Johan Tando: Relawan Tzu Chi Jakarta
Dari Ambisi Jadi Harmoni

Perjalanan hidup seseorang sering kali ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang diambil di saat-saat tersulit. Johan Tando (58) pernah mengejar materi tanpa henti hingga akhirnya kehilangan keseimbangan hidup. Titik balik datang ketika ia bertemu ajaran Master Cheng Yen.
*****
Selepas lulus SMA, Johan Tando tak punya pilihan lain selain merantau. Kondisi ekonomi di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung, kampung halamannya saat itu, tahun 1985, begitu sulit.
Johan memilih Jakarta karena ada kerabat yang lebih dulu merantau di sana. Johan pun bekerja sebagai karyawan di toko baju milik saudaranya itu di Tanah Abang. Ia diminta mengatur para karyawan dan buruh angkut barang.
Sepuluh tahun waktu yang cukup bagi Johan untuk kemudian membuka toko sendiri. Dari satu karyawan berkembang hingga pernah punya seratus karyawan sebelum badai Covid-19 datang, yang hanya menyisakan 30 karyawan.
Lingkungan penuh persaingan dan saling sikut di Tanah Abang turut mengubah fokus hidup Johan. Yang ia kejar hanya materi. Di usia empat puluhan tahun, Johan sudah memiliki cukup banyak aset tak bergerak.
Salah satu kunci keberhasilannya menguasai pasar adalah fokus dan bertanggung jawab. “Saya cuma mikir uang, enggak suka ribut. Kalau pembeli marah, saya terima saja, yang penting uangnya masuk. Bahkan kalau diajak karaoke oleh supplier, saya tetap pikir hasilnya apa? Harus ada kontrak, kuota lebih besar, harga lebih murah. Semua diukur dari hasil,” katanya.
Meski sukses yang ia raih terbilang cepat, Johan tak boros apalagi foya-foya. Namun keinginannya untuk jadi nomor satu justru membuatnya tertekan. Hidup dipenuhi kemarahan yang kerap ia luapkan pada karyawannya.
“Sebelum punya usaha saya bukan orang pemarah, malah dulu pendiam dan santun. Tapi karena kerja sama buruh, saya merasa harus keras supaya mereka disiplin,” cerita Johan.
Ditambah lagi para pesaing Johan menghormatinya karena menganggap ia hebat. Ini sedikit membuatnya tinggi hati. “Sampai menganggap orang yang tidak sukses itu malas. Tapi setelah belajar hukum karma, saya sadar kesuksesan itu juga hasil dari sebab baik di masa lalu,” tuturnya.
Di puncak kejayaannya saat berusia 48 tahun, Johan mengalami prahara. Rumah tangganya kandas yang juga dipicu karena ia terlalu fokus mengumpulkan pundi-pundi dan tak banyak waktu untuk keluarga. Ia pun merasakan derita.
Bermula dari Sebuah Buku
Dalam suasana yang bersedih itu, suatu ketika tetangganya mengajak Johan jadi donatur sebuah wihara di Sunter, Jakarta Utara. Ia pun mengiyakan. Sebagai bentuk terima kasih, tetangganya memberi suvenir berupa lilin dan buku biografi Master Cheng Yen berjudul Teladan Cinta Kasih.
“Buku itu saya baca, makin dibaca, makin menarik. Saya baca sampai tiga kali,” katanya.
Johan menemukan banyak filosofi di dalamnya. Semangat dan pokok pikiran yang Master Cheng Yen sampaikan, lugas dan sejalan dengannya. Misalnya tentang ketulusan dalam membantu orang lain.
“Kebanyakan orang setelah memberi bantuan ada rasa sedikit ego ‘saya sudah berbuat baik.’ Nah di Tzu Chi diajarkan membungkukkan badan, malah mengucapkan Gan En. Waduh Ini ajarannya cocok,” katanya.
Johan penasaran dan bertanya pada tetangganya itu apa Tzu Chi ada di Indonesia. Rupanya tetangga yang bernama Desi Lambean itu adalah relawan Tzu Chi.
Johan pun datang ke Tzu Chi Center PIK untuk tahu tentang Tzu Chi. Kebetulan hari itu Desi Lambean menjadi MC di kelas budi pekerti. Johan ikut kelas itu bersama para orang tua murid dan ia terkesan. Berikutnya Johan datang ke acara bedah buku di komunitas He Qi Pusat yang digelar di ITC Mangga Dua, yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya.
Setelah beberapa kali menghadiri bedah buku, ia diminta untuk membantu merapikan bangku jelang kegiatan Anak Teratai esok harinya. Jadi pada Sabtu ia datang untuk mengikuti bedah buku, dan pada Minggu ia kembali hadir untuk kegiatan Anak Teratai. Sejak saat itu, Johan rutin datang ke sana sebulan sekali, setiap Sabtu dan Minggu, dan berlangsung terus seperti itu.
Setelah mengikuti sosialisasi dan pelatihan, pada Mei 2016 Johan akhirnya menjadi relawan Tzu Chi dengan jenjang Abu Putih. Ia juga mulai ikut kegiatan lainnya seperti bakti sosial dan mulai diberikan tanggung jawab-tanggung jawab kecil.
Naik jenjang menjadi relawan Abu Putih Logo (APL) pada 2018, Johan makin aktif, dan menjadi relawan komite pada November 2019. Ia diberi tanggung jawab sebagai Koordinator Bidang di Misi Pelestarian Lingkungan. Namun pandemi Covid-19 datang sehingga selama dua tahun tak bisa menggelar kegiatan pelestarian lingkungan. Meski begitu, di masa Covid-19 ia sering terjun ke lapangan bersama relawan lainnya membagikan bantuan beras ke masyarakat terdampak.
Cinta Kasih yang Terus Bertumbuh
Setelah jadi relawan komite, Johan merasakan cinta kasihnya kian bertumbuh. Apalagi sebagai relawan komite, seseorang diberi tanggung jawab menjadi koordinator atau tim pengurus.
“Kebetulan saya senang mengatur orang dengan tingkat stres-nya. Ketika ada sesuatu yang tidak lancar, benar-benar saya hadapi,” katanya.

Johan dan tim relawan dari He Qi Pusat menggarap ladang berkah di Kelurahan Johar Baru, Jakarta Pusat. Ini merupakan bagian dari Program Renovasi 5.020 Rumah Tak Layak Huni di Jabodetabek, Bandung, Banyumas, Cirebon, Surabaya, Medan, dan Palembang.
Skill mengatur orang yang ia dapat dari kerasnya kehidupan di Tanah Abang membuat ia hampir tak menemui banyak kesulitan ketika menjadi Ketua He Qi Pusat, selama tiga periode, dari tahun 2022 dan akan selesai pada 2026 mendatang.
“Jadi memang selama saya dagang itu membantu saya cara-caranya. Nah di Tzu Chi, budaya humanis saya, saya kembangkan. Tidak dengan marah-marah, Kalau di pekerjaan, karyawan dapat omzet lebih ya saya kasih bonus. Jadi mau marah, karyawan terima saja. Kan kita sama-sama mau maju. Itu perusahaan, yayasan beda lagi,” jelasnya.
Jika dalam dunia usaha, ia marah untuk mendisiplinkan karyawan, di Tzu Chi pendekatannya adalah rasa hormat dan cinta kasih.
“Kalau di dunia usaha, keberhasilan kita mendapat reward, reward-nya adalah materi, bisa berupa uang maupun barang. Tapi di Tzu Chi reward kita adalah pahala dan kebahagiaan dalam hati. Kita datang ke Tzu Chi pertama kali kan karena ingin berbuat baik, memberikan kebahagiaan pada orang lain. Tetapi kemudian kita mendapatkan bimbingan dari Master Cheng Yen, selain berbuat baik, kita juga harus membina diri dan selalu mengembangkan cinta kasih kita,” ujarnya.
Bagi Johan, prinsip utama yang ia pegang sebagai Ketua He Qi Pusat adalah menjaga keharmonisan.
Di bawah kepemimpinannya, dibantu wakil wakil He Qi yang yong-xin, banyak perkembangan di He Qi Pusat. Misalnya setiap Xie Li kini punya titik pilah sampah. Yang sebelumnya He Qi Pusat punya delapan, jadi dua belas. Begitu juga donor darah, setiap Xie Li kini mampu menyelenggarakan donor darah. Johan mengatakan hal itu bukan karena ia kerja sendiri, tapi karena ia memotivasi para relawan dengan tulus.
Johan mengatakan bahwa setiap kali ada relawan yang merasa tak bisa, ia selalu menyampaikan bahwa dirinya mendukung penuh. Ia menegaskan bahwa jika perlu bertemu pihak RPTRA, wihara, atau sekolah, ia siap mendampingi, membimbing, dan menemani sebagai teladan. Baginya, sesederhana itu, yang penting adalah datang terlebih dahulu. Ia juga berpendapat bahwa jika di suatu tempat tidak diterima, maka tinggal mencari RPTRA lain.
Johan menambahkan bahwa hampir setiap kali ia datang, ia jarang sekali ditolak. Ia percaya bahwa separuh dari usahanya akan selalu diberkati oleh Master Cheng Yen, sehingga ia merasa yakin setiap kegiatan yang ia jalankan akan dimudahkan.
Setelah aktif di Tzu Chi, banyak sekali yang berubah dalam diri Johan. Salah satunya selalu berusaha untuk menenteramkan batin sendiri.
“Yang positif dari yang sebelum jadi relawan tetap saya pertahankan, yang negatif saya ubah. Dulu saya sering marah, sekarang sudah hampir tidak pernah. Karena saya belajar fokus pada batin sendiri,” jelasnya.
Contohnya jika sedang merasakan marah, Johan akan berkata pada diri sendiri, untuk apa marah? marah bisa merusak hubungan. Akhirnya ia pun bisa maafkan orang lain dengan mudah.
Johan belajar bahwa setiap orang punya batin baik dan buruk. Punya iri hati, emosi, dan itu manusiawi. Yang penting kita harus bisa mengenali dan mengelolanya. Iri hati bisa positif kalau membuat kita termotivasi.
“Di Tzu Chi saya belajar bahwa semua orang adalah teman bajik saya,” ujarnya.
Setelah delapan tahun melajang, pada tahun 2023 ia menikah lagi dengan perempuan yang juga relawan Tzu Chi, yang saling mendukung dalam berkegiatan Tzu Chi. Ketiga anak Johan juga sudah mengenyam pendidikan yang juga sangat mendukungnya menjadi relawan Tzu Chi.
“Saya pikir, kalau waktu itu saya enggak ketemu buku Master Cheng Yen, mungkin hidup saya rusak. Saya banyak duit, tampang juga enggak jelek, bisa saja hidup foya-foya. Tapi justru di masa susah itu saya dapat arah baru dan masuk Tzu Chi,” ujarnya sambil tersenyum.
Penulis: Khusnul Khotimah
Fotografer: Arimami Suryo A., Khusnul Khotimah







Sitemap