak sederhana. Bagi Andre, Kepala Departemen External Relation Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, pembangunan hunian tetap ini adalah tahapan penanganan bencana yang harus dijalankan secara terstruktur.
“Kalau bicara bencana, ada fasenya,” jelasnya. Mulai dari jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang.
Pada fase jangka pendek, bantuan difokuskan pada kebutuhan darurat yang disalurkan melalui kantor Tzu Chi di Medan. Fase jangka menengah mencakup pembangunan infrastruktur penting, seperti jembatan. Sementara fase jangka panjang diwujudkan dalam pembangunan hunian tetap bagi para penyintas.
Secara keseluruhan, Tzu Chi menyampaikan angka 2.603 unit rumah. Angka itu terdengar ganjil, namun memiliki penjelasan tersendiri. Sebanyak 2.500 unit menjadi komitmen utama Tzu Chi, sementara 103 unit lainnya merupakan dukungan dari Maruarar Sirait, Menteri PKP RI.
Di Sumatera Utara, pembangunan tahap awal difokuskan di Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara. Namun sebelum pembangunan dimulai, ada tiga indikator utama yang harus dipenuhi dalam penentuan lokasi, yakni legalitas lahan yang clean and clear, kondisi teknis yang aman dari potensi bencana lanjutan, serta aksesibilitas yang memadai.
“Legalitas, teknis, dan aksesibilitas. Itu tiga yang utama,” ujar Andre.
Menjawab harapan dan doa para penyintas, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memulai tahap bantuan jangka panjang melalui pembangunan hunian tetap di wilayah Sumatera.
Lokasi yang direkomendasikan pemerintah daerah kemudian ditetapkan untuk pembangunan hunian tetap, dengan dukungan infrastruktur dari pemerintah setempat. Momentum penting terjadi saat peletakan batu pertama di Sumatera Utara yang dihadiri Menteri Perumahan dan Menteri Dalam Negeri, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Tahap Rekonstruksi Nasional. Target penyelesaiannya ditetapkan sekitar empat bulan, hingga Mei.
Empat Hari yang Berubah Menjadi 31 Hari
Jika dilihat dari luar, proses pembangunan ini terasa sangat cepat. Namun di lapangan, dinamika yang dihadapi jauh dari sederhana.
Andre pertama kali berangkat ke lokasi pada 16 Desember, saat status masih tanggap darurat. Secara aturan, pembangunan hunian tetap seharusnya dilakukan pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi, setelah tanggap darurat dicabut. Namun kondisi mendesak membuat percepatan harus dilakukan.
“Seperti yang dikatakan Pak Mujianto (Ketua Tzu Chi Sumatera Utara) Kalau kita telat satu hari, penderitaan masyarakat pun akan bertambah satu hari. Dampaknya bisa makin banyak,” katanya.
Awalnya, ia ditugaskan hanya untuk empat hari guna melakukan koordinasi dengan empat kepala daerah. Namun ketidakpastian di lapangan membuat rencana berubah total. Empat hari itu berkembang menjadi 31 hari.
Mobilitas terbatas akibat hujan berintensitas tinggi, ancaman longsor, dan akses jalan yang tidak menentu. Bahkan selama hampir 10 hari, tim harus menetap di Sibolga karena tidak memungkinkan berpindah kota. “Tanpa kepastian,” ujarnya singkat menggambarkan situasi saat itu.
Menurut Andre, tantangan terberat selama 31 hari tersebut adalah perjalanan. Di peta, jarak mungkin terlihat singkat. Namun dalam kondisi pascabencana, waktu tempuh bisa bertambah dua hingga tiga jam, bahkan lebih. Setiap perjalanan selalu penuh ketidakpastian. “Kita nggak bisa pegang di depan itu ada apa,” katanya. Jalanan di pinggir jurang, hujan deras, serta kondisi yang tidak stabil membuat perjalanan melelahkan sekaligus menegangkan.
Tak cuma di Sumatera Utara dan Aceh, Deretan bangunan rumah yang tengah dalam tahap pembangunan ini juga berada di Padang, Sumatera Barat. Nantinya rumah-rumah ini akan menjadi hunian tetap bagi penyintas, tempat mereka mulai kembali kehidupan dengan lebih aman dan layak.
Tak cuma Andre, Steel Edwin, Ketua Tzu Chi Medan pun merasakan beratnya bencana ketika turun ke lapangan.
“Untuk mencapai Sibolga, kami harus melewati Tapanuli dan memutar cukup jauh karena banyak jalur yang terputus. Saya sempat berpikir perjalanan ini akan gampang, ternyata tidak. Sepanjang jalan, kami melihat langsung jalan yang putus akibat longsor, jalan yang patah, bahkan sungai-sungai yang menurut warga dulunya kecil, kini berubah menjadi sangat besar,” tuturnya, “jalan yang kami lalui juga harus dilewati bergantian dengan proses perbaikan. Di satu sisi gunung, di sisi lain jurang, kondisi licin, dan mobil harus pelan-pelan. Itu benar-benar membuat perjalanan terasa menakutkan.”
Namun satu momen membekas ketika mereka tersesat dan bertanya pada warga, ternyata warga tersebut mengenali kedatangan mereka sebagai relawan Tzu Chi yang akan membangun rumah.
“Di situ saya benar-benar tersentuh. Ternyata nama Tzu Chi sudah sampai ke sana, bahkan sebelum bantuan itu tiba,” katanya.
Pengalaman tersebut meneguhkan keyakinannya bahwa niat tulus mampu membuka jalan, bahkan di tengah keterbatasan akses dan kondisi alam yang tak bersahabat. Namun di balik perjalanan yang penuh risiko itu, masih ada kenyataan yang jauh lebih getir menanti di lokasi bencana.
Rasa saling dukung antar staf dan relawan menjadi kekuatan tersendiri. Relawan Medan betul-betul mendampingi tim Jakarta dengan penuh komitmen. Mujianto, yang telah berusia 70 tahun, bahkan turun langsung dan beberapa kali menyetir sendiri dalam perjalanan panjang.
Di usia yang tak lagi muda, kemampuan menyetir Mujianto tak perlu diragukan. Ia yang hobi turing, sangat percaya diri membawa mobil kemana saja. Tapi tetap saja ada kekhawatiran tersendiri karena jalanan pascabencana yang tak pasti. Walaupun begitu, Andre bercerita bahwa Mujianto begitu menikmati setiap medan yang mereka lewati.
“Di mobil, Pak Muji selalu memutar Ta Pei Cou. Kadang beliau juga menyetir sendiri nggak pakai sopir. Lalu nyetirnya juga agak kencang, tapi kan saya segan untuk bilang. Sebenarnya takut kan beliau sudah sepuh gitu ya, akhirnya ya saya ikut baca Ta Pei Cou saja sampai saya hafal. Hahahha…” akunya jujur. Walau jarak usia mereka jauh, Andre merasakan kerja sama yang solid.

Relawan Tzu Chi Medan, Hasan Tina mendampingi proses pembangunan hunian tetap dan memastikan setiap tahap berjalan lancar agar rumah-rumah tersebut segera dapat ditempati.
Bagi Andre, pembangunan hunian tetap bukan hanya tentang membangun rumah, tetapi membangun kehidupan. Tzu Chi berkomitmen pada pendanaan dan pembangunan, sedangkan pemerintah pusat dan daerah mendukung regulasi serta infrastruktur. Masyarakat dan para penyintas pun diharapkan terlibat aktif dalam proses pemulihan.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah program Cash for Work, di mana para korban dilibatkan sebagai tenaga dalam proses pembangunan. Dengan begitu, mereka tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh pekerjaan dan kembali menggerakkan roda ekonomi keluarga.
Target penyelesaian pada Mei 2026 bukan sekadar tenggat waktu. Itu adalah harapan, bahwa setelah bencana besar, para penyintas bisa segera memiliki tempat tinggal yang layak dan kesempatan untuk memulai kembali hidup mereka dengan lebih pasti.
Saat Donasi Dipercayakan, Cinta Kasih Disalurkan
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengundang simpati banyak insan untuk berdonasi melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Berbagai komunitas hingga perusahaan swasta berlomba menyerahkan donasi untuk saudara-saudara di Sumatera yang terdampak bencana. Uluran tangan dan kehangatan begitu terasa.
Kepercayaan yang diberikan dari berbagai insan ini dijawab dengan penuh integritas. Sejak 28 November 2025, relawan Tzu Chi dari komunitas di Sumatera (Aceh, Medan, dan Padang) menyiapkan dan mendistribusikan paket bantuan awal berupa beras, makanan hangat, air mineral, roti, handuk, dan juga kebutuhan dasar bagi warga terdampak. Sampai 14 Desember 2025, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia telah menyerahkan donasi di 72 titik lokasi bencana kepada 43.153 jiwa yang membutuhkan uluran tangan.
Tidak berhenti sampai di situ, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga akan membangun 2.500 hunian tetap untuk masyarakat Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat yang rumahnya hancur terseret banjir hingga tertimbun tanah longsor. Tzu Chi Indonesia mengerahkan bantuan mulai dari kondisi tangggap darurat, hingga tahap rehabilitasi pascabencana. Bantuan-bantuan yang diberikan merupakan sumbangsih yang dipercayakan para donatur kepada Tzu Chi Indonesia.
Penyerahan donasi dari berbagai komunitas dan perusahaan, salah satunya Pesona Indah Cemara, kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menjadi wujud solidaritas lintas komunitas dalam mendukung pemulihan masyarakat terdampak banjir.
Salah satu donatur yang mempercayakan donasi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia adalah Buddhist Fellowship Indonesia (BFI), mereka menyalurkan donasi sebesar Rp 1 miliar untuk meringankan penderitaan masyarakat yang terdampak bencana di Sumatera.
Penyerahan donasi dilakukan pada 8 Desember 2025 di Tzu Chi Center PIK, Jakarta Utara. Bantuan ini menjadi wujud nyata solidaritas lintas komunitas Buddhis dalam menjangkau para penyintas bencana yang masih membutuhkan dukungan logistik dan pemulihan. Bantuan donasi ini diterima langsung oleh Liu Su Mei.
Lenie Choe, mewakili Buddhist Fellowship Indonesia menyampaikan bahwa keputusan untuk mempercayakan penyaluran donasi kepada Tzu Chi bukan tanpa alasan. Menurut para anggota Buddhist Fellowship Indonesia, reputasi dan rekam jejak relawan Tzu Chi dalam penanganan bencana menjadi faktor utama.
“Iya, menurut kami relawan Tzu Chi Indonesia itu cukup cepat, responsif, dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Jadi ini merupakan salah satu hal yang cukup kami perhatikan, sehingga Ibu Yelian (Ketua Buddhist Fellowship Indonesia) mempercayainya,” ujar Lenie Choe.

Donasi yang terus bergulir dari masyarakat diharapkan dapat mendukung penuh proses pemulihan warga pascabencana, dari tahap darurat hingga mereka benarbenar bangkit kembali.
Selanjutnya donasi datang dari Pesona Indah Cemara (PIC) Medan yang merupakan anak perusahaan dari Agung Sedayu Group (ASG). Mereka menyerahkan donasi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk mendukung pembangunan hunian tetap bagi penyintas bencana di Sumatera. Kegiatan serah terima ini berlangsung di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara, pada Selasa, 13 Januari 2026.
Donasi tersebut nantinya akan dialokasikan untuk program rekonstruksi pascabencana yang saat ini tengah dijalankan oleh Tzu Chi Indonesia, dimana di dalamnya mencakup rencana pembangunan 2.500 unit rumah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Deputy CEO Pesona Indah Cemara Medan sekaligus perwakilan ASG, Evelina Setiawan, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk turut berderma dan berpartisipasi dalam program kemanusiaan ini. Menurutnya, kontribusi sosial bukan hanya soal besarnya materi, tetapi tentang semangat kebajikan yang dilakukan bersama.
“Sejak awal Bapak Sugianto Kusuma, pimpinan kami, sudah mengatakan dan sering mengingatkan kami semua bahwa berbuat kebaikan dengan satu hal kecil saja itu akan menular, dan aura kebaikan ada di sekitar kita seperti celengan bambu. Maka, kini ketika berdonasi, kita tidak lagi hanya mempertimbangkan jumlah yang kita dermakan, tetapi aura kebaikan yang bisa kita kumpulkan hingga nantinya bermanfaat untuk kita dan saudara kita yang membutuhkan,” jelas Evelina.
Ia juga menuturkan bahwa donasi sebesar Rp 10 miliar dari PIC Medan merupakan wujud dukungan nyata dari ASG terhadap upaya pemulihan pascabencana di Sumatera. Sementara itu, ASG pun melihat Tzu Chi sebagai mitra sosial yang tepat karena telah lama terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. “Ini bukan akhir, melainkan awal yang baru. Kami ingin agar dukungan tidak hanya berupa materi, tetapi juga tenaga dan hati,” tambahnya.
Selain itu masih banyak lagi donasi yang diserahkan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yaitu dari: Bank Victoria Internasional, GWK Golf Club, DKM AshShofa Mall of Indonesia, Plaza Harco Mangga Dua, Stockwise Indonesia, Enjoy Golf Club, MY Advanced, Baksos Carnation, dan para donatur-donatur lainnya.
Buah dari Kepercayaan
Seluruh rangkaian tanggap darurat yang dijalankan di Sumatera, dari menembus medan terisolasi, mendirikan dapur umum, layanan kesehatan, hingga rencana pembangunan hunian tetap, menjadi cerminan nyata dari tekad awal yang terus diingat dan dijalani. Di tengah keterbatasan, relawan tetap bergerak dengan satu keyakinan bahwa welas asih harus hadir tepat di saat paling dibutuhkan.
Warga menerima bantuan dengan tertib yang disiapkan relawan Tzu Chi. Di tengah keterbatasan akses dan logistik, nasi bungkus, air minum, serta perlengkapan kebutuhan harian menjadi kebutuhan yang mendesak bagi para penyintas.
Semangat inilah yang sejak awal tumbuh dari celengan bambu, dan menjelma menjadi aksi kemanusiaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat dan para donatur menjadi kekuatan utama yang memungkinkan seluruh proses tanggap darurat tersebut berjalan dengan cepat dan tepat sasaran.
“Kali ini, saya sangat berterima kasih kepada para donatur, baik perorangan maupun organisasi, yang bersedia menyumbangkan dana kepada Tzu Chi karena mereka percaya bahwa Tzu Chi dapat menyalurkan bantuan secara langsung di lokasi bencana. Kepercayaan seperti ini membuat kita sangat terharu,” ungkap Liu Su Mei.
Liu Su Mei menuturkan bahwa Tzu Chi memiliki tim tanggap darurat yang langsung digerakkan dalam bencana kali ini. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada relawan Medan, Aceh, dan Padang yang segera membeli barang-barang kebutuhan darurat serta menyalurkan bantuan. Menurutnya, seluruh proses tersebut dapat terlaksana karena bersatunya cinta kasih dan dukungan dari berbagai pihak, serta kepercayaan masyarakat luas kepada Tzu Chi.


Kepercayaan masyarakat timbul sebegitu besarnya karena melihat relawan di lapangan yang terus bahu-membahu melakukan berbagai kegiatan demi secepatnya mengembalikan kondisi masyarakat seperti semula.
Apresiasi kepada para donatur juga datang dari Suriadi, COO Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia atas kepercayaan yang diberikan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
“Kami sadar, kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami harus menggalang semua lapisan masyarakat. Dengan banyak orang baik berkumpul, kebajikan akan bertambah, dan semoga bencana bisa berkurang. Kini kami merencanakan pembangunan 2.500 rumah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Perjuangan ini masih panjang, tetapi dukungan dari banyak sekali masyarakat di luar sana akan mempercepat langkah kita,” ujar Suriadi.
Teks : Fikhri Fathoni, Metta Wulandari
Foto: Arimami Suryo A., Metta Wulandari, Amir Tan (Tzu Chi Medan), Dok. Tzu Chi Medan, Dok. Tzu Chi Padang