Megawati
Meneruskan Ajaran Master Cheng Yen Melalui Budi Pekerti

Saya mulai mengenal Tzu Chi pada tahun 2009, dari kakak saya yang sudah menjadi anggota Komite Tzu Chi. Beliau yang pertama mengajak saya untuk ikut kegiatan Tzu Chi. Karena saat itu masih sangat sibuk bekerja, saya pun jarang sekali bisa ikut kegiatan-kegiatan Tzu Chi. Baru setahun kemudian saya memutuskan untuk bergabung menjadi relawan dan memfokuskan diri di misi pendidikan, khususnya kelas budi pekerti.

Awalnya, saya tertarik bergabung di Tzu Chi karena melihat dan merasakan keindahan dan kebajikan dari barisan relawan Tzu Chi. Selain itu, ada juga keinginan kuat untuk bisa berbuat kebajikan kepada sesama. Dengan menjadi relawan Tzu Chi, saya berkesempatan untuk menjalin jodoh dengan banyak orang. Saya merasakan sukacita dalam Dharma pada saat bisa membantu orang lain.

Banyak manfaat serta hikmah yang saya dapatkan sebagai relawan, khususnya di misi pendidikan. Dulu saya orang yang selalu mementingkan diri sendiri, tetapi semenjak mengemban misi pendidikan, saya menjadi lebih bijaksana saat berinteraksi di dalam keluarga dan juga kantor. 

Di tengah kesibukan sehari-hari bersama keluarga, saya juga menjadi salah satu komisaris di sebuah perusahaan di Batam. Meski begitu, tekad untuk terus mengemban Misi Pendidikan Tzu Chi sangatlah besar. Bagi saya, membagi waktu antara pekerjaan dan tugas sebagai relawan adalah bentuk pelatihan diri. Selain itu, untuk lebih melatih kedisiplinan, saya juga mengurangi waktu santai dengan menyelami Dharma Master Cheng Yen serta mempersiapkan materi kelas budi pekerti dari buku-buku, kata perenungan, serta tayangan Ceramah Master Cheng Yen dan kegiatan-kegiatan Tzu Chi lainnya.


Mengemban Misi Pendidikan

Fokus dalam Misi Pendidikan Tzu Chi menurut saya bukanlah hal yang mudah. Dahulu di masa-masa awal mendapatkan kepercayaan ini, saya merasa tidak sanggup dan sempat berpikir untuk menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada relawan lain. Selain membagi waktu dengan keluarga, saya juga harus membagi waktu dengan pekerjaan. Itulah yang membuat saya hampir menyerah. Akhirnya saya pun membaca buku-buku Master Cheng Yen untuk mendapatkan pencerahan dan motivasi. Dari pencerahan tersebut saya berpikir, seiring dengan perkembangan teknologi serta arus globalisasi, anak-anak di masa kini memang sangat membutuhkan bimbingan dan arahan mengenai nilai kehidupan, serta nilai-nilai moral (budi pekerti) agar tidak terpengaruhi dengan dampak negatif dari perkembangan teknologi. Dari situlah tekad saya kembali tumbuh dan berani mengemban tanggung jawab ini. 

Salah satu tekad saya untuk mengembangkan Kelas Budi Pekerti Tzu Chi di Batam karena melihat harapan masyarakat di masa depan ada pada anak-anak, karena itu semua anak mesti dibimbing sejak kecil. Setiap orang memiliki guru dalam hidupnya. Jika setiap guru dapat menjalankan peran dan tugasnya dengan penuh cinta kasih maka masa depan anak-anak akan lebih cerah.

Saya melihat Kelas Budi Pekerti Tzu Chi di Batam berkembang dengan baik. Dulu, Kelas Budi Pekerti Tzu Chi ini hanya diikuti 40 murid saja, tetapi sekarang sudah ada 242 murid. Menurut saya, hal ini karena semakin banyak orang yang menyadari pentingnya pendidikan moral bagi anak-anak, khususnya budi pekerti dan berbakti pada orang tua. Masyarakat mengirim anak-anaknya ke Tzu Chi bukan tanpa tujuan, mereka mengharapkan anak-anaknya memiliki dasar yang baik untuk menjalani hidup ke depannya.

Dalam proses mengembangkan Kelas Budi Pekerti Tzu Chi, saya juga berupaya menerapkan metode pengajaran yang bervariasi dan menarik dalam setiap pembelajarannya. Saya juga selipkan berbagai aktivitas dan praktik langsung sehingga penyerapan dan pemahaman anak-anak terhadap materi yang disampaikan bisa lebih baik. Saya juga merangkul lebih banyak Da Ai Mama (relawan pendamping pendidikan-red) untuk mengikuti pelatihan agar lebih mendalami filosofi dan prinsip pendidikan budi pekerti Tzu Chi. Saya pribadi juga terus melatih diri dan berusaha untuk memberikan contoh nyata kepada anak-anak, serta mengajarkan inti dari setiap Kata Perenungan Master Cheng Yen.

Banyak hal yang saya pelajari dari setiap kata perenungan maupun pencerahan dari Master Cheng Yen. Pesan-pesan dan ajaran beliau merupakan amanat yang harus disebarluaskan, karena ajaran Master Cheng Yen adalah sesuatu yang nyata dan berasal dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Sebagai murid Master Cheng Yen, saya pun bertekad untuk memajukan Misi Pendidikan Tzu Chi: Demi ajaran Buddha, demi semua makhluk.

Seperti yang dituturkan kepada Arimami Suryo A.
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -