Kevin Gozali: Relawan Tzu Chi Surabaya
Membangun Keberanian dan Rasa Percaya Diri

“Dari isyarat tangan, saya mampu menyampaikan Visi dan Misi Tzu Chi secara humanis."
*****
Berawal dari melihat tayangan DAAI TV yang mengantarkan saya berjodoh dan menjadi relawan Tzu Chi. Saat masih duduk di bangku SMP, saya kerap melihat tayangan DAAI TV yang ditonton di rumah. Saat melihat salah satu tayangan, muncul rasa penasaran dalam hati saya, 'kok ada seorang bikshuni membawakan ceramah di televisi dengan pembawaan yang begitu anggun, lembut, namun penuh wibawa.' Saya juga merasa bahwa setiap kata yang disampaikan terasa menenangkan dan menyentuh batin.
Hingga awal tahun 2020 menjadi titik awal perjumpaan saya secara langsung dengan dunia kerelawanan Tzu Chi. Waktu itu, mama mengajak saya berkunjung ke depo daur ulang Tzu Chi di wilayah Surabaya Barat. Dari situlah saya mulai tertarik dan sejak hari itu setiap ada informasi kegiatan, saya selalu berusaha hadir dan turut ambil bagian.
Kegiatan pertama yang saya ikuti adalah pembagian bantuan di kawasan Tanjung Perak. Pengalaman itu menjadi momen yang sangat membekas di hati. Untuk pertama kalinya, saya melihat secara langsung kehidupan masyarakat yang tinggal di tengah padatnya pemukiman, bahkan di sekitar rel kereta api. Saya juga menyadari bahwa di balik bantuan yang diberikan, para relawan tidak hanya membawa paket kebutuhan, tetapi juga membawa perhatian, kepedulian, dan cinta kasih kepada mereka yang membutuhkan.
Sejak aktif berkegiatan, perlahan saya merasakan perubahan diri terutama belajar semakin mawas diri. Saya mulai memahami bahwa setiap ucapan dan tindakan perlu dipikirkan dengan bijaksana agar tidak melukai hati orang lain. Di antara berbagai kegiatan relawan, isyarat tangan menjadi salah satu hal yang paling saya sukai. Walaupun saya bukan pribadi yang senang tampil di depan banyak orang, tetapi melalui isyarat tangan saya bisa belajar membangun keberanian dan rasa percaya diri. Dari gerakan-gerakan sederhana yang saya bawakan bersama relawan lain, saya merasa mampu menyampaikan Visi dan Misi Tzu Chi secara humanis dan menyentuh hati masyarakat.
Dan tentu saya apa yang saya jalani di Tzu Chi tak lepas dari Dharma Master Cheng Yen. Bagi saya beliau adalah sosok guru yang sangat langka. Tidak hanya mengajarkan prinsip kebenaran, tetapi juga memberi teladan nyata melalui tindakan. Sejak awal berdirinya Tzu Chi, Master Cheng Yen sendiri turun langsung memperhatikan mereka yang menderita. Keteladanan inilah yang menjadi inspirasi bagi banyak relawan untuk terus melangkah di jalan cinta kasih.
Salah satu kata perenungan Master yang selalu saya ingat adalah, “Setiap hari merupakan lembaran baru dalam kehidupan. Setiap orang dan setiap peristiwa di dalamnya merupakan kisah yang menarik.” Kalimat sederhana itu mengingatkan saya bahwa selama masih diberi kesempatan hidup, selalu ada kesempatan baru untuk berbuat baik, memperbaiki diri, dan menjalin jodoh baik dengan sesama.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan besar dalam perjalanan saya di Tzu Chi. Kedua orang tua saya juga mengenal Tzu Chi melalui DAAI TV. Mama kini juga telah menjadi relawan dan baru dilantik sebagai APL (Relawan Abu Putih Logo). Jadi hubungan sama mama pun semakin hangat karena dapat saling mendukung, bertukar cerita, dan berdiskusi dalam kegiatan kerelawanan.
Kini, saya dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Korbid Pelatihan dan Isyarat Tangan serta Wakil Korbid Kebaktian di Tzu Chi Surabaya. Meski banyak tantangan, namun saya bersyukur karena banyak relawan senior yang dengan sabar membimbing dan mengajarkan saya tata cara yang benar. Jadi selama tubuh ini masih sehat dan mampu bergerak, saya ingin terus menapaki Jalan Bodhisatwa di Tzu Chi. Dengan semangat inovasi dan kreativitas, saya bersama relawan Tzu Chi Surabaya lainnya ingin menghadirkan kegiatankegiatan yang lebih dekat dengan masyarakat agar semakin banyak orang dapat merasakan hangatnya cinta kasih universal.
Seperti yang dituturkan kepada Diyang Yoga W. (Tzu Chi Surabaya)







Sitemap