Saat Gempa Mengguncang, Kemanusiaan Menyatukan

Hanya dalam hitungan detik, gempa mengubah kehidupan warga Flores. Rumah rusak dan banyak keluarga harus bertahan di tenda pengungsian. Di tengah ketakutan dan keterbatasan, relawan Tzu Chi hadir membawa bantuan dan menemani warga melewati masa sulit setelah gempa.
*****
Di ujung tenggara Indonesia, terbentang sebuah provinsi kepulauan yang seolah tersusun dari ribuan keping keindahan bernama Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayahnya membentang sekitar 247.931 kilometer persegi, dengan sebagian besar wilayah berupa lautan. Daratannya terhitung sekitar 47.932 kilometer persegi yang tersebar di pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut, tetapi disatukan oleh kehidupan dan budaya masyarakatnya.
NTT memiliki pulau-pulau besar seperti Flores, Timor, Sumba, Alor, dan Lembata, serta ratusan pulau lainnya. Bentang alamnya pun begitu beragam, ada gunung dan perbukitan, lembah, pantai-pantai panjang berlaut biru, juga pulau-pulau kecil, hingga padang savana yang berubah warna mengikuti musim. Sungguh menawan.
Ribuan Kali Gempa Mengguncang
Di balik keindahannya, NTT juga merupakan wilayah yang berada di kawasan tektonik aktif. Pulau-pulau seperti Flores dan Timor memiliki kondisi geologi yang membuat masyarakatnya hidup berdampingan dengan ancaman gempa dan bencana alam lainnya. Yang mana pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026 lalu, alam Flores benar bergejolak.
Pukul 04.58 WIB, ketika orang masih terlelap, bumi di wilayah Flores berguncang hebat. Gempa dengan magnitudo 7,7 berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Guncangannya dirasakan kuat di wilayah Flores. BMKG bahkan sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami di wilayah NTT dan sekitarnya.
Dalam hitungan detik, tanah yang selama ini menjadi tempat berpijak berubah menjadi sumber ketakutan. Rumah-rumah berguncang hingga dindingnya retak dan sebagian bangunan roboh. Warga berhamburan keluar, meninggalkan rumah dan barang-barang mereka.
Bencana tidak hanya merusak bangunan tapi juga membawa persoalan lain yang muncul setelah tanah kembali tenang, dimana masyarakat tak berani kembali ke rumahnya dan lebih memilih tidur di tenda dengan udara siang yang begitu panas sedangkan malamnya amat dingin. Warga juga terbatas dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengalami gangguan kesehatan, juga merasakan trauma yang membekas dimana mereka masih bergulat dengan rasa takut.
Di tengah kondisi itulah Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi Indonesia berusaha secepatnya tiba dan mendistribusikan bantuan di NTT. Sejak 16 dan 17 Agustus 2026, relawan mulai loading barang bantuan berupa 2.600 pcs selimut di gudang logistik Tzu Chi Center, PIK. Bantuan itu diperuntukkan bagi warga yang mengungsi dan terpaksa tidur di pengungsian atau di lokasi yang lebih aman. Selanjutnya pada 20 Agustus, 12 ton bantuan kembali dikirimkan dengan menggunakan kapal milik TNI AL dari Kolinlamil di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sejak pagi, relawan Tzu Chi bergotong royong memilah dan mengangkut bantuan logistik yang akan disalurkan kepada warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, NTT.
Sementara itu, relawan Tzu Chi bertolak ke NTT pada 23 Agustus dan setelah tiba pada 24 Agustus 2026, relawan mulai menyusuri wilayah terdampak di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Mereka berkoordinasi dengan pihak setempat untuk mengetahui lokasi-lokasi yang paling membutuhkan bantuan. Dari Cibal, Reo, hingga sejumlah wilayah di Manggarai Timur, relawan melihat langsung bagaimana warga menjalani harihari setelah gempa dengan perasaan yang penuh kerisauan.
Pada momen itu pula sebanyak 4.596 paket bantuan logistik berupa kebutuhan sehari-hari dibagikan. Ada makanan, minuman, sabun dan perlengkapan mandi, selimut, pakaian, terpal, tenda, genset, ranjang plastik, serta sejumlah kebutuhan lainnya. Bantuan ini dibagikan ke beberapa titik yaitu di Desa Benteng Poco, Desa Riung, Dusun Wancang, Gereja St. Fransiskus Assisi Ruteng, dan Gereja Katolik Paroki St. Fransiskus Xaverius Loce di Kabupaten Manggarai, serta di Desa Satar Kampas, Kabupaten Manggarai Timur.
Bertahan di Tengah Keterbatasan
Tak cuma bantuan sehari-hari, Tzu Chi bersama Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia pun menggelar baksos kesehatan. Salah satunya dilakukan di Desa Golo Mendo. Sebanyak 197 warga mendapatkan pelayanan kesehatan. Kehadiran tenaga medis bukan hanya memberikan obat dan pemeriksaan, tetapi juga menghadirkan rasa tenang bagi warga yang masih berada dalam suasana pascagempa.
Di balik angka penerima manfaat tersebut, ada wajah-wajah manusia dengan cerita masing-masing. Ada keluarga Vincent yang tetap bertahan dalam keterbatasan. Ia dan keluarganya tinggal di Desa Golo Mendo, Kecamatan Wae Ri’i. Ingatan Vincent kembali pada pagi ketika gempa mengguncang rumahnya.
“Begitu gempa mengguncang, saya angkat saya punya anak dan lari keluar. Atapnya roboh semua, temboknya hancur, jendela juga hancur,” kenang Vincent.
Sejak saat itu, Vincent dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah serta menjalani kehidupan di tenda pengungsian. Keluarganya harus berhadapan langsung dengan perubahan cuaca yang cukup ekstrem. Pada siang hari, mereka terpapar panas matahari, sedangkan pada malam hari mereka harus menahan udara dingin.

Vincent dan anaknya warga Desa Golo Mendo, Kecamatan Wae Ri’i saat diperiksa oleh Tim Dokter TIMA Indonesia. Setelah diperiksa Vincent mengalami hipertensi dan anaknya terjangkit penyakit kulit.
Hari-hari yang dijalani di pengungsian perlahan memengaruhi kondisi kesehatan keluarga Vincent. Keterbatasan fasilitas sanitasi membuat mereka tidak dapat menjaga kebersihan diri sebagaimana biasanya. Salah satu anak Vincent pun mulai mengalami gangguan kulit pada bagian kaki dan bagian tubuh lainnya. Keluhan tersebut kemudian diperiksa oleh dr. Ruzbih Bahtiar dan ditemukan luka pada kaki anak Vincent yang diduga berkaitan dengan kebersihan diri yang kurang terjaga selama berada di pengungsian.
Tidak hanya sang anak, kondisi kesehatan Vincent juga turut menjadi perhatian tim medis. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya cukup tinggi. Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan fisik selama tinggal di tenda, tetapi juga beban pikiran yang harus ia hadapi.
“Hari ini kami merasa bersyukur sekali karena adanya pengobatan. Selama di pengungsian ini, keluarga kami ada keluhan berbagai macam penyakit. Kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan dari pak dokter,” ucap syukur Vincent.
Ada pula Maria Pin (53) warga Kelurahan Tadong, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT, yang kondisi kesehatannya juga menurun. Tekanan darah tinggi serta rasa sakit pada kaki dan pinggang membuatnya kesulitan beraktivitas. Rasa takut akibat gempa juga masih sangat membayangi pikirannya.
“Sering darah tinggi, habis itu sakit sampai bagian kaki, kalau saya duduk setengah mati saya berdiri, habis itu pinggang itu sakit sekali. Selama gempa ini terlalu sudah, ngeri sudah, sekarang sudah parah tensi tinggi itu pikiran banyak,” tutur lirih Maria Pin.
Sebelum gempa terjadi, Maria Pin menggantungkan penghidupannya sebagai buruh tani yang menggarap sawah. Namun, bencana membuatnya takut untuk kembali bekerja. Musim kemarau yang melanda wilayah tersebut turut menghambat aktivitas pertanian dan pendapatan warga.
Di tengah berbagai kesulitan itu, kedatangan relawan Tzu Chi membawa kehangatan tersendiri bagi Maria. Perhatian yang diterimanya membuat ia merasa tidak sendirian menghadapi bencana.
“Perasaan saya sangat syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, itu makanya saya menangis saya tadi terharu sekali gara-gara bapak (relawan) injak kami punya kampung di sini, terima kasih banyak. Semoga pak semuanya sehat umur panjang,” ucap Maria Pin.
Beragam Nan Bersatu
Sembari tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan, relawan TTD membagikan kupon untuk mendistribusikan bantuan. Kupon tersebut menjadi tanda bahwa kebutuhan mereka telah dicatat dan barang bantuan sedang menuju kepada mereka. Di Manggarai, ada ribuan paket logistik dipersiapkan untuk disalurkan kepada warga.
Bantuan pun mulai berdatangan ke berbagai wilayah dan disalurkan kepada warga terdampak gempa. Isinya bukan sesuatu yang mewah, melainkan kebutuhan yang dekat dengan keseharian, yakni bahan makanan dan perlengkapan yang dibutuhkan warga untuk melewati hari-hari setelah bencana.

Tak hanya relawan, warga juga dengan sigap turut membantu proses pendistribusian bantuan.

Warga terlihat antusias menerima bantuan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan mereka setelah terdampak gempa.
Yohanes Bosko (41) salah satu warga sangat antusias menyebutkan sejumlah barang yang diterima keluarganya, mulai dari pakaian, perlengkapan kebersihan, makanan, air minum, hingga selimut. “Dapat baju, selimut, sabun, kelambu, sarung, mi instan, air, masker. Dingin sekali kalau malam di sini, makanya kami butuh selimut untuk tidur di tenda,” ungkap Yohanes Bosko senang.
Di antara berbagai barang tersebut, selimut menjadi salah satu kebutuhan yang paling penting. Suhu dingin pada malam hari terasa semakin menusuk ketika warga harus beristirahat di dalam tenda. Dengan adanya selimut, keluarga Yohanes setidaknya dapat beristirahat dengan lebih hangat.
Sr. Maria Rita, CB dari Paroki Santo Fransiskus Xaverius menjadi salah satu yang turut membantu menyalurkan bantuan kemanusiaan Tzu Chi kepada warga yang terdampak di Caok, Loce, Maki, dan Rabok. Di tengah keberagaman, Sr. Maria Rita menyampaikan satu pesan sederhana dimana perbedaan tidak menghalangi manusia untuk bersatu dalam persaudaraan.
“Kita memang berbeda agama, berbeda latar belakang dan berbeda cara kita menjalankan iman, tapi dalam situasi seperti ini kemanusiaan menyatukan kita. Terima kasih banyak kepada Tzu Chi telah mengajarkan soal perbedaan yang tidak menjadikan penghalang untuk berbuat baik, menyalurkan cinta kasih, dan bersatu di dalam bersaudara,” ungkap Sr. Maria Rita.
Sigap Mendampingi Warga di Tengah Bencana
Berada di wilayah yang dekat dengan pusat gempa, warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi situasi sulit. Gempa susulan yang terus terjadi menyebabkan banyak rumah mengalami kerusakan parah, bahkan sebagian besar bangunan tidak lagi dapat dihuni.
Di tengah kondisi tersebut, warga masih bertahan di pengungsian, menghadapi cuaca panas, sementara musim hujan mulai mendekat. Relawan Tanggap Darurat Tzu Chi melihat kondisi ini sebagai panggilan untuk bergerak cepat. Kebutuhan warga tidak bisa menunggu lebih lama, terutama karena mereka masih harus menghadapi ketidakpastian akibat bencana.
“Kita lihat di sini memang dekat dengan pusat gempa dan masih sangat sering ada gempa susulan, sehingga rumah penduduk di sini pun kebanyakan sudah hancur dan rata. Sekitar 80 hingga 90 persen rumah mereka tidak utuh lagi. Sampai hari ini pun mereka masih di pengungsian,” tutur Tjiu Bun Fu, salah satu relawan Tanggap Darurat. Ia menambahkan, kondisi tersebut mendorong para relawan Tzu Chi untuk segera mengambil tindakan dan mendampingi warga yang sedang menghadapi masa sulit.
“Jadi kita relawan Tzu Chi harus sigap juga membantu mereka, karena tidak ada waktu untuk tunggu lagi,” lanjutnya.

Bagi Bun Fu, kesempatan untuk hadir dan turut meringankan beban masyarakat terdampak gempa merupakan hal yang patut disyukuri. Kehadiran relawan bukan sekadar menyalurkan bantuan, tetapi juga menjadi wujud nyata cinta kasih yang diajarkan oleh Master Cheng Yen, yang tidak membedakan latar belakang penerimanya.
Rasa haru dan sukacita juga dirasakannya ketika melihat warga datang menerima bantuan dengan penuh rasa terima kasih. Respons tersebut menjadi pengingat bahwa perhatian yang diberikan, sekecil apa pun, dapat membawa arti bagi mereka yang sedang berjuang melewati masa bencana. “Lihat mereka datang menerima bantuan kita dan sangat berterima kasih, rasanya juga senang. Semoga bantuannya bermanfaat untuk warga,” pungkasnya.
Teks dan Foto: Fikhri Fathoni
Sumber: Majalah Dunia Tzu Chi Vol. 26, No. 3, Juli -September 2026







Sitemap