Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Cirebon: Rumah Baru, Semangat Baru Bagi Nelayan Pesisir Cirebon


“Rumah-rumah itu lahir dari kepedulian dan semangat gotong royong para donatur dan relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia”

*****

Selama puluhan tahun sejumlah warga di Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon menempati rumah yang berdiri di atas timbunan sampah. Kampung di atas timbunan sampah ini masuk dalam kawasan pesisir Kota Cirebon.

Warga di pesisir Kesenden itu menguruk tambak atau empang menggunakan sampah kemudian membangun rumah di atas lahan tersebut. Ya, warga di wilayah ini melakukan reklamasi dengan menggunakan sampah. Proses pengurukan lahan dengan cara demikian ternyata sudah dilakukan oleh warga selama puluhan tahun. Khususnya oleh warga yang tinggal di kawasan RW 10, Samadikun Selatan, Kelurahan Kesenden, Kota Cirebon.

Hingga kini, proses pengurukan lahan empang dengan menggunakan sampah masih terus dilakukan oleh masyarakat di RW 10, Samadikun Selatan, Kelurahan Kesenden, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Akibat menggunakan cara-cara demikian, tidak sedikit bangunan rumah yang ambles maupun miring.

Di wilayah Samadikun Selatan, Kota Cirebon, sebuah rumah sederhana berdiri di antara bangunan-bangunan yang berhimpitan. Dindingnya tersusun dari bilik bambu dan papan tripleks, dicat merah muda yang kini mulai pudar dimakan waktu. Atap asbes menaungi ruangan di bawahnya, namun sering kali justru membuat udara di dalam rumah terasa panas dan pengap, terutama saat matahari pesisir bersinar terik.

Di rumah itulah Rais (35) tinggal bersama istri dan anaknya. Dua kamar sempit dengan tempat tidur sederhana menjadi ruang beristirahat mereka setelah hari yang panjang. Di bagian dapur, perabotan seadanya memenuhi sudut-sudut kecil yang tersisa. Rumah itu juga memiliki kamar mandi, meski kondisinya jauh dari kata nyaman. Namun, di tempat sederhana itulah Rais menambatkan harapan dan menjalani keseharian sebagai nelayan.

Kondisi rumah Pak Rais setelah direnovasi. Selain Rais, ada 19 keluarga lainnya yang mendapatkan bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi di Cirebon.

Rais hanyalah satu dari sekian banyak warga di Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, yang hidup di kawasan pesisir dengan kondisi serba terbatas. Selama puluhan tahun, warga di RW 10 Samadikun Selatan menempati rumahrumah yang berdiri di atas timbunan sampah. Dahulu, kawasan ini merupakan empang dan tambak. Seiring bertambahnya penduduk dan keterbatasan lahan, warga menguruk lahan menggunakan sampah, lalu membangun rumah di atasnya.

Proses reklamasi dengan cara demikian telah dilakukan secara turun-temurun. Hingga kini, pengurukan lahan menggunakan sampah masih terus berlangsung. Di balik usaha bertahan hidup tersebut, tersimpan risiko besar. Tanah yang tidak padat membuat banyak rumah perlahan ambles dan miring. Pondasi rapuh, tiang kayu mudah lapuk, dan bangunan menjadi rentan terhadap cuaca pesisir yang ekstrem.

Di tengah keterbatasan itulah, secercah harapan mulai tumbuh. Di tepi laut Cirebon, tepatnya di Samadikun Selatan, kisah haru dua keluarga nelayan kini tengah bersemi. Di antara debur ombak dan jaring-jaring yang dijemur, rumah-rumah baru perlahan berdiri. Rumah-rumah itu lahir dari kepedulian dan semangat gotong royong para donatur dan relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Melalui Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia merenovasi 20 unit rumah di Kota Cirebon. Sebanyak 15 unit berada di Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan, sementara lima unit lainnya tersebar di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk. Satu per satu rumah yang sebelumnya rapuh kini bertransformasi menjadi hunian yang lebih kokoh, aman, dan layak.

Menteri PKP RI Maruarar Sirait bersama relawan Tzu Chi mendampingi Ibu Rukmini memasang bata merah sebagai tanda mulai direnovasinya 20 unit rumah di Kota Cirebon.

Pelaksanaan program RTLH di Kota Cirebon mendapat apresiasi langsung dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Maruarar Sirait, yang hadir melakukan kick off sebagai tanda dimulainya renovasi rumah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia atas konsistensinya membantu pemerintah dalam upaya penyediaan hunian layak bagi masyarakat kurang mampu.

“Hingga saat ini, sekitar 5.000 unit rumah sedang berjalan direnovasi di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Banten, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Jawa Barat (Bandung, Cirebon), Jawa Tengah (Banyumas), Jawa Timur (Surabaya), hingga Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Para relawan Tzu Chi adalah saudara-saudara kita yang dengan tulus merelakan waktu, tenaga, dan rezekinya demi membantu sesama tanpa pamrih,” ujar Maruarar.

Selain kick off program RTLH, kegiatan tersebut juga diisi dengan pembagian 1.000 paket beras, masing-masing seberat 10 kilogram, bagi warga yang membutuhkan. Bantuan ini menjadi pelengkap kepedulian, menyentuh langsung kebutuhan harian masyarakat pesisir.

Menteri PKP RI Maruarar Sirait berkesempatan berbincang dengan Rais (baju batik) dan warga penerima manfaat lainnya. Menteri Ara mengatakan bahwa program renovasi rumah ini dapat berjalan berkat semangat gotong royong antara Tzu Chi, pemerintah, dan seluruh pengusahapengusaha yang peduli kepada masyarakat prasejahtera.

Bagi Rais, bantuan RTLH ini terasa seperti jawaban dari doa yang selama ini ia panjatkan dalam diam. Setiap sore, ia bersiap menuju laut utara Cirebon dengan perahu kecil bermesin tempel. Bersama dua tetangga, Rais berangkat sekitar pukul lima sore dan baru kembali ke darat keesokan paginya. Hasil tangkapan ikan tak pernah menentu. Kadang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang hanya cukup untuk membeli bensin perahu.

“Kadang buat beli bensin saja kurang, jadi suka ngutang dulu,” katanya sambil tersenyum pasrah.

Rumah lama Rais nyaris roboh. Tiang-tiang kayu penyangga atap telah lapuk, dinding rumah miring, dan air hujan selalu masuk setiap kali hujan turun. Kekhawatiran akan keselamatan keluarga kerap menghantui pikirannya. Kini, berkat program RTLH, rumah itu dibangun kembali dengan pondasi yang lebih kuat, rangka baja ringan, serta lantai keramik yang bersih dan rapi.

Alhamdulillah, rumah saya nantinya lebih kuat. Saya juga ikut bantu para tukang supaya cepat selesai,” tutur Rais dengan mata berbinar. Baginya, rumah baru ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat pulang yang aman dan nyaman bagi keluarganya. “Terima kasih banyak untuk relawan Tzu Chi. Bantuan ini bukan cuma buat saya, tapi juga buat teman-teman nelayan lain yang rumahnya ikut direnovasi,” ucapnya penuh rasa syukur.

Radima ikut membantu pekerja bangunan ketika rumah direnovasi.

Tak jauh dari rumah Rais, Radima (54) menyimpan kisah penantian yang lebih panjang. Selama 30 tahun, ia bersama istri, anak, menantu, dan cucunya tinggal di rumah tua berukuran sekitar 6 x 5 meter persegi. Atap rumahnya keropos, udara di dalam rumah terasa pengap, panas, dan struktur bangunan lama perlahan menurun.

“Saya takut rumah roboh menimpa anak dan cucu saya,” kenangnya lirih

Dengan penghasilan sebagai nelayan sekitar Rp. 40.000 hingga Rp. 100.000 per hari, memperbaiki rumah dengan biaya sendiri adalah sesuatu yang sulit diwujudkan. Hingga suatu hari, ia mendapat kabar bahwa rumahnya termasuk penerima bantuan RTLH.

“Rasanya seperti mimpi. Saya nggak nyangka,” ujar Radima dengan mata berkacakaca.

Ia menyimpan kisah penantian panjang selama 30 tahun, sebelum rumahnya bisa berganti rupa. Kini ia sangat bersyukur karena ia sudah bisa rumah yang lebih aman dan nyaman.

Kini, rumah Radima sedang dalam tahap pembangunan. Pondasi diperkuat, rangka atap diganti baja ringan, dan tinggi bangunan ditambah agar sirkulasi udara lebih baik. Setiap hari, ia ikut membantu para tukang demi mempercepat proses pembangunan. “Saya bantu-bantu juga supaya cepat selesai. Kata tukang, tiga mingguan lagi sudah bisa ditempati,” ucap Radima dengan wajah penuh harap.

Bagi Rais dan Radima, rumah baru bukan sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan. Ia adalah simbol harapan, rasa aman, dan martabat. Dari laut mereka mencari nafkah, dan dari tangan-tangan relawan, mereka mendapatkan tempat pulang yang lebih layak.

Di pesisir Cirebon, semangat gotong royong kembali menemukan maknanya. Kerja keras para nelayan berpadu dengan ketulusan relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, melahirkan hunian yang lebih sehat, bersih, dan manusiawi. Rumah-rumah itu kini berdiri bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai penanda bahwa kepedulian dan welas asih mampu mengubah hidup masyarakat kecil di tepi laut Kota Cirebon.

Teks dan Foto: Anand Yahya
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -