Sebanyak 30 peserta mengikuti persembahan makanan vegetarian. Melalui persembahan makanan vegetarian ini mengajak semua untuk memaknai bulan tujuh untuk melindungi kehidupan dengan bervegetaris.
Sebagai manusia yang tinggal di atas bumi, hendaknya kita harus melindungi dan mengasihi semua makhluk hidup dan lingkungan. Untuk itu kita harus menjaga dan melindungi bumi. Kita harus memiliki pandangan benar, supaya arah tujuan hidup kita benar dan tidak tersesat. Dalam kehidupan ini kadang kita tidak menyadari kesalahan yang kita lakukan, untuk itu kita butuh bimbingan dan ajaran yang benar. Untuk itulah Yayasan Buddha Tzu Chi Pekanbaru menggelar serangkaian acara untuk memberikan pandangan benar mengenai Bulan Tujuh Penuh Berkah.
Doa Bulan Tujuh Penuh Berkah dimulai dengan persembahan makanan nabati di lantai satu Kantor Tzu Chi Pekanbaru yang diikuti oleh 30 peserta. Salah peserta persembahan makanan, Ahui, setiap tahun rutin memberi persembahan pada kegiatan ini.
“Karena biasanya di bulan tujuh memang sudah memang bulannya untuk pelimpahan jasa, jadi kita ada acara gitu, kita harus ikut pelimpahan jasa. Semoga semua makhluk hidup berbahagia, dunia ini aman dan sentosa, bukan untuk kita saja tapi semuanya, untuk semua makhluk, semua orang di dunia,” harapnya.

Dengan penuh khidmat, relawan Tzu Chi menjalankan Persamuhan Sutra Makna Tanpa Batas.
Acara kemudian dilanjutkan dengan memberi persembahan pelita, bunga, dan buah di hadapan Rupang Buddha. Dengan penuh ketulusan berharap ajaran Buddha bisa disebarkan kepada masyarakat. Melalui Persamuhan Sutra Makna Tanpa Batas, peserta diajak untuk memahami prinsip kebenaran.
Salah satu relawan Tzu Chi, Sala Katina yang mengikuti persamuhan juga merasakan manfaat dari rangkaian kegiatan ini. “Apalagi lagu Dharma gitu, setiap kali dengar buat tubuh terasa lebih tenang, walaupun dalam latihan terasa capek karena pulang kerja langsung ke sini. Tapi pulang dari huiso, ada perasaan kayaknya wah hari ini tambah ilmu lagi gitu,” ungkapnya.
Memasuki bulan Tujuh warga Tionghoa menjalani tradisi turun temurun sembahyang kepada leluhur. Melalui drama yang dilakonkan, menyampaikan makna sembahyang leluhur untuk mengenang jasa kebajikan orang tua. Sesungguhnya berbakti kepada orang tua sebaiknya dilakukan pada saat orang tua masih hidup. Setelah orang tua meninggal kita bisa menggunakan tubuh pemberian orang tua untuk berbuat kebajikan.

Salah satu peserta, Katina merasakan ketenangan melalui lagu Dharma. Meski lelah sepulang kerja, persamuhan membuatnya mendapat ilmu dan semangat.
Dalam memberi persembahan kepada leluhur sebaiknya menggunakan nabati, seperti buah, kue dan makanan vegetarian, karena kita harus melindungi dan mengasihi semua makhluk hidup.
Salah satu relawan Tzu Chi, Herman yang terinspirasi dari ceramah Master Cheng Yen, memutuskan untuk tidak membakar kertas sembahyang dan mendonasikan dananya untuk amal kebajikan.
“Salah satu adalah dari ceramah Master tentang asal usul membakar kertas sembahyang ini, terus sharing dari almarhum Kun Hua shixiong, dia mengatakan uang kertas sembahyang itu bisa untuk donasi ke celengan, dan uang itu bisa dipakai untuk membantu orang yang lebih membutuhkan. Itu salah satu alasan kenapa saya waktu itu sudah tidak melakukan membakar kertas sembahyang,” ungkapnya.
Begitu juga dengan relawan Tzu Chi lainnya, Elisah yang sudah punya pandangan dan niat untuk tidak membakar kertas sembahyang. Ia pun menyampaikan kepada ibu mertuanya dan mendapat dukungan dari ibu mertua yang bijaksana.
“Dari awal niat memang ada ya, tapi kita masih ada orang tua butuh persetujuan orang tua, jadi kami sampaikan, memang luar biasa ya mertua saya, dia punya pandangan yang benar,” jelasnya.

Setelah acara doa bersama selesai di lantai 3, para tamu diajak ke lantai 2 untuk mengunjungi beberapa stand yang ada. Salah satunya adalah celengan pelimpahan jasa yang dibagikan bagi yang berminat.
Zhang Mei Li, relawan Tzu Chi yang sudah sekitar 30 tahun tidak membakar kertas sembahyang. Awalnya, ia belum menjalankan pola hidup vegetarian dan masih melakukan kebiasaan membakar kertas sembahyang. Hingga suatu saat, Zhang Mei Li menyampaikan kepada suaminya untuk tidak membakar kertas sembahyang lagi.
“Saya pikir itu tidak baik juga, suami saya juga bilang jangan bakar lagi nanti kena asap. Saya pun merasa iya juga, tidak bakar kertas sembahyang. Terus dia juga ajak saya makan vegetarian, saya kayak ya sudahlah saya ikut saja karena suami saya sudah vegetarian juga,” tuturnya.
Zhang Mei Li kemudian mulai menjalankan vegetarian selama satu bulan saat mengikuti persamuhan Dharma Pertobatan Air Samadhi, hingga akhirnya kebiasaan tersebut berlanjut atas saran dan dukungan dari suaminya.
Selain itu, para relawan juga mengajak para tamu undangan untuk turut berdonasi bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana gempa di NTT.
Setelah acara doa bersama selesai di lantai 3, para tamu diajak menuju lantai 2 untuk mengunjungi berbagai stan yang telah disediakan. Terdapat celengan pelimpahan jasa yang dapat dibawa oleh tamu yang berminat, serta kegiatan doa dengan mempersembahkan celengan yang telah mulai diisi sejak awal bulan tujuh lunar sebagai bentuk pelimpahan jasa kepada leluhur.
Di area tersebut juga terdapat Jing Si Wisdom Wheel, di mana para tamu dapat memutarnya. Nomor yang diperoleh akan dibuka melalui layar TV untuk mendapatkan Kata Perenungan dari Master Cheng Yen. Selain itu, tersedia pula spot foto yang menarik bagi para tamu yang ingin mengabadikan momen dan membagikannya di media sosial sebagai bentuk tekad untuk menjalankan pola hidup vegetarian.
Setelah selesai mengunjungi stan di lantai 2, para tamu dapat menikmati hidangan vegetarian dan minuman yang telah disiapkan oleh tim relawan konsumsi dengan penuh cinta kasih dan sukacita.
Setelah selesai mengunjungi stand di lantai 2, terdapat makanan vegetarian dan minuman yang siap untuk disantap untuk semua peserta, berkat cinta kasih para tim relawan konsumsi menyiapkannya dengan penuh sukacita.
Tujuan diadakan acara Bulan Tujuh Penuh Berkah adalah untuk mengubah pandangan masyarakat yang selama ini menganggap bulan tujuh sebagai bulan hantu. Namun, dalam ajaran Buddha, bulan tujuh merupakan bulan penuh berkah dan bulan untuk berbakti kepada orang tua.
Kita bisa lakukan dengan cara bisa bervegetarian, bisa berbuat kebajikan, bisa kita limpahkan kepada leluhur kita, yang biasanya kita bakar kertas sembahyang, tapi kita bisa berbuat kebajikan untuk melimpahkan jasa kepada mereka. Semoga semua semakin banyak orang ingin bervegetarian, mengurangi bencana di bumi,” ujar Lili, relawan Tzu Chi.
Editor: Fikhri Fathoni