Yanny: Relawan Tzu Chi Bandung
Melangkah Dengan Keyakinan Sederhana di Tzu Chi

“Saya menemukan makna serta kebahagiaan dalam berbagi."
*****
Bergabung dengan Tzu Chi bukanlah keputusan saya yang datang secara tiba-tiba. Benihnya itu telah tertanam sejak lama bahkan sejak tahun 2004. Waktu itu ketika kakak ipar saya Alm. Harun Lam lebih dahulu aktif menjadi relawan Tzu Chi Bandung. Waktu kumpul keluarga, beliau sering cerita-cerita sederhana di ruang keluarga, tentang membantu pasien sakit dengan kondisi yang memprihatinkan hingga kisah pembangunan jembatan agar anak-anak bisa menyeberangi sungai demi bersekolah, dari situlah hati saya perlahan tersentuh.
Kesibukan bekerja menjadi konsultan pajak di Jakarta membuat aktivitas keseharian saya padat. Karena saya harus menangani banyak anak usaha, dengan tanggung jawab yang tidak mudah. Akhir pekan pun sering saya dihabiskan untuk tidur dan memulihkan diri. Namun di tengah rutinitas itu, muncul rasa hampa. Hidup terasa berjalan begitu saja tanpa makna yang benar-benar mengisi hati.
Saya sempat berpikir akan bergabung menjadi relawan setelah pensiun. Tetapi pada tahun 2019, hati saya merasa “matang”. Dukungan kakak juga semakin menguatkan niat dan langkah saya menjadi relawan. Sejak awal, saya juga menyukai praktik langsung di lapangan. Dan saya pun aktif menjadi relawan Tzu Chi di Jakarta. Kegiatan yang saya ikuti yakni menjadi relawan pemerhati di rumah sakit, mengunjungi pasien, membantu, dan menyapa mereka yang sedang berjuang melawan sakit. Karena melihat langsung penderitaan orang lain itu bagi saya menghadirkan pelajaran yang tak tergantikan. Jadi, saat orang terbantu, saya merasa sangat Bahagia.
Kemudian pada tahun 2024, saya memutuskan untuk menjaga orang tua saya dan berpindah ke Kota Bandung sekaligus bergabung bersama Tzu Chi Bandung. Berbekal pengalaman saya menjadi relawan, saya pun mendapatkan amanah baru sebagai Koordinator Bidang Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Bandung. Saya menyadari tanggung jawab ini tidak ringan. Jika dahulu saya hanya mengikuti kegiatan sebagai peserta, kini saya harus memikirkan arah, strategi, dan keberlangsungan program.
Program daur ulang, sosialisasi lingkungan di kawasan perumahan, hingga rencana kolaborasi dengan kegiatan posyandu menjadi salah satu fokus yang saya jalankan. Selain itu saya juga belajar membangun tim, membagi waktu, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Meski lebih sibuk, tetapi saya menjalaninya dengan tekad belajar. Karena tidak ada orang yang langsung bisa, semua perlu proses.
Di tengah kesibukan menjadi relawan, ibu saya tetap menjadi prioritas utama. Setiap kegiatan selalu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ibu saya yang sudah hampir berusia 90 tahun. Justru dari kegiatan menjadi relawan Tzu Chi, saya merasa semakin sabar dan lembut dalam merawat ibu. Kalau dahulu saya mudah tersulut emosi karena tekanan pekerjaan, kalua sekarang lebih tenang. Nilai-nilai tentang bersyukur, menghormati, dan mencintai yang saya dapatkan di Tzu Chi ya tentunya saya praktikkan pertama-tama di rumah.
Jika dahulu akhir pekan adalah waktunya saya untuk tidur, kini kegiatan relawan justru menjadi me-time yang menyegarkan, hehe. Saya merasa seperti ponsel yang diisi ulang dayanya saat mengikuti kegiatan Tzu Chi. Pulang dengan hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih jernih.
Perjalanan saya bersama Tzu Chi bukan sekadar tentang kegiatan sosial, melainkan proses pembentukan diri. Dari pribadi yang mudah tegang dan lepas kontrol, perlahan saya belajar menenangkan diri. Dari rutinitas yang hampa, di Tzu Chi saya menemukan makna serta kebahagiaan dalam berbagi.
Kini saya pun melangkah dengan keyakinan sederhana, seperti yang Master Cheng Yen katakan dalam kata perenungannya. “Ada dua hal yang tidak boleh ditunda dalam kehidupan ini, yakni berbakti kepada orang tua dan berbuat kebajikan.” Dan tentunya dalam kesibukan saya menjalankan program pelestarian lingkungan, kunjungan rumah sakit, hingga tanggung jawab organisasi, saya tetap mengingat satu hal, kesempatan untuk berbuat baik adalah berkah. Selama tubuh saya masih sehat, saya ingin terus berjalan di jalan kebajikan Tzu Chi.
Seperti yang dituturkan kepada Rizky Hermadinata (Tzu Chi Bandung)







Sitemap