Lima Ribu Rumah Bawa Perubahan untuk Lima Ribu Keluarga
Di Indonesia ada sebuah peribahasa yang akrab di telinga: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Biasanya kata-kata manis ini hanya lewat sebagai nasihat lama, tetapi peribahasa itu seperti menemukan nyawanya dalam program renovasi rumah yang dijalankan Tzu Chi bersama Kementerian PKP. Proyek besar ini memperlihatkan bagaimana gotong royong bukan hanya kata, melainkan hadir di tangan-tangan yang saling menguatkan, lembaga yang saling menopang. Muaranya hanya satu: mewujudkan harapan warga untuk tinggal di rumah yang nyaman.
*****
Perjalanan Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni kerja sama antara Yayasan Buddha Tzu Chi bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia sudah mulai menunjukkan hasil. Menurut data per 1 Desember 2025, dari 5.020 rumah yang menjadi target pembangunan, kini 721 rumah telah selesai direnovasi, 398 rumah sedang dalam proses pengerjaan, dan 1.872 rumah sudah melalui proses survei.
Seluruh tim yang bekerja terasa seperti sedang berpacu dengan waktu. Mereka bukan hanya ingin memperbaiki bangunan rumah, tetapi juga menenangkan hati orangorang yang tinggal di dalamnya. Mengapa? Karena nantinya rumah itu akan diserahkan kembali ke pemiliknya dalam keadaan berubah wajah, lebih utuh, lebih layak, lebih manusiawi.
Di momen itulah, guratan cemas yang lama menghuni wajah para penghuni rumah perlahan memudar. Berganti harap bahwa hidup ke depannya akan berjalan lebih ringan, lebih nyaman. Senyum pun mengembang, seakan berkata bahwa bantuan ini bukan sekadar renovasi, melainkan kesempatan baru untuk memulai hidup dari titik yang lebih baik.
Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing
Namun, untuk sampai pada senyum yang merekah itu, pekerjaan besar ini masih dihadapkan pada tantangan nyata. Banyak warga yang selama ini tinggal di rumah tidak layak, tetapi belum bisa menerima bantuan negara secara langsung karena berbagai keterbatasan administratif. Di sisi lain, kemampuan negara juga terbatas. Target pembangunan rumah mencapai 3 juta unit, sementara porsi yang dapat dipenuhi APBN di tahun-tahun mendatang masih jauh di bawah kebutuhan pembangunan yang ideal. Ruang fiskal tersebut belum sebanding dengan besarnya kebutuhan di lapangan.
Potret kebahagiaan warga setelah tinggal di rumah yang nyaman pasca-direnovasi. Senyum mereka menandakan hati penuh syukur menerima rumah dengan perasaan bahagia dan lapang.
Di tengah kondisi tersebut, kementerian memilih membuka ruang kolaborasi yang lebih luas melalui program CSR. “Kami berinisiatif mengajak dan melibatkan temanteman swasta,” tutur Maruarar. Keterlibatan masyarakat, pengusaha, juga yayasan seperti Tzu Chi, hingga donatur perorangan membuat program ini bergerak lebih cepat, lebih luas, dan lebih humanis. Dengan cara inilah celahcelah yang belum mampu dijangkau negara dapat terisi, sehingga rakyat bisa segera tinggal di rumah yang lebih layak.
Menteri PKP Maruarar Sirait juga terus menegaskan bahwa kekuatan terbesar program ini lahir dari semangat gotong royong dan juga keberagaman Indonesia yang justru menjadi sumber tenaga yang menggerakkan semua ini.
“Kita beda agama, beda suku, beda etnis, beda tingkat ekonomi, tapi ada gotong royong. Justru perbedaan inilah kekuatan kita. Hati kita, nurani kita, itulah yang dipesankan Presiden Prabowo, ‘jangan menjadi pengusaha yang serakah ‘nomics’, tetapi ‘berbaginomics’.”
Kolaborasi inilah yang akhirnya terbukti menjadi kekuatan utama. “Kadang yang datang membantu kita bukan saudara, bukan tetangga, bukan keluarga. Bahkan Tuhan mengirim orang yang tidak kita kenal untuk datang membantu. Karena kita semua saudara dalam Indonesia,” ucap Maruarar kepada warga di beberapa wilayah yang rumahnya selesai direnovasi.
Rumah milik Nasir di Kampung Rawa, Jakarta Pusat dulunya adalah bangunan tua yang dirinya pun tak mampu untuk merenovasinya. Tak cuma Nasir, di wilayahnya masih banyak tersebar rumah serupa yang juga layak untuk dibantu dan menerima bantuan renovasi rumah.
Sejauh ini, dari seluruh pihak swasta yang ikut bergotong royong, Yayasan Buddha Tzu Chi menjadi pemantik, sekaligus yang paling banyak membantu rakyat dalam merenovasi rumah di seluruh Indonesia. Hingga Maruarar melaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa Tzu Chi akan membantu sejumlah 5.020 rumah yang tersebar dari Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sumatera Utara dan Selatan.
“Beliau-beliau ini bersama para donatur yang tak bisa disebut satu-satu adalah bagian dari Indonesia yang merelakan rezekinya, uangnya, dan tenaganya untuk membantu rakyat,” tuturnya. Dari pengusaha, yayasan, hingga perorangan, setiap tangan yang terulur membuat satu keluarga kembali bisa bermukim dengan lebih layak dan sejahtera.
Dan di penutup setiap momen kunjungan, Maruarar terus kembali pada jiwa dari program ini, gotong royong. “Terima kasih kepada semua pihak yang terus bekerja dengan hati. APBN bisa terbatas. APBD bisa terbatas. Tapi semangat gotong royong tidak pernah terbatas. Kita teruskan semangat ini bersama, untuk rakyat.”
Rumah Nasir setelah direnovasi tampak jauh lebih aman dan nyaman untuk ditinggali. Ia pun lebih tenang bekerja untuk memperbaiki perekonomian keluarganya.
Tzu Chi Konsisten Hadir Bantu Masyarakat
Di tengah kerja sama ini, kehadiran Tzu Chi terlihat lebih dominan dimana dimulai dari awal hingga akhir pembangunan, para relawan dan tim lapangan berjalan berdampingan dengan pemerintah. Mereka melakukan survei, mendata, dan memastikan setiap bantuan jatuh pada keluarga yang benar-benar membutuhkan sesuai dengan prinsip pemberian bantuan Tzu Chi.
Hal itu juga sejalan dengan pesan Menteri PKP yang menegaskan bahwa pelayanan harus cepat, tetapi akurat. Penerima manfaat harus sesuai prosedur, serta pengecekan lapangan harus dilakukan bersama-sama, berdasarkan SOP yang disepakati antara Kementerian PKP, pemerintah daerah, dan Yayasan Buddha Tzu Chi.
“Rakyat jangan sampai dibuat repot,” katanya.
Rumah Hasanah di Kampung Rawa, Jakarta Pusat kini terlihat jauh lebih nyaman ditempati setelah menerima bantuan renovasi. Keluarga besarnya pun bisa tinggal bersamanya di masa tua.
Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma pun memadukan pengalaman panjang Tzu Chi dengan kebutuhan program pemerintah. Terlebih Tzu Chi bukan pendatang baru dalam hal membangun kembali kehidupan warga melalui perbaikan hunian.
Sejauh ini, Tzu Chi punya rekam jejak panjang dalam membangun rumah bagi yang membutuhkan. “Kami sudah bangun sekitar 8.000 rumah,” tutur Sugianto Kusuma. “Mulai dari Jogja, Aceh, Padang, Palu untuk bencana, sampai rumah bagi masyarakat kurang beruntung. Untuk renovasi berskala sebesar ini, memang baru kami jalankan sekarang. Biasanya kami membangun baru. Tapi program seperti ini, ini panggilan dari negara. Kami harus bisa membantu sesama yang hidupnya kurang beruntung,” lengkapnya.
Dalam setiap kesempatan, Sugianto Kusuma terus menuturkan bahwa rumah menjadi kebutuhan primer yang keberadaanya amat perlu diperhatikan. Baginya, perbaikan rumah juga merupakan awal dari perbaikan cara hidup. “Kalau kualitas rumahnya bagus,” ujarnya pelan tapi tegas, “orang yang tinggal di dalamnya tidak sakit-sakitan. Anak-anak sekolah pun bisa berkonsentrasi dan belajar dengan nyaman di rumah. Tidak ada lagi kebocoran atau hal-hal lain yang mengganggu.”
Karena itu, ketika pemerintah mengajak, Tzu Chi tak menolak. Apalagi program ini sejalan dengan misi kemanusiaan yang telah lama dijalankan Tzu Chi, memberikan pendampingi kepada warga agar dapat hidup lebih aman dan layak. “Sekarang program besar ini berjalan bersama pemerintah, tentu kami ikuti dan dukung semuanya. Saya yakin manfaatnya akan sangat besar untuk warga,” ujar Sugianto Kusuma.
Sugianto Kusuma dan Maruarar Sirait melakukan serah terima rumah kepada warga Tanah Tinggi, Jakarta Pusat yang lebih dulu merasakan manfaat dari Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni.
Pada kenyataannya, kerja sama ini membuahkan hasil yang penuh haru, rumah- rumah lama yang tadinya gelap, sempit, dan hampir roboh, perlahan berubah wajah. Atap yang dulunya berlubang kini menutup rapat. Dinding yang tadinya goyah kini berdiri kokoh. Anak-anak bisa tidur tanpa rasa cemas, dan orang tua bisa bernapas sedikit lebih lega. Semuanya bergerak bersama, bergotong royong dengan satu tekad dan keyakinan, bahwa rumah yang baik membuka jalan bagi hidup yang lebih tenang dan ketenangan seperti itu layak dimiliki setiap orang.
Penulis: Metta Wulandari
Fotografer: Anand Yahya, Arimami Suryo A., Fikhri Fathoni