Relawan Tzu Chi Padang : Kwe Sun Kie (Susi)
Semangat Melakukan Kerja Amal

doc tzu chi

Awal mengenal Tzu Chi, dulu kan saya masuk dan tergabung menjadi anggota perkumpulan sosial Tionghoa HTT (Himpunan Tjinta Teman). Suami saya juga. Saat itu, ketua HTT juga salah satu relawan Tzu Chi. Pada satu kesempatan, kami diminta untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembagian beras. Puluhan orang dari HTT banyak yang mengikuti kegiatan tersebut, dulu Tzu Chi Padang membagikan beras yang dibawa dari Taiwan. Itu tahun 2005. Lokasinya waktu itu antara lain di Padang Panjang, ada juga di Bukit Tinggi.

Setelah kegiatan tersebut, setiap mau ada kegiatan bagi beras saya dipanggil lagi. Ya saya terus pergi. Akhirnya relawan Tzu Chi Padang pun bertanya ke saya, mau tidak bergabung di Tzu Chi? Tentu saya tanyakan kepada suami terlebih dahulu tentang ajakan tersebut. “Boleh tidak saya bergabung di Tzu Chi?” Tanya saya saat itu kepada suami. “Mengapa tidak boleh? Itu kan baik,” jawab suami saya. Nah sejak saat itulah saya bergabung di Tzu Chi sampai sekarang.

Banyak hal yang saya pelajari dari Tzu Chi. Waktu bagi beras kita masuk di pelosok-pelosok, di kampung-kampung. Kita lihat di kampung itu banyak orang-orang yang tidak mampu dan membutuhkan bantuan. Jadi saat kita antar beras dan melihat kebahagiaan mereka, rasanya haru sekali.

Waktu gempa di Padang tahun 2009, selama tiga minggu saya ikut kegiatan Tzu Chi untuk membagikan sembako di kampung-kampung. Saat itu, relawan Tzu Chi Jakarta juga ikut bergabung dalam memberikan bantuan bagi korban gempa di Padang. Waktu bergabung itu rasanya makin giat di Tzu Chi.

Di Tzu Chi Padang relawannya belum terlalu banyak. Jadi di mana ada kegiatan, ya ikut. Kalau survei kasus dipanggil ya jalan. Di bagian konsumsi, ya jalan. Senang kita bisa sediakan makanan. Orang kerja kita bisa sediakan makanan. Tidak tahulah rasanya kalau berkegiatan di Tzu Chi itu capek-capek tapi hati senang. Hilang capeknya.

Waktu di bagian konsumsi, tepatnya pada tahun-tahun pertama, saya pernah menangis. Kita capek-capek kerja tapi ada saja orang yang sepertinya marah-marah dengan pekerjaan kita. Jadi rasanya itu, mau berbuat baik kok susah banget ya, kata saya waktu itu. Kami sudah kerja susah-susah, pagi-pagi keluar rumah untuk menyiapkan makanan relawan, tapi kita disalahkan juga. Begitulah yang saya rasakan saat itu.  

Setelah itu, semakin lama saya di Tzu Chi, akhirnya saya pun berpikir ya sudah sekarang ini saya mau kerja untuk diri saya. Kita beramal untuk diri kita kan? Jadi saya tetap jalan, tetap semangat. Tidak lagi memikirkan omongan orang. Selain itu, dulu karakter saya memang agak emosian orangnya. Tempramen sekali. Tapi sejak saya masuk dan ikut kegiatan-kegiatan Tzu Chi, lama-lama jadi menyadari karakter diri sendiri dan saat ini sudah jauh berubah. Sekarang sudah bisa sabar. Dulu, kalau ada apa-apa, wah langsung emosi. Kalau sekarang sudah bisa diredam.

Bergabung di Tzu Chi juga memperkenalkan saya dengan sosok Master Cheng Yen. Kalau pandangan saya soal Master ya beliau guru yang luar biasa bijaksana, tidak hanya bicara, tapi Master juga melakukan apa yang beliau katakan. Sejak masuk di Tzu Chi juga, rasanya urusan keluarga, suami, anak semuanya lancar-lancar. Walaupun suami saya setahun lalu sudah tiada, saya tetap semangat. Anak-anak saya juga mendukung, jadi saya tambah semangat terjun dan berkontribusi dalam kegiatan amal seperti ini.

Harapan saya, Tzu Chi di Padang tambah berkembang. Saya juga berharap relawan-relawan kita ini kompak. Biar pun orangnya tidak banyak tapi kalau kompak, pasti kita bisa berbuat banyak untuk masyarakat di Padang ini.   

 

Seperti dituturkan kepada Khusnul Khotimah.

Menghadapi kata-kata buruk yang ditujukan pada diri kita, juga merupakan pelatihan diri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -