Budi Dharmawan: Relawan Tzu Chi Medan
Benih Jodoh yang Menemukan Jalan Kebajikan


“Bukan hanya hasil, tapi bagaimana usaha dan cara kita melakukannya dengan tulus."

*****

Benih perjalanan saya bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bermula pada pertengahan tahun 2010. Saat itu saya menyaksikan tayangan DAAI TV dan mendengarkan tutur kata serta ajaran Master Cheng Yen yang terasa sederhana. Hal itu begitu menyentuh hati saya karena mudah dipahami dan bijaksana.

Sejak saat itu muncul niat saya untuk ikut bersumbangsih di Tzu Chi. Namun, karena waktu itu saya tidak memiliki kenalan dan tidak memiliki pengetahuan akan akses menuju Tzu Chi, saya sempat menunda keinginan untuk bergabung menjadi relawan selama beberapa tahun.

Pada awal tahun 2013, saya mencoba mendatangi Kantor Tzu Chi di Kompleks Cemara Asri, Medan. Namun saat saya datang, belum bertemu dengan relawan. Walaupun saat itu saya pulang dengan tangan hampa, tapi saya tidak menyerah. Beberapa bulan kemudian saya coba mencari tahu kembali dan menemukan Depo Pelestarian Lingkungan Titi Kuning.

Dari sinilah yang menjadi awal terjalinnya jodoh kebajikan saya dengan Tzu Chi. Hampir dua tahun pertama perjalanan saya di Tzu Chi saya isi dengan tekun memilah barang daur ulang setiap hari minggu di Depo Pelestarian Lingkungan Titi Kuning. Tetapi disela-sela berkegiatan pelestarian lingkungan, sesekali waktu saya sempatkan ikut survei dan kunjungan kasih di misi amal.

Kemudian pada tahun 2016, saya mulai aktif sepenuhnya di Misi Amal Tzu Chi. Di misi amal, saya berkesempatan mendampingi, memberi perhatian, hingga membantu merancang masa depan para penerima bantuan Tzu Chi (Gan En Hu) menjadi lebih baik. Ada kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata saat saya menyaksikan mereka yang berada dalam kondisi sulit bisa bangkit dan sembuh.

Di tahun 2022, saya mulai mengemban tanggung jawab di Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, hingga pada tahun 2026 giat melakukan Pelestarian Lingkungan, Misi Pengobatan, dan Misi Amal Tzu Chi. Melalui kegiatan pelestarian lingkungan dan pengobatan, saya merasa bersyukur bisa mengedukasi banyak orang untuk hidup sehat sekaligus melindungi bumi dan semua makhluk.

Sebelum mengenal Tzu Chi, saya adalah seorang yang cenderung perfeksionis, selalu melakukan yang terbaik dari diri sendiri dan berharap orang lain juga melakukan dengan baik, serta menginginkan hasil yang terbaik juga. Tetapi di Tzu Chi saya belajar untuk melakukan yang terbaik dan menerima perbedaan, memahami kondisi setiap orang, dan prosesnya. Bukan hasil semata yang kita kejar, melainkan seberapa besar usaha dan bagaimana cara kita melakukannya dengan tulus.

Perjalanan dalam komunitas tak jarang membawa dinamika atau gesekan antar manusia. Ketika menghadapi kondisi ini, saya selalu kembali pada kesadaran dalam batin. Karena ada satu Kata Perenungan Master Cheng Yen yang menjadi pedoman dan pandangan hidup saya yakni “Kehidupan yang paling berbahagia adalah ketika kita dibutuhkan dan bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.”

Bagi saya, ketulusan dan kesungguhan hati adalah kunci utama agar visi kemanusiaan Tzu Chi dapat terwujud nyata ditengah masyarakat. Saya pun bersyukur perjalanan panjang menjadi relawan akhirnya mengantarkan saya dilantik menjadi relawan Komite Tzu Chi pada tahun 2024. Dan kini saya dipercaya untuk memgemban tanggung jawab sebagai Wakil Koordinator Misi Pengobatan He Qi Jati dan Kordinator Bidang Pelestarian Lingkungan Hu Ai Perintis di Tzu Chi Medan.

Seperti yang dituturkan kepada Liani (Tzu Chi Medan)
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -