Bernita Caroline saat memandu English Club di kampusnya, STIKes RS Husada.
Sore itu, ketika sebagian mahasiswa sudah bergegas pulang dari kampus, Bernita Caroline masih bertahan di salah satu ruangan di Stikes RS Husada, Jakarta. Ia memandu kegiatan English Club yang rutin diadakan di kampusnya. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik membuat mahasiswi semester enam jurusan keperawatan ini dipercaya menjadi ketua klub tersebut.
Aktivitas itu menjadi salah satu gambaran keseharian Bernita yang dikenal aktif di kampus. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil ketua himpunan mahasiswa. Namun di balik kesibukan tersebut, perjalanan hidupnya tidaklah sederhana.
Bagi Bernita, mendapatkan beasiswa Tzu Chi, menjadi titik balik yang mengubah arah masa depannya. Tanpa beasiswa itu, ia mungkin hanya menjalani rutinitas kerja kantoran sebagai lulusan SMK Akuntansi.
“Setelah dapat beasiswa Tzu Chi, saya bisa fokus sama tujuan hidup saya, yang berarti untuk merawat orang sakit,” ujarnya.
Keinginan Bernita menjadi perawat, berawal dari pengalaman masa kecil yang membekas dalam ingatannya. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, Bernita menyaksikan ibunya berjuang melawan penyakit kanker. Selama bertahun-tahun ia melihat sang ibu menahan sakit sebelum akhirnya meninggal dunia pada 2011, ketika Bernita masih duduk di kelas tiga sekolah dasar.
“Melihat mama sakit, saya merasa hopeless waktu itu. Anak kecil kan tidak bisa apa-apa. Mama sering marah karena rasa sakit dan tak berdaya,” kenangnya.
Pengalaman itulah yang kemudian menumbuhkan keinginannya untuk bekerja di bidang kesehatan. Saat duduk di bangku SMP, ia sempat bercita-cita menjadi dokter. Namun ia menyadari bahwa pendidikan dokter membutuhkan waktu yang panjang. Atas saran gurunya, ia memilih masuk SMK jurusan akuntansi agar dapat segera bekerja setelah lulus dan menabung untuk biaya kuliah.
Setelah lulus SMK, Bernita benar-benar bekerja selama dua tahun untuk mengumpulkan tabungan. Namun keinginan menjadi perawat terus menguat dalam batinnya.
Kesempatan yang Datang Tak Terduga
Melalui Tzu Chi, Bernita menemukan lingkungan yang membentuk pribadinya menjadi lebih peduli.
Dalam upaya mencari beasiswa, Bernita menemukan informasi mengenai program beasiswa Tzu Chi Indonesia. Ketika membuka website yang tertera, ternyata masa pendaftaran sudah tutup. Namun ia tak menyerah. Ia mencoba mengirim email, berharap masih ada kesempatan.
Tak disangka, email tersebut mendapat respons. Ia diminta melengkapi berkas, mengikuti wawancara, dan menjalani tes. Dari proses itu, Bernita akhirnya diterima sebagai penerima beasiswa Tzu Chi.
“Waktu itu saya menghubungi Tzu Chi tanpa ekspektasi apa-apa, tapi ternyata saya justru diberikan lebih dari yang saya bayangkan,” katanya.
Beasiswa tersebut tidak hanya membantu biaya kuliah, tapi juga harapan untuk dapat bekerja di rumah sakit milik Tzu Chi.
“Ternyata nanti bisa kerja di rumah sakit Tzu Chi. Sebuah keuntungan kan karena di saat teman-teman yang lain pusing akan bekerja di mana, saya sudah ada kepastian. Jadi bisa fokus kuliah,” tambahnya.
Selain menjalani perkuliahan, Bernita juga aktif mengikuti berbagai kegiatan Tzu Chi, seperti kunjungan kasih, pelestarian lingkungan, donor darah, hingga kegiatan bersama komunitas Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi). Pengalaman-pengalaman tersebut membuka pandangannya tentang kehidupan.
“Pengalaman ini tidak didapat semua orang. Seperti kunjungan kasih, donor darah, jadi pengalaman berharga buat saya dan saya syukuri banget. Tzu Chi juga membentuk pribadi saya menjadi lebih baik. Karena saya sudah menerima bantuan dari orang lain jadi saya juga harus bersikap baik kepada semua orang,” katanya.
Menghadapi Kehilangan yang Kedua Kalinya
Di Tzu Chi, Bernita merasa diterima sepenuhnya dalam lingkungan yang sehat dan tanpa membeda-bedakan.
Tidak lama setelah menerima beasiswa, Bernita kembali menghadapi ujian hidup. Ayahnya meninggal dunia akibat penyakit jantung setelah sempat dirawat sehari di RS Husada, rumah sakit yang berada satu kompleks dengan kampusnya.
Peristiwa itu meninggalkan trauma mendalam. Setiap kali berjalan menuju kampus atau rumah sakit untuk praktik, ia teringat bahwa dulu ia pernah melewati jalan yang sama ketika ayahnya masih hidup. Suara mesin di rumah sakit, bahkan selimut bergaris khas bangsal perawatan, sering membuatnya teringat pada detik-detik terakhir sang ayah.
Trauma itu sempat membuatnya ragu untuk melanjutkan pendidikan keperawatan. Ia bahkan sempat menanyakan kepada pihak Tzu Chi apakah beasiswa yang ia terima bisa dihentikan karena merasa belum siap menghadapi kembali suasana rumah sakit.
Namun pihak Tzu Chi menjelaskan bahwa beasiswa tersebut tidak bisa dihentikan begitu saja. Syukurlah, keputusan itu justru menjadi dorongan bagi Bernita untuk bangkit dan mencoba menghadapi ketakutannya.
Perlahan, ia memaksa dirinya kembali terbiasa dengan lingkungan rumah sakit. Ia berjalan melewati koridor yang dulu mengingatkannya pada ayahnya, mendengar kembali suara mesin medis, dan menjalani praktik seperti mahasiswa lainnya.
“Kalau tidak dihadapi, saya tidak akan bisa jadi perawat,” ujarnya.
Memegang teguh pesan Master Cheng Yen untuk selalu melakukan sesuatu yang bermanfaat setiap hari, Bernita turut berpartisipasi dalam pembagian kupon paket lebaran pada Sabtu, 28 Februari 2026 lalu.
Dalam salah satu kunjungan kasih, ia bertemu seorang anak berusia 12 tahun yang telah berjuang melawan leukemia sejak usia lima tahun. Pertemuan itu membuatnya tersadar bahwa masih banyak orang yang menghadapi kondisi jauh lebih berat.
“Di situ saya merasa kehidupan saya sebenarnya tidak sesulit yang saya bayangkan,” katanya.
Momen lain yang sangat berkesan terjadi ketika ada seorang pasien dari Batam yang datang ke Jakarta untuk menjalani operasi rahang dengan bantuan Tzu Chi. Pasien tersebut membutuhkan tiga kantong darah, namun masih kekurangan satu kantong lagi. Ketika pesan permintaan donor darah dibagikan di grup penerima beasiswa, Bernita kebetulan sedang tidak memiliki kegiatan. Ia pun segera bergegas menuju RSCM Jakarta untuk mendonorkan darah.
Sesampainya di sana, ia mengetahui bahwa pasien hanya datang berdua dengan suaminya, sementara tiga anak mereka harus ditinggal di Batam. Pengalaman seperti itu semakin menguatkan niatnya untuk menolong orang lain.
Menjalani Hidup dengan Tujuan
Bernita Caroline saat menjalani praktik lapangan di RSUD Koja, mengasah keterampilan medisnya sebagai calon perawat profesional.
Bagi Bernita, menjadi bagian dari keluarga Tzu Chi juga berarti berada di lingkungan yang penuh kepedulian.Ia masih mengingat pengalaman pertamanya mendonorkan darah dalam sebuah kegiatan komunitas relawan Tzu Chi di Season City, Jakarta Barat. Karena baru pertama kali donor, ia langsung berdiri setelah proses selesai dan sempat pingsan.
Para relawan segera menolongnya, memintanya berbaring, memberinya minum, dan terus memastikan kondisinya baik-baik saja. Perhatian sederhana itu meninggalkan kesan mendalam baginya.
“Semua relawan Tzu Chi sangat baik, lembut, dan murah hati,” katanya.
Kini Bernita sedang mempersiapkan berbagai tahap penting dalam studinya, mulai dari Kuliah Kerja Nyata, praktik keperawatan, hingga skripsi. Dalam kesehariannya, ia selalu mengingat pesan Master Cheng Yen, “Sehari tidak bekerja, sehari tidak makan.” Pesan itu menjadi pengingat baginya untuk selalu melakukan sesuatu yang bermanfaat setiap hari.
Dengan penuh rasa syukur, Bernita menyadari bahwa kesempatan yang ia terima telah membuka jalan bagi masa depan yang dulu terasa jauh.
“Terima kasih Tzu Chi sudah memilih saya. Saya diterima sepenuhnya di lingkungan yang sehat dan tidak membeda-bedakan. Kalau bukan karena Tzu Chi, mungkin saya bukan siapa-siapa. Sekarang saya punya kesempatan untuk benar-benar mengeksplore keinginan saya merawat orang sakit,” katanya.
Editor: Hadi Pranoto