Zainah Mawardi
Relawan Tzu Chi Jakarta: Episode Hidup Tak Terlupakan

doc tzu chi indonesia

“Mengikuti pelatihan dan pelantikan Relawan Komite Tzu Chi bukan berarti kita tamat dari belajar, tetapi menurut saya ini merupakan awal kita memasuki kerelawanan menjadi murid master Cheng Yen yang sesungguhnya.”

Dilantik menjadi Relawan Komite Tzu Chi oleh Master Cheng Yen pada 16 November 2017 lalu menjadi momen tak terlupakan bagi saya. Ketika memberikan nametag ke Master Cheng Yen dan beliau menyematkannya itu yang paling tidak saya lupakan. Saya merasa ini merupakan saat-saat bahagia, meskipun butuh proses pelatihan diri yang cukup lama untuk menjadi Relawan Komite Tzu Chi.

Sudah 14 belas tahun menjadi relawan tetapi ini baru menjadi murid Master Cheng Yen yang sesungguhnya, terlebih dalam kondisi saya yang kurang sehat. Menurut saya mestinya kalau mau dilantik itu dalam kondisi sehat, masih agak muda, fit, karena di sana kita juga mengikuti training. Tetapi semua kembali pada jalinan jodoh. Ini kesempatan yang sangat luar biasa, saya memperoleh berkah seperti ini. meskipun sebelumnya saya sudah gagal dua kali untuk mengikuti pelantikan Relawan Komite Tzu Chi.

Ketika dilantik, saya merupakan satu-satunya yang mengenakan jilbab. Jadi model pertama komite berjilbab, mereka yang dari Malaysia, dari Lampung pada bilang ‘Saya foto ya bu, supaya bisa kasih tahu teman-teman saya bahwa ini komite juga ada yang pakai jilbab’. Saya merasa ini juga jodoh baik. Meskipun saya mengenakan jilbab pun tidak merasa berjilbab setelah membaur. Karena di sana tidak ada yang membedakan jadi saya pun merasa nyaman saja. Dan di sana orang pun tidak merasa aneh melihat kita yang berjilbab. Baju relawan komite juga disesuaikan karena yang saya dapatkan juga berlengan panjang.

Saya memang sudah mengenal Tzu Chi sejak pertama masuk menjadi guru di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi yang berada di Cengkareng, Jakarta Barat. Sejak menjadi guru disekolah tersebut, saat itu juga saya masuk menjadi relawan Tzu Chi pada tahun 2003. Setelah menjadi relawan, secara otomatis juga mengikuti kegiatan-kegiatan kesukarelawanan. Di sekolah saya mengajar kelas budaya humanis. Saya aktif di Misi Pendidikan Tzu Chi. Sebelum sakit saya banyak berkegiatan di Tzu Chi, menjadi pembicara atau memberikan sharing kegiatan amal, Sosialisasi Misi Amal Tzu Chi, dan lain-lain.

Selama mengenal Tzu Chi, banyak perubahan diri yang saya rasakan. Entah kenapa ketika di sekolah lain saya malu untuk mengakui diri saya sebagai seorang guru. Saya merasa “image” orang terhadap guru itu kayaknya melecehkan, tetapi setelah di Yayasan Buddha Tzu Chi pemikiran seperti itu berubah. Saya benar-benar melihat anak-anak didik yang awal-awal sekolah berdiri berasal dari bantara Kali Angke, saya merasa sangat tersentuh, merasakan jiwa keguruan saya, dan jiwa keibuan saya. Malah sekarang saya bangga sekali menjadi seorang guru, saya berani mengatakan saya adalah guru.

Saya merasa Tzu Chi seperti keluarga saya sendiri. Terlebih ketika saya diketahui menderita kanker, semua relawan Tzu Chi yang kenal dengan saya semuanya peduli. Mereka memberikan support, semangat kepada saya. Saya di support mulai dari memberikan penguatan, bagaimana cara untuk mengobati saya, dicarikan rumah sakit, dan lain-lain. Hingga sekarang saya masih menjalani pengobatan.

Dalam mengikuti pelantikan relawan komite di Taiwan pun saya harus periksa ke dokter terlebih dahulu. Apakah saya diijinkan untuk perjalanan jauh atau tidak. Setelah periksa ke rumah sakit, saya merasa bersyukur karena bisa diijinkan untuk berangkat mengikuti pelantikan. Dokter memberikan banyak vitamin kepada saya dan berpesan agar tidak terlalu kelelahan selama berkegiatan.

Mengikuti pelatihan dan pelantikan Relawan Komite Tzu Chi bukan berarti kita tamat dari belajar, tetapi menurut saya ini merupakan awal kita memasuki kerelawanan menjadi murid master Cheng Yen yang sesungguhnya. Saya memang berharap bisa sehat terus dan ditambah kekuatan supaya saya bisa memikul tanggung jawab yang lebih besar, terutama di misi pendidikan karena saya sebagai guru kelas Budaya Humanis, saya ingin budaya humanis Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi lebih baik lagi.

Master Cheng Yen memiliki kharisma dan sangat luar biasa kiprahnya untuk dunia. Ini sangat mengagumkan, sampai saya berpikir kalau semua pimpinan umat bisa seperti Master Cheng Yen pasti tujuan, cita-cita membuat dunia aman, tenteram, damai bisa terwujud. Saya merasa Master Cheng Yen seperti guru atau pun ibu bagi saya.

 

Seperti dituturkan kepada Khusnul Khotimah

Fotografer : Dok pribadi


Berlombalah demi kebaikan di dalam kehidupan, manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik-baiknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -