Linda Budiman Shi Jie menyampaikan materi spirit, prinsip, dan pedoman Misi Amal Tzu Chi, termasuk penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta sikap yang patut dan tidak patut dilakukan saat survei kasus.
Pada Minggu, 14 Desember 2025, relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Barat 1 melaksanakan Pelatihan Misi Amal bertema “Melihat dengan Welas Asih, Melayani dengan Hati”. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–16.30 WIB ini digelar di Ruang Budaya Humanis 1, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, dan diikuti oleh 39 peserta.
Pelatihan ini menjadi sarana pembinaan bagi para relawan untuk memperdalam makna pelayanan sekaligus menata kembali niat awal dalam menjalankan misi kemanusiaan Tzu Chi. Kegiatan diawali dengan menyanyikan Mars Tzu Chi dan pembacaan Sepuluh Sila Tzu Chi yang dipimpin oleh Mily Shi Jie.
Suasana khidmat menyelimuti ruang pelatihan, mengingatkan para relawan pada pesan Master Cheng Yen bahwa latihan spiritual sejati diwujudkan melalui penerapan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada sesi pertama, Linda Budiman Shi Jie mengajak para relawan memahami spirit, prinsip, dan pedoman Misi Amal Tzu Chi, termasuk penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pelaksanaan survei kasus. Relawan diingatkan bahwa survei bukan sekadar proses pengumpulan data, melainkan latihan batin untuk menumbuhkan empati, ketulusan, dan tanggung jawab dalam pelayanan.
Relawan mengikuti pelatihan dengan sungguh hati, menyelesaikan setiap tugas sebagai latihan batin dalam menumbuhkan kebijaksanaan pelayanan.
Dalam pelaksanaan survei, relawan diharapkan hadir dengan hati yang lembut dan penuh kepekaan agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Setiap penerima bantuan diperlakukan secara setara tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun agama. Proses survei dijalankan melalui kerja sama tim yang harmonis, saling mendukung, serta menumbuhkan rasa syukur atas kesempatan untuk memberi dan belajar.
Para relawan juga diingatkan untuk menjaga kerahasiaan data hasil survei, menjunjung tinggi budaya humanis, serta berkomunikasi dengan sopan dan penuh penghormatan. Ketaatan terhadap SOP Tzu Chi dipahami sebagai wujud disiplin batin agar pelayanan senantiasa selaras dengan nilai cinta kasih dan kebijaksanaan.
Survei dilakukan dengan memakai hati, yakni dengan memperhatikan kondisi fisik dan mental penerima bantuan. Data digali secara menyeluruh dan dicatat dengan teliti serta akurat. Tim survei terdiri atas minimal tiga relawan berseragam dan satu relawan senior. Penggalian data meliputi kondisi keluarga, tempat tinggal, kesehatan, ekonomi, pendidikan anak, dukungan sosial, serta kebutuhan dan harapan penerima bantuan. Seluruh proses ini dijalankan berlandaskan asas dan prinsip Tzu Chi demi menghadirkan cinta kasih yang nyata dan bermakna.
Lily Brahma Shi Jie mengulas penggunaan genogram sebagai sarana memahami kehidupan keluarga penerima bantuan secara utuh.
Pada sesi berikutnya, Lily Brahma Shi Jie mengulas penggunaan genogram sebagai salah satu alat penting dalam Misi Amal Tzu Chi. Relawan diajak memahami kehidupan keluarga penerima bantuan secara utuh, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga relasi, peran, dan dinamika keluarga yang memengaruhi kesejahteraan mereka.
Sejalan dengan kata perenungan Master Cheng Yen, “Untuk mengurangi penderitaan, kita perlu memahami akar permasalahan dengan hati yang tenang dan penuh welas asih.” Melalui genogram, relawan dapat mengenali struktur anggota keluarga, riwayat kesehatan, hubungan emosional, serta potensi risiko dan kekuatan yang dimiliki setiap keluarga. Dengan demikian, bantuan dan pendampingan dapat diberikan secara lebih tepat dan berkelanjutan.
Leng Leng Shi Jie memaparkan studi kasus penerima bantuan, menegaskan pentingnya data yang tepat dan lengkap agar bantuan tersalurkan secara efektif dan berkelanjutan.
Robert Shi Xiong menyampaikan pesan penutup, menekankan pentingnya pembinaan relawan yang berkesinambungan dan kesiapan menjadi trainer of trainers.
Menjelang akhir pelatihan, Leng Leng Shi Jie membahas studi kasus penerima bantuan. Peserta diajak merangkum materi dari sesi-sesi sebelumnya sekaligus menegaskan pentingnya pengumpulan data yang tepat, lengkap, dan terdokumentasi dengan baik. Data yang akurat dan menyeluruh memungkinkan bantuan disalurkan secara efektif serta menghindari survei berulang yang berpotensi membebani penerima bantuan.
Pelatihan ditutup dengan pesan dari Robert Shi Xiong yang menegaskan pentingnya mengikuti Pelatihan Misi Amal secara berkesinambungan serta berlatih secara konsisten sebagai bagian dari proses pembinaan relawan. Ia mendorong para peserta agar ke depannya siap menjadi trainer of trainers. Robert juga mengingatkan ajaran Master Cheng Yen untuk senantiasa mendengarkan dengan hati yang penuh welas asih, mengambil keputusan dengan kebijaksanaan, dan melangkah bersama dalam pelayanan demi mengurangi penderitaan makhluk hidup.
Bersama menata niat, relawan melangkah seirama dalam satu perahu cinta kasih menuju tujuan mulia: mengurangi penderitaan.
Di akhir pelatihan, Yulfitri Shi Jie selaku koordinator menyampaikan harapannya kepada para peserta. “Saya berharap seluruh pembelajaran yang diperoleh dapat diterapkan dalam pelayanan nyata serta diteruskan kepada relawan lainnya, sehingga nilai-nilai kebajikan Tzu Chi dapat terus tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan,” ungkapnya.
Editor: Anand Yahya