Banjir Jakarta: Ragam Kisah Pengungsi di Tzu Chi Center

Jurnalis : Yuliati, Fotografer : Yuliati
 
 

fotoNurjati mendatangi seorang dokter untuk memeriksa tekanan darahnya pada saat tim dokter mengunjungi kamar pengungsi.

Sejak Kamis, 17 Januari 2013 hingga sekarang warga korban bencana banjir terus berdatangan di Aula Jing Si Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara yang digunakan untuk tempat tinggal sementara para pengungsi. Sebanyak 173 pengungsi yang menempati kantin lama dalam komplek Tzu Chi Center, berasal dari daerah Kapuk, Jakarta Utara. Selain kantin lama, sebagian pengungsi juga ditempatkan di Gan En Lou, Tzu Chi Center. Sebanyak 149 pengungsi terdiri dari 80 pengungsi perempuan dan 69 pengungsi laki-laki. Mereka berasal dari kawasan Tanah Merah, Pluit, Apartemen Laguna, Jelambar, Cengkareng, dan Kapuk, Jakarta Utara.

Sesekali, ada dokter yang mengunjungi lokasi pengungsian untuk memeriksa kalau-kalau ada yang jatuh sakit. Seperti salah seorang pengungsi, Nurjati (75 tahun) yang terlihat menghampiri dokter. Nurjati bermaksud memeriksa tekanan darahnya. Penyakit darah tinggi yang dimilikinya membuatnya khawatir setelah merasakan sakit kepala pada Kamis lalu. Saat itu ia belum mengungsi dan sempat periksa ke dokter di rumah sakit dan diberikan obat. “Sudah periksa dokter, dan rutin minum obat juga. Jadi tadi periksa tekanan darah aja”, Ucap Nurjati. Tempat tinggalnya di daerah Pluit terendam banjir, hingga Nurjati mengungsi di Tzu Chi Center sejak hari Jumat hingga Minggu. Ia memanfaatkan waktu yang ada dengan beristirahat agar kondisinya segera pulih di pengungsian.

Tempat Mengungsi yang Kedua
Lain halnya dengan Bong Miau Kiun (67 tahun) yang sedang mengawasi cucunya bermain di teras kamar pengungsian. Ia tinggal di Jelambar, Jakarta Barat yang tak luput dari banjir yang melanda ibukota. Sudah dua kali Bong Miau Kiun mengungsi dalam bencana banjir ini. Semula ia memilih mengungsi di Apartemen Laguna yang dirasa aman dari banjir, namun ternyata apartemen yang padat penghuni itu pun belum menjadi tempat yang aman dari banjir. Hingga akhirnya, Sabtu malam, Bong Miau Kiun bersama 5 keluarganya ikut mengungsi di Tzu Chi Center. Apui cucu Bong Miau Kiun yang baru berumur 1 tahun 4 bulan, masih rewel dan menangis tengah malam karena tidak terbiasa tidur tanpa bantal kesayangan yang biasa menjadi teman tidurnya. “Semalam Apui tidak bisa tidur, nangis dua kali,” terang Bong Miau Kiun. Orang tua Apui sedang pergi ke luar untuk membeli pakaian bagi Apui lantaran tidak ada satupun pakaian yang terbawa saat mengungsi.

foto   foto

Keterangan :

  • Keceriaan terpancar dari wajah Apui yang sedang bermain bola dan gelas bersama saudaranya di pengungsian Tzu Chi Center (kiri).
  • Sebanyak 149 pengungsi terdiri dari 80 pengungsi wanita dan 69 pengungsi pria mengungsi di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara (kanan).

Di luar kendala bantal kesayangannya, sesungguhnya Apui adalah anak yang gampang berinteraksi dengan lingkungan. Di lingkungan yang baru pun, bocah ini tampak bisa menikmatinya. Keceriaan terpancar dari wajah bocah kecil yang sedang bermain bola dan gelas bersama saudaranya ini. “Apui, anaknya tidak takut orang baru,” jelas Bong Miau Kiun tersenyum mengembang. Kini, Bong Miau Kiun merasa bersyukur bisa tinggal bersama keluarganya di pengungsian yang nyaman dan melihat keceriaan di wajah cucunya.

  
 

Artikel Terkait

Setitik Cahaya di Tengah Pandemi Corona

Setitik Cahaya di Tengah Pandemi Corona

04 Mei 2020

Perumahan Cinta Kasih Bakung adalah perumahan yang dibangun Tzu Chi Medan setelah kebakaran besar di tahun 2012 yang menghanguskan 66 rumah. Saat ini, akibat pandemi virus corona, warga Bakung yang kebanyakan berjualan makanan, sepi pembeli. Untuk meringankan kesulitan warga Bakung, Tzu Chi Medan pun membagikan paket sembako pada Jumat, 1 Mei 2020.

Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2019: Belajar Memaknai Hidup Lewat Penampilan Isyarat Tangan

Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2019: Belajar Memaknai Hidup Lewat Penampilan Isyarat Tangan

14 Januari 2020
Rangkaian acara dalam Pemberkahan Akhir Tahun 2019 di Tzu Chi Indonesia, Minggu 12 Januari 2020 diselingi beberapa penampilan isyarat tangan Sutra Makna Tanpa Batas. Penampilan isyarat tangan ini membuat suasana pemberkahan terasa hangat namun tetap penuh makna. 
Suara Kasih: Menghargai Sesama

Suara Kasih: Menghargai Sesama

27 Mei 2011
Kita semua adalah keluarga karena hidup di bumi yang sama. Tak peduli makhluk apa pun itu, asalkan hidup di atas bumi ini, maka semuanya adalah keluarga. Kita harus mengasihi semua makhluk yang ada di bumi ini.
Benih yang kita tebar sendiri, hasilnya pasti akan kita tuai sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -