Doa dan Harapan Menjelang Bedah Rumah

Jurnalis : Arimami Suryo A., Fotografer : Arimami Suryo A.


Relawan Tzu Chi melakukan survei di rumah bapak Sakti (RT 009/RW 01, Kamal Muara). Dengan tinggi rumah kurang lebih 1,5 meter, membuat relawan harus terus membungkuk saat melakukan pendataan.

“Mudah-mudahan diperbaiki, biar kayak rumah orang-orang,” ungkap Sakti (78), warga RT 009/RW 01, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Kakek yang sudah 9 tahun menjadi pedagang gorengan ini tinggal di sebuah rumah yang kondisinya rendah (tinggi: 1.5 meter) dan kerap kali tergenang banjir. Sakti sendiri merupakan salah satu calon penerima bantuan bedah rumah dalam Program Bebenah Kampung Tahap ke-2 di wilayah Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Sebelum menjadi pedagang gorengan, Sakti adalah seorang nelayan yang ia mulai pada tahun 1963. Ia tinggal bersama istrinya Sudiah dan anak-anaknya di sebuah rumah yang ia bangun pada tahun 1983. Menjadi nelayan bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan. Lambat laun karena usia serta kondisi fisik yang sudah tidak mendukung, pada tahun 2007 Sakti memutuskan untuk berhenti menjadi nelayan.


Sakti dan Sudiah menunjukkan kayu yang menjadi salah satu bagian penopang atap melintang di tengah rumah. Kondisi ini juga membahayakan karena rendahnya posisi kayu sering membuat penghuni rumah kepalanya terbentur. 

Setelah berhenti menjadi nelayan, Sakti mulai melakukan pekerjaan apapun yang ia bisa untuk menghidupi keluarga. Kemudian pada tahun 2011, ia mulai berdagang gorengan di pinggir jalan Kamal Muara hingga saat ini. Rumah yang ia tinggali selama 37 tahun semakin lama juga semakin rendah karena banyak pembangunan rumah dan jalan yang lebih tinggi dari rumahnya. “Dulu rumah saya bangun tingginya 2,75 meter. Sekarang ya seperti ini, kalau mau jalan harus mendek (menunduk),” kata Sakti.

Selain kondisi yang rendah, jika hujan datang kerap kali banjir karena air dari gang di sebelah rumahnya menggenang hingga masuk ke dalam rumah. “Kalau hujan memang (air) dari jalan turunnya ke rumah. Asal ada hujan, pasti banjir,” cerita Sakti.

Saat ini Sakti dan Sudiah tinggal bersama bersama 8 orang anggota keluarganya (2 KK). Keinginan untuk memperbaiki rumah memang ada, tetapi dengan hidup yang serba pas-pasan keinginan itu tak kujung terlaksana. “Pengen kaya orang-orang, pengen di keatasin (ditinggikan rumahnya), didandanin (direnovasi) tapi enggak terlaksana. Saya nggak bisa nabung,” ungkap Sudiah.

Kalau Hujan Takut Roboh


Relawan Tzu Chi, Rusni Hung (berdiri) bersama relawan lainnya sedang melakukan pendataan di rumah Saidup dan Fatnawiah (tengah). Saat dikunjungi relawan, rumah mereka sedang banjir akibat air yang masuk dari celah-celah lantai rumah.

Calon penerima bantuan bedah rumah lainnya adalah Saidup (53), warga RT 004 / RW 01, Kamal Muara. Bersama istrinya Fatnawiah (46) dan 2 anaknya, Saidup tinggal di rumah warisan milik istrinya dari sang nenek. “Kondisinya udah parah bener,” kata pria yang sehari-hari bekerja menjadi Hansip (petugas keamanan) di wilayah Kamal Muara ini.

Kondisi rumah yang ditempati Saidup dan Fatnawiah memang lebih rendah dari jalan. Kondisi atap juga sudah banyak yang berlubang. “Kalau hujan angin, ngeri. Gentengnya pada merosot,” cerita Fatnawiah. Kondisi rumah yang mereka tempati juga semakin parah saat musim penghujan. “Kalau banjir bisa sedengkul. Trus kalau lagi datang hujan mikirin takut rubuh. Soalnya rumah tetangga udah ada yang rubuh jadi kita ngerinya rumah dia rubuh, rumah kita juga rubuh,” tambah wanita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci dan gosok baju cuci ini.


Kondisi rumah Saidup dan Fatnawiah yang lebih rendah dari jalan. Selain rusak, di sekitar rumah juga dibatasi dengan karung yang berisi pasir untuk menahan air agar tidak masuk ke dalam rumah.

Niat untuk memperbaiki rumah memang sudah ada, tetapi dengan pendapatan sebagai Hansip dan buruh cuci gosok tidak cukup untuk mewujudkan niat Saidup dan Fatnawiah. “Ada niat, cuma rezekinya masih kurang jadi mau bagaimana. Ngumpulinnya susah, mau ngutang takut nggak kebayar,” kata Fatnawiah. 

Rumah Saidup dan Fatnawiah merupakan salah satu rumah yang rencananya akan dibedah oleh Tzu Chi Indonesia. “Gembira kalau dibangun,” kata Saidup. Begitu pula dengan dengan sang istri saat mendengar kabar bahwa rumahnya menjadi salah satu calon rumah yang akan diperbaiki. “Alhamdulillah, kalau ada yang mau nolong. Kita belum kuat, hamba yang lain yang membangun rumah kita.  Biar Allah yang ngasih pahalanya,” kata Fatnawiah berharap.


Teksan Luis, koordinator bedah rumah Tzu Chi di Kamal Muara memberikan penjelasan terkait proses survei lanjutan dan pengukuran luas tanah kepada salah satu calon penerima bantuan.

Pada Minggu, 20 Desember 2020, 9 orang relawan Tzu Chi kembali melakukan survei lanjutan dan pengukuran luas lahan untuk 8 rumah calon penerima bantuan dalam Program Bebenah Kampung Tzu Chi Tahap ke-2 di Kamal Muara. Kegiatan ini merupakan survei tahap akhir sebelum pembongkaran. Rencana pembangunan yang dilakukan juga berbeda karena melihat kembali jumlah penghuni di rumah dan perkembangan ke depannya.

“Kali ini kita membangun rumah tidak berdasarkan besaran luas bangunan standar atau sama, tetapi juga melihat jumlah keluarga yang tinggal di rumah dan berapa besar okupansi dari rumah tersebut. Jadi kalau misalnya mereka punya anak laki-laki dan perempuan kita juga memikirkan bahwa 10 tahun ke depan anak-anak tersebut akan tumbuh besar. Itu juga menjadi salah satu cara untuk memberikan jumlah kamar yang akan kita berikan,” jelas Teksan Luis, relawan Tzu Chi yang menjadi koordinator bedah rumah di Kamal Muara. 


Selain melakukan survei lanjutan, relawan juga melakukan pengukuran luas rumah-rumah yang akan dibangun dalam Program Bebenah Kampung Tzu Chi tahap ke-2 di Kamal Muara.

Para relawan yang ikut dalam survei lanjutan ini berbincang-bincang dengan pemilik rumah serta melihat langsung kondisi rumah yang akan dibedah. “Setelah kita lihat memang pantas untuk kita bantu karena kondisi rumahnya sangat tidak layak,” kata Rusni Hung, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 2 yang ikut dalam kegiatan survei ini. “Harapannya semoga apa yang akan kita bantu bisa membuat mereka berubah ke arah yang lebih bagus dan mereka juga bisa meningkat kehidupannya, dan bisa ikut bersumbangsih nantinya,” tambahnya.

Editor: Hadi Pranoto


Artikel Terkait

Merawat Mama yang Sakit, Lelahku Menjadi Baktiku Padanya

Merawat Mama yang Sakit, Lelahku Menjadi Baktiku Padanya

08 September 2022

Hari ini 7 September 2022 relawan He qi Pusat mengunjungi  keluarga Joice Lince Arduin yang rumahnya telah selesai di renovasi atas bantuan Yayasan Tzu Chi. Irene Josephine anak tertua Joice terpaksa harus  merawat Ibunya  Joice Lince Arduin yang hanya bisa terbaring lemah karena sakit strok dan diabetes.

Bersih-Bersih Menjelang Bedah Rumah

Bersih-Bersih Menjelang Bedah Rumah

06 September 2021

Relawan Tzu Chi membantu membersihkan rumah Herman yang akan direnovasi oleh Tzu Chi Indonesia. Kegiatan dilakukan pada Minggu, 5 September 2021.

Rumah Baru Nenek Aisyah

Rumah Baru Nenek Aisyah

19 November 2019

Aisyah  tinggal di rumah yang kurang layak huni. Program bedah rumah bagi Aisyah, warga Tipar Cakung, Jakarta Timur dimulai pada tanggal 23 September 2019. Kurang lebih 3 bulan kemudian (6/11/2019), para relawan berkumpul di rumah Aisyah untuk secara resmi menyerahkan kunci rumah baru bagi Aisyah sekeluarga.

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -