Leng Leng Sukitar: Relawan Tzu Chi Jakarta
Mempraktikkan dan Mendapat Manfaat Dharma


“Saya sangat bersyukur bisa berada di Tzu Chi, tempat pelatihan diri dan bisa membantu orang yang membutuhkan.”

*****

Nama saya Leng Leng Sukitar (Ciam Leng Leng), saya anak pertama dari 6 bersaudara. Saya lahir di sebuah kampung kecil bernama Panipahan di Provinsi Riau. Selepas SMA di tahun 1990, saya pindah ke Medan, Sumatera Utara untuk bekerja dan meneruskan jenjang pendididkan ke perguruan tinggi.

Di Medan ini saya bertemu dengan suami saya dan kami menikah di bulan Juli 1999 kemudian kami pindah ke Jakarta setelah menikah. Di Jakarta saya bekerja sambil merampungkan pendidikan sampai tahun 2002. Di Jakarta, waktu itu saya mengetahui Tzu Chi melalui tayangan berita di DAAI TV. Tetapi saat itu saya tidak tau dimana mencari informasi yang lebih lanjut mengenai Tzu Chi.

Hingga sampai pada tahun 2013, salah seorang rekan kerja saya mengajak saya menjadi donatur Tzu Chi. Ia selalu menginfokan saya kegiatan-kegiatan Tzu Chi dan sering mengundang saya pada perayaan hari besar di Tzu Chi seperti Bulan Tujuh Penuh Berkah, Waisak, dan lainnya. Selain itu saya juga mendapatkan informasi tentang kelas budi pekerti di Tzu Chi.

Waktu itu saya dan suami sepakat mau mendaftarkan kedua anak kami di kelas budi pekerti. Tetapi karena belum berjodoh ya belum terlaksana niatan tersebut. Barulah pada tahun 2015, kami mendapatkan kesempatan mendaftarkan anak kami ke kelas budi pekerti. Saat itu saya diajak oleh shijie-shijie (panggilan untuk relawan Tzu Chi wanita) di kelas budi pekerti untuk ikut menjadi Da Ai Mama.

Pertama kali bergabung di Tzu Chi ya di misi pendidikan tepatnya di kelas budi pekerti. Saya mendapat banyak bimbingan dari Mei Rong dan Chui Lan shijie di kelas budi pekerti sebagai Da Ai Mama. Sejak anak saya mengiikuti kelas budi pekerti, banyak perubahan yang mereka dapatkan. Dan saya sendiri juga banyak belajar dan berubah lebih sabar serta bisa mengontrol emosi.

Setelah 10 bulan menjadi Da Ai Mama, akhirnya pada tanggal 8 November 2015, saya mengikuti sosialisasi relawan Tzu Chi di komunitas He Qi Barat 1. Semenjak itu saya sering diberikan informasi tentang kegiatan Tzu Chi. Lalu saya mengikuti pelatihan relawan AP (Abu Putih) yang pertama kalinya pada 29 November 2015.

Setelah pelatihan, saya mulai mengikuti berbagai kegiatan bersama relawan Tzu Chi di komunitas seperti Xun Fa Xiang (menghirup harumnya Dharma), bedah buku, pelestarian lingkungan, kunjungan kasih, baksos dan pelatihan relawan, serta saya juga mulai menggalang donatur. Keluarga juga sangat mendukung kegiatan saya di Tzu Chi. Sebelum pandemi, dalam setiap acara-acara besar di Tzu Chi saya juga selalu mengajak keluarga untuk ikut hadir.

Sejak tahun 2016, rumah kami juga mulai dijadikan sebagai tempat untuk bedah buku oleh relawan di komunitas. Tapi karena pandemi, kegiatan itu pun dihentikan sementara. Tahun 2019, saya juga dilantik menjadi Relawan Komite Tzu Chi di Taiwan dan bertemu dengan Master Cheng Yen.

Di Tzu Chi kegiatan yang sangat menginspirasi saya adalah Xun Fa Xiang. Karena Master Cheng Yen menghimbau kita untuk selalu Fa Ru Xin Fa Ru Xing (mendalami dan mempraktikkan Dharma). Semuanya harus dimulai dari diri kita sendiri saat mendengarkan Dharma, baru kemudian meyakini, memahami, menerimanya, serta mempraktikkan baru bisa mendapatkan manfaat dan harus bersungguh hati.

Begitu juga kegiatan survei pasien kasus dan kunjungan kasih. Dengan melakukan kegiatan tersebut membuat saya merasa sangat bersyukur dengan kondisi saya sekarang yang sehat walafiat sehingga membuat saya lebih terpacu untuk berbuat lebih banyak lagi kebajikan dan menolong bagi yang membutuhkan.

Saya juga sangat bersyukur dan berterima kasih bisa bergabung di Tzu Chi yang merupakan tempat pelatihan diri sekaligus tempat untuk membantu orang yang membutuhkan.

Seperti yang dituturkan kepada Arimami Suryo A.
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -