Relawan Tzu Chi menyambut para Gan En Hu (Penerima bantuan) dengan disuguhi makanan berbuka puasa yang bergizi dan minuman segar yang disiapkan relawan tim konsumsi dengan cinta kasih dan kesungguhan hati. Relawan juga membagikan nasi kotak yang boleh dibawa pulang.
Matahari sore bersinar cerah ketika para penerima bantuan (Gan En Hu) dan anak asuh Tzu Chi berdatangan ke Depo Pelestarian Lingkungan Mandala di Jalan Pukat Gang Indah No. 17, Medan. Mereka disambut hangat oleh para relawan, layaknya keluarga yang telah lama saling mengenal. Setelah mengisi daftar hadir, para tamu diarahkan menuju lantai tiga untuk mengikuti acara yang telah dipersiapkan. Bagi penerima bantuan yang tidak leluasa berjalan, relawan menyiapkan tempat di lantai satu agar tetap dapat mengikuti acara dengan nyaman.
Sabtu, 7 Maret 2026, tepat dua pekan menjelang Hari Raya Idul Fitri, sebanyak 135 penerima bantuan Muslim beserta pendamping menghadiri acara buka puasa bersama yang diselenggarakan relawan Tzu Chi Medan dari komunitas Hu Ai Mandala. Para peserta terdiri dari penerima bantuan tetap seperti santunan biaya hidup, bantuan beras, BPJS serta anak-anak asuh Tzu Chi.
Setelah menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, momen berbuka puasa bersama menjadi saat yang dinanti. Selain sebagai waktu untuk menikmati hidangan setelah seharian berpuasa, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta memperkuat rasa kebersamaan.
Ustad Ir. Abdul Aziz memberikan siraman rohani sebagai pengantar berbuka puasa yang bertemakan pendidikan Ramadan yang diawali dengan penjelasan hakikat puasa, meningkatkan ketakwaan, dan ketakwaan sosial terhadap sesama.
“Buka puasa bersama ini bertujuan memupuk kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi antara relawan dan Gan En Hu. Mereka sangat bahagia dapat berkumpul dan saling berbagi cerita tanpa memandang latar belakang,” ujar Nicholas Leonardi, koordinator kegiatan.
Nicholas menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang mencerminkan nilai toleransi dan kepedulian. Yayasan Buddha Tzu Chi senantiasa menjunjung prinsip kemanusiaan tanpa membedakan agama, suku, golongan, ras, maupun latar belakang.
Acara yang didukung oleh 50 relawan dan dua anggota TIMA (Tenaga Medis Tzu Chi) ini dimulai pukul 17.30 WIB dan dipandu oleh Wilson Arthur Zein. Para peserta yang berada di lantai satu tetap dapat mengikuti jalannya acara melalui layar proyektor yang disiapkan relawan.
Koordinator Misi Amal Hu Ai Mandala, Simin, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran para penerima bantuan yang telah meluangkan waktu untuk berkumpul dalam suasana penuh kehangatan.
“Melalui buka puasa bersama ini, kami berharap kebersamaan yang terjalin dapat semakin mempererat persaudaraan dan memperkuat semangat saling menghormati serta saling membantu di tengah masyarakat,” ujar Simin.
Pembacaan ayat Al Qur’an (tilawah) Surah Al Baqarah ayat 183 – 185 yang indah disertai terjemahan (saritilawah) oleh penerima bantuan dari Tanjung Morawa, Erlina Saragih (kanan) dan Ines (kiri), yang berisi petunjuk untuk menjalankan puasa dengan benar dan sempurna.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surah Al-Baqarah oleh Erlina Saragih dan Ines, penerima bantuan dari Tanjung Morawa. Lantunan ayat suci tersebut menambah suasana khidmat menjelang waktu berbuka.
Dalam kesempatan itu, ustaz Ir. Abdul Aziz menyampaikan ceramah bertema pendidikan Ramadan. Ia menjelaskan bahwa puasa tidak hanya meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial. Ramadan, menurutnya, menjadi sarana untuk melatih kejujuran, kesabaran, disiplin, dan empati terhadap sesama.
“Puasa melatih kesabaran menahan hawa nafsu, menanamkan kesederhanaan, serta meningkatkan kepedulian melalui berbagi kepada sesama. Ramadan juga menjadi madrasah untuk membentuk pribadi yang jujur dan berakhlak,” ujarnya.
Selain ceramah, para hadirin dihibur dengan penampilan bahasa isyarat tangan lagu Satu Keluarga yang dibawakan para relawan. Lagu tersebut mengandung pesan persaudaraan universal bahwa seluruh manusia hidup dalam satu keluarga besar yang saling peduli dan menebarkan kasih sayang tanpa memandang perbedaan.
Para penerima bantuan Tzu Chi menikmati panganan berbuka puasa dalam suasana kekeluargaan dengan iringan musik bernuansa Ramadan. Acara buka puasa ini dihadiri 135 penerima bantuan Tzu Chi (Muslim) beserta pendamping menghadiri acara buka puasa bersama.
Ketika azan Magrib berkumandang, para peserta dipandu menuju lantai dua untuk menikmati hidangan berbuka puasa berupa kurma, aneka kue, puding, dan minuman segar yang disiapkan relawan dengan penuh perhatian. Relawan juga membagikan nasi kotak yang dapat dibawa pulang.
Suasana kebersamaan terasa hangat. Para relawan melayani dan mendampingi penerima bantuan dengan sepenuh hati. Sebagian peserta melaksanakan salat Magrib berjamaah yang dipimpin oleh ustaz Abdul Aziz sebelum melanjutkan makan bersama.
Di akhir acara, relawan membagikan parsel Lebaran sebagai bentuk perhatian untuk membantu meringankan kebutuhan penerima bantuan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Anwar Fuadi (59), penerima bantuan santunan biaya hidup sejak 2018, mengaku sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. “Saya sangat senang bisa hadir. Meskipun tidak bisa naik ke lantai tiga, relawan tetap memperhatikan kami dengan menyediakan layar proyektor. Hati saya terasa lapang dan bahagia,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Emi Sutrianti (63), penerima bantuan beras sejak 2025 yang kini tinggal sendiri dan bekerja sebagai asisten rumah tangga. “Saya sangat bersyukur diundang dalam acara ini. Ceramahnya membuka hati saya, dan relawan melayani dengan sangat tulus,” katanya.
Relawan membagikan parsel lebaran kepada penerima bantuan di akhir acara sebagai wujud perhatian Yayasan Tzu Chi kepada penerima bantuan yang akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah .
Ketua He Qi Jati, Lim Ik Ju, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, bulan Ramadan menjadi momen untuk berbagi berkah dan menebarkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Buka puasa bersama ini bukan sekadar menikmati hidangan setelah berpuasa, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan menumbuhkan empati. Melalui kebersamaan inilah semangat cinta kasih yang menjadi nilai utama Yayasan Buddha Tzu Chi terus hidup dan menginspirasi.
Editor: Anand Yahya