Inspirasi dan Semangat Berbagi Relawan Muda
Berbekal kepedulian, kreativitas, dan semangat melayani, para anak muda ini membuktikan bahwa setiap langkah kecil dapat membawa manfaat bagi sesama, menumbuhkan harapan, sekaligus menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut berbuat baik.
*****
Optimis dan bersemangat, inilah gambaran relawan Tzu Ching (mudamudi Tzu Chi). Di tangan mereka, semangat cinta kasih terus menemukan jalan untuk tumbuh dan berkembang. Tzu Ching yang terdiri dari kumpulan mahasiswamahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini memberikan contoh dan mengambil langkahlangkah positif untuk membantu masyarakat.
Mulai dari hadir mendampingi anakanak belajar di kolong jembatan, mengolah sampah plastik menjadi ecobrick, hingga mengajak masyarakat bersama-sama bersumbangsih untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Menjadi Tzu Ching bukan sekadar melakukan kegiatan sosial, melainkan melanjutkan misi kemanusiaan Tzu Chi dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.
Berbekal kepedulian, kreativitas, dan semangat melayani, para anak muda ini membuktikan bahwa setiap langkah kecil dapat membawa manfaat bagi sesama, menumbuhkan harapan, sekaligus menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut berbuat baik.
Reimagine Sampah Plastik
Pagi itu, suasana lantai dasar Rumah Susun Barokah Palmerah mendadak penuh dengan keceriaan anak-anak. Gelak tawa riuh mereka bersama Tzu Ching mengawali rangkaian kegiatan Waste to Wisdom di rumah susun dengan konsep Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) pertama yang dibangun Tzu Chi Indonesia ini.
Erika Aurelia, alumni Tzu Ching yang menjadi koordinator acara Waste to Wisdom hadir bersama dua rekannya Damar dan Rijal ke Rusun Barokah. Sebelumnya mereka juga telah berkegiatan di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Mualim Teko di PIK untuk acara yang sama, yakni Waste to Wisdom.
Waste to Wisdom sendiri merupakan salah satu kegiatan yang masuk dalam program IYLP (International Youth Leadership Program) yang diadakan oleh Tzu Chi International Youth Association. “Kami perwakilan dari Indonesia dan program ini dimaksudkan agar selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” jelas Erika.
Di Rusun Barokah inilah, mereka juga berkolaborasi dengan Tzu Ching Jakarta untuk mengajarkan anak-anak membuat rak buku dari ecobrick, mengedukasi, dan meresmikan pojok literasi. “Karena di sekitar Rusun Barokah banyak sekali anak kecil, jadi kami ingin mengadakan acara yang ramah untuk anak-anak dan juga bisa mengedukasi mereka agar semakin giat untuk membaca buku,” jelasnya.
Erika menambahkan, lingkungan di sekitar Rusun Barokah adalah pemukiman padat penduduk dimana sampah banyak sekali yang dibuang sembarangan. Karena itu Tzu Ching ingin menumbuhkan kepedulian kepada warga dan agar mereka lebih berempati terhadap sampah di sekeliling mereka dan bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Sampah bisa di-reuse dengan baik, bisa direimaging juga, dan bisa digunakan untuk kebutuhan mereka,” tutur Erika lebih lanjut.
Sekitar 30 anak dari berbagai usia yang hari itu sudah hadir di lantai dasar Rusun Barokah langsung diajak bermain agar bisa saling mengenal satu sama lain. Setelah suasana cair, Erika bersama Damar dan Rijal kemudian menjelaskan latar belakang mereka melalui buku-buku bacaan, contoh ecobrick, dan sampah daur ulang yang sebelumnya sudah dipersiapkan di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Mualim Teko, PIK.
Setelah penjelasan singkat, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok yang didampingi oleh Tzu Ching. Bahan-bahan yang telah disiapkan berupa botol bekas ukuran 1 liter, komponen sampah plastik berukuran kecil, dan sumpit sebagai alat bantu kemudian dibagikan ke tiap-tiap kelompok.
Suasana pun kembali riuh saat anakanak beserta Tzu Ching mulai memasukkan komponen sampah plastik berukuran kecil ke dalam botol-botol tersebut yang setidaknya harus diisi lebih dari 350 gram sampah plastik. Karena kegiatan ini berbarengan dengan libur sekolah, maka anak-anak pun terlihat bersemangat.
Sebelum memulai kegiatan, anak-anak yang tinggal di sekitar Rumah Susun Barokah Palmerah diajak untuk mengikuti games dan mendengarkan penjelasan tentang kegiatan. Tampak Raisa (baju hitam) sedang menunjuk tangan menjawab pertanyaan.
Raisa (9), anak kelas 4 SD tampak bersemangat ikut berkegiatan. Bersama dengan anak-anak lainnya yang tinggal di sekitar Rusun Barokah, ia mengikuti setiap rangkaian acara dengan antusias. “Senang, ada kegiatan daur ulang, menggambar, membaca, dan games,” ucapnya.
Di kelompoknya, Raisa terlihat paling bersemangat. Ia pun melempar senyum dan tos setelah bekerja sama bersama Tzu Ching dan teman-temannya. Beberapa kali ia juga terlihat bolak-balik menimbang botol untuk memastikan ukurannya melebihi batas minimal yang telah ditentukan. “Tadi memasukkan sampah plastik ke botol dan dipadatkan dapet 389 gram. Hari ini senang juga ditemani kakak-kakak Tzu Ching belajar dan bermain,” kata Raisa.
Relawan Tzu Ching yang hari itu membersamai anak-anak di dalam kelompok juga langsung membaur. Setelah saling kenal, mereka memandu anggota kelompok untuk membuat ecobrick. Sanny, Tzu Ching dari komunitas He Qi Jakarta Barat 1 juga menjelaskan cara membuat ecobrick untuk dijadikan rak buku.
“Cara membuatnya adalah kita masukkan komponen kecil sampah plastik ke dalam botol. Supaya padat kita dorong dengan sumpit, kemudian kita tekan lagi dengan batang besi atau kayu yang lebih kokoh agar semakin padat dan tidak ada udara yang tersisa,” jelas Sanny.
Saat mendampingi kelompoknya, Sanny membagi tugas anggota kelompok untuk memasukkan komponen sampah, mendorong dengan sumpit, memegang botol agar tidak jatuh, dan memberi tekanan lebih besar ke dalam botol dengan batang besi. Ia berharap agar kegiatan ini memberikan manfaat serta menimbulkan rasa kepedulian akan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
“Harapannya supaya adik-adik lebih paham tentang pilah sampah, jadi nggak sembarangan buang sampah dan aware dengan lingkungan. Jadi bukan saat kita datang baru bikin, tapi di rumah mereka juga bisa bikin. Agar mereka nggak terus bermain gadget, tapi mereka punya aktivitas lain yang bermanfaat,” ungkap Sanny.
Setelah semua kelompok menyelesaikan ecobricknya, botol-botol yang telah terisi padat dengan sampah plastik disatukan dengan papan yang juga dibuat dari sampah plastik yang dilelehkan. Sambil menunggu rak buku dari ecobrick selesai dirangkai, anak-anak satu per satu juga diminta untuk mengambil buku-buku bacaan yang didonasikan, membacanya sambil didampingi Tzu Ching. “Tujuan kita bikin rak buku, tentu berkaitan juga donasi buku dan gemar membaca. Jadi dalam kegiatan ini, selain membawa budaya lestari kita juga membawa budaya literasi,” jelas Sanny.
Tzu Ching Jakarta berkolaborasi dengan kegiatan Waste to Wisdom dengan membuat rak buku dari eco-brick, mengedukasi, dan meresmikan pojok literasi bersama anakanak yang tinggal di sekitar Rumah Susun Barokah Palmerah.
Rak buku dari ecobrick pun selesai dibuat. Setelah selesai membaca, dengan tertib anakanak menaruh buku-buku tersebut ke rak buku sambil dibantu oleh relawan Tzu Ching untuk merapikannya. Rak buku dan buku-buku yang didonasikan ini nantinya akan di tempatkan di salah satu sudut lantai dasar Rusun Barokah dengan harapan anak-anak lebih rajin membaca.
“Semoga hal-hal seperti ini bisa dilanjutkan oleh warga di sekitar KTV dan dilanjutkan juga oleh Tzu Ching. Karena kita sedang belajar menyelesaikan masalah sampah yang ada di Jakarta. Tentunya harapan kami semoga kegiatan ini bisa dikembangkan oleh komunitas-komunitas lainnya dan rak buku ini bisa digunakan sebaik-baiknya oleh anakanak yang sudah membuatnya dengan penuh semangat,” ungkap Erika.
Membawa Keceriaan dan Sukacita di Kolong Jembatan
Bukan hanya mengubah sampah plastik menjadi ecobrick untuk menjaga lingkungan, tapi untuk menjaga asa anak-anak kurang mampu untuk terus semangat belajar, relawan Tzu Ching juga bermain di Rumah Belajar Merah Putih di kolong jembatan (kojem 1), Cilincing, Jakarta Utara. Kehadiran Tzu Ching ini untuk terus menumbuhkan keceriaan anakanak yang menjadi modal awal untuk memulai kegiatan belajar yang penuh makna di ruang belajar tersebut.
Rumah Belajar Merah Putih didirikan sejak tahun 2006 dan berada di wilayah Kampung Nelayan Kojem Cilincing. Rumah belajar ini merupakan taman baca gratis yang menjadi ruang bagi anak-anak di Kampung Nelayan Cilincing supaya mendapatkan pendidikan yang layak. Dan jalinan jodoh Tzu Ching dengan Rumah Belajar Merah Putih pertama kali pada tahun 2025.
Saat itu relawan Tzu Ching mencari tempat yang bisa diadakan kegiatan untuk mengajar anak-anak yang kurang mampu. Lalu melalui informasi dari media sosial, ada cuplikan tayangan tentang Rumah Belajar Merah Putih.
“Saat kami survei, kami merasa tempat inilah yang kami cari selama ini. Latar belakang anak-anak di sana ada yang yatim piatu bahkan ada juga mereka yang tidak tahu orang tuanya siapa. Untuk kegiatan sekolahnya, mereka dibantu oleh Rumah Belajar Merah Putih ini,” ucap relawan Tzu Ching, Albert selaku koordinator kegiatan.
Di balik keterbatasan tersebut, anak-anak menyimpan semangat belajar menuju masa depan yang lebih baik. Semangat inilah yang sampai saat ini juga terus didukung oleh Tzu Ching. “Jadi kami Tzu Ching berkunjung, berbagi, dan mengajar kepada anak-anak yang memang kurang mampu sekaligus bermain, membuat prakarya dan bernyanyi bersama,” lanjut Albert.
Relawan Tzu Ching berkunjung, bermain, dan belajar bersama anak-anak di Rumah Belajar Merah Putih di kolong jembatan, Cilincing, Jakarta Utara. Kegiatan ini sebagai bentuk dukungan bagi anak-anak yang kurang mampu dan minim akses pendidikan.
Pada saat kunjungan, Tzu Ching mengawali acara dengan ice breaking, lalu dilanjutkan dengan dongeng inspiratif dengan tema “Love Each Other”. Mereka juga bermain bersama anak-anak Rumah Belajar Merah Putih, bernyanyi bersama, membuat prakarya dengan membuat pajangan dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen agar mereka lebih termotivasi. Suara tawa riang juga memenuhi kolong jembatan, ketika anak-anak tampak semangat melihat penampilan isyarat tangan Satu Keluarga yang dibawakan dan dinyanyikan Bersama.
Tentunya, kehadiran Tzu Ching dalam kegiatan ini bukan sekadar bermain dan berbagi cerita. Mereka hadir untuk memberikan dukungan, semangat, cinta kasih dan perhatian tulus untuk mereka yang mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang penuh dengan keterbatasan.
Siti Chadijah, selaku guru Paud Rumah Belajar Merah Putih yang juga bercerita, ia menyaksikan bagaimana anak didiknya di Merah Putih memiliki keterbatasan pendidikan hingga ruang bermain yang sedikit. Baginya, kehadiran Tzu Ching juga memberikan semangat serta dukungan baru bagi anakanak Rumah Belajar Merah Putih.
“Semoga Tzu Ching terus hadir bersama kami dan mengadakan kegiatan, juga bermain bersama serta memberikan edukasi positif untuk anak-anak kami,” ucap Siti Chadijah.
Kegiatan yang diikuti 60 anak Rumah Belajar Merah Putih ini diakhiri dengan pemberian piagam serta bantuan 60 paket anak yang berisi buku, alat tulis dan kotak bekal untuk menyemangati anak-anak Rumah Belajar Merah Putih.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap Anak-anak Merah Putih dapat bertumbuh dengan baik lewat materi edukatif yang kami berikan. Kami juga berharap apa yang telah kami ajarkan dapat bermanfaat dan bisa diimplementasikan, serta membawa dampak positif bagi masa depan mereka,” ucap Albert bersukacita.
Tumbuh di kondisi lingkungan yang penuh tantangan, semangat keceriaan anakanak pesisir Jakarta Utara tidak pernah surut. Kehadiran Tzu Ching memberikan warna baru bagi mereka. Melalui kegiatan yang penuh kebersamaan ini, menjadi pengingat bahwa langkah kecil menjadi penguat untuk menguatkan mereka dalam menapaki masa depan dimana tantangan dan hambatan akan hadir silih berganti.
Memperpanjang Usia Barang, Memperluas Makna Kebajikan
Selain bersukacita bersama anak-anak, relawan Tzu Ching juga berbagi kebahagiaan bersama warga Rusun Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Satu sampai dua kali dalam setahun, relawan Tzu Ching menggelar acara garage sale di rusun ini dengan menjual berbagai macam barang.
Suasana Rusun Muara Angke tidak seperti biasanya jika akan diadakan garage sale. Tepat di aula warga, Tzu Ching saling bekerja sama menyusun meja, membawa kardus dan karung yang berisi mainan, pakaian serta barang-barang lainnya.
Bukan tanpa alasan, kegiatan yang biasanya dipersiapkan selama dua bulan ini bertujuan untuk membantu warga Rusun Muara Angke. Selain itu, dengan membeli barang mereka juga ikut berdonasi untuk membantu sesama. Barang-barang dalam kegiatan ini juga dijual dengan harga yang sangat terjangkau mulai dari lima ribu rupiah sampai tiga puluh ribu rupiah.
Selama persiapan, para relawan Tzu Ching Utara ini mendapatkan barang-barang dari masyarakat yang berdonasi dan dari Depo Pendidikan dan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Tentu bukan hal yang mudah, karena barang yang diterima datang dengan berbagai kondisi. Setelah diterima, barang sementara di drop di Gedung DAAI, Tzu Chi Center dan dilakukan proses penyortiran serta penentuan barang yang akan dijual oleh PIC acara dan ketua wilayah berdasarkan kategori dan dilaksanakan H-7.
“Persiapan untuk garage sale ini tidak begitu sulit karena adanya teman-teman Tzu Ching dan relawan kembang yang turut membantu untuk melancarkan acara kami. Namun, karena kami menjual banyak barang untuk kegiatan ini, bagian yang lebih memakan waktu dan tenaga adalah penyortiran barang dan pemindahan barang dari yayasan menuju lokasi garage sale,” ungkap Ketua Tzu Ching Utara, Freida Guslie.
Tzu Ching pun melihat peluang untuk berkontribusi kepada masyarakat yang membutuhkan melalui pengadaan acara ini. Karena target pembelinya adalah warga yang membutuhkan khususnya di Rusun Muara Angke. Barang-barang yang dijual dalam garage sale ini juga bervariasi seperti pakaian, buku, mainan, dan berbagai barang lainnya yang masih layak pakai.
“Kami menjualnya dengan harga lebih terjangkau mengingat tempat penjualan yaitu di rusun dimana diperuntukkan untuk warga yang kurang mampu. Selain itu dengan memberi harga murah, kami juga membuka ladang berkah lebih luas untuk mereka dapat bersumbangsih,” kata Freida Guslie.
Setelah dibuka, garage sale yang diadakan relawan Tzu Ching di Rusun Muara Angke langsung diserbu warga. Pakaian, boneka, buku, mainan, tas, dan barang-barang lainnya dalam waktu singkat habis diborong warga.
Tepat pukul 09.00 saat garage sale dibuka, warga Rusun Muara Angke juga terlihat antusias dengan datang beramai-ramai. Selain melihat-lihat, beberapa warga juga bertanya harga dan memilih barang yang ingin dibeli. Begitu pula dengan anak-anak, mereka langsung menghambur ke meja yang berisi mainan, memilih, kemudian membayarnya dengan memasukkan uang ke dalam kotak kardus donasi.
Nanda, salah satu warga Rusun Muara Angke yang hari itu datang ke lokasi bersama anaknya terlihat asyik memilih barang-barang yang dijual. Satu persatu pakaian yang akan dibeli dipilih oleh Nanda. Selesai dari pakaian, ia menuju meja lainnya untuk memilih mainan dan boneka yang akan ia beli untuk anak dan keponakannya.
“Seru banget, barangnya masih bagus dan harganya worth it, murah-murah banget. Rencana beli buat sendiri, anak, dan keponakan. Kegiatan ini membantu banget warga disini. Terima kasih buat relawan Tzu Chi,” kata Nanda.
Manfaat Garage Sale adalah untuk memperpanjang usia barang, mengajak masyarakat berdonasi, dan mendukung misi pelestarian lingkungan Tzu Chi. Tentunya, hasil dari penjualan ini juga akan disumbangkan ke Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan untuk mendukung kegiatan Tzu Ching.
Walaupun menyita waktu, tenaga, pikiran, dan hal lainnya, tetapi relawan Tzu Ching tetap bersemangat dalam mengadakan garage sale. Ditengah cuaca yang panas, mereka tetapi bisa tertawa, bercanda sambil menjajakan barang-barang kepada warga Rusun Muara Angke.
“Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa tenaga dan waktu yang dikeluarkan tidak sedikit. Namun perjuangan kami ini membuahkan hasil yang sangat baik sehingga kami tetap merasa beruntung untuk mendapatkan ladang berkah dengan berkontribusi khususnya dalam acara garage sale ini dan kegiatankegiatan Tzu Ching lainnya,” jelas Freida Guslie.
Teks & Foto: Arimami Suryo A., Nur Al Fajar Rumsari