Mawie Wijaya (Atek)
Kebetulan yang Mengubah Jalan

Ada adagium yang mengatakan bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Semua terjadi karena ada sebab, dan juga untuk sebab tertentu.

“Dulu, kalau mau minuman keras jenis apa saja, mau wine atau bir jenis apa saja, bisa saya dapatkan,” kata Mawie Wijaya, relawan Tzu Chi Pekanbaru, saat mengantar kami menuju salah satu restoran di Pekanbaru. “Bahkan, jenis minuman yang belum ada di Indonesia, bisa saya coba.”

Memang sudah lama pria yang akrab disapa Atek ini memiliki hobi minum minuman keras. Tepatnya, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, dia mulai diajak teman-teman sekolahnya untuk mabuk-mabukan. Hingga dia menikah dengan Anis Kimnawati pada tahun 1995, dia masih “setia” dengan kebiasaannya itu.

“Seminggu bisa lima atau enam hari minum-minum. Tapi tak semuanya mabuk berat,” ceritanya. “Butuh berapa botol untuk mabuk berat?” tanya saya. “Tergantung,” jawabnya. Dia lantas menjelaskan kadar alkohol dalam beberapa jenis minuman dengan fasih kepada saya.

KUNJUNGAN KASIH. Sejak tahun 2010, relawan Tzu Chi memberi perhatian kepada Gani yang mengalami gangguan mental pascameninggalnya istrinya. Relawan secara rutin melakukan kunjungan kasih, seperti mencukur rambut dan kumis, maupun bantuan makanan lainnya.

Anis, istrinya bukannya merestui kebiasaan Atek itu. “Tapi kalau ditegur, malah dia yang marah,” aku Anis. Nah, kalau sudah begitu, rumah mereka akan menjadi ajang adu mulut suami dengan istri.

“Pernah satu hari dia mabuk sampai pagi, sampai dicari-cari sama pedagang di pasar,” Anis bercerita dengan tertawa kecil. Atek memang memiliki tugas rutin ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan yang digunakan untuk usaha katering yang dikelola bersama istrinya sejak tahun 2000. Tapi, hari itu Atek absen dari tugas rutinnya itu. “Ya sudah, saya suruh para pedagang itu untuk melihat sendiri ke kamar. Dia masih mabuk,” kata Anis menutup anekdotnya.

Gambaran seorang pemabuk berat telah jauh meninggalkan Atek saat kami temui pada pertengahan Mei 2015 silam. Hanya tersisa sebuah tato bercorak tribal yang berada di lengan kirinya. Malahan, dia lebih terekam dalam benak kami sebagai orang yang humoris. Yah, mungkin dia memandang hidup ini lucu. Selucu pertemuannya dengan organisasi kemanusiaan bernama Tzu Chi.

Atek dan Anis juga mungkin tak pernah menyangka bahwa rutinitas pagi Atek akan mempertemukan Atek dengan dunia yang baru, dunia kerelawanan di Tzu Chi. Berawal pada suatu pagi di tahun 2007. Seperti biasa, Atek melakoni tugas membeli bahan masakan ke pasar. Sesampainya di rumah, Atek mengeluarkan barang-barang dari plastik-plastik belanjaan. Namun, ada benda asing yang tersisip.

Loh, kok ada majalah?” Atek menirukan reaksinya saat menemukan benda asing tersebut. Majalah Dunia Tzu Chi tertulis di majalah yang dia temukan. Dia membacanya sekilas di sela-sela kesibukannya, tapi cukup untuk menorehkan kesan. “Tzu Chi ini organisasi yang  membantu orang-orang susah,” pikirnya, “tapi sepertinya cuma ada di Jakarta.”

Majalah itu dia simpan dan tak terlalu dia gubris lagi. Berselang beberapa waktu, Atek melihat sekelompok orang berseragam biru putih mengumpulkan barang-barang yang sudah tak terpakai. Atek menyadari sesuatu yang tak asing dari para pengumpul barang tak terpakai itu. “Nampak tidak asing,” gumamnya dalam hati. Dia kemudian mencari kembali majalah yang lama dia tinggalkan itu. “Ah, sama!”

GOTONG ROYONG. Bersama-sama relawan lainnya, Atek memperbaiki rumah tinggal Gani, seorang laki-laki yang hidup sebatang kara di bawah Jembatan Siak II.

“Tapi, kok, bisa-bisanya ada yang mau melakukan kegiatan mengumpulkan barang-barang gitu,” celetuk Atek. Atek penasaran. Rasa penasaran yang sama membuatnya bertanya kepada salah satu relawan wanita, “Bibi, yayasan ini wiharanya di mana?”

“Kita tidak ada wihara, adanya kantor di Pekanbaru,” jawab relawan tersebut dengan singkat. Perkenalan ini membuka pintu bagi Atek ke dunia Tzu Chi. Dia mulai menjadi donatur barang daur ulang. Tapi agaknya itu tak cukup memuaskan rasa penasarannya, mungkin juga jiwa sosial yang mengalir dalam dirinya.

Dia juga ingin mengunjungi Kantor Tzu Chi Pekanbaru. Tapi, tiga-empat kali Atek mencoba mencari Kantor Tzu Chi Pekanbaru yang saat itu berada di Mal Pekanbaru tidak membuahkan hasil. “Bahkan satpam mal tidak tahu ada kantor yayasan di sana,” ujar Atek.

Atek beberapa kali bertanya kepada relawan yang menjemput barang daur ulangnya, dia mendapat jawaban yang sama. Namun tetap saja dia tak dapat menemukan Kantor Tzu Chi Pekanbaru.

Hingga pada satu hari Minggu, ketika menemani istri dan anaknya berbelanja, Atek secara tak sengaja duduk persis di depan Kantor Tzu Chi Pekanbaru. “Loh, ini kan yayasan yang selama ini saya cari,” celetuknya.

Pertemuan tak terduga ini tak dia sia-siakan. Dia bergegas masuk ke dalam kantor itu untuk memuaskan rasa penasarannya. “Suasana kantor saat itu ramai, soalnya hari Minggu, mungkin sedang ada kegiatan,” cerita Atek. Dia bertemu dengan relawan wanita yang sering mengambil barang daur ulang dari rumahnya. Dia berbincang-bincang dan tertarik untuk menjadi relawan. “Saya kemudian menaruh nomor telepon saya dan akan dihubungi jika ada kegiatan,” cerita Atek.

CERMIN DIRI. Menjadi relawan Tzu Chi membuat Atek membuka mata dan batinnya, jika di sekitarnya masih banyak orang yang membutuhkan bantuan. Sebelum menjadi relawan, Atek dapat menghabiskan uang dalam jumlah besar dalam semalam hanya untuk bersenang-senang.

Hari-hari berlalu tanpa kabar. Atek tak terlalu memikirkan meski keinginan untuk menjadi relawan masih terasa menggebu.

Hingga hari keempat sesudah Hari Imlek, Pekanbaru sepi. Banyak yang pergi berlibur  Biasanya, beberapa relawan Tzu Chi melewati rumah Atek untuk mengumpulkan barang daur ulang. Namun, hari itu hanya seorang relawan yang mengumpulkan barang daur ulang. “Paman, kok sendiri?” tanya Atek.

“Iya, lagi pada pulang kampung, di tempat pemilahan juga hanya ada beberapa relawan saja,” jawab relawan tersebut. Keinginan Atek untuk ikut dalam kegiatan kerelawanan muncul kembali. Dia menawarkan dirinya untuk membantu. “Oh, boleh, boleh,” respon relawan tersebut.

Atek menunggangi sepeda motornya mengikuti mobil yang memmenuju pelataran ruko yang menjadi tempat pemilahan barang daur ulang. Bertemu dengan relawan lain di tempat pemilahan hari itu, Atek kebagian tugas untuk memipihkan kaleng minuman. “Perasaan saya waktu itu senang sekali,” kata Atek mengingat-ingat.

Membuang Kebiasaan Buruk

Hari itu, di pertengahan Mei 2015, relawan Tzu Chi di Bumi Lancang Kuning- julukan Kota Pekanbaru, tengah sibuk mempersiapkan pementasan Drama Musikal Sutra Bakti Seorang Anak. Tak terkecuali Atek yang juga memboyong istri, ayah, dan anaknya untuk ikut serta berperan dalam drama bertema rasa bakti kepada orang tua itu.

Namun, di sela-sela kesibukan itu, Atek bersama dua relawan lain mencuri waktu untuk mengunjungi beberapa penerima bantuan di Tzu Chi. Salah satu yang akan kami temui hari itu adalah adalah Gani.

Memang, berkecimpung di misi amal membuat Atek bertemu pada dunia yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Seperti Gani yang tinggal sebatang kara di bawah Jembatan Siak II. “Menurut tetangganya, dia depresi karena istrinya yang hamil meninggal dunia,” cerita Atek di tengah perjalanan.

Berdasarkan cerita dari tetangga yang didapat Atek, semenjak menjadi sebatang kara, Gani pergi menyendiri dan membangun rumah di pinggir sungai dengan ranting dan triplek seadanya. Melihat hal ini, para tetangga tak tega. Mereka kemudian mengajukan permohonan bantuan untuk Gani ke Tzu Chi. Pascasurvei, pada tahun 2010, relawan Tzu Chi Pekanbaru memutuskan untuk menambahkan Gani dalam daftar penerima bantuan jangka panjang Tzu Chi.

Sejak itu, Atek yang memang merupakan relawan pendamping Gani bersama relawan lain yaitu Kho Ki Ho rutin mengunjungi Gani untuk menyalurkan bantuan atau sekedar mencukur rambut dan jengot Gani yang mulai tumbuh tak beraturan. “Awalnya dia kalau diajak bicara bisa menjauh dan tidak nyambung. Kadang juga bisa marah-marah,” kenang Atek. “Tapi sekarang dia sudah mulai senyum dan mengingat nama relawan  meski baru dua orang, saya dan Khi Ho Shixiong (salah seorang relawan Tzu Chi Pekanbaru –red).”

Saat kami tiba, Gani tengah duduk bersantai di rumah barunya. Rumah panggung beratapkan seng dan berbalut cat warna biru ini berdiri di sebelah rumah lawasnya. Sebelumnya, pada 21 September 2014, relawan Tzu Chi mengajak tetangga Gani dan seorang penerima bantuan Tzu Chi yang juga ahli pertukangan untuk membangun rumah yang lebih layak bagi Gani.

Atek segera menyapa Gani dengan bahasa yang tak saya kenali. “Ini Bahasa Padang,” terang Atek merespon wajah kebingungan saya. Gani irit bicara. Hanya seperti merespon pertanyaan relawan. Tapi, dia nampak anteng ketika Atek bersama Ki Ho mendekat dan berbicara dengan jarak kurang lebih satu meter dari tempat dia duduk.

Gani menjadi salah satu penerima bantuan jangka panjang Tzu Chi yang didampingi oleh Atek. Empat tahun sejak Atek pertama kali membaca Majalah Dunia Tzu Chi, kini dia mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Xie Li Riau Mutiara. Dia aktif di berbagai kegiatan kerelawanan terutamanya di misi amal sosial. Dan dari semua hal itu, dia juga dapat membuang hobi minum-minumnya.

“Sebenarnya mengikuti kegiatan Tzu Chi itu lebih banyak menolong diri saya sendiri,” aku Atek kepada kami. Sebelumnya, tak pernah terlintas di benaknya untuk berhenti bermabuk-mabukan.  “Mungkin kalau sudah sakit, baru berhenti,” ujar Atek setengah bercanda.

“Perlahan-lahan dia mulai berpikir, “Pasien yang sakit ingin sembuh. Tapi, saya malah merusak kesehatan dengan minum minuman beralkohol.” Dan juga dia tak pernah membayangkan ada orang lain yang hidup dengan biaya yang begitu terbatas. “Padahal kalau minum minuman keras, saya bisa menghabiskan uang segitu dalam satu malam saja, bahkan kadang lebih,” ujar Atek.

Matinya kebiasaan mabuk-mabukan Atek tak serta merta terjadi. Kebiasaan minum-minum ini tetap berlanjut meski dia telah mengikuti kegiatan di Tzu Chi. Akibatnya, setiap kali Atek melakukan kegiatan di Tzu Chi hingga larut malam, Anis tak terima. “Mungkin dia pikir saya keluyuran,” cerita Atek tertawa kecil.

Saat  dia meninggalkan kebiasaan minum minuman beralkoholnya itu tak semudah membalikan telapak tangan. “Sulit,” kenang Atek, “di dalam ini seperti bergejolak. Bagaimanapun ini kebiasaan sudah puluhan tahun, juga banyak sekali godaan.” Terlebih, kebiasaan Atek berkumpul dengan rekan-rekannya menggoda Atek kembali kepada hobinya itu.

Dua tahun berlalu, tepatnya tahun 2009, Atek berhenti total dari kebiasaan minum-minuman kerasnya itu.

Namun, bukan hanya kebiasaan minum-minumnya yang dia tinggalkan. “Saya dulu paling pantang kalau anak saya bergaul dengan orang yang tidak satu etnis, tidak satu agama,” tutur Atek. Amarahnya akan langsung memuncak manakala mengetahui anaknya bergaul dengan orang di luar etnisnya. Pertengkaran pun sering menggangu hubungan ayah dan anak tersebut.

Pesan Master Cheng Yen bahwa baik tidaknya seseorang bukan ditentukan agama yang dianut maupun suku dan etnis tertentu bagaikan tamparan di wajah Atek. Dia tersadar.

“Semenjak itu, saya persilakan anak saya bergaul atau berteman dengan siapa saja. Saya hanya berpesan kepada anak-anak saya agar memilih pergaulan yang baik,” pungkas Atek.

Perubahan di diri Atek ini juga menular ke istrinya. Kebiasaanya yang mudah terpancing amarah serta kemelakatan terhadap kejadian yang telah lalu lambat laun juga hilang. “Setelah baca Kata Perenungan Master Cheng Yen yang mengatakan bahwa marah adalah menghukum diri sendiri karena kesalahan orang lain, saya pikir iya yah. Kok, saya bodoh malah menghukum diri sendiri,” cerita Anis.

Harapan Atek tak muluk. Dia ingin Tzu Chi khususnya di Pekanbaru agar dapat menggalang relawan baru yang bersungguh hati. “Bukan kuantitas relawan yang begitu besar atau acara yang besar-besar. Tetapi relawannya dapat benar-benar memahami dan menjalankan ajaran Master Cheng Yen,” pesan Atek.

Jurnalis : Willy

Fotografer :  Henry Tando, Willy, dan doc Tzu Chi Pekanbaru

Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -