Zhou Shi Chuang
Keindahan Itu Ada di Dalam Tzu Chi

Bagi Zhou Shi Chuang, tidak ada kata berhenti untuk berbuat baik karena masih begitu banyak orang yang membutuhkan.

Saya mengenal Tzu Chi dari tahun 2002 melalui DAAI TV dan sempat juga membaca di Buletin Tzu Chi sewaktu saya masih tinggal di Medan, Sumatera Utara. Namun baru tahun 2004 saya serius untuk mengenal lebih dalam tentang Tzu Chi. Menurut saya Tzu Chi merupakan lembaga kemanusiaan yang benar-benar menyalurkan bantuan kepada yang benar-benar membutuhkan. Dari situ muncul ketertarikan saya untuk bergabung dengan Tzu Chi.

Tahun 2009, saya mulai mencari tahu tentang keberadaan Tzu Chi di Pekanbaru, Riau tempat saya bekerja pada waktu itu. Saat itu saya masih sebatas relawan pemerhati dan sebagai donatur. Dari situ, saya berkenalan dengan teman-teman relawan Tzu Chi Pekanbaru. Saya  dijelaskan tentang apa itu Tzu Chi. Tetapi karena saat itu pekerjaan saya berpindah-pindah, membuat saya belum bisa aktif sebagai relawan. Jadi paling tidak setiap satu bulan sekali baru bisa datang bergabung.

Ketertarikan saya dengan Tzu Chi bertambah kala melihat sosok Shang Ren (Master Cheng Yen, pendiri Tzu Chi -red). Beliau seorang biksuni, seorang wanita yang begitu hebat, dan begitu tulus cinta kasihnya. Saya juga melihat dari televisi beberapa relawan Tzu Chi kerap melakukan bakti sosial. Dari situ muncul kekaguman, membuat rasa penasaran di dalam hati saya begitu hebat.

Tahun 2011 silam, saya pindah ke Jakarta dan tinggal di salah satu hunian di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saya mengetahui adanya Jing Si Book & Café di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pada bulan Juni 2012 jodoh saya dengan Tzu Chi mulai matang. Saat sedang nongkrong di Toko Buku Jing Si, saya tak sengaja bertemu dengan salah satu relawan senior Jenny Gutama yang kebetulan sedang mampir di situ. Dari perjumpaan itu, setelah mendengarkan banyak cerita tentang Tzu Chi dengan segala kegiatannya, niat dan tekad di dalam hati saya semakin mantap untuk bergabung menjadi bagian dari barisan relawan Tzu Chi. 

Zhou Shi Chuang telah mengikuti semua misi Tzu Chi. Namun kini ia fokus di Misi Pelestarian Lingkungan. Bagi Zhou Shi Chuang, sampai memiliki nilai tambah karena hasil daur ulangnya dapat digunakan untuk mereka yang membutuhkan.

Mulailah saya aktif di berbagai kegiatan kerelawanan seperti bakti sosial, kunjungan kasih penerima bantuan, dan pembagian beras. Saya juga ikut membantu sebagai salah satu tim logistik untuk pameran Tzu Chi yang diadakan di Mal Kelapa Gading ataupun di Tzu Chi Pusat, PIK, Jakarta Utara. Saya juga turut serta dalam penuangan celengan bambu. Saya turun juga di bagian pelayanan konsumsi, membantu menggalang dana untuk korban bencana topan Haiyan, Filipina tahun 2013, juga sosialisasi dan pelatihan relawan abu putih 2012. Pada tahun 2013, saya mulai lebih aktif sebagai relawan pelestarian lingkungan hingga sekarang. Setelah pelatihan relawan pada Oktober 2015, saya resmi menjadi bagian barisan relawan biru putih.

Setelah menjadi insan Tzu Chi, saya merasakan perubahan dalam diri saya. Dulu saya orangnya temperamental, tanpa sadar suka emosional, cenderung cuek, dan urakan. Tetapi sejak masuk Tzu Chi, melihat sosok Master Cheng Yen, mendengarkan ceramah beliau, ikut pelatihan, dan berinteraksi dengan sesama insan Tzu Chi lainnya, di situ saya perlahan-lahan belajar melatih diri. Saya mulai mengubah sikap dan perilaku menjadi lebih sabar, belajar lebih menahan emosi. Kehidupan yang saya jalani pun terasa manfaatnya.

Tzu Chi buat saya sudah merasuk di dalam diri saya. Tzu Chi adalah tempat pelatihan diri yang universal, ada keindahan, keberagaman, dari berbagai latar belakang budaya, dan keyakinan. Semua itu ada di dalam Tzu Chi. Tzu Chi adalah tempat yang tepat sesuai tekad saya untuk bersumbangsih.

Tujuan hidup saya sekarang lebih dari sekedar mencari uang. Yang sudah pasti adalah membahagiakan kedua orang tua saya, dan juga orang lain. Ketika mengikuti kegiatan Tzu Chi, saya belajar bahwa banyak orang yang lebih membutuhkan daripada kita. Saya belajar untuk bersyukur masih bisa seperti sekarang ini.

Pada bulan Juni 2012 jodohnya dengan Tzu Chi mulai matang. Mulailah ia aktif di berbagai kegiatan kerelawanan seperti bakti sosial, kunjungan kasih penerima bantuan, dan pembagian beras.

Sumbangsih Diri di Jalan Tzu Chi.

Walau jadwal kerja sangat padat, bahkan akhir pekan juga masih bekerja, saya masih dapat membagi waktu di Tzu Chi. Jadi ketika kegiatan Tzu Chi ada yang di pagi atau malam hari, biasanya waktu yang terpakai tidak terlalu banyak, mungkin setengah hari. Setelah itu baru saya fokus ke pekerjaan. Kalaupun ada kegiatan malam, saya usahakan sepulang kerja walau kadang agak terlambat sedikit, tapi saya usahakan untuk tetap sampai di tempat kegiatan.

Semua misi saya jalani, tetapi saat ini saya lebih fokus dalam misi pelestarian lingkungan. Saya tertarik karena di misi pelestarian lingkungan ini, sampah-sampah daur ulang ini mempunyai nilai plus, bisa dijual lagi untuk membantu orang lain. Dari sini kita juga bisa menyebarkan cinta kasih. Membantu sesama tidak hanya dari materi atau uang, tetapi bisa juga melalui tenaga dan pikiran. Ketika kita memilah sampah-sampah daur ulang ini, kita juga bisa lebih sabar, lebih mengerti bagaimana menghargai barang, dan lebih paham bagaimana menghemat barang-barang yang kita gunakan.

Bagi saya kebaikan yang kita lakukan tidak akan ada habisnya karena masih banyak orang yang membutuhkan. Selama bumi masih berputar, selama masih ada orang yang belum memahami tentang apa itu cinta kasih, semua itu tentu belum akan ada habisnya, jadi kita jalani saja.

Seperti dituturkan kepada Felicite Angela Maria (He Qi Timur).

Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -