Benih Budi Pekerti di Kamal Muara yang Menyala pada Hari Bakti

Jurnalis : Anie Widjaja (He Qi Angke), Vincent Salimputra (He Qi Pluit), Fotografer : Vincent Salimputra (He Qi Pluit)

Murid-murid memeluk orang tua mereka sambil menitikan air mata, menghadirkan momen keharuan yang hangat dan tulus, memperlihatkan cinta kasih yang dalam antara anak dan orang tua.

“Mama… maafkan saya ya, Ma. Kadang saya suka membantah Mama..”Kalimat lirih itu terdengar di tengah sesi membasuh kaki.

Dengan suara lembut, Tjoeng Mimi, relawan Tzu Chi, menuntun anak-anak mengungkapkan kata-kata yang selama ini tersimpan di hati. Anak-anak berlutut di hadapan orang tua mereka, mengumpulkan keberanian. Tangan-tangan kecil menyentuh tangan dan kaki yang telah lelah bekerja. Beberapa anak menunduk, sebagian menggenggam erat. Percakapan terhenti. Yang tersisa hanyalah isak tertahan dan tarikan napas panjang.

Momen penuh haru tersebut terjadi dalam peringatan Hari Bakti di MI Nurul Islam I, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Mata anak-anak berkaca-kaca saat menyentuh kulit orang tua yang kasar oleh kerja keras. Tidak ada panggung atau pertunjukan. Hanya ruang hening yang dipenuhi keberanian untuk menyampaikan cinta dan penyesalan yang selama ini sulit terucap.

Wardatul Akifah, S.Pd., Kepala Sekolah MI Nurul Islam 1, menyambut Hari Bakti dengan momen penuh makna.

Kegiatan diawali dengan doa bersama untuk menenangkan hati dan menyatukan niat. Kepala Sekolah MI Nurul Islam I, Wardatul Akifah, S.Pd., menyampaikan sambutan, disusul Anie Widjaja mewakili relawan Tzu Chi. Suasana kemudian mencair lewat atraksi Palang Pintu Betawi yang menghadirkan tawa dan decak kagum dari anak-anak serta orang tua.

Dari sudut pandang sekolah, Wardatul Akifah menilai Kelas Budi Pekerti memberi warna penting dalam pendidikan murid. “Menurut saya, Kelas Budi Pekerti sangat baik untuk melengkapi pendidikan di madrasah kami. Anak-anak menjadi lebih aktif dan bersemangat belajar. Suasana kelas yang seru lewat permainan dari siswa Tzu Chi School, ditambah hadiah, membuat mereka cepat tanggap dan antusias mengikuti kegiatan,” ujarnya.

Perubahan itu, menurutnya, bukan sekadar terasa, tetapi nyata terlihat dalam keseharian murid. “Alhamdulillah, seiring waktu terlihat banyak perubahan sikap. Anak-anak kini lebih peduli. Ketika melihat sampah di kelas, langsung dibuang. Jika kelas kotor, segera dibersihkan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa guru dan wali kelas turut merasakan dampak positif dari pembelajaran tersebut. “Guru dan wali kelas sangat bangga dan bersyukur. Nilai-nilai yang ditanamkan relawan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga diterapkan di rumah. Beberapa orang tua menyampaikan langsung bahwa mereka melihat perubahan positif pada anak-anaknya.”

Di tengah pembangunan fisik wilayah Kamal Muara, sekolah tetap menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi utama. “Kami menanamkan akhlak berlandaskan nilai-nilai Islam melalui pelajaran agama, tentang perilaku kepada Allah, orang tua, guru, dan sesama. Kehadiran Kelas Budi Pekerti menjadi pembelajaran tambahan agar akhlak anak-anak semakin positif,” jelasnya.

Baginya, kunci keberlanjutan program terletak pada praktik. “Yang paling penting adalah praktik. Anak-anak lebih cepat menangkap pelajaran melalui praktik langsung dibandingkan teori. Praktik sederhana dan permainan yang melatih daya ingat sangat berkesan dan bermanfaat bagi mereka.”

Anie Widjaja menyampaikan sambutan dan menekankan bahwa MI Nurul Islam 1 yang rampung pada tahun 2024 bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga menanam budi pekerti.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Anie Widjaja menegaskan bahwa MI Nurul Islam I yang rampung pada 2024 bukan semata sebagai ruang belajar akademik. “MI Nurul Islam I bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga menanam budi pekerti. Kelas Budi Pekerti rutin digelar sebulan sekali, dan momen Hari Ibu di bulan Desember menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengungkapkan cinta kasih kepada orang tua,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut selaras dengan nilai yang terus ditekankan dalam Tzu Chi. “Seperti ajaran Master Cheng Yen, ada dua kebaikan yang tidak boleh ditunda, yaitu berbakti kepada orang tua dan berbuat kebaikan.”

Air Mata yang Menyatukan Anak dan Orang Tua
Kelas Budi Pekerti ini digagas oleh komunitas He Qi Angke dan He Qi Pluit sejak Agustus 2024. Kegiatan terakhir berlangsung pada Sabtu 13 Desember 2025, dan diikuti 128 peserta yang terdiri dari murid, orang tua, dan guru, dengan pendampingan 12 relawan. Salah satu rangkaian kegiatan adalah menulis “Surat Cinta” untuk orang tua. Sebuah refleksi tentang kasih yang diterima sejak dalam kandungan, permohonan maaf, dan janji untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Puncak acara adalah sesi membasuh tangan dan kaki orang tua. Dipandu Tjoeng Mimi, anak-anak mengelap tangan dan memijat kaki sambil mengucapkan kalimat sederhana, “Ma, Pa, saya sayang Mama dan Papa.” Tangis pun pecah di berbagai sudut. Anak-anak, orang tua, bahkan relawan larut dalam keheningan yang sarat cinta.

Iin Murniati, S.Pd., guru yang aktif mendampingi relawan selama pendampingan Kelas Budi Pekerti, tak kuasa menahan haru saat berpelukan dengan putranya, Yusuf, siswa kelas 4.

Iin Murniati, S.Pd. (42), wali kelas sekaligus orang tua murid, mengaku tak kuasa menahan haru. “Saya sangat terharu melihat anak saya membasuh kaki sambil menangis dan meminta maaf atas kesalahannya,” tuturnya.

Menurutnya, dampak kegiatan ini terasa hingga ke rumah. “Setelah itu, anak saya lebih menurut dan mau mendengarkan. Ia bahkan mengajak kakak dan adik-adiknya untuk lebih sayang dan berbakti kepada orang tua.”

Sebagai pendidik, ia menilai pengalaman langsung jauh lebih membekas bagi anak. “Anak belajar dengan meniru perilaku orang tua. Orang tua adalah suri teladan pertama yang membentuk karakter, moral, dan potensi mereka.”

Nilai-nilai yang paling ia lihat tumbuh di kelas pun sangat mendasar. “Sopan santun, kejujuran, kedisiplinan, cinta kasih, dan toleransi benar-benar hidup di ruang kelas,” katanya. Ia pun menitipkan pesan sederhana, “Bakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada sesama adalah hal yang tidak boleh ditunda.”

Merry Lestari membacakan surat sebelum memeluk ibunya, Eti. Ia mengucapkan terima kasih atas kesabaran dan kasih sayang sang ibu, mengakui kesalahan dirinya, dan menyampaikan cinta yang sederhana namun penuh makna.

Salah satu Surat Cinta dibacakan oleh Merry Lestari (11) untuk ibunya, Eti (42). Dengan suara bergetar, Merry membaca, “Teruntuk mamaku yang kucintai, terima kasih sudah membesarkan aku dengan penuh ikhlas dan sabar. Aku sudah banyak salah, tapi Mama selalu memaafkan. I love you, Mama.”

Eti mengaku perasaannya bercampur aduk. “Saya terharu, sedih, sekaligus bangga. Merry sudah tumbuh menjadi anak yang berbakti, pintar, dan taat kepada orang tua,” ujarnya. Ia juga merasakan perubahan setelah kegiatan tersebut. “Sekarang dia lebih disiplin dan rajin membantu di rumah. Yang ingin saya jaga dari momen ini adalah keharmonisan keluarga.”

Didampingi relawan, seorang ayah, Nadirin, bersama putrinya, Deliza, tak kuasa menahan haru saat membagikan kesan mereka tentang perayaan Hari Bakti yang menghadirkan momen penuh emosi dan kasih sayang.

Pak Nadirin (50) pun larut dalam haru saat melihat putrinya, Deliza (12), membasuh kakinya. “Saya sangat terharu karena ini pertama kalinya Deliza melakukan hal seperti itu,” katanya. Ia berharap momen tersebut menjadi awal tumbuhnya bakti dalam diri sang anak, seraya berharap program serupa dapat terus dijalankan agar anak-anak Indonesia tumbuh dengan akhlak yang baik.

Perasaan serupa dirasakan Sumiyati (36), yang merawat keponakannya, Sandy (11), sejak bayi. “Saya sangat terharu melihat tangisnya. Saya merasa betapa besar rasa sayangnya, meski saya hanya tantenya,” katanya. Sejak kegiatan itu, Sandy menjadi lebih penurut. “Saya bangga dengan program ini karena bisa menyalurkan perasaan antara anak dan orang tua.”

Air mata Sandy tak tertahankan saat membasuh tangan Sumiyati, tantenya yang telah merawatnya sejak usia 3 bulan, menghadirkan momen haru dan penuh cinta kasih.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surat cinta lainnya, penampilan parodi Malin Kundang, dan ditutup dengan lantunan lagu tentang ibu. Hari itu, pelajaran terindah tidak tertulis di papan tulis, melainkan tumbuh perlahan di hati. Tentang kasih orang tua, syukur seorang anak, dan ikatan yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Anak-anak menutup kegiatan dengan janji sederhana namun penuh makna, “Mama, Papa, saya janji akan selalu berbakti dan menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.”

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Bakti Kepada Orang Tua Tak Kenal Usia

Bakti Kepada Orang Tua Tak Kenal Usia

26 Desember 2018
Tidak mau kalah dengan para murid, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng turut menyelenggarakan Hari Ibu bagi para guru dan stafnya, 21 Desember 2018. Suasana penuh keharuan menyelimuti Aula Gedung C, Sekolah Cinta Kasih.
Cinta Kasih untuk Ibu

Cinta Kasih untuk Ibu

10 Mei 2019

Puncak acara pun tiba, orang tua sudah duduk dengan rapi, kemudian anak-anak mendatangi orang tua mereka masing-masing. Anak-anak ini kemudian memberikan bunga yang mereka buat kepada orang tuanya. Terasa suasana haru dalam acara tersebut.

Penuh Haru di Hari Ibu Internasional

Penuh Haru di Hari Ibu Internasional

09 Mei 2019

Ada yang istimewa pada Kelas Budi Pekerti yang digelar Tzu Chi Bandung pada Minggu, 5 Mei 2019. Hari itu turut diperingati Hari Ibu Internasional, di mana anak-anak dapat mengungkapkan rasa kasih sayang kepada sang Bunda.

Melatih diri adalah membina karakter serta memperbaiki perilaku.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -