Olivia Tan: Relawan Tzu Chi Jakarta
Putri Lilin, Terus Menyala dan Memberi Terang


Setiap orang datang ke Tzu Chi dengan alasannya, begitu pula Olivia Tan. Ia datang dengan niat sederhana ingin berbuat baik. Namun, hampir satu dekade berjalan bersama Tzu Chi membuatnya menyadari bahwa ternyata menjadi relawan Tzu Chi mengajarinya melepaskan ego, belajar bekerja sama, berani menerima tanggung jawab, dan melihat bahwa kesempatan berbuat baik dimulai dari orang-orang yang berjalan di sampingnya.

*****

Jauh sebelum mengenal Tzu Chi, Olivia Tan lebih dulu mengenal nilai-nilai kehidupan dari rumah tempat ia dibesarkan. Olivia, lahir dan tumbuh di Medan sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Menjadi anak paling kecil membuatnya menerima limpahan kasih sayang yang begitu besar dari kedua orang tuanya. Kasih sayang itu bahkan terasa dalam bentuk perlindungan yang begitu ketat.

“Papa sama mama sangat protektif,” tuturnya mengenang masa kecil dengan senyuman.

Bermain bersama teman-teman tidak bisa dilakukan begitu saja. Ia baru diizinkan keluar rumah jika ada kakak yang menemani. Bahkan ketika beranjak dewasa, ke mana pun ia pergi selalu ada sopir atau asisten rumah tangga yang mengantar. Dunia di luar rumah terasa begitu jauh. Namun di balik itu, kedua orang tuanya sedang menanamkan nilai-nilai yang kelak menjadi bekal dalam perjalanan hidupnya.

Dari sang ayah, ia belajar tentang tanggung jawab, sementara dari ibu, ia belajar tentang kemurahan hati. Saat itu, Olivia memandang semua itu sebagai kebiasaan yang biasa saja. Ia belum menyadari bahwa nilai-nilai yang tumbuh di rumah perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.

Masa remaja membawa Olivia ke Sydney untuk melanjutkan pendidikan. Jauh dari orang tua menjadi pengalaman baru, meski kemandirian belum serta-merta terbentuk saat itu. Sepulang dari Australia, ia kembali ke Medan sebelum menikah dan mengikuti suami menetap di Jakarta. Ia kemudian menjalani peran sebagai istri dan ibu bagi dua anak, tanpa pernah membayangkan akan menjadi relawan atau terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Hingga suatu hari, sebagai seorang ibu, ia mulai mencari sekolah untuk anaknya. Dari keputusan sederhana itulah, perjalanannya bersama Tzu Chi bermula.

Jalinan Jodoh yang Datang Diam-Diam
Ketika putri sulungnya memasuki usia sekolah, Olivia mulai mencari sekolah yang nyaman dan tidak terlalu jauh dari rumah. Pilihannya jatuh pada Tzu Chi School. Saat itu, ia belum mengenal Tzu Chi dan tidak memiliki keluarga atau teman yang menjadi relawan. “Awalnya memang karena dekat rumah,” kenangnya. Ia tidak menyangka, keputusan sederhana itu justru membuka pintu menuju perjalanan yang tak pernah ia rencanakan.

Sambil menunggu anaknya belajar, Olivia mulai membaca buku-buku karya Master Cheng Yen yang tersedia di lingkungan sekolah. Rasa ingin tahunya tumbuh dari sana. Ia juga teringat pernah melihat tayangan televisi dari Taiwan tentang Master Cheng Yen dan para relawan Tzu Chi ketika masih tinggal di Medan. Saat itu ia belum memahami apa yang mereka lakukan, tetapi ada satu kesan yang tertinggal. “Luar biasa ya...” katanya. “Kalau dipikir-pikir sekarang, ternyata jodohnya memang sudah ada dari dulu.”

Semakin sering berada di sekolah, Olivia semakin mengenal para Da Ai Mama yang adalah orang tua murid yang menjadi relawan dalam berbagai kegiatan pendidikan humanis. Ia melihat bagaimana mereka mendampingi anak-anak dengan sabar dan menciptakan suasana belajar yang hangat. “Melihat mereka, saya juga ingin ikut.” Keinginan itu sempat tertunda karena Olivia tengah mengandung anak keduanya. Setelah putranya lahir dan mulai besar, ia akhirnya mendaftarkan diri menjadi Da Ai Mama.

Olivia Tan (kanan) turut membersihkan lingkungan bersama relawan lainnya. Pengalaman tersebut menjadi hal baru yang bahkan sempat membuat temantemannya terkejut. Dari sini, Olivia belajar bahwa menjadi relawan juga berarti bersedia mencoba hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.

Belajar Menjadi Relawan
Hari-hari pertamanya sebagai Da Ai Mama tidak langsung dipenuhi rasa nyaman. Sebaliknya, ia merasa asing. Ada seragam dan rambut pun harus sangat rapi dan dikonde. “Yang paling saya ingat itu ya soal konde,” katanya sambil tertawa. “Saya pikir, kenapa ya rambut harus pakai konde?”

Pertanyaan itu bukan sekadar tentang model rambut. Selama bertahun-tahun ia terbiasa tampil dengan gaya yang simple dan elegan. Ketika kemudian diminta mengenakan seragam dan menata rambut sesuai ketentuan, ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ia bahkan memiliki kebiasaan yang kini selalu membuatnya tersenyum setiap kali mengingatnya.

“Jadi begitu selesai tugas, saya akan langsung ke toilet. Pokoknya seragam lepas, pakaian ganti. Saya buru-buru ganti baju deh,” ujarnya sambil tertawa lepas. “Sekarang kalau dipikir-pikir, lucu juga.”

Kebiasaan itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan jika melihat bagaimana Olivia tumbuh. Selain memperhatikan penampilan, sebagai anak bungsu yang sangat dilindungi dan serba difasilitasi, ia tidak terbiasa dengan aktivitas yang menguras tenaga, bekerja dalam kondisi panas, apalagi harus sering bertemu banyak orang. Olivia juga mengakui dirinya cenderung introvert. Namun, menjadi relawan perlahan membawanya keluar dari kebiasaan tersebut.

Olivia mulai terbiasa mengikuti berbagai kegiatan, bekerja bersama banyak orang, dan menjalankan tanggung jawab yang tidak selalu ringan. Karena tidak tahan panas, teman-teman dekatnya bahkan memberinya julukan “Putri Lilin”.

Julukan itu mungkin terdengar lucu, tetapi bagi Olivia, perjalanan sebagai relawan memang membuatnya banyak melakukan hal yang sebelumnya tidak terbiasa ia lakukan.

“Sampai pas saya post foto saya ikut kegiatan bersih-bersih di Instagram, ada teman saya langsung japri, ‘Lu lagi ngapain? Lu nggak salah. Lu kok bisa (ikut-ikutan) ya?’ Saya cuma ketawa membacanya. Memang sebelumnya tidak pernah berkegiatan yang seperti itu.”

Olivia mengakui, melalui Tzu Chi, dia yang awalnya nyaman berada di lingkungan sendiri, mulai belajar hadir di tengah banyak orang. Dari yang tidak terbiasa dengan aktivitas yang melelahkan, ia mulai menjalaninya bersama relawan lain. Perlahan, hal-hal yang dulu terasa di luar dirinya menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun, keluar dari kenyamanan diri ternyata baru satu bagian dari prosesnya. Berada di tengah banyak orang dengan kebiasaan dan cara berpikir yang berbeda juga menuntut Olivia untuk terus belajar menyesuaikan diri. Dari sana, Olivia mulai memahami bahwa bertahan dalam sebuah komunitas juga merupakan bagian dari proses belajar. Apalagi setiap orang datang dengan latar belakang, cara berpikir, dan cara berkomunikasi yang berbeda. Gesekan mungkin tak terhindarkan, tetapi di tengah perbedaan itulah ia belajar bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang menjalankan kegiatan, melainkan juga tentang belajar hidup bersama orang lain.

Mengerti Kemudian Memahami
Dalam proses itu, ada satu sosok yang paling diingat Olivia, Airu Shijie. Ketika menyebut namanya, ia sempat terdiam sebelum berkata pelan, “Saya... rasanya seperti ada mama.”

Jauh dari keluarga besarnya di Medan, kehadiran Airu Shijie membuatnya merasa diterima dan nyaman. “Kalau ngobrol sama beliau itu sangat nyaman.” Baginya, Airu Shijie menjadi seseorang yang mau mendengarkan dan memahaminya tanpa menuntutnya berubah dengan cepat. Kesabaran itulah yang membuat Olivia merasa punya tempat untuk bertumbuh dan bertahan melewati masa-masa awal sebagai relawan.

Selain bersama Airu Shijie, banyak pelajaran tentang kepemimpinan juga ia peroleh dari Soei Tjoe Shijie. Ia melihat bagaimana kepemimpinan dapat dijalankan dengan cara yang mengayomi, ramah, mau mendengarkan, dan selalu hadir bagi orangorang di sekitarnya.

Olivia Tan (keempat dari kiri) bersama relawan dalam kegiatan Bebenah Kampung. Terbiasa hidup nyaman, Olivia sebelumnya tidak pernah membayangkan akan terlibat dalam kegiatan seperti ini. Namun, pengalaman turun langsung ke tengah masyarakat justru menjadi bagian dari perjalanannya belajar keluar dari kenyamanan dan menjalankan peran sebagai relawan.

Pelajaran dari orang-orang yang ditemuinya selama menjadi relawan perlahan membentuk cara Olivia melihat dirinya dan orang lain. Hingga pada suatu training relawan, sebuah pertanyaan sederhana dari Shelly Widjaja Shijie kembali membuatnya berhenti dan berpikir.

“Mengapa kamu datang ke Tzu Chi?”

Jawaban yang muncul saat itu terasa begitu mudah. “Ya karena ingin berbuat baik.”

Shelly Shijie lalu memberikan jawaban yang sama sekali tidak diduganya. “Berbuat baik bisa dilakukan di mana saja.”

Kalimat itu terus tinggal di benaknya. “Bener juga ya,” pikirnya waktu itu.

Kalau memang berbuat baik bisa dilakukan di mana saja, mengapa ia memilih datang ke Tzu Chi? Olivia mengaku tidak langsung menemukan jawabannya. Ia pulang bukan dengan pemahaman yang baru, tapi malah ada pertanyaan yang dalam pada dirinya.

Ia menuturkan, semakin lama berjalan bersama para relawan, semakin ia memahami bahwa yang dipelajarinya di Tzu Chi bukan sekadar cara membantu orang lain. Ada proses lain yang berlangsung setiap hari yang justru terjadi di dalam dirinya sendiri. Sedikit demi sedikit, ibu dua anak itu mulai melihat berbagai kegiatan dari sudut pandang yang berbeda.

Sebelumnya, ia mengira sebuah kegiatan kemanusiaan hanya berakhir ketika bantuan selesai disalurkan atau pelayanan selesai dilakukan. Kini ia menyadari bahwa proses yang terjadi sebelum dan sesudah kegiatan sama pentingnya. Di situlah orangorang belajar bekerja sama, menyatukan pendapat, hingga menerima perbedaan, dan mengendalikan ego diri sendiri.

“Di Tzu Chi kita belajar menyelesaikan persoalan tanpa melukai orang lain,” tuturnya.

Ia mulai memahami bahwa Tzu Chi bukan hanya tempat untuk melakukan kebajikan, tetapi juga tempat untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik. Dari sana, cara Olivia melihat orang-orang di sekitarnya pun berubah. Kesempatan berbuat baik tidak selalu hadir ketika bertemu masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga dalam keseharian bersama sesama relawan.

Berjalan Berdampingan dengan Harmonis
Bagi Olivia, salah satu bentuknya adalah hadir dan menjalankan tanggung jawab bersama. Dalam sebuah kegiatan, setiap orang memiliki perannya masing-masing. Ketika satu orang tidak hadir, tugas yang seharusnya dikerjakan bersama bisa menjadi beban bagi relawan lain. Karena itu, bagi Olivia, kehadiran bukan sekadar menjalankan kewajiban, tetapi juga bentuk kepedulian kepada teman yang berjalan bersamanya.

“Karena selain diri sendiri dan masyarakat membutuhkan, relawan yang ada di samping kita juga bisa kita bantu.”

“Kita belajar peka, memahami, dan melihat orang di samping kita. Kalau ada kegiatan, kita hadir, kita sama-sama ikut menjalankan. Karena kalau satu orang tidak datang, tugas teman yang lain bisa jadi dobel. Jadi sebenarnya dengan kita datang saja, kita sudah membantu teman kita. Kelihatannya sederhana, tapi kehadiran kita itu penting.”

Olivia Tan (kelima dari kanan) bersama mitra bajiknya di Tzu Chi. Perjalanan sebagai relawan mempertemukan Olivia dengan banyak orang yang tidak hanya menjadi rekan dalam menjalankan kegiatan, tetapi juga guru yang memberinya berbagai pelajaran tentang kehidupan, kerja sama, dan cara memperlakukan sesama.

Cara pandang itu perlahan menjawab pertanyaan Shelly Shijie yang dulu sempat membuatnya berpikir. Olivia memang datang ke Tzu Chi dengan keinginan untuk berbuat baik. Namun, hampir satu dekade berjalan bersama para relawan, ia memahami bahwa berbuat baik juga berarti belajar memahami orang lain, bekerja sama, dan mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama.

Dari situlah ia belajar bahwa menjadi relawan bukan hanya tentang apa yang diberikan kepada orang lain, tetapi juga tentang bagaimana seseorang terus belajar menjadi lebih baik.

Karena itu, ketika kemudian dipercaya menerima tanggung jawab sebagai Ketua He Qi Jakarta Utara 1, Olivia tidak melihatnya sebagai pencapaian. Ia justru menganggapnya sebagai tanggung jawab baru yang membuatnya kembali belajar.

Mungkin, itulah makna lain dari julukan “Putri Lilin” bagi Olivia. Bukan lagi tentang panas yang dulu tak sanggup ia tahan, tetapi tentang kemauan untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberi manfaat bagi orangorang di sekitarnya.

Penulis: Metta Wulandari
Foto: Arimami Suryo A., Fikhri Fathoni, Dok. Pribadi
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -