Tina Ramlah: Relawan Tzu Chi Jakarta
Kekuatan Jalinan Jodoh Baik


Tak pernah terbayangkan oleh Tina, bahwa menjadi relawan Tzu Chi bisa menghubungkan dirinya dengan begitu banyak orang dalam berbuat kebajikan. Ia yang dulunya memiliki sedikit pergaulan, kini dikenal banyak orang sebagai Ketua Da Ai Mama Tzu Chi School yang menjadi teladan. Tabiatnya yang kurang sabar pun ikut terkikis selama sepuluh tahun perjalanannya di Tzu Chi.

*****

“Tin, tiiin…”

“Tiiin, tiiiiiin…”

Klakson dari mobil yang dikendarai Tina berbunyi kencang dan berulang-ulang, menghalau orang-orang yang menghalangi jalannya.

Hei, emangnya ini tanah bapakmu?” celetuk salah satu pedagang kaki lima yang merasa terganggu.

Tina membuka kaca mobilnya dan merespon dengan ekspresi sinis, “You baru tahu? Ini jalan bapakku punya!”

Itulah gambaran kehidupan Tina Ramlah (52) suatu hari di masa mudanya. Ucapannya saat itu memang tidak salah. Dulu di Tanjung Morawa, Sumatera Utara ayahnya adalah pengusaha bahan bangunan yang sukses dan membangun perumahan beserta jalannya. Tina tumbuh tanpa kekhawatiran, masa kecilnya ia nikmati betul, sangat bebas hingga terkesan nakal karena berbuat sesukanya.

“Itu kebiasaan dan tabiat sehari-hari saya, sombong, karena papa saya kan orang berada. Tapi begitu pulang sampai rumah, sudah ada yang lapor ke mama, saya pun kena pukul, papa saya kejar pake kayu, he..he. Karena kita kan gak ngerti ya waktu itu, masih remaja, nakal sekali,” ucap Tina sambil tertawa mengingat kelakuannya dulu.

Tahun 1999 di Medan, Tina menikah dan dikaruniai dua buah hati yaitu Tommy dan Jennifer. Kehidupannya setelah memiliki anak pun cukup santai. “Saya tiap hari pulang pasti nonton sinetron. Suatu hari mau buka sinetron, saya heran, kok cuma ada siaran DAAI TV, ini siaran apa sih? Siaran lain hilang semua. Setiap hari buka (televisi) hanya kelihatan seorang Shifu lagi ceramah,” cerita wanita lulusan Universitas Sumatera Utara Jurusan Hukum ini.

Jalinan jodoh Tina dengan Tzu Chi seolah-olah terjalin karena “dituntun” oleh putrinya, Jennifer. Ditemani kedua anaknya, Tommy dan Jennifer, ia pun tak menyangka dirinya telah melangkah sejauh ini di Tzu Chi.

Usut punya usut, ternyata penyebabnya adalah kabel milik tetangganya menumpang ke antenanya tanpa izin dan akhirnya membuat kabelnya rusak. Namun setelah didiskusikan, tetangganya tidak mau menggantinya. Tina pun akhirnya pasrah. “Sampai sekarang TV di rumah saya itu ya tetap hanya ada DAAI TV, tidak diperbaiki,” katanya. Karena itu pula, maka putrinya Jennifer yang saat itu berusia 3 tahun pun mengenal wajah Master Cheng Yen.

Tidak lama setelah itu mereka datang ke Jakarta dan jalan-jalan di ITC Mangga Dua, dan melintas di depan kantor Tzu Chi yang ada di lantai 6. “Waktu itu kami masuk dari parkiran, di sana ada gambar Master Cheng Yen yang sangat besar, jadi Jennifer melihat dan bilang ‘eh, ada Master’ lalu memberi hormat,” cerita Tina. Saat itu staf DAAI TV yang mengetahui hal itu pun mendekati dan mewawancarai mereka.

Dari sana jalinan jodoh pun berlanjut, Jennifer diajak mengisi program DAAI TV yaitu Rumah Dongeng. Dari Medan, mereka pun datang lagi ke Jakarta. Usai dari studio DAAI TV, Tina dan kedua anaknya pulang ke rumah mereka yang ada di Jakarta. “Kebetulan rumah kami di Pinisi PIK, jadi sekalian jalan-jalan keliling PIK. Nah, ketika melihat gedung Tzu Chi School, Jennifer bilang ‘saya mau sekolah di sini’,” kenang Tina. Karena masih TK dan hanya berniat mencoba, Tina pun mendaftarkan Jennifer.

Tak ada yang menduga, masuknya Jennifer ke Tzu Chi School telah membawa Tina masuk ke sebuah dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Terbentuknya Da Ai Mama
Tahun 2012, setahun setelah Jennifer bersekolah, pihak sekolah membuka pendaftaran bagi orang tua murid yang bersedia menjadi relawan di lingkungan sekolah. Para relawan ini disebut sebagai Da Ai Mama. “Waktu itu hadir 30 orang tua, termasuk saya. Ketuanya dipilih dari tiga nama. Nah, suara terbanyak itu saya, padahal waktu itu saya belum kenal siapa-siapa.”

Tina tidak menduga dirinya terpilih jadi ketua. Ia bingung, tapi menerima saja karena merasa ini mungkin jalan baginya untuk menjadi perpanjangan tangan Master Cheng Yen.

Dalam berbagai kesempatan, Tina aktif melakukan penggalangan dana, seperti pada bulan Agustus tahun 2022, bertepatan pada Bulan Tujuh Penuh Berkah, Tina berhasil menggalang 15.000 lebih paket nasi yang kemudian disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Awal menjalankan Da Ai Mama, Tina mengaku tidak mudah. Tugas mereka selain membantu anak-anak dan guru, juga menampung aspirasi para orang tua murid. “Banyak yang harus dikerjakan, dan karena sekolah baru, tentu banyak juga kritikan. Nah kita Da Ai Mama bantu berusaha membuat lingkungan jadi nyaman, damai, dan harmonis,” jelasnya.

Selama menjadi Da Ai Mama Tina sangat aktif mengajak orang tua murid mengisi waktu dengan menggarap ladang berkah. Tahun 2013, Da Ai Mama mulai masuk menjadi relawan di komunitas He Qi Utara 1.

Anggota Da Ai Mama yang sudah berseragam Abu Putih tergabung dalam satu Xie Li yang diketuai Tina. Hingga kini terdapat 58 Da Ai Mama yang menjadi relawan Tzu Chi, 24 di antaranya adalah relawan Komite Tzu Chi. Tina pun memegang tanggung jawab sebagai Ketua Hu Ai di He Qi Utara 1.

Seiring waktu berjalan, pelan-pelan Da Ai Mama juga makin mandiri dalam berkegiatan. “Kegiatan besar seperti bazar pun kita tidak merasa kesulitan. Orang tua murid semuanya berkreasi di rumah dan sumbang ke bazar,” ucap Tina puas.

Tina juga sangat aktif melakukan galang dana dalam setiap kesempatan. Salah satunya untuk DAAI TV ketika masa pandemi Covid-19. Tim Da Ai Mama juga berhasil menggalang dana sebanyak 380 juta rupiah melalui katering vegetaris. Galang dana itu selain di lingkungan sekolah, juga meluas ke keluarga, teman, sampai ia sendiri juga tidak tahu dari mana saja, karena banyak yang tidak dikenal.

Masih banyak sebenarnya galang dana yang dilakukan Tina. Dan setiap menerima sumbangan dari donatur, bertambah pula motivasi bagi Tina untuk berbuat lagi dan lagi. Tina merasa inilah praktik Dharma yang ia lakukan, sesuai dengan ajaran Master Cheng Yen, yaitu selalu bersyukur, menyadari berkah, menciptakan berkah, dan bersumbangsih tanpa pamrih.

Banyak Orang, Banyak Kekuatan
Bagi Tina, 10 tahun perjalanannya di Tzu Chi adalah sebuah keajaiban. Ia tak menduga telah melangkah sejauh ini. Dulu saat menyekolahkan Jennifer ia hanya mencoba dan tidak punya rencana menetap demikian lama di Jakarta.

Sebagai ketua, Tina aktif menggerakkan tim Da Ai Mama Tzu Chi School dalam berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan rutin di lingkungan sekolah, hingga di luar sekolah, salah satunya kegiatan bazar dalam Pekan Amal Tzu Chi tahun 2019.

“Kadang saya sendiri bingung, bisa sampai tahap ini. Kalo saya sendiri lakukan saja tidak sanggup, melihat Da Ai Mama bisa melakukan itu semua, saya sangat sukacita dan sangat terharu. Semangat merekalah yang memotivasi saya,” ungkap Tina haru dan sangat bersyukur berada di tengah sekelompok Bodhisatwa ini. Tabiat buruknya kini sudah banyak berkurang, itu juga karena adanya sekelompok Bodhisatwa ini.

Kehidupan Tina pun kini berubah, dari seorang yang cinta kasihnya individu menjadi cinta kasih universal. “Sebelum kenal Tzu Chi saya hanya mengurus diri sendiri dan keluarga, tapi di Tzu Chi jalinan jodoh ini menghimpun kekuatan besar dan bisa menghasilkan yang besar. Saya harus pertahankan tekad yaitu bermanfaat bagi orang banyak, menjadi teladan bagi orang banyak, dan menggalang hati orang banyak.”

Penulis: Erli Tan
Fotografer: Erli Tan, Arimami Suryo A, Metta Wulandari
Cinta kasih tidak akan berkurang karena dibagikan, malah sebaliknya akan semakin tumbuh berkembang karena diteruskan kepada orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -