Berbagi Cerita Membawa Semangat Kemandirian

Jurnalis : Wie Sioeng, Fammy (He Qi Timur), Fotografer : Fammy, Willy Japri, Wie Sioeng, Yusdeli Aimei (He Qi Timur)

gathering gan en hu

Pada Minggu, 6 September 2015 insan Tzu Chi komunitas He Qi Timur, Hu Ai Kelapa Gading mengadakan pertemuan rutin dengan para penerima bantuan Tzu Chi (gan en hu) di Depo Pelestarian Lingkungan Kelapa Gading.

Pada Minggu, 6 September 2015, pukul 7:45, suasana di Depo Pelestarian Lingkungan Kelapa Gading yang terletak di Jalan Pegangsaan Dua sudah ramai. Banyak orang berdatangan dan melakukan pemilahan barang daur ulang seperti botol plastik, kaleng, kertas, dan kardus.

Ternyata mereka ini adalah para penerima bantuan Tzu Chi atau yang biasa disebut gan en hu. Memang, pada hari Minggu pertama setiap bulannya, insan Tzu Chi komunitas rutin mengadakan pertemuan dengan para gan en hu. Tak terkecuali insan Tzu Chi dari komunitas He Qi Timur, Hu Ai Kelapa Gading.

Sembari menunggu kegiatan dimulai, para gan en hu yang telah datang melakukan pemilahan barang daur ulang. Saat melakukan daur ulang terlihat rasa kebersamaan, keakraban, dan kekeluargaan muncul di antara para gan en hu. Para gan en hu menjalin silaturahmi satu sama lain dengan bertukar cerita dan pengalaman saat melakukan pemilahan barang daur ulang.

Di sisi lain, para relawan yang telah hadir mulai mempersiapkan pembagian bantuan. Pukul 9 pagi, aktivitas pemilahan selesai dan pertemuan rutin dimulai. Memang, pertemuan bulanan kali ini sedikit berbeda. Biasanya, pertemuan bulanan dilakukan di Toko Buku Jing Si Kelapa Gading. Namun, kali ini lokasi dialihkan ke depo daur ulang dengan dikelilingi dengan karung-karung berisi barang daur ulang.

gathering gan en hu

Sembari menunggu kegiatan pertemuan dimulai, para gan en hu melakukan pemilahan barang daur ulang di depo.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Selain karena lokasi pertemuan sebelumnya sedang dalam renovasi, di depo, para gan en hu dapat lebih menjalin kebersamaan satu sama lain. Wie Sioeng, relawan Tzu Chi yang juga Koordinator kegiatan ini menuturkan, “Karena pemilahan barang daur ulang di sini bukanlah meminta mereka kerja tapi merupakan ajang kebersamaan dan dianggap olah raga ringan di pagi hari secara bersama-sama.”

Sebanyak 74 gan en hu yang terdiri dari 51 penerima bantuan pengobatan dan bantuan biaya hidup serta 23 anak asuh penerima bantuan biaya pendidikan mengikuti kegiatan ini. Pertemuan hari itu juga diisi dengan sharing dari para gan en hu dan juga yang sudah tidak lagi menerima bantuan.

gathering gan en hu

Azhar (kanan), penerima bantuan yang mengambil bantuan terakhirnya mengungkapkan syukurnya telah dibantu dan didampingi oleh relawan Tzu Chi.

Adalah Azhar, yang mendapat bantuan biaya pengobatan kedua putrinya, Zharta Putri (5) dan terutama untuk Rafa Naufa (3),  pada tahun 2012 silam. Rafa Naufa saat berusia satu hari mengalami gangguan pernafasan. “Tapi Alhamdulilah, keadaan kedua anak saya, khususnya Rafa saat ini sudah membaik, sudah semakin sehat. Kebetulan juga Alhamdulilah, hari ini, bulan ini yang terakhir saya menerima bantuan, karena ekonomi pribadi kami sudah semakin membaik,” cerita Azhar di depan para gan en hu.

Dia juga bersyukur atas bantuan dan pendampingan yang diberikan oleh Tzu Chi selama tiga tahun ini. “Saya sangat berterima kasih, dengan Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu masa-masa sulit kami selama ini. Agar juga Yayasan Buddha Tzu Chi dapat memberikan dana bantuan kepada orang lain lagi yang lebih membutuhkan,” pungkas Azhar.

Berharap Bisa Mandiri

Yenny (31) sudah terlihat sejak pagi di depo daur ulang. Dia terlihat sibuk memilah-milah barang daur ulang. Hari itu, Yenny datang untuk mengambil biaya hidup dan pengobatan untuk ayahnya, Pang Cing Tek(60), yang mengalami kelumpuhan permanen akibat kecelakaan motor pada 2008 lalu. Setahun sejak kecelakaan itu, mereka mulai berjodoh dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melalui kenalan ayahnya.

gathering gan en hu

Yenny berharap dia dan keluarganya dapat segera mandiri sehingga dapat berdiri sendiri seperti Azhar.

Yenny seorang diri bertanggung jawab atas ayahnya, karena ibu Yenny telah meninggal karena kanker beberapa bulan sejak ayahnya kecelakaan. Menurutnya, bantuan yang diberikan oleh Tzu Chi memberikan manfaat bagi ayahnya. “Terutama untuk biaya membeli obat, semua bantuan yang diterima itu full untuk biaya berobat papa. Kalau untuk pengeluaran sehari-hari itu dikeluarkan dari penghasilan saya bekerja di salah satu showroom di daerah Cideng,” cerita Yenny.

Yenny juga bercerita bahwa kondisi ayahnya juga bahagia ketika mendapat kunjungan dari para relawan Tzu Chi. “Saat papa saya dikunjungi saat survei oleh relawan-relawan Tzu Chi, yang saya perhatikan papa itu senang sekali, merasa diperhatiin, bisa berbagi cerita, apa yang dipendam bisa dikeluarkan, mulai ada semangat lagi,” kenangnya.

Namun, perasaan senang juga dirasakan oleh dirinya. “Saya pribadi datang ke sini dengan perasaan senang. Kita kerja walau kotor-kotoran tapi hati juga senang. Saya juga punya satu harapan satu saat nanti ketika ekonomi saya sudah membaik saya pun mau seperti orang lain yang tidak menerima bantuan lagi,” pungkas Yenny.


Artikel Terkait

Dengan keyakinan yang benar, perjalanan hidup seseorang tidak akan menyimpang.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -