Para siswa dan siswi Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng membawakan Shou Yu dengan judul lagu Anak Kambing Berlutut dalam Family Gathering “Keluarga Harmonis, Hati Bahagia”.
Setelah sesi pertama yang diisi dengan games bertema keluarga, kegiatan Family Gathering bertajuk “Keluarga Harmonis, Hati Bahagia” yang menjadi acara puncak Bulan Tujuh Penuh Berkah dilanjutkan ke sesi kedua di Ruang Guo Yi Ting, lantai.3 Aula Jing Si. Pada sesi ini, para peserta diajak untuk merenungi hakikat keluarga serta hubungan antara anak dan orang tua melalui penampilan drama dan acara lainnya.
Pada sesi kedua ini dibuka dengan penampilan Shou Yu (Isyarat Tangan) Anak Kambing Berlutut yang dibawakan oleh murid-murid Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dengan lembut dan penuh makna. Dalam kegiatan ini, suasana ruang Guo Yi Ting pun semakin hangat dengan pementasan drama “Cinta Kasih Orang Tua”. Hari itu, 29 Agustus 2026 para peserta diajak untuk melihat betapa pentingnya mengingat orang tua.
Pementasan drama yang di sutradarai oleh relawan Tzu Chi, Yonga Wang tersebut mengisahkan bagaimana seorang anak harus berbakti kepada orang tua. Drama ini mengajak para penonton untuk kembali mengingat kasih sayang, pengorbanan, dan jasa orang tua yang sering kali terlupakan.
Pementasan drama “Cinta Kasih Orang Tua” dibawakan oleh para relawan Tzu Chi dengan penuh penghayatan.
“Drama ini masih berkaitan dengan Sutra Bakti Seorang Anak dimana dalam sutra itu ada bab tentang cinta kasih orang tua. Dalam pementasan drama ini kami berharap anak-anak dapat menyadari pentingnya berbakti kepada orang tua selagi mereka masih ada, bukan setelah tiada,” ucap Yonga Wang.
Kisah dalam drama ini juga mengangkat kondisi yang banyak terjadi dalam keluarga dimana seorang anak yang telah memiliki kehidupan dan kesibukan sendiri, hingga perlahan melupakan kasih sayang, perhatian, dan baktinya kepada orang tua.
“Hari ini tetunya sangat bahagia, para pemain telah memainkan perannya dengan sangat baik, lewat drama ini, kami berharap para peserta, khususnya generasi muda, selalu mengingat pentingnya berbakti kepada orang tua. Jangan sampai kesibukan membuat kita lupa hingga akhirnya menyesal di kemudian hari karena tidak sempat memberikan bakti dan kasih sayang kepada mereka,” tambah Yonga Wang.
Yonga Wang (kanan kedua) bersama para pemain drama menutup pementasan dengan penuh semangat melalui nyanyian bersama.
Para pemain drama juga berakting dengan begitu alami dan bersungguh hati. Widyanti Tjasnadi, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 2 yang memerankan sosok ibu yang menantikan kepulangan anak-anaknya di rumah juga memetik hikmah setelah mempelajari naskah sampai pementasan drama. “Awalnya saya merasa sangat gugup, tetapi setelah menampilkan drama ini saya justru ikut terharu. Pengalaman ini mengingatkan saya sebagai seorang ibu bahwa sesibuk apa pun kita, tetap perlu meluangkan waktu untuk orang tua dan tidak mengabaikan mereka,” ucapnya.
Hal yang sama juga dirasakan Sugiharto Widjaja, yang berperan sebagai anak dalam drama tersebut. “Sangat terharu dan ikut meresapi, waktu itu tidak bisa kembali, apa yang kita berikan kepada orang tua kita itu tidak bisa diulang lagi. Jadi jangan di tunda-tunda lah kalau untuk berbakti sama orang tua karena itu penting bagi tugas kita sebagai anak,” kata Sugiharto Widjaja.
Sharing Relawan Tzu Chi disampaikan oleh Jessica, menghadirkan suasan haru dan menyentuh hati para penonton.
Selain drama, pada sesi kedua ini juga ada sharing yang dibawakan oleh relawan Tzu Chi, Jessica yang bercerita tentang kisahnya sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. Ia menceritakan pengalamannya berbakti kepada sang ayah selama sakit hingga akhir hayat, dengan setia menemani dan merawatnya hingga berpulang.
Dalam sharing-nya, ia mengajak para peserta untuk menghargai kehadiran orang tua selagi masih diberi kesempatan untuk bersama. “Disini saya dan keluarga belajar ternyata berbakti itu tidak bisa menunggu untuk kita siap, kalau ada kesempatan untuk berbakti maka berbaktilah,” ucap Jessica.
Para peserta pun banyak yang tak kuasa menahan air mata mendengar sharing tersebut. Hal ini pun dirasakan oleh Julianti (39) yang datang bersama kedua anaknya dalam kegiatan ini. Ia turut merasakan haru saat menyaksikan pementasan drama dan mendengarkan sharing relawan Tzu Chi. Kisah yang ditampilkan mengingatkannya kembali pada peran dan kasih sayangnya sebagai seorang anak saat merawat orang tua.
Julianti, salah satu peserta, tampak terharu saat menyaksikan pementasan drama dan mendengarkan sharing yang disampaikan oleh relawan Tzu Chi.
“Rasanya terharu, melihat sharing tadi membuat saya kembali mengingat peran saya sebagai seorang anak. Dahulu disaat orang tua saya mulai kesulitan bergerak karena sakit. Hingga sampai pada saat terakhirnya, saya tetap berada di samping beliau,” kenang Julianti dengan mata yang berkaca-kaca.
Selain isyarat tangan, pementasan drama, dan sharing relawan, para peserta juga dihibur oleh paduan suara relawan Tzu Chi yang membawakan lagu-lagu bertemakan kasih sayang. Kegiatan yang diikuti sebanyak 434 peserta ini, menjadi momentum untuk mempererat kasih sayang, menumbuhkan rasa syukur, serta mengajak setiap peserta yang hadir untuk selalu berbakti kepada orang tua dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama.
Sebagai penutup kegiatan Family Gathering “Keluarga Harmonis, Hati Bahagia” yang menjadi puncak acara Bulan Tujuh Penuh Berkah, para peserta melakukan doa bersama di depab rupang Buddha.
Hari itu, para peserta yang berkumpul tak hanya sekadar mengikuti kegiatan, Tzu Chi mengajak para peserta untuk kembali merasakan indahnya kebersamaan dalam sebuah keluarga. Tak hanya sekadar sebuah perayaan, para peserta diajak untuk memaknai arti sebuah keluarga yang menjadi tempat pertama mengajarkan tentang kasih sayang, berbuat baik, berbagi dan saling memaafkan. Momen ini menjadi pengingat bahwa indahnya kebersamaan dapat hadir di dalam keluarga.
Editor: Arimami Suryo A.