Chen Jin An: Relawan Tzu Chi Tebing Tinggi
Membina Diri untuk Menjadi Lebih Baik


“Meskipun tidak kaya secara materi, namun jika kita masih bisa bersumbangsih, itu merupakan kekayaan sesungguhnya”

Saya berjodoh dengan Tzu Chi pada tahun 2009, saat itu saya dan istri diajak sepupu untuk menjadi donatur Tzu Chi. Bukan hanya menjadi donatur, tetapi sepupu saya itu juga mengajak kami untuk ikut dalam tea gathering dimana pada saat itu Tzu Chi Tebing Tinggi mulai berdiri. Saya yang awalnya penasaran Tzu Chi itu organisasi yang bagaimana, akhirnya menerima ajakan dari sepupu saya tersebut.

Dari situlah saya mulai bergabung menjadi relawan. Karena jumlah relawan yang masih sedikit, saya ikut dalam semua misi dimana pada saat itu misi yang berjalan di Tzu Chi Tebing Tinggi yaitu Misi Amal, Misi Pengobatan, dan Misi Pelestarian Lingkungan. Biasanya setiap akhir pekan, saya senantiasa meluangkan waktu untuk berkegiatan karena sethari-harinya saya membantu saudara berjualan sembako.

Karena sering ikut kegiatan di berbagai misi, saya pun dipercaya menjadi penanggung jawab di bagian logistik di Tzu Chi Tebing Tinggi. Jadi setiap ada kegiatan, saya berusaha untuk tiba di lokasi kegiatan lebih awal untuk mempersiapkan segala keperluan kegiatan. Kemudian pada tahun 2013, saya dan istri mengikuti pelatihan Abu Putih Logo (Relawan Calon Komite) di Jakarta.

Bagi saya, Master Cheng Yen adalah guru yang mengajarkan saya tentang hukum kebenaran sehingga saya menjadi pribadi yang bisa berlapang dada dan berusaha mengikis segala tabiat buruk. Salah satu Kata Perenungan Master Cheng Yen yang menjadi pedoman saya adalah Kemarahan adalah Menghukum Diri Sendiri Dengan Kesalahan Orang Lain. Kata-kata ini benar-benar membuka mata saya bahwa saat emosi yang paling rugi dan menderita sebenarnya adalah diri kita sendiri.

Selama 13 tahun menjadi relawan, saya mengerti dengan menerapkan ajaran Master Cheng Yen dalam berkegiatan, saya bisa merasakan sukacita yang sebenarnya. Meskipun tidak kaya secara materi, namun jika dalam kondisi sehat kita masih bisa bersumbangsih, itu merupakan kekayaan sesungguhnya. Saya benar-benar merasakan berkah karena fisik saya masih sehat dan dapat menggunakannya untuk menolong orang lain yang membutuhkan.

Bagi saya penerima bantuan itu adalah guru dalam melatih kesabaran. Pernah suatu kali saya mengantar pasien kasus yang sakit jantung. Dari awal datang ke rumah sakit sampai selesai, pasien tersebut sangat banyak menuntut. Disitulah saya mendapatkan pelajaran berharga, kesabaran bukan hanya sekedar menahan sabar saja, tapi kita harus bisa melepas kesabaran itu sehingga kita tidak merasakan sebuah beban.

Sejak bergabung menjadi relawan Tzu Chi, kehidupan keluarga saya juga semakin harmonis. Karena saya dan istri menjadi relawan Tzu Chi tentunya juga harus menjadi teladan bagi anak-anak. Saya berusaha menularkan perubahan yang positif diri sendiri kepada seluruh anggota keluarga.

Tzu Chi bukan hanya untuk memupuk berkah, namun juga untuk mengembangkan kebijaksaan kita. Bagi saya Tzu Chi merupakan sekolah kehidupan yang banyak mengajari tentang pelajaran kehidupan. Saya pun terus berusaha menjadi pribadi yang bisa menghargai dan bersyukur atas semua perjalanan hidup saya sampai saat ini.

Seperti yang dituturkan kepada Elin Juwita (Tzu Chi Tebing Tinggi)
Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -