Tan Lie Fin & Mimi Tjondro: Relawan Tzu Chi Jakarta
Berjalan Bersama di Jalan Kebajikan

Pernah mengalami kehidupan yang sulit, membuat Tan Lie Fin selalu berusaha untuk bisa membantu sesama. Tidak sendiri, tekad ini ia jalankan bersama sang istri serta anak-anaknya. Bagi Tan Lie Fin dan Mimi Tjondro, menapaki jalan kebajikan terasa lebih ringan dan menyenangkan karena dijalani bersama sekaligus cara menumbuhkan cinta kasih di dalam keluarga.
*****
Kebahagiaan di dalam keluarga tidak selalu hadir dari hal-hal besar, tetapi sering kali justru tumbuh dari hal-hal sederhana. Bagi pasangan Tan Lie Fin dan Mimi Tjondro, menjadi relawan Tzu Chi adalah sebuah pilihan untuk melatih diri sekaligus mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari. Berbuat baik keluar, dan membina diri ke dalam. Bukan hanya untuk mereka, tetapi juga ketiga buah hati mereka. Lewat keteladanan dan kepedulian kepada sesama, mereka ingin anak-anak melihat bahwa hidup yang bermakna adalah ketika bisa membawa manfaat bagi sesama.
Pengalaman Hidup yang Menempa Diri
Sejak kecil Tan Lie Fin sudah akrab dengan kehidupan yang keras, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa masa depan harus dibangun dengan kerja keras, ketekunan, dan kedisiplinan. Saat anak-anak lain memilih menghabiskan uang jajan mereka, Tan Lie Fin justru kebalikannya. Alihalih menggunakan, ia justru berpikir untuk menambah uang saku dan tabungannya dengan berjualan kue keranjang saat menjelang hari raya imlek sepulang sekolah.
Bahkan, ketika anak-anak seusianya menikmati masa liburan sekolah dengan berlibur atau bersantai, Lie Fin justru memilih untuk “magang” di tempat kerja ayahnya di sebuah pabrik pembuatan termos di Semarang, Jawa Tengah. “Pekerjaannya menyortir barang,” kenangnya. Saat kuliah, ia bekerja di pagi hari dan belajar pada malam hari. Sebelum lulus kuliah ia bahkan sudah mulai merintis usaha sendiri.
Prinsip hidup itu membentuk dirinya menjadi pribadi yang hemat, disiplin, dan bertanggung jawab. Bagi Lie Fin, hemat bukan berarti pelit, tetapi salah satu cara menjaga masa depan, melindungi keluarga, dan membuka ruang untuk bisa membantu orang lain. Pria kelahiran 54 tahun silam ini jarang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Hasil kerja kerasnya lebih banyak ditujukan untuk keluarga, terutama pendidikan anak. “Saya mau anak-anak saya sukses. Saya tidak mau mereka hidup seperti saya dulu,” katanya. Tekad ini diamini sang istri, “Kita ingin anak-anak mendapatkan pendidikan terbaik.”

Bagi Tan Lie Fin dan Mimi Tjondro, melalui kegiatan kemanusiaan, mereka tidak hanya berbagi rezeki kepada sesama yang membutuhkan, tetapi juga belajar melihat kehidupan dengan hati yang penuh welas asih dan rasa syukur.
Pendidikan anak bisa dibilang prioritas dalam kehidupan Lie Fin dan Mimi. “Saya bilang ke anak-anak bahwa ilmu adalah harta yang tidak bisa dicuri. Kalau harta semua bisa hilang, tetapi pengetahuan dan keterampilan itu selalu ada di dalam diri kita,” tegas Lie Fin. Pasangan yang menikah pada tahun 2001 ini dikaruniai tiga orang anak: Joecelyn Kirani Tan, Joemugen Hoga Kirana, dan Joecelouis Hoga Kirana. Dua anaknya kini sedang berkuliah, dan si bungsu saat ini di kelas 10 di salah satu sekolah di Jakarta Utara.
Tzu Chi Tempat Melatih Diri
Berkaca dari perjuangan masa kecilnya, Lie Fin menyimpan satu keyakinan: manusia tidak hidup sendiri. Apa yang dimiliki hari ini bukan semata hasil kemampuan pribadi, tetapi juga karena dukungan banyak orang, lingkungan, dan orang-orang di sekeliling kita. Karena itu, ketika hidup memberinya kesempatan untuk berdiri lebih kuat, ia merasa harus mengembalikannya kepada sesama.
Pandangan itu yang membawanya semakin dekat dengan Tzu Chi. Sekitar tahun 2000, seorang teman lama mengajaknya melihat kegiatan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di ITC Mangga Dua Jakarta. Di sana, ia melihat berbagai informasi tentang baksos kesehatan dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Hatinya tersentuh. “Wah, ini sesuai dengan yang saya mau,” kenangnya.
Sejak saat itu, Lie Fin mulai menjadi donatur Tzu Chi. Semua dilakukannya dalam diam. Cukup baginya jika dana itu tepat sasaran. “Tapi sekarang saya paham kenapa berbuat baik juga perlu disebarkan, agar bisa lebih banyak menginspirasi orang lain,” terang Lie Fin.
“Sebelum anak pertama lahir kita sudah ke Tzu Chi, cuma memang lebih kenal dan dekat lagi setelah anak-anak ikut Kelas Budi Pekerti,” tambah Mimi. Awalnya Mimi hanya sebatas mengantar anak-anak mengikuti kelas budi pekerti, namun ketika melihat para relawan Tzu Chi bersumbangsih, dalam hati ia mulai tertarik untuk bergabung. Ajakan pun kerap datang. “Tapi waktu itu saya masih mikir-mikir, karena anak-anak kan masih kecil,” ungkapnya. Setelah si bungsu besar, barulah Mimi mulai mengikuti kegiatan Tzu Chi.


Melalui kegiatan kemanusiaan, Tan Lie Fin dan Mimi Tjondro menunjukkan bahwa jalan kebajikan dapat lebih mantap dijalani bersama keluarga. Melalui keteladanan, mereka menginspirasi buah hati mereka bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang dapat membawa manfaat bagi sesama.
Pengalaman pertamanya berkegiatan Tzu Chi nyatanya sangat membekas di hatinya. Saat itu ia mengikuti kunjungan kasih ke rumah salah satu penerima bantuan Tzu Chi di Rusun Tanah Merah, Penjaringan, Jakarta Utara. Mimi yang terbiasa di lingkungan “berada” kini menyaksikan pemandangan yang sangat kontras di depannya. “Rasanya senang bisa membantu mereka, sekaligus juga membuat kita menyadari bahwa kita orang yang lebih beruntung,” kata Mimi, “ini membuat kita menjadi lebih bersyukur atas berkah yang kita miliki.”
Bahkan inspirasi datang juga dari kalangan relawan Tzu Chi. Mimi saat itu melihat ada relawan yang memiliki keterbatasan fisik, namun dengan penuh semangat melangkah menaiki tangga Rusun hingga ke lantai tiga dengan tongkatnya. “Saya mikir, beliau saja bisa (bersumbangsih) dengan keterbatasannya. Masa saya nggak?” tegas Mimi yang memutuskan menjadi Komite Tzu Chi di tahun 2020, dan disusul sang suami empat tahun kemudian.
Keteladanan Master Cheng Yen
Seperti banyak relawan Tzu Chi lainnya, Lie Fin dan Mimi juga sangat mengagumi sosok Master Cheng Yen, pendiri Tzu Chi. “Beliau teladan kami,” ungkapnya. Lie Fin sangat menghormati kesederhanaan Master. Ia melihat bagaimana Master hanya menggunakan apa yang benar-benar dibutuhkan. Hal itu sangat selaras dengan nilai hidupnya sendiri. Prinsip sehari tidak bekerja, sehari tidak makan juga mengingatkannya bahwa hidup harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. “Master setiap hari bangun pagi, memberi ceramah dan bertemu banyak orang. Beliau terus bekerja tanpa lelah,” puji Mimi.
Ia juga teringat pesan Master Cheng Yen bahwa orang yang mampu bersumbangsih adalah orang yang penuh berkah. Di sini ia semakin memahami bahwa kesempatan untuk membantu orang lain bukanlah beban, melainkan berkah yang harus disyukuri. Karena tidak semua orang memiliki kemauan atau kemampuan untuk melakukannya. Selama masih ada kesempatan untuk berbuat baik, maka tidak ada alasan untuk menundanya. “Kehidupan ini tidak kekal. Tidak ada yang tahu apakah ketidakkekalan akan datang lebih dahulu atau hari esok yang akan tiba lebih dulu. Karena itu, selama masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik, kita harus terus lakukan,” tegas Lie Fin.
Penulis: Hadi Pranoto
Fotografer: James Yip (He Qi Jakarta Barat 2), Dok. Pribadi







Sitemap