Bukan Semboyan Belaka

Jurnalis : Juliana Lie (Tzu Chi Medan), Fotografer : Aswin Halim (Tzu Chi Medan)
 
foto

* Tiga puluh murid Perguruan Buddhis Bodhicitta belajar mengenai pelestarian lingkungan di Tzu Chi Medan.

Minggu pagi tanggal 7 September 2008, Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Perwakilan Medan mendapat kunjungan dari Perguruan Buddhis Bodhicitta yang beralamat di Jalan Selam Medan. Tiga puluh murid SMP Bodhicitta bersama dengan Kepala Sekolah Alfian Salim dan tiga orang staf sekolah datang untuk saling belajar tentang konsep pelestarian lingkungan Tzu Chi.

Mengubah Pola Hidup demi Lingkungan
Para murid terlebih dahulu diberi edukasi di lantai 3 Kantor Tzu Chi demi menambah pemahaman mereka tentang pentingnya melestarikan lingkungan. Edukasi dilangsungkan dalam suasana santai, duduk di lantai beralaskan bantal sambil minum teh yang disuguhkan.

Di awal acara, ditayangkan video ceramah Master Cheng Yen yang menceritakan tentang penderitaan masyarakat Haiti, sebuah negara miskin pada gugusan Kepulauan Karibia. Akibat tingkat inflasi sangat tinggi, warga di sana mengalami kesulitan bahan makanan, hingga mereka terpaksa mengisi perut dengan makan roti lumpur, roti yang terbuat dari tanah liat, ditambah dengan sedikit sayur dan garam. Roti lumpur inilah yang menjadi menu makanan utama bagi warga miskin Haiti. Belakangan, kondisi warga bukannya bertambah baik, malahan semakin buruk. Tingkat inflasi semakin menggila, harga barang naik empat kali lipat. Sekarang bahkan warga mulai tidak sanggup lagi membeli roti lumpur. Marilah bandingkan dengan kehidupan kita, kebutuhan hidup sehari-hari tidak ada kurang, namun sebagian besar orang masih merasa tidak cukup, penuh dengan hasrat keinginan. Kita semestinya mengubah pola hidup, belajar hidup hemat dan sederhana, serta ikut mengurangi emisi karbondioksida, demi mengumpulkan lebih banyak karma baik kolektif bagi dunia ini.

Selanjutnya murid-murid diberi edukasi tentang bagaimana setiap orang bisa ikut mengurangi pemanasan global, dilakukan mulai dari diri sendiri dan lingkungan rumah. Pada tahun 2007, Konferensi Antar-Pemerintah PBB mengenai Perubahan Iklim (IPCC) telah mengumumkan sebuah laporan perubahan iklim global. Hasil riset selama 6 tahun oleh 2.000 ilmuwan seluruh dunia dengan jelas menyebutkan gejala pemanasan global sudah merupakan fakta serius yang harus dihadapi dalam abad ini.


foto   foto

Ket : - Murid SMP Bodhicitta dengan tekun mendengarkan pemaparan para relawan sambil minum teh. (kiri)
         - Para relawan Tzu Chi Medan menyampaikan pesan mewariskan bumi yang bersih lewat isyarat tangan.
           (kanan)

Sejak April 2008, Tzu Chi telah mengumandangkan seruan “Sayangi bumi, terapkan tindakan pengurangan emisi gas rumah kaca”, dimana dengan mengubah pola hidup, setiap orang akan dapat bersumbangsih bagi kelestarian bumi ini, mewariskan sebuah dunia yang bersih bagi anak-cucu. Sembilan tindakan cinta lingkungan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah mengurangi konsumsi daging, membeli produk makanan lokal, mengurangi sisa makanan, mengurangi berkendaraan bermotor, hemat air dan listrik, mengurangi pemakaian kertas dengan memanfaatkan kegunaan internet, membeli barang sesuai kebutuhan (bukan keinginan), memperbaiki barang yang rusak sebelum diganti, serta tidak memakai produk sekali-pakai-buang.

Salah seorang ahli lingkungan hidup terkemuka, Dr Rajendra Pachauri, Ketua IPCC telah menyarankan orang untuk menghindari konsumsi daging, setidaknya sehari dalam sepekan. Perubahan pola makan penting karena besarnya buangan gas rumah kaca dan masalah lingkungan berkaitan dengan upaya membesarkan ternak. Semua itu terjadi selama membesarkan hewan ternak, misalnya, sapi akan mengeluarkan gas metana sebanyak 500 liter per hari, padahal metana berdampak 21 kali lebih kuat sebagai gas rumah kaca dibanding karbondioksida.

Dari interaksi dengan murid-murid, ternyata ada 2 orang yang telah bervegetarian sejak kecil. Robert (14 tahun) mengatakan bervegetarian demi alasan kesehatan, berbeda dengan Evelyn Gothani (13 tahun) yang bervegetarian karena alasan agama.

Agar suasana lebih rileks, insan Tzu Chi menghibur para murid dengan peragaan isyarat tangan Sebuah Dunia yang Bersih. Lagu ini berpesan tentang pentingnya menjaga kelestarian bumi ini demi generasi berikutnya. Setelah itu, edukasi dilanjutkan dengan pemaparan konsep pelestarian lingkungan Tzu Chi. Insan Tzu Chi memperkenalkan tentang cara daur ulang sampah, bagaimana memilah sampah menjadi emas. Dengan membiasakan melakukan daur ulang, kita telah ikut menjaga sumber daya alam.

foto   foto

Ket : - Su Pun-wui memberikan penyuluhan cara memilah sampah kepada para murid. (kiri)
         - Para murid belajar mengenal barang daur ulang dari bahan besi dan plastik, mempraktikkan langsung
           pemilahan sampah. (kanan)

Dimulai dari Diri Sendiri
Tanpa terasa waktu sudah menjelang tengah hari, murid-murid makan siang bersama dengan relawan Tzu Chi. Mereka terlihat bisa melaksanakan apa yang telah dipelajari dengan baik, yaitu tidak menyisakan makanan di piring. “Kalau menyisakan makanan di piring, artinya kita akan menambah volume sampah,” ungkap James Wong (13 tahun).

Melestarikan lingkungan bukan semboyan belaka, namun harus diterapkan dalam tindakan nyata, bahkan harus menjadi kebiasaan sejak kecil. Dibanding penjelasan beribu kali, lebih baik mengalami sendiri sekali, para murid kemudian dibagi menjadi lima tim, diajak langsung praktik di pos daur ulang Tzu Chi yang berada di sebelah Kantor Tzu Chi.

”Setelah belajar tentang melestarikan lingkungan hari ini, saya akan membawa kantungan sendiri kalau hendak berbelanja atau membeli sesuatu, dengan begitu saya bisa ikut mengurangi pemakaian kantung plastik,” kata Bryan Antony (14 tahun). Sedangkan Steren (13 tahun) mengatakan sangat terkesan dengan konsep 5R yaitu Rethink, Reduce, Reuse, Repair, dan Recyle. “Kalau nanti ada mainan saya yang rusak, saya akan perbaiki dulu, bukan langsung buang,” katanya bertekad.

foto  

Ket : - Sehabis memilah sampah, para murid berdiskusi mengenai perubahan yang akan mereka lakukan.

Para murid juga diberi kesempatan berdiskusi secara kelompok tentang perubahan apa yang hendak mereka lakukan selepas hari ini. Hasilnya lalu dipresentasikan dalam bentuk ikrar sebagai anak manusia penghuni bumi ini. Dari yang dikemukakan, diketahui banyak murid berikrar untuk menghemat energi, seperti mematikan lampu ketika tidak dipakai, membeli barang-barang yang dibutuhkan saja bukan yang diinginkan, dan lain sebagainya.

Seperti diketahui, sebagian sampah adalah sampah organik dapur, seperti kulit buah dan sayuran. Sampah dapur ini dapat diubah menjadi enzim sampah yang ramah lingkungan. Dengan menyampurkan enzim sampah dalam cairan pembersih berbahan kimia, air cucian mengandung enzim sampah yang mengalir ke dalam parit buangan akan dapat memurnikan air sungai dan air laut, sehingga turut berperan dalam melestarikan lingkungan. Bila setiap keluarga mau mengubah sampah dapur di rumah menjadi enzim sampah yang berguna, selain bisa melindungi lapisan ozon di bumi, manusia juga akan dapat hidup dalam alam tanpa pencemaran.

Dalam kunjungan mereka, para murid juga diajari cara pembuatan enzim sampah yang berbahan baku sampah dapur organik, gula aren, dan air. Setelah proses fermentasi tiga bulan, enzim sampah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai pengunaan rumah tangga, seperti cairan pembersih alat-alat rumah tangga, penghilang bau tidak sedap, anti-bakteri dan anti-kuman, pengusir serangga dan kutu, serta campuran cairan sabun dan shampoo.

foto  

Ket : - Beberapa murid menuangkan uang tabungan mereka ke dalam celengan Tzu Chi untuk membantu orang
           yang membutuhkan.

“Keseluruhan topik pembicaraan hari ini sungguh berkesan, biasanya saya tahu bervegetarian selalu dikaitkan dengan agama atau kesehatan, ternyata bervegetarian juga dapat mengurangi pemanasan global,” Yanti, seorang staf Sekolah Bodhicitta menyampaikan kesannya.

Murid-murid diharapkan mereka dapat mempraktikkan apa yang telah dipelajari hari ini di rumah, agar orangtua mereka ikut terpengaruh untuk melestarikan lingkungan. Begitu pula di sekolah agar nantinya Sekolah Bodhicitta juga bisa menjadi sebuah sekolah yang ramah lingkungan.

 

Artikel Terkait

Mengasah Kepekaan Rasa

Mengasah Kepekaan Rasa

12 Desember 2017
Bagi Ari Sobri, bekerja di DAAI TV merupakan hal yang spesial, “karena bisa melatih jiwa kerelawanan dan kemanusiaan. Jadi nggak hanya bekerja, kami juga bisa dengan mudah berkegiatan sosial melalui Tzu Chi,” ucapnya yang telah bergabung di DAAI TV sejak 2005 lalu. Selain dirinya, ada 57 staf DAAI TV Indonesia yang ikut dalam Pelatihan Relawan Abu Putih pertama bersama relawan komunitas He Qi Utara 1, Minggu, 10 Desember 2017 lalu.
Sembako Cinta Kasih untuk Oma Opa

Sembako Cinta Kasih untuk Oma Opa

28 Desember 2020

Untuk menyambut Hari Natal, kunjungan kasih ke panti yang diadakan secara rutin oleh relawan Tzu Ching Tangerang kembali diadakan sebagai bentuk cinta kasih. Kegiatan kunjungan kasih tersebut dilakukan ke Panti Werdha Kasih Ayah Bunda di Karawaci, Tangerang.

Pembagian Kupon Sembako di Bulan Ramadan

Pembagian Kupon Sembako di Bulan Ramadan

06 April 2022

Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat membagikan kupon sembako dalam rangka menyambut Lebaran 2022. Sebanyak 610 kupon dibagikan kepada 8 RW di Kelurahan Duri Pulo, Jakarta Barat.

Menyayangi diri sendiri adalah wujud balas budi pada orang tua, bersumbangsih adalah wujud dari rasa syukur.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -