Dewi Intan Surya Asih: Relawan Pemerhati Tzu Chi Hospital
Kisah Nai Nai Dewi, Seorang Pemandu yang Menemukan Jalan
Nai Nai Dewi Intan Surya Asih (dua dari kiri) bersama para relawan pemerhati Tzu Chi Hospital berbincang dan tertawa di koridor rumah sakit. Kehangatan dan keceriaan Nai Nai membuat suasana kebersamaan selalu terasa akrab layaknya keluarga.
Kalau pagi-pagi datang ke Tzu Chi Hospital dan melihat seorang relawan berusia lanjut tapi masih semangat berjalan dan mendorong troli kecilnya dengan cepat menuju area pelayanan, besar kemungkinan itu adalah Nai Nai Dewi Intan Surya Asih.
Di dalam troli itu tidak ada barang-barang mewah. Hanya baju ganti, botol minum, dan beberapa perlengkapan yang selalu dibawanya setiap hari. Dengan troli itu pula ia naik TransJakarta dari apartemennya menuju Tzu Chi Hospital, lalu pulang sendiri menjelang sore.
Melihat langkahnya yang ringan dan senyumnya yang selalu mengembang, mungkin banyak orang tidak menyangka kalau usianya sudah 73 tahun. Bahkan banyak relawan yang bercanda, "Nai Nai ini energinya enggak habis-habis." Ia hanya tertawa. "Masih kuat kok."
Selama enam tahun terakhir, Nai Nai Dewi menjadi salah satu relawan pendamping yang begitu akrab di Tzu Chi Hospital. Berbekal kemampuan bahasa Mandarin yang dikuasainya selama puluhan tahun menjadi pemandu wisata, ia membantu menerjemahkan percakapan pasien, mengantar ke berbagai unit, memberi informasi, hingga menemani pasien luar negeri yang kebanyakan datang dari Taiwan maupun Tiongkok.
Kalau ditanya soal pekerjaannya sekarang, jawabannya selalu membuat orang tersenyum. "Dulu saya guide tamu, sekarang guide pasien." Kalimat sederhana itu ternyata menyimpan perjalanan hidup yang luar biasa panjang.
Hidup yang Tak Mudah
Nai Nai Dewi menikah sangat muda, saat usianya baru 17 tahun. Setahun kemudian anak pertamanya lahir. Setelah itu, hampir setiap satu atau dua tahun sekali ia kembali melahirkan hingga akhirnya memiliki enam orang anak, lima perempuan dan satu laki-laki. Sambil tertawa ia sering bercerita, "Jaman dulu kan maunya punya anak laki-laki."
Namun setelah anak-anak lahir, kenyataan hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Suaminya memiliki kebiasaan buruk sehingga walaupun suami tetap di sampingnya, tapi ia harus berjuang sendiri menghidupi keluarga. "Saya enggak kenal pagi, siang, malam. Pokoknya kerja terus buat ngidupin enam anak."

Nai Nai bersama troli kecil yang setia menemaninya setiap hari. Di dalam troli itu tersimpan berbagai perlengkapan sederhana yang selalu dibawanya saat berangkat dan pulang bertugas sebagai relawan pemerhati.
Setiap hari, Nai Nai berangkat dan pulang dari Tzu Chi Hospital menggunakan armada TransJakarta menuju apartemennya di kawasan PIK 2. Perjalanan yang dijalani dengan penuh semangat itu menjadi bagian dari rutinitas pelayanannya selama bertahun-tahun.
Pernah ada masa ketika keluarga mereka memiliki usaha yang cukup besar. Sayangnya, badai datang bertubi-tubi. Krisis moneter 1998 membuat usaha itu ambruk hingga mereka terlilit utang dan kehilangan hampir semuanya. Saat orang lain mungkin memilih menyerah, Nai Nai justru kembali bangkit. Dari Solo Jawa Tengah, keluarganya pindah ke Banyuwangi, Jawa Timur dan memulai usaha tambak, sekaligus berjualan benur dari tambak ke tambak. Tapi lagi-lagi usaha yang dibangunnya susah payah itu harus kembali bangkrut.
Dengan tanggunan enam anak, tak mungkin Nai Nai diam saja. Ada keluarga menawarinya pindah lagi ke Bali untuk memulai hal lain. Katanya, “di Bali itu jualan apa aja laku.” Mereka pun mengiyakan. Ketika pindah ke Bali, ia kembali memulai dari nol dengan berjualan beras dan menawarkan beras ke hotel, restoran, hingga pabrik garmen. Apa pun pekerjaan yang bisa dilakukan, akan ia kerjakan. Belakangan ia menjadi pemandu wisata (guide) selama hampir 28 tahun.
Pekerjaan itu baginya susah susah gampang karena lumayan membuat capek tapi hasilnya membuat perekonomiannya stabil. Pagi, siang, malam, hingga sakit pun, tak pernah ia melewatkan menemani tamu berkeliling wisata. Baginya, hanya ada satu tujuan. Anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin. Padahal dirinya sendiri hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SMP kelas dua.
Ketika sang suami berkata, "Suruh saja mereka kerja, saya sudah nggak sanggup biayain. Kalau mau kuliah, kamu saja yang bayarin," Nai Nai tidak mundur sedikit pun. "Saya bilang, enggak (boleh kerja). Anak saya harus kuliah. Walaupun saya sudah enggak punya apa-apa, mereka harus punya ilmu."
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Keenam anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan, bahkan ada yang melanjutkan belajar hingga Taiwan dan Tiongkok. Kalau mengenang masa-masa itu sekarang, Nai Nai justru tertawa. "Hidup saya banyak ceritanya."
Menanam Berkah adalah Jawabannya
Namun ada satu bagian cerita yang paling mengubah hidupnya. Di tengah segala kesulitan, ia pernah merasa bingung mengapa nasibnya seolah tidak pernah membaik. Usaha selalu bangkrut, jalan tidak mudah, cari duit pun susah. Ia pernah mengikuti saran teman-temannya, mendatangi dukun, orang pintar, hingga siapa saja yang katanya bisa membantu mengubah kehidupan. Semuanya dicoba, “tapi nggak berhasil-berhasil, tetep susah,” katanya tertawa.
Dengan mandiri, dan sesekali dibantu petugas, Nai Nai menaiki armada TransJakarta untuk melanjutkan perjalanannya. Di usia yang tidak lagi muda, ia tetap menunjukkan semangat dan kemandirian yang menginspirasi banyak orang.
Sampai suatu hari, ketika ia sudah tinggal di Bali, tanpa sengaja ia mendengar ceramah Master Cheng Yen di televisi. "Aneh tapi nyata. Rasanya kok pas sekali dengan hidup saya."
Sejak saat itu, hampir setiap ada waktu luang ia selalu mencari televisi (DAAI TV) untuk mendengarkan ceramah Master Cheng Yen. Perlahan ia memahami bahwa jalan keluar bukan dengan mencari keberuntungan di luar diri, melainkan dengan menanam berkah melalui perbuatan baik. "Dari situ saya sadar, kita harus menanam berkah sendiri." Kalimat sederhana itu menjadi titik balik hidupnya.
Ia meminta anaknya yang tinggal di Jakarta untuk mencari tahu dan ternyata sang cucu malah sudah terlebih dulu bersekolah di Tzu Chi School, PIK. “Wah…, saya langsung senang sekali. Berarti saya bisa ikut ke Tzu Chi yang di Jakarta,” tutur Nai Nai.
Sekitar tahun 2015 ia mulai mengenal Tzu Chi, mengikuti pelatihan kerelawanan, hingga rela bolak-balik Bali dan Jakarta untuk belajar bersama para relawan. Dulu Nai Nai belum tahu kalau di Bali pun ada Tzu Chi. Belakangan setelah mengetahui info itu, ia aktif bersama relawan Tzu Chi di Bali.
Waktu berselang, pandemi COVID-19 kemudian menghentikan dunia pariwisata. Turis menghilang, penerbangan menurun, dan pekerjaannya sebagai guide ikut terhenti. Alih-alih mengeluh, ia justru melihatnya sebagai kesempatan. "Daripada bengong di Bali, saya pikir lebih baik ikut Tzu Chi di Jakarta."
Sebelum kembali ke Surabaya, Nai Nai berpamitan dengan Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Dengan penuh rasa syukur, ia menyampaikan terima kasih atas kesempatan melayani dan ladang berkah yang telah diberikan Tzu Chi selama ini.
Nai Nai lalu pindah ke Jakarta dan akhirnya bergabung sebagai relawan Tzu Chi di wilayah He Qi Timur (sekarang He Qi Jakarta Utara 4). Di saat itu pula, ketika Tzu Chi Hospital mulai dibuka, ia mencoba ikut menjadi relawan pendamping di sana. Di sinilah ia merasa menemukan rumah kedua. Setiap hari ia datang membawa troli kecilnya, menyapa pasien dengan ramah, membantu menerjemahkan, menemani keluarga pasien yang kebingungan, bahkan kadang pulang hingga malam ketika ada keadaan darurat.
Baginya semua itu bukan pekerjaan. Itu kebahagiaan. "Pasien senang kalau ada yang menemani. Saya juga ikut senang." Ia juga merasa sangat bersyukur bisa memiliki begitu banyak teman seperjalanan. "Masuk Tzu Chi itu hati saya jadi tenang. Banyak belajar dari ajaran Master Cheng Yen, banyak teman, banyak mengerti tentang kehidupan."
Untuk memudahkan mobilisasinya, Nai Nai yang sebelumnya tinggal bersama sang anak di Jakarta Timur bahkan mencoba tinggal selama 6 bulan di mess Yayasan Buddha Tzu Chi, lalu pindah ke apartemen sekitar PIK 2 selama lima tahun lamanya. Kemandiriannya tidak diragukan lagi. Semua ia lakukan sendiri.
“Lha wong sejak muda udah biasa gedebak gedebuk, ya sekarang masih bisa apa aja. Sudah biasa. Anak saya pun senang kalau mamanya ini aktif. Apalagi di Tzu Chi kan aktifnya di jalan yang positif ya. Jadi selama saya masih bisa, ya mereka selalu mendukung,” kata Nai Nai senang.
Nai Nai Dewi memberikan petunjuk arah kepada pasien dan keluarganya saat bertugas sebagai relawan pemerhati di Tzu Chi Hospital. Dengan keramahan dan kesabarannya, ia membantu banyak pasien merasa lebih tenang dan nyaman selama berada di rumah sakit.
Nai Nai yang Penuh Cinta
Kini, perjalanan baru kembali menantinya. Anak-anaknya mulai khawatir karena sang ibu yang tinggal sendirian di Jakarta beberapa kali sempat terjatuh, membuat mereka merasa lebih tenang jika Nai Nai tinggal bersama keluarga di Surabaya. Maka, dengan penuh cinta, mereka mengajak ibunya pulang.
Bagi para relawan, tentu ada rasa kehilangan. Mereka membuat satu momen acara perpisahan dengan Nai Nai di ruang Layanan Sosial Tzu Chi Hospital (19/6/26). Semua relawan menuturkan kesan yang indah terhadap orang yang mereka anggap sebagai nenek mereka. Salah satunya Moni, staf Tzu Chi Hospital yang juga merupakan relawan menuturkan, bahwa ia masih ingat, saat relawan rumah sakit belum resmi dimulai, Nai Nai sudah menyampaikan keinginan untuk bergabung dalam pelayanan relawan rumah sakit melalui beberapa Shijie (dan benar-benar bukan hanya satu orang). Saat itu Moni berpikir, “Wah! Shijie ini sungguh luar biasa, begitu tulus dan penuh ketekunan!”
Para relawan pemerhati mengadakan acara perpisahan untuk Nai Nai sebagai ungkapan cinta kasih, rasa terima kasih, dan kebersamaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun dalam pelayanan.
Kemudian ketika relawan rumah sakit resmi berjalan, Nai Nai pun secara alami turut terlibat di dalamnya. Sepanjang perjalanan ini, Nai Nai telah mengatasi berbagai tantangan, mulai dari kendala transportasi hingga kesulitan tempat tinggal, sampai akhirnya menemukan cara yang paling sesuai, hanya agar dapat datang bertugas setiap hari di rumah sakit dengan tenang, melayani pasien dan keluarga mereka.
Nai Nai selalu memegang teguh semangat “bersumbangsih tanpa pamrih, bersyukur, menghormati, dan mengasihi”, serta menjalankan misi relawan Tzu Chi melalui tindakan nyata.
“Saya sungguh, sungguh sangat bersyukur kepada Nai Nai, dan benar-benar sangat berterima kasih kepada Nai Nai. Semangat, ketulusan, dan ketekunan Nai Nai selalu membuat saya sangat kagum dari dalam hati. Nai Nai bukan hanya kekuatan penting dalam tim relawan rumah sakit, tetapi juga teladan bagi kami, para relawan yang lebih muda. Nai Nai telah menunjukkan kepada kami bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang. Selama ada niat yang tulus, setiap orang dapat memberikan kemampuan terbaiknya di tengah masyarakat dan membawa manfaat bagi banyak orang,” ungkap Moni.
Semua Kenangan Membuat Kebahagiaan
Kini, lorong-lorong rumah sakit tak lagi akan sering dilewati troli kecil yang didorong pelan sambil sesekali diselingi obrolan hangat dan tawa khas Nai Nai. Namun ketika ditanya apakah ia sedih meninggalkan Tzu Chi Hospital, jawabannya justru membuat semua orang ikut tersenyum. "Enggak sedih. Semua kenangan saya di sini bikin saya happy."
Wajah bahagia Nai Nai saat dikelilingi para sahabat yang telah menjadi keluarga di Tzu Chi Hospital. Kehangatan persahabatan dan kenangan indah yang terjalin menjadi hadiah berharga yang akan selalu dibawanya pulang.
Nai Nai Dewi merasa pulang dengan membawa begitu banyak hadiah, ada persahabatan, kesempatan melayani, ladang berkah, sekaligus pemahaman bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang terus menanam kebajikan.
"Sekarang saya enggak kepengen yang macam-macam. Enggak berkelimpahan, enggak berkekurangan, cukup saja sudah senang. Yang penting masih sehat, masih bisa bantu orang."
Kalimat itu terasa begitu pas menggambarkan dirinya. Seorang perempuan yang pernah jatuh berkali-kali, tetapi tidak pernah berhenti bangkit. Seorang ibu yang menghidupi enam anak dengan kedua tangannya sendiri. Seorang guide yang menemukan jalan dan arah yang tepat. Dan seorang Nai Nai yang lewat senyum dan ketulusannya, mengajarkan bahwa hidup akan terasa ringan ketika dijalani dengan rasa syukur dan cinta kasih.
Teks & Foto: Metta Wulandari