Berbagi Kebahagiaan
Jurnalis : Miki Dana (Tzu Ching), Fotografer : Miki Dana & Helen Yuliyanti (Tzu Ching)|
|
| ||
| Anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini seluruhnya adalah perempuan. Mereka juga menuntut ilmu di Sekolah Hati Suci yang berada di dalam kompleks panti asuhan. Dalam panti asuhan ini terdapat 49 anak perempuan yang berusia mulai dari 5 sampai dengan 18 tahun. Ekspresi gembira dan penasaran terukir di wajah polos mereka saat anggota Tzu Ching tiba di panti asuhan tersebut. Saat itu, dari 49 anak panti asuhan ada 3 orang yang tidak bisa ikut dalam kunjungan kasih hari itu. Mereka tidak dapat hadir karena keesokan harinya harus menempuh Ujian Nasional (UN) untuk siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) seluruh Indonesia. Satu sikap yang harus kita contoh dari mereka yang tetap fokus belajar agar dapat lulus dengan hasil yang memuaskan.
Keterangan :
Dalam kunjungan kasih itu, anak-anak panti diajarkan membuat celengan bambu yang terbuat dari tempat shuttlecock (bola di permainan bulutangkis) yang sudah tidak terpakai lagi dan kemudian dihias agar menjadi lebih menarik. Kegiatan ini bertujuan agar anak-anak dapat belajar memanfaatkan barang-barang bekas agar dapat dipergunakan kembali sekaligus menggali kreativitas mereka. Celengan yang sudah jadi tersebut nantinya dapat dipergunakan anak-anak panti untuk belajar menabung. “Kami sangat terbuka atas kehadiran dari insan Tzu Chi karena dengan kegiatan ini anak-anak bisa belajar bersama. Tadi juga dengan membuat celengan bambu, hal ini dapat menggali kreativitas mereka,” ujar Ibu Lisiana, pengasuh Panti Asuhan Hati Suci yang sudah pernah mengikuti kegiatan sosialisasi relawan Tzu Chi di Kantor Tzu Chi Jakarta. Hari itu para anggota Tzu Ching juga tidak lupa mengajak adik-adik ini mengenal dan belajar isyarat tangan yang merupakan salah satu budaya humanis Tzu Chi. Setiap gerakan isyarat tangan yang diajarkan membuat adik-adik ini tersenyum gembira. Mereka sangat menikmati dan mengikuti setiap gerakan yang dibawakan oleh anggota Tzu Ching. Sebagai kado kecil, para Tzu Ching memberikan buku tulis dan cokelat.
Keterangan :
Saat mereka bermain bersama pun tidak kalah serunya. Games yang kali ini dibawakan adalah semua Tzu Ching dan adik-adik panti dibagi menjadi 12 kelompok. Setiap kelompok diikat menjadi satu lingkaran. Tugas mereka adalah mencari harta karun terpendam yang berupa kertas dengan bentuk dan warna yang telah disiapkan sebelumnya oleh panitia. Sore itu hari semakin meriah karena para Tzu Ching dan adik-adik panti saling sorak dan tarik-menarik di antara mereka. Inti kesuksesan dari permainan ini adalah setiap orang yang bermain harus dapat kompak berkerja sama dalam upaya mencari harta karun yang terpendam. Hadi Swantara, koordinator kunjungan kasih mengaku merasa gembira dan puas dapat berbagi kebahagiaan dengan adik-adik panti ini. “Kalau kita ingin mengajarkan sesuatu kepada orang lain, maka harus kita mulai dari yang kecil dulu. Kalau dari kecil sudah terdidik dengan benar maka ke depannya anak tersebut dapat menjadi anak yang baik. Jadi dengan melakukan kunjungan ke panti asuhan, saya ingin bisa membagikan budaya humanis Tzu Chi kepada anak-anak panti,” ujar Hadi yang menurutnya hal itu sesuai dengan Kata Perenungan dari Master Cheng Yen berikut ini: “Kebahagian adalah perasaan gembira yang berasal dari dalam hati, bukan merupakan kenikmatan yang dirasakan oleh jasmani.” | |||
Artikel Terkait
Berbagi Kebahagian dengan Gan En Hu
27 Juni 2012 Kegiatan pertemuan Gan En Hu kali ini berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, di mana relawan-relawan Tzu Chi yang mendatangi rumah mereka. Kali ini para Gan En Hu diundang secara langsung untuk pulang ke rumah Tzu Chi.Menghimpun Cinta Kasih Lewat Donor Darah
21 Desember 2021Relawan Tzu Chi Palembang komunitas Xie Li Kemuning mengadakan kegiatan donor darah di Depo Pelestarian Lingkungan Soak, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang.
Ada Tekad Tentu ada Tenaga
21 Juni 2019Tujuh puluh tiga relawan Calon Komite Tzu Chi mendalami Dharma dengan mengikuti pelatihan pada Minggu, 16 Juni 2019. “Tujuannya agar lebih mengerti Dharma, serta memahami tugas dan tanggung jawab sebagai murid Master Cheng Yen,” kata Desnita, koordinator kegiatan ini.










Sitemap