Buah Manis Penantian untuk Tinggal Rumah yang Layak

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari, Dok. Tzu Chi

Kondisi rumah Cicih sebelum dibedah, saat relawan pertama kali melakukan survei. Posisi lantai rumah lebih rendah dari jalan, dengan pintu masuk yang pendek sehingga penghuni harus menundukkan kepala saat masuk.

“Lihat rumah kayak gini, aduh giranggg, Neng. Udah nggak bisa ngomong gimana girangnya. Bukan senang lagi lah, pokoknya nggak bisa berkata-kata.” Senyum lebar dan nada suara yang penuh kegembiraan mengiringi cerita Cicih, salah satu warga Kamal Muara ketika melihat rumahnya yang kini jauh lebih layak.

Dulu, air banjir bisa masuk hingga sepinggang orang dewasa. Setiap kali banjir datang, Cicih tidak pernah bertahan di rumah. Ia memilih mengungsi ke masjid sementara suaminya menunggu rumah di bale di depan rumahnya sembari beristirahat. Pakaian dan barang-barang lainnya terpaksa ditinggalkan. Hanya surat-surat penting yang dititipkan kepada tetangga agar tetap aman.

Atap rumahnya sebenarnya cukup tinggi, tetapi bagian dalamnya begitu pendek sehingga ia harus menundukkan kepala ketika masuk. Kondisi itu menjadi bagian dari keseharian yang dijalaninya selama bertahun-tahun. “Atuh neng, masuk rumah aja mesti hormat, nunduk kita saking pendeknya,” candanya.

Dalam keadaan itu, Cicih tak bisa minta tolong ke siapapun karena tetangganya pun banyak yang mengalami kesulitan serupa. Rumah-rumah di sekitarnya sama-sama rentan terhadap banjir. “Ya dinikmati aja sambil ngimpi rumahnya bisa bener,” katanya.

Bagian dalam rumah Cicih yang kerap terendam banjir ketika musim hujan hingga masuk ke dalam rumah.

Kehidupan keluarga Cicih dan Mawardi berjalan sederhana. Cicih mengurus rumah tangga sambil membuka warung jajanan di depan rumah, sementara Mawardi bekerja sebagai pengemudi ojek. Penghasilan suaminya tidak selalu menentu. Jika masih ada pelanggan tetap, ia bisa memperoleh sekitar Rp50.000 hingga Rp75.000 per hari, tetapi belakangan pelanggan semakin berkurang.

Anak keduanya yang bekerja di salah satu SPBU juga sedang tidak bekerja karena kondisi lapangan yang sepi. Sementara itu, anak bungsunya masih bersekolah. Dalam keadaan seperti ini, memperbaiki rumah tentu bukan perkara mudah.

Keinginan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah sebenarnya sudah disampaikan sejak 2019. Saat pertama kali mengenal relawan Tzu Chi, ia langsung disarankan untuk mengajukan bantuan. Sejak itu, Cicih mulai menaruh harapan. Namun, waktu terus berjalan dan rumahnya belum juga mendapat giliran.

Para relawan yang berkegiatan di kawasan tersebut kerap melewati rumahnya. Dan setiap kali berpapasan, ada saja yang menyapa dan memberikan semangat. “Kalau Pak Teksan (relawan Tzu Chi) lewat juga sering nyapa sambil ngusap punggung sambil bilang, ‘Sabar ya, Bu. Sabar...’ Hahaha… Dia yang paling paham,” kenangnya sambil tertawa.

Cicih dan Mawardi duduk bersantai di bale depan rumah sambil mengenang masa-masa ketika rumah mereka kerap kebanjiran. Saat air menggenangi rumah, Mawardi biasa menunggu di bale tersebut.

Kini, delapan tahun berlalu sejak ia mulai mengajukan bantuan. Namanya menjadi salah satu dari lima penerima bantuan bedah rumah Program Bebenah Kampung Tzu Chi di Kamal Muara tahap ketujuh. Ada kelegaan yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia mengibaratkan perasaannya seperti bisul yang akhirnya pecah setelah lama terasa nyeri. “Udah nggak cenut-cenut lagi,” katanya, menggambarkan beban yang perlahan terangkat.

Kini, rumah yang dahulu kerap digenangi air telah berubah menjadi tempat tinggal yang lebih nyaman. Ada dapur yang layak, pintu, penerangan, ventilasi, serta lantai keramik yang tak lama lagi bisa ditinggali. Perasannya sungguh sangat bahagia.

“Saya terima kasih banget buat Tzu Chi dan semua relawannya. Semoga ke depannya kalau ada rezeki bisa dipakai buat keperluan yang lain, bisa buat hidup lebih baik,” ucapnya.

Menanamkan Kepedulian
Kegembiraan Cicih turut dirasakan para relawan yang hadir dalam kegiatan Ceremony Pengecatan Lima Rumah Penerima Bantuan Bedah Rumah Kamal Muara Tahap Ketujuh Sabtu 17 Oktober 2026 lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari kebersamaan sebelum rumah-rumah tersebut diserahterimakan kepada para penerima bantuan.

Ada 41 relawan yang ikut serta, mulai dari relawan Badan Misi Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi, siswa Tzu Chi School, relawan Agung Sedayu Group (ASG), hingga relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 1. Mereka datang dan terlibat langsung dalam proses pengecatan.

Arsenus Julianto (kiri) mengajarkan cara mengecat dinding kepada para siswa, termasuk Alvin Tho (kanan), dalam kegiatan pengecatan rumah penerima bantuan bedah rumah di Kamal Muara.

Steven Kurniawan, penanggung jawab Program Bedah Rumah Kamal Muara tahap ketujuh menuturkakn kegiatan pengecatan menjadi kesempatan untuk merayakan hasil kerja bersama. “Hari ini merupakan wujud sukacita. Kita melibatkan relawan dari berbagai unsur. Inilah kebersamaan kita, menjalin jodoh baik, dan menciptakan rasa kekeluargaan,” ujarnya.

Salah satu peserta yang ikut memegang kuas adalah Alvin Tho, siswa kelas X Tzu Chi School. Baginya, pengalaman mengecat rumah warga menjadi pengalaman baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Di rumah nggak pernah ngecat. Ini pertama kali buat saya,” katanya sambil tertawa.

Pengalaman itu meninggalkan banyak kenangan untuk Alvin karena cat tidak hanya menempel pada dinding, tetapi juga mengenai rambut, kacamata, tas, bahkan handphone-nya. Namun, Alvin justru merasa senang karena bisa ikut membantu secara langsung. Saking senangnya, Alvin menuturkan bahwa, bagian dinding yang ia cat kini menjadi tanda bahwa dirinya pernah ikut serta dalam membantu keluarga Mawardi dan Cicih.

“Senang bisa bantu mereka. Hasil ngecat saya itu bisa jadi tanda bahwa saya pernah bantu ngecat di rumah mereka, dan itu akan ada di sana selamanya. Ada tanda saya di sana, nanti jadi kenan-kenangan juga,” tuturnya senang.

Natalia Kusumo dan Steven Kurniawan bersama-sama mengecat dinding rumah dalam kegiatan pengecatan rumah penerima bantuan bedah rumah di Kamal Muara.

Tak hanya pengalaman mengecat, kunjungan itu membuat Alvin melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Ia menyadari bahwa kenyamanan yang selama ini dinikmatinya di rumah tidak selalu dimiliki orang lain. Padahal di rumah, ia mengaku terkadang merasa keberatan ketika diminta ibunya membersihkan kamar atau garasi. Namun, ketika berada di Kamal Muara, ia justru dengan senang hati ikut membersihkan dan mengecat rumah warga.

Pengalaman ini membuatnya ingin mengubah kebiasaan di rumah. Ia berharap bisa lebih rajin membantu ibunya, bukan hanya ketika diminta. Alvin juga menyampaikan harapannya bagi keluarga penerima bantuan. “Semoga bapak dan ibunya sehat selalu, semoga ke depan lebih bagus hidupnya.”

Cicih dan Mawardi turut mengecat rumah mereka bersama para relawan. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari sukacita menyambut rumah yang kini lebih layak huni.

Cinta Kasih yang Turun Langsung ke Lapangan
Bagi Arsenus Julianto, guru pendidikan jasmani Tzu Chi School yang mendampingi para siswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan melalui pengalaman nyata. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas karena anak-anak juga perlu belajar memahami keadaan orang lain, membantu sesama, serta menyadari bahwa pekerjaan sederhana sekalipun dapat menjadi bentuk kepedulian.

“Ya mungkin mereka di masa depan mereka nggak akan ngecat, tapi setidaknya mereka tahu. Dan mereka bilang ternyata menyenangkan juga,” ujar Arsenus. “Bahkan, beberapa siswa pengen terus ngecat sampai seluruh bagian rumah selesai,” lanjutnya antusias.

Senyum lega terpancar dari wajah Cicih dan Mawardi setelah kegiatan pengecatan rumah selesai. Tak lama lagi, rumah yang telah diperbaiki dapat mereka tempati dengan lebih nyaman.

Sementara itu, Natalia Kusumo, Ketua Tzu Chi Agung Sedayu Group yang mengajak para relawan ASG untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, merasa terharu melihat kebahagiaan para penerima bantuan. Menurutnya, perubahan rumah yang sebelumnya kerap terendam banjir menjadi tempat tinggal yang lebih layak dapat menjadi fondasi bagi kehidupan keluarga yang lebih baik. Ia juga ingin mengajak para relawan memahami bahwa kepedulian tidak berhenti pada sumbangan materi.

“Hari ini excited banget relawan Tzu Chi ASG ikut ke sini. Dengan kita turut serta harti ini, sebenernya kita mau kasih tahu relawan lain juga bahwa dengan kita ikut langsung ke lapangan, kita bisa lebih merasakan dan memberikan cinta kasih. Jadi tangan, kaki, dan hati harus ikut peduli dan bersumbangsih,” ujarnya.

Tim pengecatan berfoto bersama di depan rumah Cicih dan Mawardi yang telah selesai diperbaiki melalui Program Bebenah Kampung Tzu Chi di Kamal Muara tahap ketujuh.

Natalia berharap, bantuan yang diterima warga tidak hanya menghadirkan rumah yang lebih layak, tetapi juga menumbuhkan keinginan untuk berbagi dengan sesama. Ia ingin warga memahami bahwa mereka juga memiliki kesempatan untuk menanam berkah, sekecil apa pun bentuknya. Menurutnya, berbagi tidak akan mengurangi rezeki. Kepedulian pun dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi pengeluaran untuk rokok dan menyisihkan sebagian uang untuk kebutuhan yang lebih bermanfaat. Jika memungkinkan, uang tersebut juga dapat dimasukkan ke dalam celengan bambu Tzu Chi sebagai bentuk sumbangsih untuk membantu warga lain yang membutuhkan.

“Jadi, mereka yang menerima bantuan juga bisa ikut menciptakan berkah. Dengan begitu, mereka tidak hanya menerima cinta kasih, tetapi juga berkesempatan meneruskannya kepada orang lain. Apalagi, di Kamal Muara masih banyak warga yang membutuhkan bantuan,” ujar Natalia.

Editor: Arimami Suryo A

Artikel Terkait

Program Bedah Rumah Tahap 2 Kamal Muara: “Rumah Ini Mau Saya Tempati Seumur Hidup Saya”

Program Bedah Rumah Tahap 2 Kamal Muara: “Rumah Ini Mau Saya Tempati Seumur Hidup Saya”

28 Januari 2022

Bantuan bedah rumah yang dilaksanakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia saat ini tengah dalam proses pembangunan.

Bedah Rumah Tzu Chi Tahap ke-2 di Kamal Muara Sebentar Lagi Rampung

Bedah Rumah Tzu Chi Tahap ke-2 di Kamal Muara Sebentar Lagi Rampung

24 Maret 2022

Membantu mengangkat taraf hidup masyarakat Kamal Muara. Itulah yang selama ini diupayakan Tzu Chi Indonesia, salah satunya melalui program bedah rumah yang dimulai sejak tahun 2019.

Bantuan 1.520 Paket Beras dan Masker di Kamal Muara

Bantuan 1.520 Paket Beras dan Masker di Kamal Muara

08 Maret 2022

Dalam rangka Bakti Sosial Imlek Nasional 2022, Tzu Chi Membagikan 1.520 paket beras dan masker untuk warga RW 01 dan RW 04, Kelurahan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Kesuksesan terbesar dalam kehidupan manusia adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -