Agatha Fredelica bersama peserta didik lainnya, mengikuti permainan Like Challenge. Permainan ini mengajak peserta saling mengenal, menemukan kesamaan minat, menghargai kelebihan, hingga berbagi pengalaman.
Suasana pagi di ruang Fu Hui Ting, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara, terasa begitu hangat dalam mengikuti Kelas Budi Pekerti Tzu Chi. Sebagian peserta datang untuk pertama kalinya, sementara yang lain kembali mengikuti Kelas Budi Pekerti Tzu Shao komunitas He Qi Jakarta Pusat, Minggu, 9 Agustus 2026.
Kegiatan ini diikuti 17 murid Tzu Shao dengan pendampingan 29 relawan Tzu Chi. Pembelajaran dikemas melalui kegiatan, permainan, dan refleksi. Salah satunya Like Challenge, yang mengajak peserta saling mengenal, menemukan kesamaan minat, menghargai kelebihan, hingga berbagi pengalaman.
Dari kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa setiap orang memiliki kepribadian dan pengalaman yang berbeda. Perbedaan menjadi kesempatan untuk saling memahami dan menghargai.
Bagi Agatha Fredelica (13), Kelas Budi Pekerti hari itu memberikan pengalaman menyenangkan. Selain bertemu banyak teman baru, ia belajar bahwa menjadi pribadi yang lebih baik dapat dimulai dari hal sederhana, termasuk cara berbicara.
“Saya senang sekali hari ini karena bisa berkenalan dan bertemu banyak teman. Yang saya pelajari adalah bagaimana agar saya bisa menjadi lebih sopan dan lebih baik lagi, salah satunya dengan membantu orang lain,” ujarnya.
Agatha menyadari bahwa seseorang terkadang berbicara tanpa memikirkan terlebih dahulu kata-kata yang akan diucapkan. Karena itu, ia ingin lebih berhati-hati dalam bertutur.
“Semoga saya bisa berubah mulai dari diri sendiri dahulu. Saya bisa mempraktikkannya dalam berbicara dan menjaga kata-kata agar lebih sopan,” harapnya.
Menurut Agatha, kesopanan perlu diterapkan kepada siapa pun, termasuk teman sebaya. Ia juga belajar bahwa sikap dan perilaku sehari-hari merupakan bagian dari budi pekerti, seperti menghargai orang lain ketika sedang berbicara.
Hari itu, anak-anak juga belajar tentang cara makan, berjalan, serta menjaga penampilan agar rapi dan sopan.
“Pelajaran ini bermanfaat. Saya bersyukur bisa mengikuti Kelas Budi Pekerti,” katanya.
Agatha juga berharap dapat meraih nilai yang baik dan menjadi juara pertama. Ia memahami bahwa hal itu perlu disertai usaha.
“Saya tidak boleh malas belajar,” ujarnya penuh tekad.
Tidak Hanya Mementingkan Diri Sendiri
Sementara itu, Yardley Kim Santoso (12) kembali mengikuti Kelas Budi Pekerti setelah sebelumnya pernah mengikuti kegiatan serupa. Baginya, setiap pertemuan memberikan pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat bekerja bersama orang lain.
“Saya mendapatkan banyak pelajaran. Kita tidak boleh egois terhadap orang lain. Dalam bekerja kelompok, kita harus bekerja bersama, bukan bekerja sendiri-sendiri,” tutur Yardley.
Ia memahami bahwa kerja sama tidak selalu mudah. Jika menghadapi kesulitan, Yardley memilih berkomunikasi dengan guru dan mengajak teman-temannya memperbaiki keadaan bersama.
Yardley Kim Santoso, salah satu peserta didik, mencatat pelajaran yang didengarnya selama kelas berlangsung.
“Dalam kerja kelompok, kita harus memberikan usaha sepenuhnya agar pekerjaan kita tidak menjadi sia-sia. Misalnya saat membersihkan lingkungan, benar-benar dibersihkan, jangan asal-asalan. Kita harus melakukannya dengan lebih bersungguh hati,” katanya.
Baginya, perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil. Ketika melihat sampah, ia memilih memungutnya terlebih dahulu dengan harapan teman-temannya ikut melakukan hal yang sama.
“Mulai dari diri sendiri. Saya memungut sampah dahulu, siapa tahu teman bisa mengikuti,” ujarnya.
Dalam salah satu permainan, Yardley sempat merasa bosan. Namun, ia belajar untuk tetap mengikuti arahan pembimbing.
“Saya akan berusaha mengubah rasa bosan dengan mengikuti dan mendengarkan apa yang diminta serta diarahkan oleh pembimbing,” katanya.
Yardley bercita-cita menjadi pribadi yang lebih pintar dan dapat membantu banyak orang. Ia juga ingin bekerja di bidang yang diminatinya, salah satunya menjadi programmer.
“Menjadi versi diri yang lebih baik lagi. Kurangi main game,” tulisnya sebagai salah satu tekad untuk dirinya sendiri.
Belajar Hidup Bersama melalui Kesepakatan
Para murid juga diajak memahami pentingnya kesepakatan bersama. Ketika setiap anggota memahami dan menaati aturan, kegiatan dapat berjalan lebih aman, nyaman, dan tertib.
Pemahaman ini diperkuat melalui cerita tentang dua tim yang mengikuti kegiatan pelayanan.
Tim A digambarkan kurang disiplin. Ada anggota yang menggunakan telepon genggam, meninggalkan kelompok tanpa izin, tidak mengikuti instruksi, dan tidak membersihkan lingkungan setelah kegiatan. Akibatnya, kegiatan menjadi tidak teratur.
Sebaliknya, Tim B mengikuti kegiatan dengan tertib, mendengarkan arahan, saling membantu, serta membersihkan lingkungan bersama. Hasilnya, kegiatan berjalan lebih lancar dan nyaman.
Dari kedua cerita tersebut, anak-anak diajak memahami bahwa keberhasilan sebuah kelompok membutuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama.
Pembelajaran dilanjutkan dengan empat aspek kehidupan sehari-hari, yaitu makan, berpakaian, menjaga lingkungan, dan perilaku.
Dalam hal makan, anak-anak belajar makan dengan tenang, tidak menyia-nyiakan makanan, serta merapikan tempat setelah selesai makan.
Dalam hal berpakaian, mereka diajak menjaga kebersihan dan kerapian diri.
Dalam hal lingkungan, anak-anak belajar menjaga kebersihan, merawat barang, serta memilah sampah.
Sementara dalam perilaku, mereka belajar menaati aturan, mengikuti arahan pendamping, tidak meninggalkan kelompok tanpa izin, serta tidak menggunakan telepon genggam selama kegiatan.
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa budi pekerti tidak hanya dipelajari melalui teori, tetapi diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari.
Dengan antusias, peserta didik kelas Tzu Shao mengikuti gerakan isyarat tangan berjudul Di Yi Dao Shu Guang dengan didampingi relawan Tzu Chi.
Menjelang akhir kelas, pembelajaran ditutup dengan kata perenungan Master Cheng Yen yang mengingatkan pentingnya menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan.
Agatha memilih mulai menjaga tutur kata dan menjadi lebih sopan. Sementara Yardley ingin lebih bersungguh-sungguh dalam bekerja sama, membantu orang lain, dan mengurangi waktu bermain.
Keduanya memiliki cara masing-masing untuk menjadi lebih baik, tetapi dengan satu kesamaan: perubahan dapat dimulai dari diri sendiri.
Ketika seseorang belajar berbicara dengan baik, bertindak dengan tulus, dan menghargai orang lain, budi pekerti tidak lagi hanya menjadi pelajaran di kelas, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Fikhri Fathoni