Arifin Wijaya: Relawan Tzu Chi Tebing Tinggi
Kembali Pulang untuk Memupuk Kebijaksanaan


“Fisik boleh lelah, namun batin tidak boleh lelah.”

“Saat berjalan, ketika sebelah kaki melangkah, maka kaki yang lain harus ikut melangkah”. Pertama kali mendengar Kata Perenungan Master Cheng Yen ini, saya merasa menemukan pemahaman yang baru dalam memaknai kehidupan ini. Kata perenungan ini selalu membantu saya dalam menghadapi perubahan karena keadaan baik dan buruk akan selalu datang bergantian.

Awal jalinan jodoh baik saya dengan Tzu Chi sebenarnya sudah cukup lama yaitu sejak masih SMA di Kota Medan. Saat itu saya sering menonton drama kisah nyata di DAAI TV dan ikut berdonasi setiap hari lewat celengan bambu yang didapatkan orang tua saya setelah mengikuti kegiatan Pemberkahan Akhir Tahun di tahun 2012. Kemudian pada tahun 2014, setelah lulus kuliah saya memutuskan untuk kembali ke Kota Tebing Tinggi dan membantu melanjutkan usaha keluarga.

Tapi saat itu saya tidak tahu Kantor Tzu Chi Tebing Tinggi berlokasi dimana. Akhirnya saya coba searching website Tzu Chi dan tahu alamat Tzu Chi Tebing Tinggi. Hingga pada bulan Mei 2015, saya diundang untuk mengikuti kebaktian Sutra Lotus dan juga kegiatan Waisak di Tzu Chi Tebing Tinggi. Berawal dari dua kegiatan tersebut, saya pun mulai mengikuti gathering relawan dan kelas bedah buku.

Bulan September 2015, ketika Tzu Chi Tebing Tinggi mengadakan pelatihan abu putih pertama kalinya, saya dengan senang hati mengikuti dan secara resmi berstatus relawan Abu Putih. Hampir semua kegiatan saya ikuti, namun sejak tahun 2016, saya lebih memfokuskan diri menjadi relawan Zhen Shan Mei (dokumentasi).

Saat menjadi relawan Zhen Shan Mei, banyak kisah yang menjadi pelajaran untuk diri sendiri. Seperti saat meliput kegiatan tanggap darurat, saya pun menyadari bahwa kehidupan kita sangat tidak kekal. Juga seperti saat meliput kunjungan kasih, kita bisa melihat bagaimana memberi perhatian dan semangat pada penerima bantuan. Hal itu membuat saya menyadari kehidupan saya sendiri sebenarnya adalah penuh berkah dan harus bisa menciptakan berkah lagi bagi orang-orang di sekitar saya seperti yang diajarkan oleh Master Cheng Yen.

Bagi saya, Master Cheng Yen itu panutan. Beliau adalah seorang guru dan teladan dan saya sangat bersyukur pada kehidupan ini bisa memiliki jalinan jodoh dengan seorang guru yang bijaksana. Saat ini saya juga lebih bisa mengendalikan batin. Jika sebelumnya semua hal harus sesuai keinginan saya, maka sekarang lebih memahami bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi apa adanya, yang paling penting kita sudah berusaha sebaik mungkin.

Dukungan yang diberikan keluarga kepada saya begitu besar. Keluarga besar dan istri semuanya mendukung sehingga tidak ada rintangan sama sekali dalam hal berbagi waktu antara kegiatan pribadi dan kegiatan Tzu Chi. Apalagi dengan kemajuan teknologi, saya juga dengan mudah memposting tentang kegiatan Tzu Chi ataupun Kata Perenungan Master Cheng Yen. Teman-teman saya juga banyak yang mendukung kegiatan Tzu Chi dengan menjadi donatur.

Memasuki usia 32 tahun, saya dipercaya mengemban tanggung jawab menjadi Ketua Hu Ai Tebing Tinggi selama 2 periode. Tentunya ini bukan hal yang mudah, selain menjadi relawan Tzu Chi saya juga harus bekerja dan aktif di salah satu vihara di Kota Tebing Tinggi, tentunya berpacu dengan waktu setiap harinya. Tetapi semua itu tidak menyurutkan semangat saya.

Menjadi relawan Tzu Chi akan terus saya jalankan sepanjang hidup bahkan akan menjadi legacy untuk anak-anak saya kelak. Menjadi relawan Tzu Chi bukan hanya mengembangkan batin kita, namun kita bisa melatih diri menjadi insan yang lebih positif dan membawa berkah bagi keluarga, anak-anak, dan juga banyak orang.

Tidak perlu takut dengan banyaknya kegiatan dan misi yang akan dijalani. Semua hal bisa dilakuan asal kita memiliki tekad. Fisik kita boleh lelah namun batin tidak boleh lelah. Caranya supaya batin tidak lelah bagaimana? Adalah dengan rajin mengikuti arahan dan prinsip kebenaran yang Master Cheng Yen berikan untuk kita.

Seperti yang dituturkan kepada: Elin Juwita (Tzu Chi Tebing Tinggi)
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -