Cinta untuk Papa Mama

Jurnalis : Shelfi, Yusniaty (He Qi Utara 1), Fotografer : Yusniaty (He Qi Utara 1)

Ng Tjai Phin yang baru kehilangan papa tercinta, berharap xiao pu sa semua bisa melakukan yang terbaik selagi orang tua masih ada di samping mereka.

Apa yang kuberikan untuk mama, Untuk mama tersayang, Tak kumiliki sesuatu berharga, Untuk mama tercinta. Hanya ini kunyanyikan, Senandung dari hatiku untuk mama,Hanya sebuah lagu sederhana, Lagu cintaku untuk mama.….

Inilah sebagian teks dari lirik lagu Cinta untuk Mama yang diputarkan sebelum kegiatan Kelas Budi Pekerti He Qi Utara 1 dimulai. Saat pembukaan Ng Tjai Phin, selaku MC memberikan salam dan meminta maaf karena tak kuasa menahan tangis mendengar lagu tersebut.

“Membayangkan ketidakkekalan yang baru terjadi tidak lama ini, kehilangan papa yang sangat kuat dan semangat mencari nafkah, yang sangat saya cintai. Saya berharap xiao pu sa (panggilan bagi murid kelas budi pekerti) semua bisa lakukan yang terbaik selagi orang tua masih ada di samping, menuruti nasihat, menghormati, sayangi orang tua, dan selalu meluangkan waktu bersama dan jadikanlah badan kita untuk menopang mereka di hari tua,” ungkap Ng Tjai Phin.  

Minggu, 30 Mei 2021, pukul 9.05 Kelas Budi Pekerti dimulai dengan Penghormatan Master Cheng Yen. Berhubung kelas diadakan di rumah masing-masing dengan melalui aplikasi Zoom, Ng Tjai Phin memberi arahan tata cara kelas selama kegiatan berlangsung dan mengingatkan kembali untuk mempersiapkan alat tulis untuk sesi permainan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk proses basuh kaki orang tua.

Sesi permainan yang dipandu oleh Tio Meihui dan Poen Wiping dengan tema How Good You Know Your Parents, melontarkan 11 pertanyaan sederhana.

Sesi permainan dimulai yang dipandu oleh Tio Meihui dan Poen Wiping dengan tema How Good You Know Your Parents. Xiao pu sa diminta menjawab beberapa pertanyaan sederhana yang berhubungan dengan orang tua masing-masing.

“Tuliskan nama Mama dan Papa, boleh nama panggilan atau nama lengkap,” ujar Poen Wiping memulai pertanyaan pertama yang lebih ditujukan pada anak Qin Zi Ban. Langsung spontan mereka menoleh ke orang tua masing-masing, lalu menulisnya di kertas yang sudah disiapkan. Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan seperti usia, makanan kesukaan, kesamaan, yang paling disukai, dijawab murid-murid dengan semangat.

“Saya paling suka support yang diberikan papa mama dalam setiap hal yang saya lakukan,” ungkap Janice, murid Tzu Shao Ban ketika menjawab pertanyaan, ‘Apa yang paling kamu sukai dari Mama dan Papa?’ dilontarkan.

Penuh cinta kasih kehangatan dan haru prosesi basuh kaki Mama atau Papa.

Sesi selanjutnya, murid-murid dibagi sesuai kelas masing-masing. Qin Zi Ban materi dibawa oleh Susan Leonardy dengan video Xiao li Zi yang berjudul Berbakti Adalah Kebajikan Utama.

Dalam materi, relawan Susan Leonardy mengingatkan bahwa ayah ibu membesarkan dan merawat kita tanpa meminta balasan. Berbakti yang sederhana bisa diwujudkan dengan cara membantu dan menuruti orang tua dengan sepenuh hati. Jangan melawan orang tua dan membuat orang tua risau. Berbakti dengan meluangkan waktu bersama orang tua ketika mereka masih hidup, ukir kenangan-kenangan yang baik bersama mereka sehingga nantinya tidak ada rasa penyesalan.

Di Tzu Shao Ban, Kimsry memulai dengan memutarkan video Master Cheng Yen Bercerita berjudul Kakek Li Yang Berbakti dimana menceritakan seorang anak yang telah ditinggal ayahnya dan hidup bersama ibunya. Selama hidupnya Kakek Li begitu berbakti kepada orang tuanya, sejak ibunya masih hidup hingga meninggalkannya selamanya, rasa baktinya tidak pernah surut.

Master Cheng Yen menuturkan Confucius berkata, “Jika pandangan orang tua kurang tepat, kita harus menggunakan kebijaksanaan untuk menuntun mereka ke arah yang benar. Seseorang dapat menasihati orang tua dengan lembut, kita harus bersungguh hati meluruskan, namun jika mereka tidak menghiraukan kita tetap harus menghormati dan tidak melawan.”

Tan Lie Fin, Papa dari Joecelouis kelas Qin Zi Ban mengatakan sebagai orang tua harus terbuka dan bisa mengekpresikan perasaan sayang ke anak dan sebaiknya jangan menganggap diri sendiri lebih tinggi.

Selesai materi tentang berbakti, kelas Qin Zi Ban dan Tzu Shao Ban kembali berkumpul, dilanjutkan acara inti Hari Ibu yang dipandu Supiana.

Xiao pu sa dan tzu shao men, mohon berlutut atau bersujud menghadap kursi dengan tangan beranjali,” ujar Supiana memberikan aba-aba.

Terlihat tampilan gambar di Zoom, anak-anak mulai bergerak mengikuti panduan Supiana. “Sekarang kami persilahkan mama atau papa untuk duduk menghadap anak-anak,” lanjutnya. Dari bersujud, beranjali, penghormatan, ungkapan sayang, penyuguhan teh, basuh kaki, dan memeluk mama atau papa. Semua terhanyut dengan prosesi yang penuh rasa haru ini.

Makna dilakukan basuh kaki ini agar anak-anak menghormati, menyayangi, dan berbakti kepada ayah dan ibunya yang telah membesarkan dan berkorban untuk kebahagiaan anak-anaknya, tanpa mengenal lelah dan putus asa.

Setelah mengikuti acara hari ini tentunya juga telah membuat 25 murid Qin Zi Ban dan 22 murid Tzu Shao Ban serta para orang tua mereka yang ikut berpartipasi berbahagia dan meninggalkan kesan bagi mereka.

47 murid Qin Zi Ban dan Tzu Shao Ban, para orang tua, serta 28 relawan yang berpartisipasi di Kelas Budi Pekerti He Qi Utara 1 yang diadakan pada Minggu, 30 Mei 2021 ditutup dengan foto bersama.

“Momen acara ini bagus, bisa dipakai untuk mengekspresikan kata-kata sayang dan kepedulian antara orang tua dan anak, serta momen curhat lebih dalam antara kedua pihak. Kadang kita bilang sayang ke anak, tapi anak semakin besar semakin gengsi dan nggak mau mengekspresikan, begitu juga sebaliknya,” kata Melly mama dari Leo Syahputra dan Liviana dari kelas Tzu Shao Ban. “Contoh sederhana, kalau di mal lagi jalan kita peluk anak, mereka merasa risih, padahal ini hal yang biasa. Jadi ini bisa jadi kebiasaan yang bagus untuk anak dan orang tua,” lanjutnya.

“Pendidikan budi pekerti sangat baik, membentuk jiwa dan mental anak ke arah yang lebih stabil karena setiap anak ada masa transisi pemberontakan dikarenakan anak-anak ingin mencari siapa jati diri mereka. Karena itu sebagai orang tua kita seharusnya belajar mengekpresikan perasaan keinginan dan kecintaan pada anak-anak,” ujar Tan Lie Fin, Papa dari Joecelouis dari kelas Qin Zi Ban. “Orang tua sebaiknya jangan menganggap diri sendiri lebih tinggi dan jangan mempunyai harga diri yang tinggi sekali. Apabila orang tua bisa terbuka dan mengungkapkan perasaan sayang ke anak, anak-anak itu akan mengerti dan dibutuhkan serta merasa nyaman,” sambungnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Percaya Diri Dalam Mengejar Impian dan Potensi

Percaya Diri Dalam Mengejar Impian dan Potensi

11 Maret 2020

Tzu Chi Tanjung Balai Karimun kembali mengadakan kelas budi pekerti pada Sabtu, 29 Februari 2020. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan gambaran kepada anak-anak untuk menentukan masa depan dengan tepat, benar, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Belajar Berani dan Mandiri

Belajar Berani dan Mandiri

14 September 2015
Minggu pagi, 6 September 2015 di Gedung Gan En Lt.3, Aula Jing si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara  kembali terdengar riuh suara anak-anak usia 6-8 tahun. Mereka adalah siswa/i kelas budi pekerti  (Qin Zi Ban) yang diadakan sekali dalam setiap bulannya.
Menghargai Diri Sendiri

Menghargai Diri Sendiri

02 Oktober 2020

Para xiao phu sa diajak untuk menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak harus pandai dalam segala hal. Apa yang menjadi kekurangan kita, harus kita pelajari sehingga kita bisa. Dan apa yang menjadi kelebihan kita, harus kita kembangkan lagi dengan lebih berguna.

Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -