Kembali Melihat Dunia, Sekaligus Cinta Kasih di Dalamnya

Wajah sumringah Ibu Tumi saat kontrol pascaoperasi pemasangan lensa. Dokter Gladys menjelaskan kondisi mata Ibu Tumi yang menunjukkan hasil pemulihan yang baik.

Senyum Ibu Tumi mengembang lebar sore itu. Dua jempolnya terangkat tinggi, matanya berbinar, dan langkah kakinya tampak lebih ringan dari sebelumnya. Bagi seorang lansia yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan penglihatan, perubahan ini bukan hanya hasil dari keberhasilan operasi, tetapi juga buah dari perhatian, pendampingan, dan kepedulian banyak orang yang hadir di sepanjang proses pengobatannya.

*****

Banyak kisah hangat yang terjadi di dunia Tzu Chi, yang kadang oleh sebagian orang dianggap hanya rekayasa belaka. Kisah-kisah yang membuat orang bertanya-tanya, “Emang ada orang kayak gitu?” atau berujar sambil setengah bercanda, “Masa sih? ngarang kali…”

Padahal, cerita-cerita ini lahir dari kepedulian yang tumbuh dari kepekaan juga simpati, lalu tangan mereka terulur tanpa diminta, dan hati yang langsung tergerak, merasa terpanggil. Namanya berempati. Kisah-kisah ini rasanya sederhana, namun justru di sanalah kehangatannya amat terasa.

Seperti salah satu kisah hangat ini, dimana kita disuguhi cerita Ibu Tumi yang wajahnya semakin sumringah, badannya tegap, jalannya pun lancar tanpa dituntun lagi. Senyumnya juga nampak berbeda dari masa terakhir kali ia datang ke Tzu Chi Hospital.

“Hari ini aku rasanya suenengggg poll…...!” katanya sambil mengacungkan dua jempolnya karena mata kanannya kini bisa melihat lagi.

“Dari pemasangan lensa, sampai sekarang, sudah enak. Ngregesnya hilang. Semua rasa sakitnya hilang. Nggak ada nyut-nyut. Hari Sabtu minggu lalu kan pulang kontrol, wah saya langsung seger. Pokoknya girang banget,” tambahnya tak henti tersenyum.

Ibu Tumi bahkan pamer, katanya kini dia sudah bisa melihat wajah dua cucunya dengan jelas. Dimana sebelumnya tak nampak sama sekali.

“Jangankan lihat depan, buat ngelirik kanan kiri tuh enteng. Tadinya berat, apalagi pas belum pakai lensa. Berat mata, pusing. Pundak juga rasanya ikut enggak enak.”

Ceritanya pun membuat semua yang mendengar ikut merasakan sukacita, turut Bahagia.

Operasi Gratis tapi Diperlakukan Bak Ratu
Operasi pemasangan lensa Bu Tumi berlangsung Jumat, 30 Januari 2026 lalu, pukul 19.00 WIB. Di momen itu, sempat ada rasa takut darinya, tekanan darahnya sempat meninggi, tapi tim dokter dan perawat dengan cekatan membantu menenangkannya.

“Ibu tenang aja ya. Ibu kedinginan? Lapar ya? Saya bukakan roti ya Bu. Ibu makan dulu,” cerita Bu Tumi mengingat perlakuan dokter.

“Mana ada sih, Bu, saya operasi ini gratis tapi kok semuanya pada baik. Itu saya nggak bisa makan pedas, dokter carikan saya roti, ambilkan minum. Baik semuanya. Saya terharu sekali,” katanya full senyum.

Nah sudah terbayang kan betapa girangnya dia? Tapi sebelum ceritanya menjadi panjang. Kita kenalan dulu dengan Ibu Tumi.

Ibu Tumi mengungkapkan terima kasih kepada tim dokter yang dengan sabar memberikan pelayanan terbaik untuknya sehingga dia merasa nyaman untuk menjalani seluruh agenda pemeriksaan hingga operasi dan pemulihannya.

Ibu Tumi adalah lansia berusia 70 tahun, yang merupakan pasien baksos operasi katarak Tzu Chi ke-153 di Tzu Chi Hospital, akhir tahun 2025 lalu. Di usianya yang sudah lanjut, kondisi dua matanya sudah mengalami katarak. Katanya sudah lebih dari 10 tahun, sejak anak pertamanya menikah di tahun 2013 dan semakin parah seiring bertambahnya usia.

Kalau perlu apa-apa, ia selalu memanggil anaknya. “Wen……... tolong mama.” Kemana- mana pun harus dituntun dan didampingi. Kadang ia juga mengetuk-ngetuk gelas ke dinding atau ke lantai kalau sedang haus, tanda Bu Tumi minta minum. “Dulu tuh mama kayak itu lho kak, yang di film Pengabdi Setan, kalau di film kan panggilnya pakai lonceng. Kalau mama, ngetuk-ngetuk lantai,” seloroh sang anak tertawa mengingat momen itu.

Lalu singkat cerita, Ibu Tumi berjodoh dengan baksos katarak Tzu Chi. Dia sudah menjalani operasi, tapi kondisi “pengait” lensa matanya sudah lemah. Dokter akhirnya hanya mengoperasi kataraknya dan belum bisa memasang lensa baru pada matanya.

“Saat itu lensanya ini tidak bisa pakai lensa yang kami sediakan di baksos. Untuk kasus Bu Tumi, lensa diukur khusus sesuai dengan mata ibu,” kata Suster Weni Yunita, tim Tzu Chi International Medical Assosiation (TIMA).

Dokter Gladys, dokter spesialis mata di Tzu Chi Hospital yang mengoperasi Bu Tumi bertanya pada Weni kala itu. “Ini Ibu Tumi kan nggak dipasang lensa, gimana ya Mbak Weni? Hasil operasinya bagus.”

Suster Weni pun menjelaskan, biasanya dari hasil operasi itu, TIMA akan menyarankan pasiennya untuk melanjutkan pengobatan via BPJS dan penanganannya memang ditanggung oleh BPJS. Tapi posisinya, Ibu Tumi ini adalah warga Wonosobo, Jawa Tengah. Jadi dia belum bisa pulang kampung untuk melakukan Tindakan.

“Seandainya saya mau bantu operasi, mau tolong pasangkan lensa, nggak usah hitung fee. Boleh ta Mbak Wen?” kata Dokter Gladys ke Suster Weni.

Wah... mata Suster Weni langsung berbinar. Ia menjawab dengan lantang. “Tentu saja boleh Dok, tapi saya tanyakan dulu ke yayasan. Apakah lensanya ini ditanggung nggak sama yayasan atau TIMA.”

Tak berhenti, Dokter Gladys menambah daftar pertanyaannya: “Mbak Weni, seandainya yayasan atau TIMA tidak tanggung. Boleh nggak saya beliin lensanya?”

Suster Weni makin kaget, ternyata dr. Gladys dan tim dokter lain hadir dan tulus ingin membantu seluruhnya. “Aduh Dok, dengan dokter mau operasi saja. Kami sudah gan en banget. Nanti saya tanyakan dulu.”

Merasakan Kehangatan di Tengah Himpitan
Pada saat yang sama, Suster Weni memberi saran kepada Ibu Tumi dan keluarganya yang saat ini tinggal di tempat sederhana di Petojo, Jakarta Pusat. “Mau nggak lanjut pengobatan di RSCM aja? Yang lebih dekat dari rumah. Ongkosnya nggak terlalu mahal seperti kalau Ibu kontrol ke PIK.”

Anak Bu Tumi, yang namanya mirip dengan suster Weni, yakni Weni Asih Saparyani menjawab dengan risau. “Mama saya ini khawatirnya tinggi. Ke rumah sakit tuh pokoknya tinggi banget kekhawatirannya. Nah selama dia ke sini, dia tuh tenang, nyaman, merasa enak. Boleh nggak di sini saja Sus? Jangan pindahin ke RSCM.”

Staf Tzu Chi Hospital menunjukkan semangat kebersamaan dengan turut membantu dan berdonasi bagi Ibu Tumi.

Memang rasanya berat di ongkos. Sekali jalan untuk pergi dan pulang kontrol ke PIK menggunakan taksi online, mereka bisa menghabiskan sekitar Rp 200 ribu. Tapi Weni dan suaminya tetap mengusahakan untuk bisa memenuhinya.

“Suami saya bilang, nggak usah pikirin ongkos. Pokoknya kamu bawa saja mama ke rumah sakit Tzu Chi, nanti saya yang nyari (uang). Kalau untuk merawat orang tua, pasti ada rezekinya.”

Saat ini suami Weni baru memulai bekerja kembali sebagai tim produksi untuk instalasi event. Kalau ada pameran-pameran di mall atau pusat perbelanjaan, dia salah satu orang yang menyiapkan stan-stannya. Biasa bekerja kalau mall sudah tutup jam operasional. Sementara Weni punya warung kecil di depan rumah. Ada jual kopi dan camilan anak-anak.

Rumah yang saat ini mereka tinggali adalah ruko yang dipinjamkan oleh bos Weni (mantan bos) yang juga menjadi informan terkait adanya Baksos Tzu Chi. Ruko tersebut sudah terjual dan pada bulan Februari mereka harus mencari tempat tinggal lain nantinya. Keluarga ini sempat berharap bisa mendapatkan kontrakan sekitar tujuh ratus ribu rupiah untuk berlima. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda. Ruang tidur pun tak cukup. Pindah lebih jauh pun bukan perkara mudah, karena anak-anak sudah sekolah di lingkungan tersebut.

Titik-Titik Cinta Kasih yang Berharga
Seperti biasa, Suster Weni selalu mengingatkan jadwal kontrol pasien di H-1 dan ia pun menelefon Weni. Namun di ujung telefon itu, ada suara kerisauan dan keraguan yang membuat Suster Weni bertanya-tanya. “Mama saya sedang sakit, Sus. Sudah 10 hari.” Suaranya lalu sedikit tercekat… “Iya nanti dibawa berobat, Sus…” kata Weni.

Di pikiran Suster Weni, mereka pasti kekurangan biaya untuk pesan taksi online. Simalakama, kalau uangnya dipakai berobat, mereka tidak punya uang untuk transport. Dan begitu sebaliknya.

Para relawan menyerahkan donasi hasil galang dana kedua untuk membantu biaya transportasi Ibu Tumi dan keluarganya, juga sebagai tambahan untuk mencari tempat kontrakan yang layak.

“Saya kemudian galang dana ke karyawan-karyawan TCH. Di momen Ceramah Master Cheng Yen yang setiap pagi kami ikuti, saya umumin. Tapi saya batasin 25 ribu per orang. Karena saya berpikir hanya untuk bantu transport dan saya pun belum tahu bagaimana ekonomi keluarga ini, karena belum melakukan survei,” papar Weni menunjukkan kepedulian seluruh tim Tzu Chi Hospital. “Cuma, kondisi awal mereka memang kesulitan transport. Dana itu akhirnya terkumpul 2,6 juta. Hasil sumbangsih dari teman-teman staf dan relawan,” lengkapnya.

Di hari itu juga, Suster Weni dan Tami, meminjam mobil relawan. Berbekal share lokasi yang diberikan Weni, mereka datang bermaksud memberikan dana.

Sesampainya di lokasi, Suster Weni dan Tami sempat mengira tempat tinggal keluarga Ibu Tumi adalah ruko seperti yang diceritakan sebelumnya. Namun begitu masuk, barulah terlihat bahwa bangunan itu lebih menyerupai gudang.

Mereka duduk bersama, berbincang pelan. Suster Weni memeriksa tensi Ibu Tumi, sementara Tami berusaha mengambil gambar. Kondisi rumah itu sederhana, bahkan cenderung minim penerangan. Gelap. Tidak ada lampu yang cukup. Atapnya juga bocor di beberapa bagian. Bukan tidak layak huni sama sekali, tapi jelas jauh dari kata nyaman. Terlihat pula betapa repotnya Weni harus mengurus ibunya yang sakit sambil tetap memperhatikan dua anaknya.

Dalam obrolan itu, Ibu Tumi perlahan menyampaikan keluh kesahnya. Setelah suasana sedikit tenang, Suster Weni menyerahkan amplop bantuan yang telah dikumpulkan.

“Ini untuk bantu berobat, Bu,” ucapnya lembut sambil menyerahkan amplop kepada Bu Tumi. Seketika, suasana berubah. Weni, yang duduk berhadapan dengan Suster Weni, menangis terisak. Tangisnya keras, penuh emosi yang selama ini tertahan. Ia seperti meluapkan emosi yang sudah lama ia tahan sendirian.

Suster Weni refleks menenangkannya. “Jangan nangis kenceng-kenceng, Ibunya kaget,” ujarnya, khawatir melihat Ibu Tumi yang juga hendak bangkit dari tempat tidurnya.

Weni lalu mencoba mengontrol emosinya dan mengucapkan terima kasih sebanyakbanyaknya. Ketika Suster Weni hendak pamit, Weni berdiri mendekat dan berkata lirih, “Ibu dokter (ia memanggil Suster Weni), saya boleh nangis nggak?” Suster Weni terdiam. Ia baru menyadari, sebelumnya ia sempat meminta Weni menahan tangisnya demi Ibu Tumi.

“Boleh dong. Kenapa nggak boleh?” jawabnya pelan. Lalu keluarlah kalimat yang begitu menyesakkan dada. “Saya ini sudah sebulan, kalau mau nangis harus masuk kamar mandi. Tapi saya nggak boleh bersuara. Takut mama semakin kepikiran.”

Di sanalah semua bendungan emosi itu runtuh. Weni memeluk Suster Weni dan menangis sejadi-jadinya. “Saya lihat mama saya berbaring. Nggak bisa bawa ke dokter. Mau pakai uang ini, uang ini sudah ada peruntukannya. Sampai saya bingung. Saya lihat mama saya cuma dikasih obat warung. Tiap malam panasnya tinggi, menggigil. Saya cuman berdoa. Sementara suami saya juga bingung mau cari pinjaman, udah nggak ada lagi,” isak Weni di pelukan Suster Weni.

Weni Asih Saparyani (anak Ibu Tumi – kanan) tampak terharu atas cinta kasih dan kepedulian yang diberikan oleh Suster Weni serta para relawan dan staf Tzu Chi Hospital.

Lingkaran Cinta Kasih Tak Berhenti di Tengah Jalan
Dari kunjungan dan survei itu, Suster Weni merasa bantuan tidak boleh berhenti begitu saja di sana. Ia pun kembali menggalang dana, kali ini untuk membantu biaya kontrakan keluarga Ibu Tumi, setidaknya untuk satu hingga dua bulan sampai mereka menemukan kontrakan yang sesuai. Harapannya agar mereka bisa bernapas lebih lega, tidak terusmenerus dihantui kecemasan soal tempat tinggal. Agar sang menantu bisa bekerja dengan tenang. Agar tidak ada lagi anggota keluarga yang harus tidur terpisah karena sempitnya ruang.

Selain dana, banyak relawan lainnya yang juga memberikan perhatian dan hal- hal yang dibutuhkan oleh keluarga kecil ini. Seperti boneka untuk kedua anak Weni yang kemudian diberi nama: Markonah dan Blekedet. Ada juga kasur busa baru untuk Ibu Tumi. Semua turut berbahagia.

Ke depannya, Suster Weni juga merencanakan kunjungan lanjutan, membawa sembako, dan menutup kasus ini dengan tuntas. Inilah yang ia sebut sebagai bantuan yang tidak putus di tengah jalan. Bantuan yang berkembang, berangkat dari kepedulian, diperkuat oleh survei, dan diwujudkan lewat empati yang nyata. Karena dari sanalah kebutuhan yang sesungguhnya bisa terlihat, dan dari sanalah kehangatan itu terus berlanjut.

Kini, Ibu Tumi kembali menjalani hariharinya dengan senyum yang lepas. Tak heran, wajahnya menjadi hangat dan sumringah. Semua karena perlakuan penuh welas asih yang ia dapatkan.

Tak hanya matanya yang kembali bisa melihat terang, tapi hatinya pun bisa melihat sekaligus merasakan cinta kasih yang nyata dalam hidupnya. Ia tak cuma bisa melihat wajah anak dan cucunya dengan jelas, tapi juga bisa berjalan lebih percaya diri, dan menikmati hal-hal kecil yang dulu terlewatkan. Keluarganya pun perlahan bisa bernapas lebih lega, melangkah dengan hati yang lebih tenang.

Anak kedua Weni menerima boneka dari relawan yang kemudian dinamai Markonah. Tak lama berselang, sang kakak juga menerima boneka yang dinamai Blekedet. Kedua boneka tersebut kini menjadi teman bermain dan kesayangan mereka.

Dari kisah ini, kebahagiaan hadir bukan karena segalanya tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena mereka tahu ada banyak tangan yang tulus membantu, dan banyak hati yang peduli.

“Terima kasih semuanya, Dokter Gladys, Dokter Mathilda, tim dokter, para perawat, ibuibu relawan, Suster Weni, dan Tzu Chi Hospital yang sudah membuat masa tua ibu saya jadi berharga dan beliau bisa kembali berdaya,” tutup Weni Bahagia.

Teks & Foto: Metta Wulandari
Berlombalah demi kebaikan di dalam kehidupan, manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik-baiknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -