Bukan Siapa, Tetapi Apa yang Dilakukan

Jurnalis : Apriyanto, Fotografer : Apriyanto
 

fotoLu Lien Chu saat memperlihatkan kepada murid sekolah dasar mengenai barang-barang yang tidak terpakai dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna. Dari kegiatan hari itu Lien Chu mengharapkan agar anak-anak bisa memberikan inspirasi bagi oran.

 

Seorang sahabat pernah berkisah kepada saya. Suatu hari sepulang dari jalan-jalan, dalam kondisi lelah ia bertengkar hebat dengan ibu dan kakak lelakinya lantaran masalah yang sepele. Ibunya hanya meminta agar ia tidak sering bepergian dan waktunya lebih banyak untuk keluarga. Karena merasa kebebasannya mulai diatur dan dalam keadaan lelah, serta  emosi yang tidak stabil, ia menjadi begitu marah kepada ibunya. Kakak lelaki yang menengahi pun turut menjadi sasaran kemarahannya. Ia bertengkar dengan hebat. Semua barang yang ada di dekatnya dengan cepat ia hempaskan. Ia mulai memaki, meraung, dan membantingkan diri bagai kesetanan.

Kala itu keponakannya yang baru berusia tiga setengah tahun menyaksikannya dengan terkesima. Sambil tercengang, keponakannya berkata kepada pamannya, “Paman kenapa mengamuk seperti kesetanan, bukannya paman mengajarkan cinta kasih. Semut saja tidak boleh dibunuh, tapi kenapa sama orang mengamuk?” Seketika itu pula sahabat saya langsung menghentikan amuknya. Amarahnya menjadi kendor dan tiba-tiba jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia baru menyadari bahwa tindakannya sangat tidak mendidik, dan baru saja ia belajar dari seorang anak kecil.

Apa yang Dilakukan, Bukan Siapa yang Melakukan
Melakukan dan berkata yang benar bukan hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa saja, tetapi seorang anak juga dapat melakukan hal yang benar dan terpuji, bahkan lebih baik dari orang dewasa. Demikian kesan yang bisa dipetik dari cerita di atas. Hal ini pula yang ingin ditanamkan oleh Lu Lien Chu, Ketua Tzu Chi Tangerang kepada para siswa Taman Kanak-kanak Little Rainbow dan Sekolah Ehipassiko pada Kamis 27 Agustus 2009 di Posko Daur Ulang Serpong, Tangerang, Banten. Pada hari itu, sebanyak 25 siswa Taman Kanak-kanak Little Rainbow dan 55 siswa dari Sekolah Ehipassiko mengunjungi posko daur ulang guna mempelajari apa yang dinamakan pelestarian lingkungan.

foto  foto

Ket : -Rooseno saat memilah kertas bersama putrinya Raissa. Rooseno menyambut baik kegiatan ini karena           dapat memberikan masukan yang positif bagi anak-anak. (kiri)
       - Relawan Tzu Chi saat memperagakan isyarat tangan kepada murid-murid sekolah. Gerakannya yang lucu           mengundang spontanitas humor murid-murid.  (kanan)

Lu Lien Chu memang tidak meremehkan kemampuan anak-anak. Ia berkeinginan menanamkan perilaku yang positif kepada anak-anak sejak dini, dan ia yakin bahwa seorang anak juga bisa memberikan contoh dan inspirasi bagi orang dewasa untuk turut melakukan sesuatu yang bermanfaat. “Dari kecil kita sudah menanamkan di pikiran mereka gimana harus bisa (melakukan) daur ulang, sehingga mereka bisa mengatakan kepada papa dan mamanya kenapa harus (melakukan) daur ulang dan barang-barang apa saja yang bisa didaur ulang,” kata Lu Lien Chu.Siang itu Lien Chu mengajarkan kepada para siswa tentang barang-barang yang bisa didaur ulang, memilah barang daur ulang dan mengolah barang-barang yang tidak terpakai menjadi produk kreatif, seperti kursi kecil yang terbuat dari tiga kaleng susu,  frame foto, kotak mainan, dan hiasan meja. Berikutnya para siswa diajak melakukan praktik langsung untuk memilah sampah daur ulang yang sering dijumpai, seperti botol plastik atau kertas.  

Antusias siswa dan orangtua siswa membuat Lien Chu merasa gembira pada kegiatan hari itu. “Daur ulang harus dilakukan dari kecil. Jadi mereka bisa berhubungan dengan papa dan mamanya. Dan saya juga senang karena ada orangtua murid dan guru-guru yang datang, jadi mereka juga bisa tahu apa itu daur ulang,” kesan Lien Chu.

Pendidikan yang Baik
Bahwa seorang anak bisa memberikan perubahan juga diyakini oleh Rooseno, ayah dari Raissa Putri Shakyra, siswa Taman Kanak-kanak Litle Rainbow. Menurutnya, dengan memberikan masukan yang baik, pendidikan yang baik kepada anak-anak, ia yakin kelak bisa memberikan perubahan yang berarti bagi dunia. “Bila setiap anak diberikan arahan yang baik sejak dini, saya rasa bisa memberikan perubahan bagi dunia seperti yang diharapkan oleh Tzu Chi, yaitu mengubah dunia menjadi damai sejahtera,” terangnya.     

foto  foto

Ket : - Kirman guru kelas 3 sekolah Ehipassiko merasa terkesan dengan kegiatan daur ulang. Menurutnya kegiatan             ini bagus sekali buat anak-anak mengenai pengetahuan lingkungan. yang diharapkan kedepannya mereka             bisa menjadi orang-orang yang perilakunya ramah lingkunga (kiri)
          - Lu Lien Chu menerima cinderamata dari Indi Y Wirawan guru Sekolah Ehipassiko. Sekolah Ehipassiko              Sekolah Ehipassiko  telah lama menjadi mitra Tzu Chi dan juga telah menggalakan program               pelestarian lingkungan di sekolahnya. (kanan)

Rooseno sendiri mengenal Tzu Chi dari siaran DAAI TV yang ia saksikan. Menurutnya, siaran DAAI TV sangat mendidik dan membawa perubahan bagi keluarga. Tidak sedikit Rooseno mengambil pesan dari tayangan di DAAI TV untuk dijadikan arahan bagi putri satu-satunya itu. “Saya senang menyaksikan kisah anak empat bersaudara yang sekarang sudah besar. Bagaimana mereka bekerjasama. Dari kisah itu saya mengajarkan kepada dia (Raissa) bagaimana bekerjasama. Lumayan dia akhirnya menjadi mandiri dan tidak terlalu manja,” jelasnya.

Kegiatan yang merupakan bagian dari program pendidikan sekolah ini membuat Rooseno terkejut sekaligus kagum. Pasalnya dari kegiatan ini ia baru mengetahui lebih dekat mengenai daur ulang yang dilakukan oleh Tzu Chi. “Saya terkejut sewaktu pulang sekolah dia mengatakan, ‘Yah, besok hari Kamis aku mau ke daur ulang.’ Saya pikir daur ulang biasa, ternyata di buku komunikasinya ada daur ulang Tzu Chi, saya jadi terkejut ternyata ada deponya di sini. Saya jadi ingin tahu riilnya seperti apa, biasanya hanya menyaksikannya ditayangan televisi,” aku Rooseno.

Program mengenai lingkungan tidak hanya ada di Sekolah Little Rainbow saja, kehadiran Sekolah Ehipassiko di posko daur ulang juga didasarkan pada hal yang sama, yaitu pendidikan lingkungan. Kirman, salah satu guru di Sekolah Ehipassiko menerangkan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari materi pelajaran yang bertemakan lingkungan. Ia juga terkesan pada kegiatan daur ulang Tzu Chi. Menurutnya selama ini Ehipassiko telah menjadi mitra Tzu Chi dan telah turut menggalakkan program pelestarian lingkungan di sekolah mereka. “Saya pikir ini bagus sekali buat anak-anak mengenai pengetahuan lingkungan. Mungkin ke depannya mereka bisa menjadi orang-orang yang perilakunya ramah (terhadap) lingkungan,” kesannya.

Dari semua pengarahan yang diberikan, diharapkan tidaklah berlebihan jika anak-anak dikatakan sebagai generasi penerus masa depan. Anak-anak dengan kekhasannya adalah pribadi yang unik dan banyak memberi inspirasi.

 

 
 

Artikel Terkait

Memanfaatkan Keahlian untuk Bersumbangsih Bagi Tzu Chi Hospital

Memanfaatkan Keahlian untuk Bersumbangsih Bagi Tzu Chi Hospital

26 November 2020

Sukacita menyambut hadirnya Tzu Chi Hospital datang dari seluruh lapisan relawan Tzu Chi. Hal itu terlihat dari semakin dekat waktu pembukaan, relawan juga semakin bersemangat mendukung berbagai hal yang kiranya dibutuhkan oleh rumah sakit berskala besar pertama yang dibangun Tzu Chi di luar Taiwan ini.

Makin Semangat Belajar dengan Bantuan Alat Tulis dari Tzu Chi

Makin Semangat Belajar dengan Bantuan Alat Tulis dari Tzu Chi

28 Mei 2018

Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun membagikan alat tulis di Sekolah 012 Bina Bangsa Meral pada Sabtu, 26 Mei 2018. Pemberian bantuan ini diharapkan dapat membuat para siswa semakin giat belajar dalam mencapai cita-cita mereka.


Belajar Bahasa Inggris Bersama Relawan Tzu Chi

Belajar Bahasa Inggris Bersama Relawan Tzu Chi

08 Agustus 2018
Pada tahun ajaran baru 2018, kelas Bahasa Inggris yang telah rutin dilaksanakan oleh relawan Tzu Chi Sinar Mas, Xie Li Kalimantan Timur 2 kembali dibuka. Pertemuan pertama dilakukan pada 25 Juli 2018.
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -