Banjir Jakarta: Ragam Kisah Pengungsi di Tzu Chi Center
Jurnalis : Yuliati, Fotografer : Yuliati|
|
| ||
Sesekali, ada dokter yang mengunjungi lokasi pengungsian untuk memeriksa kalau-kalau ada yang jatuh sakit. Seperti salah seorang pengungsi, Nurjati (75 tahun) yang terlihat menghampiri dokter. Nurjati bermaksud memeriksa tekanan darahnya. Penyakit darah tinggi yang dimilikinya membuatnya khawatir setelah merasakan sakit kepala pada Kamis lalu. Saat itu ia belum mengungsi dan sempat periksa ke dokter di rumah sakit dan diberikan obat. “Sudah periksa dokter, dan rutin minum obat juga. Jadi tadi periksa tekanan darah aja”, Ucap Nurjati. Tempat tinggalnya di daerah Pluit terendam banjir, hingga Nurjati mengungsi di Tzu Chi Center sejak hari Jumat hingga Minggu. Ia memanfaatkan waktu yang ada dengan beristirahat agar kondisinya segera pulih di pengungsian. Tempat Mengungsi yang Kedua
Keterangan :
Di luar kendala bantal kesayangannya, sesungguhnya Apui adalah anak yang gampang berinteraksi dengan lingkungan. Di lingkungan yang baru pun, bocah ini tampak bisa menikmatinya. Keceriaan terpancar dari wajah bocah kecil yang sedang bermain bola dan gelas bersama saudaranya ini. “Apui, anaknya tidak takut orang baru,” jelas Bong Miau Kiun tersenyum mengembang. Kini, Bong Miau Kiun merasa bersyukur bisa tinggal bersama keluarganya di pengungsian yang nyaman dan melihat keceriaan di wajah cucunya. | |||
Artikel Terkait
Ketulusan yang Tak Mengenal Perbedaan
26 September 2012 Minggu, 23 September 2012, di saat matahari perlahan mulai menampakkan dirinya, sebanyak sekitar 420 relawan Tzu Chi telah berkumpul untuk memulai Chao Shan. Chao Shan berarti ritual Namaskara “San bu yi bai”, tiga langkah satu sujud atau disebut juga sebagai ritual pagi hari menuju suatu tempat yang dijunjung.Niat Tulus Membantu Sesama
16 Juni 2014








Sitemap