Bedah Rumah di Kamal Muara: Menempati Rumah Idaman Jelang Lebaran

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Arimami Suryo A

Samsudin Bin Shahrir sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika menerima bantuan berupa pembangunan rumah dari Tzu Chi. Ia sangat bahagia.

Seperti kisah-kisah haru terdahulu di Kamal Muara, artikel ini pun berisi kisah yang serupa, yakni gambaran dari momen kebahagiaan yang mengular dari tahun ke tahun. Semakin panjang sukacita dan semakin banyak rumah yang nyaman yang dimiliki oleh warga.

Kisah kali ini adalah tentang Samsudin Bin Shahrir. Ayah 6 orang anak yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika menerima bantuan berupa pembangunan rumah dari Tzu Chi. Ketika pemberian rumah dilakukan secara simbolis, matanya terus menatap lekat pada kunci yang terbuat dari styrofoam itu sementara bibirnya terus tersenyum. Sunguh pemandangan yang hangat. Samsudin sangat bahagia.

Bayangkan, puluhan tahun tinggal di rumah yang tidak layak dengan dinding dan atap menggunakan asbes, serta beralaskan tanah dilapisi kulit kerang. Udin, panggilan akrabnya, hanya bisa menambal sedikit demi sedikit lubang di atap dinding. Sementara rangka rumah hanya menggunakan bambu yang diikat dengan tali sekenanya.

Rumah asbesnya itu kondisinya sangat menghawatirkan apalagi ketika musim hujan datang, karena atap yang bocor dan sudah pasti akan kebanjiran. Udin selalu tidak bisa tidur karena ia khawatir, cemas kalau rumahnya rubuh sewaktu-waktu.

“Kasihan sama anak-anak. Terutama dua anak kan nggak punya kamar, ya kebanjiran sama-sama,” kata Udin mengenang masa lalu.

Pernah pula ketika angin kencang melanda pesisir pantai Jakarta, rumah Udin langsung koyak. Rangka bambunya seperti dengan mudah terangkat dari tanah. “Saya pikir rumah ini bakal terbang. Saya bangunin semua anak-anak, betul-betul takut terbang. Kalau kita kebawa ke langit gimana? hahhaaa.. tapi akhirnya berhenti angin itu, jadi asbesnya acak-acakan nggak karuan,” kisah Udin yang kini sudah bisa menertawakan kejadian tragisnya. “Ya sekarang bisa ketawa. Dulu mana pernah saya ketawa? Apalagi kalau musim hujan, semua yang ada cuma rasa takut,” imbuhnya.

Bukan cuma takut dengan cuaca, takut dengan binatang dan serangga pun menghantui Udin dan anak-cucunya karena Udin dan sang cucu pernah beberapa kali digigit tikus sampai berdarah karena rumah yang tak layak huni itu.

Rumah Samsudin Bin Shahrir sebelum dibedah. Momen ini merupakan momen perubuhan rumah lamanya yang sudah tidak layak huni. Dimana dinding dan atapnya terbuat dari asbes dan alasnya berupa tanah dengan dilapisi kulit kerang.


Siti Rahmawati, anak pertama Udin tak sampai hati saat anaknya menjadi korban gigitan tikus. “Saya sampai nangis. Ya Allah, kasihan amat, Nak. Digigit tikus sampai berdarah. Makanya saya mah nggak pengen ke kebun binatang, di rumah saya udah kayak kebun binatang. Hahaha.., ya tikus, kelabang dari yang kecil sampai gede, kecoa juga, lengkap,” jelasnya merasa terbiasa.

Setelah berbagai peristiwa itu, Udin lalu mencoba menghitung kebutuhan biaya renovasi rumahnya. Ia ingin mengganti rangka bambu menjadi lebih kuat, serta memilih bahan lain untuk dinding asbesnya. Kalau semuanya dinding memakai asbes, siang hari di musim kemarau terasa sangat panas seperti terpanggang. Makanya kalau ada rezeki, dinding itu ingin ia ganti dengan bambu saja. Untuk meminimalisir banjir dan menambal lubang-lubang dari binatang liar, ia juga berniat menguruk alasnya lebih tinggi lagi. Tapi dengan hitungan kasar, biayanya sudah mencapai angka 10 juta.

“Ah.. memang kalau ngomong doang itu gampang, tapi ya nyarinya susah payah. Sampai kapan ngumpulin duit 10 juta? Nggak bisa kekumpul, malah jadi pusing sendiri,” tuturnya tertawa.

Sejak lulus SD 50 tahunan lalu, Udin langsung bekerja sebagai nelayan. Tapi dia memutuskan untuk berhenti melaut tepat bulan Ramadan satu tahun silam. Katanya, melaut kini tidak pernah menghasilkan. Ia hanya mendulang rugi karena penjualan hasil laut tak bisa menutup kebutuhan solar untuk kapal.

“Penghasilan nelayan nggak bisa ditentuin, Dek. Saya terakhir jadi nelayan tahun lalu pas bulan puasa. Kenapa itu terakhir? Karena saya nyerok tuh, sebulan saya tekun turun ke laut, hanya tiga kali yang kejual. Pertama 80 ribu, kedua 50 ribu, trus 30 ribu. Itu terakhir nyerok, hasilnya payah betul, sementara kan kita butuh solar dan lainnya. Ya rugi ongkoslah,” ceritanya prihatin. Namun begitu, Udin kini masih membuka jasa untuk turun ke laut apabila ada orang meminta bantuannya.

Setelah tak lagi menjadi nelayan, ia dan anak pertamanya bergantian berjualan kopi dan minuman lain di malam hari sekitar pukul 11 malam hingga subuh, demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dari enam anaknya, dua telah meninggal dunia, begitu pula dengan istrinya. Kini Udin tinggal dengan empat anaknya. Anak pertama, Siti Rahmawati sudah menikah dan mempunyai dua anak, namun bercerai. Anak kedua dan ketiga meninggal dunia. Anak keempat Abdul Khalid mengalami cacat fisik, kaki dan tangan sebelah kanan lemas dan apabila berjalan perlu diseret. Anak kelima Siti Nurhaliza mengalami stunting dan gangguan jiwa, lalu anak keenam Nur Aini sudah bekerja.

“Ada dua anak membantu saya mencari nafkah untuk menghidupi dua anak (yang mengalami) kekurangan lainnya. Alhamdulillah.. kami ya bisa apa selain banyak bersyukur? Kalau ngejar (ingin seperti) yang punya uang kan nggak sanggup, jadi banyak-banyak bersyukur aja, banyak-banyak sabar juga,” lanjut Udin.

Dengan membawa gerobak, Samsudin mengangkut barang-barang pelengkap rumah baru dari Tzu Chi. Di depan rumahnya pun sudah terparkir gerobak mi sebagai modal usahanya ke depan.

Bersyukur pula ketika rumahnya sedang dalam tahap pembangunan selama kurang lebih 4 bulan, ia berkesempatan menjadi kenek untuk membantu tukang sehingga ada pemasukan tambahan. Udin yakin, seperti kata orang-orang: apabila ada satu pintu rezeki yang tertutup, tenang saja karena pintu rezeki Insya Allah akan terbuka di bagian lain.

“Nah betul, ternyata rezekinya dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Alhamdulillah.., saya sudah nggak bisa menggambarkan bagaimana rasa syukur dan bahagianya ini,” kata Udin mengelus lantai rumahnya. “Lihat, Dek.. rumahnya ini sudah kokoh, nggak mungkin kebawa angin. Sudah tinggi, nggak (bisa) kebanjiran ini. Pintunya rapet lho, nggak bisa masuk tikus. Sudah bisa ketawa, sudah bisa tidur nyenyak,” ujar Udin terus memamerkan senyum dengan gigi ompong di bagian depannya.

Mata Udin pun berkaca penuh haru, menyiratkan betapa leganya seorang kepala keluarga yang akhirnya bisa mewujudkan satu mimpi keluarga. Kini masing-masing anaknya punya kamar karena di rumah seluas 4,7 meter kali 10 meter itu ada 4 kamar. Untuk Udin, bisa tidur di ruang depan dengan leluasa. Rumahnya pun dilengkapi kamar mandi dan dapur.

Alhamdulillah bisa lebaran dengan nyaman,” katanya semringah.

Gerobak Mi untuk Modal Usaha
Bahagianya Udin juga dilengkapi dengan bantuan lain, yakni berbagai perabotan rumah yang lengkap mulai dari sapu, piring, lemari, hingga kasur dan lainnya. Yang membahagiakan lagi, ia pun menerima satu buah gerobak mi yang bisa ia gunakan untuk berjualan.

“Sungguh berkah, ada rumah, ada gerobak. Alhamdulillah…, terima kasih banyak untuk Tzu Chi, relawan, dan semua donatur. Nanti rencananya akan dipakai jualan mi di depan rumah sini, mudah-mudahan bisa laris manis. Doakan yaaa..,” ucap Udin tak henti mengucap syukur.

Samsudin dengan semangat mengelap gerobak mi pemberian Tzu Chi. Anak pertamanya nanti akan menjual mi di depan rumahnya sehingga bisa berjualan sembari menjaga anak.

Selain Samsudin, ada 4 warga lainnya yang juga mendapatkan gerobak mi. Teksan Luis, relawan Tzu Chi sekaligus PIC Program Bebenah Kampung Kamal Muara menjelaskan bahwa pemberian gerobak ini merupakan wujud dukungan Tzu Chi untuk membantu dalam mengentaskan kemiskinan warga. Dimana ada kondisi warga yang dihadapkan oleh pilihan yang berat.

“Misalnya ada ibu-ibu tua atau janda yang punya anak kecil. Mereka mungkin dihadapkan dengan pilihan: kalau bekerja, nggak bisa jaga anak atau kalau jaga anak, ya nggak bisa bekerja. Susah kan…., sehingga kami memberikan bantuan gerobak itu untuk mereka yang betul-betul membutuhkan, dimana nantinya mereka bisa berjualan di depan rumah sambil menjaga anak. Jadi dengan demikian mereka bisa memperoleh pendapatan, jadi nggak terlalu bersandar dari bantuan dari pemerintah dan tetangga,” papar Teksan.

Demikianlah kondisi keluarga Udin yang kurang lebih sama dengan penjelasan Teksan. Teksan juga mengarahkan nantinya Udin bisa melanjutkan berjualan kopi apabila kesehatannya memungkinkan. Sementara anaknya bisa menjual mi di depan rumah sambil menjaga cucu keduanya yang masih berusia 3 tahun. “Karena kasihan ya kalau anak ditinggalkan sementara ibunya, wanita berjualan malam-malam, kan bahaya. Jadi semoga betul-betul membantu,” kata Teksan.

Meratakan Kesejahteraan Warga
Bersama dengan Samsudin Bin Shahrir, ada enam rumah warga di RT 02 RW 04, Kamal Muara lainnya yang menerima rumah di Program Bebenah Kampung Tahap Empat yang peresmiannya dilakukan pada Kamis (28/3/24). Kegiatan ini dihadiri langsung oleh PJ Gubernur Heru Budi Hartono dan juga Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma.

PJ Gubernur Heru Budi Hartono menyerahkan kunci secara simbolis tanda diresmikannya Program Bebenah Kampung Tahap Empat di Kamal Muara.

Dengan membawa semangat: Sehat Lingkungannya, Sehat Keluarganya, Sehat Ekonominya, Tzu Chi sedikit demi sedikit ingin membawa perubahan bagi warga yang rumahnya dibantu. Dari lingkungan yang sehat, rumah yang sehat, maka kualitas kesehatan keluarganya akan meningkat, demikian pula lebih jauh nanti perekonomiannya akan bergerak semakin membaik. Sejauh ini, di wilayah Kamal Muara sudah ada 30 rumah yang telah dibedah oleh Tzu Chi.

Sebagai implementasi dari semangat itu pula, pada kesempatan ini Tzu Chi juga memberikan lima buah gerobak mi kepada warga sebagai alat untuk menambah penghasilan mereka. Ditambah lagi, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dengan Agung Sedayu Grup (ASG) bekerja sama untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi warga. Dimana nantinya warga dalam usia produktif di Kamal Muara yang tidak memperoleh pekerjaan karena terkendala pendidikan maupun pengalaman, bisa dipekerjakan di wilayah Pantai Indah Kapuk sehingga mereka tidak hanya tergantung dari hasil melaut untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini juga merupakan upaya dari Sugianto Kusuma untuk membuat Kamal Muara menjadi wilayah zero pengangguran.

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Pemprov DKI Jakarta meresmikan tujuh rumah warga di RT 02 RW 04, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Bagi yang mendapatkan rumah, mari terus dijaga rumahnya. Jangan buang sampah sembarangan, disiplin dalam hidup, dan menjadi duta kebersihan di lingkungannya. Jaga rumahnya dengan baik,” pesan PJ Gubernur Heru Budi Hartono. “Bagi yang mendapatkan pekerjaan, kita harus disiplin dalam bekerja, harus produktif. Karena kita sudah mendapatkan kesempatan untuk bekerja, kita manfaatkan sebaik mungkin untuk memperbaiki perekonomian keluarga,” lanjutnya.

Heru Budi Hartono juga mengungkapkan terima kasih kepada Tzu Chi yang terus berupaya membantu pemerintah dalam memperhatikan warga yang butuh pertolongan. “Semoga Tzu Chi bisa menjadi contoh baik untuk diikuti oleh stakeholder-stakeholder lainnya,” tutupnya.

Mari dukung keluarga seperti Samsudin dalam mewujudkan mimpi dan harapannya memiliki rumah yang lebih baik melalui:

Virtual Account BCA
00602-00519800027
Bebenah Kampung DKI Jakarta

“Kekuatan akan menjadi besar bila kebajikan dilakukan bersama-sama, berkah yang diperoleh akan menjadi besar pula.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)
Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Bedah Rumah di Kamal Muara: Menempati Rumah Idaman Jelang Lebaran

Bedah Rumah di Kamal Muara: Menempati Rumah Idaman Jelang Lebaran

01 April 2024

Seperti kisah-kisah haru terdahulu di Kamal Muara, artikel ini pun berisi kisah  serupa, yakni gambaran dari momen kebahagiaan yang mengular dari tahun ke tahun. Semakin panjang sukacita dan semakin banyak rumah yang nyaman yang dimiliki oleh warga.

Bedah Rumah di Kamal Muara: Komariah Memulai Hidup Nyaman di Rumah Baru

Bedah Rumah di Kamal Muara: Komariah Memulai Hidup Nyaman di Rumah Baru

03 April 2024

Sejak pagi perasaan Komariah sangat rumit diungkapkan: ya senang, ya sedih, ya bahagia, ya haru juga. Air matanya menetes saat ditanya tentang rumah lamanya. “Banyak kenangannya,” katanya lirih. 

Beramal bukanlah hak khusus orang kaya, melainkan wujud kasih sayang semua orang yang penuh ketulusan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -