Bedah Buku : Sebuah Pemahaman Benar Tentang Makna Ulambana

Jurnalis : Vero (He Qi Barat), Fotografer : Hendrik W (He Qi Barat)
 

foto Pada tanggal 4 September 2013, relawan He Qi Barat Hu Ai Cengkareng Barat 1 kembali mengadakan kegiatan bedah buku.

Sebagian besar etnis Tionghoa mempercayai bulan tujuh lunar merupakan "bulan hantu". Mereka meyakini di bulan ini pintu neraka di buka, dan arwah-arwah yang kelaparan mencari makanan di alam manusia. Karena itu sebagian orang berkata di bulan ini tidak baik untuk melakukan pernikahan, membuka usaha, pindah rumah, hingga tidak boleh pulang larut. Pada saat yang sama, bulan tujuh juga digunakan oleh masyarakat Buddhis untuk bersembahyang, menghormati leluhur dan menolong makhluk yang menderita di alam Peta (hantu). Dalam bersembahyang sendiri, biasanya disertai dengan beraneka macam persembahan.

Seperti menyembelih hewan untuk persembahan, membakar kim cua (uang dari serbuk bambu yang digunakan untuk upacara kematian bersetempel emas) atau gin cua (uang dari serbuk bambu yang digunakan untuk upacara kematian bersetempel perak), membakar dupa, memasang lilin dan lain-lain. Semua itu mereka yakini dapat menyelamatkan orang tua atau leluhur mereka yang telah tiada dari alam peta, dan juga merupakan suatu bentuk bakti terhadap orang tua dan leluhur. Namun tanpa mereka sadari dengan membakar kertas, hio, lilin dan membunuh hewan-hewan mereka telah berpartisipasi dalam perusakan lingkungan hidup.

Sesungguhnya sejak tahun 1974 Master Cheng Yen telah terus mengimbau orang-orang untuk tidak membakar kertas sembahyang dan bervegetaris. Dan sudah menjadi tugas untuk insan Tzu Chi yang telah memahami makna sebenarnya ulambana, untuk meluruskan pandangan yang salah kepada masyarakat umum. Salah satunya ialah melalui kegiatan Bedah buku. Seperti tema dalam bedah buku yang dibawakan oleh Kumuda shixiong pada tanggal 4 september 2013, yaitu "Sebuah Pemahaman Benar Tentang Makna Ulambana". Tema bedah buku dan pembicara kali ini, seperti kembali mengajak insan Tzu Chi untuk terus mensosialisasikan dan menjalankan pandangan benar tentang bulan penuh berkah ini.

foto   foto

Keterangan :

  • Pembahasan kali ini, relawan membahas mengenai makna bulan 7 lunar yang sesungguhnya (kiri).
  • Dengan penuh semangat, para relawan yang hadir mendengarkan sharing tentang makna bulan 7 lunar (kanan).

Cinta kasih membawa berkah dan kembali ke jalan yang benar
Bagaimana mungkin kita bisa menyelamatkan orang lain dengan membunuh makhluk hidup yang lain? Bervegetaris dengan tulus merupakan cara yang paling baik untuk menunjukan bakti, penghormatan, dan bukti cinta kasih kepada mereka yang telah meninggal dunia. Kita juga dapat menunjukan bakti kita terhadap mereka yang telah mendahului kita dengan melakukan tindakan nyata yaitu, bersumbangsih dan dengan cinta kasih menghimpun berkah dengan melakukan kebajikan. Dengan bervegetaris kita akan hidup aman dan tentram, terbebas dari penyakit, dan menjaga agar keseimbangan alam tidak terganggu. Dan dengan tidak membakar kertas sembahyang, uang yang tadinya akan digunakan untuk membeli kertas sembahyang ini dapat kita gunakan untuk membantu orang lain. Itulah salah satu bentuk pengaplikasian pandangan benar dalam bulan tujuh penuh berkah ini.

Bumi ini tidak lagi muda. Bencana, kelaparan, kekeringan dan kerusakan-kerusakan lainnya telah terjadi. Dengan jelas Master Cheng Yen mengatakan bahwa "Sesungguhnya, setan selalu ada di sekeliling orang yang berpandangan tidak benar. Pengetahuan dan pandangan keliru inilah yang disebut hati setan. Pepatah mengatakan, kecurigaan melahirkan setan dalam hati. Ini karena kita diliputi kegelapan batin. Akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan, manusia saling bertikai dan merampas. Dengan begitu, setan memenuhi batin kita sehingga kita melihat semua orang bagai setan. Karena itu, orang-orang secara keliru berpikir bagaimana agar di bulan tujuh ini mereka terhindar dari pengaruh buruk atau gangguan setan". Akibat ulah manusia dengan keserakahan dan ketamakan dalam batin yang kotor, bumi ini menjadi rusak dibuat manusia. Marilah kita melakukan pertobatan untuk menyucikan hati dan mulailah berjalan di jalan yang benar demi masa depan bumi ini dan kelangsungan hidup manusia di masa depan.

  
 

Artikel Terkait

Upacara Pembasuhan Kaki di SMP Marie Joseph

Upacara Pembasuhan Kaki di SMP Marie Joseph

02 April 2018

Pagi itu, Rabu 28 Maret 2018, sebanyak 18 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur, Kelapa Gading hadir di SMP Marie Joseph dalam rangka tri hari suci umat Katolik (Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci). Relawan hadir untuk membantu upacara pembasuhan kaki sesuai undangan Kepala Sekolah SMP Marie Joseph, Lusia Sri Rejeki.

Bersilaturahmi Dengan Opa dan Oma di Panti Lansia Al Maa-uun

Bersilaturahmi Dengan Opa dan Oma di Panti Lansia Al Maa-uun

18 Desember 2025

Relawan Xie Li Bangka Belitung dari Perkebunan Tanjung Rusa Estate melakukan kunjungan kasih ke Panti Lansia Al Maa-uun dan membawa bingkisan dan sembako selayaknya mengunjungi orang tua sendiri.

Baksos NTT: Beras untuk Natal

Baksos NTT: Beras untuk Natal

23 Desember 2011 Menurut Kepala Desa Laimeta Ayub Hapu Amah, jumlah penduduk desanya ada sebanyak 649 jiwa, dan yang tergolong kategori sangat tidak mampu ada 105 orang.
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -