Suhermin: Relawan Tzu Chi Jakarta
Bahagia Menjadi Bagian dari Toleransi

“Apa yang saya jalankan di Tzu Chi itu tidak keluar dari nilai-nilai agama yang saya anut."
*****
Jalinan jodoh awal dengan Tzu Chi itu sekitar bulan Maret 2022. Awalnya karena anak saya bersekolah di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Waktu itu ada guru yang mengajak saya untuk gabung menjadi relawan, saya coba ikut dan dikenalkan ke para relawan. Ehh, ternyata memang jodoh dan saya terus ikut kegiatan.
Jadi pertama kali ikut kegiatan itu kunjungan kasih pasein kasus. Waktu itu kunjungan ke Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) penderita kaki gajah. Saya melihat kondisi kaki penerima bantuan yang sudah besar sekali, dia nggak punya biaya untuk pengobatan, dan dibantu Tzu Chi. Dari situ saya jadi menyadari bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung dari kita.
Sebelum menjadi relawan, saya itu orangnya paling tidak bisa sabar. Salah satu contoh, di jalanan kalau saya lagi mengendarai mobil itu maunya ngebut, bawaannya buru-buru. Tetapi setelah menjadi relawan ya nggak lagi. Dalam Sila Tzu Chi kan ada aturan kita harus mematuhi aturan lalu lintas. Jadi perlahan-lahan kebiasaan buruk saya mulai terkikis, terutama dalam hal mengelola kesabaran, tanggung jawab, dan menghargai waktu.
Hikmah terbesar yang saya dapatkan selama bergabung menjadi relawan Tzu Chi itu bisa membuat kita lebih bersyukur dan banyak hal positif yang bisa kita perbuat. Istilahnya kalau kita mau membantu orang itu tidak harus menjadi kaya raya dulu, kita punya tenaga, kita sehat, ya kita bisa ikut menjadi relawan dan menjalankan Visi Misi Tzu Chi.
Saya sendiri seorang muslim, dan dalam Islam kita juga diajarkan untuk berkumpul dengan orangorang baik. Saya menganggap Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen itu adalah guru dan orang yang baik. Bahkan waktu saya berkesempatan ke Kantor Pusat Tzu Chi di Hualien, Taiwan saya melihat beliau itu orang yang begitu luar biasa. Dan tentunya ada salah satu kata perenungan beliau yang saya pikir selalu relate dengan kehidupan saya yakni “Kita tidak mampu menyampaikan sesuatu dengan diri sendiri, kita hanya bisa mampu menyampaikan sesuatu itu dengan bekerja sama.” Jadi saya memahami bahwa kerja sama itu menjadi kuncinya, menjadi relawan kita karus saling bekerja sama, di keluarga pun kita juga harus saling bekerja sama.
Dukungan keluarga tentunya selalu mengiringi langkah saya menjadi relawan Tzu Chi. Awalnya suami dan anak anak-anak ya ada komplain, tapi alhamdulillah sekarang semua mendukung. Karena banyak perubahan positif dalam diri saya dan saya pun juga bisa mengelola serta membagi waktu antara kehidupan keluarga dan berkegiatan di Tzu Chi.
Teman-teman di luar komunitas relawan juga saya kenalin ke Tzu Chi. Misalnya kita lagi keluar terus ada waktu sebentar ya saya berbicara tentang Tzu Chi. Kalau pergi suka bawa celengan bambu, terus ngobrol-ngobrol tau ini nggak, baru saya cerita dan kasih tau Tzu Chi itu apa.
Banyak yang beranggapan Tzu Chi itu inilah, itulah tapi yang saya rasakan toleransi antar umat beragama di Tzu Chi itu tinggi dan bagus sekali. Selama menjadi relawan justru semakin menambah wawasan keagamaan saya. Apa yang saya jalankan di Tzu Chi itu tidak keluar dari nilai-nilai agama yang saya anut dan yang perlu saya garis bawahi Tzu Chi itu tidak mengajak orang untuk mengubah keyakinan beragama dan lain-lainnya.
Jadi selama Tzu Chi membutuhkan saya, ya saya akan tetap menjadi relawan. Insyallah, selama saya sehat, saya kuat, saya akan tetap bekerja sama dan menjalankan nilai-nilai kebaikan di Tzu Chi bersama dengan relawan-relawan lainnya.
Seperti yang dituturkan kepada Arimami Suryo A







Sitemap